Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 84 Keajaiban di titik terakhir keputusasaan.


__ADS_3

Mereka semua masih menunggu dan terus menunggu. Tapi tali kehidupan milik Alin mulai memutus, serat-serat tali perlahan memutus dan itu membuat mereka semakin kuatir.


"Kael, apa kalian tidak melakukan hal lain lagi?" Tanya Deon Li.


"Maaf, Master. Tapi... kami sudah benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Kita hanya bisa menunggu..."


Saat mendengar hal itu, mereka semakin sedih. Keringat dingin, jantung yang berdegup kencang, rasa kekuatiran, menghantui semua orang yang ada di ruangan itu kecuali Olivia. Dia hanya diam dan menatap Alin sambil duduk di sofa yang ada, di samping Gion dan Yura.


Beberapa menit kemudian tali kehidupan Alin benar-benar sudah terputus. Kekuatiran yang mereka ingin mereka hindari tidak akan pernah luput. Mereka semua menangis, membuat suasana ruangan menjadi riuh. Kael pun sempat meneteskan mata, tapi ia harus bisa tegar dan ia membersihkan tempat itu segera.


"Maafkan aku. Kalian... bisa keluar sekarang." Ucap Kael yang ingin membereskan tempat tersebut.


Tapi saat Kael ingin meletakkan tali kehidupan Alin itu kembali, Olivia mengambilnya dari Kael. Ia memegang kedua tali yang sudah terputus itu dan memperhatikan nya untuk beberapa saat.


"Ternyata kau belum menyerah juga. Aku kira kau sudah tidak ingin hidup lagi." Batin Olivia sambil tersenyum tipis.


Dalam pengelihatan mata Pikeon nya, Olivia melihat seutas tali kecil yang masih tersambung di kedua tali yang mereka duga sudah terputus tadi. Semua orang pun keluar dari ruangan itu dengan berlinang air mata, menyisakan Alin dan Lukas yang masih bersama dengan Kael dan Olivia.


Lukas tidak mau pergi dari tempat itu, ia masih tetap menggenggam tangan Alin dengan sangat erat di sampingnya, menunggu keajaiban lagi. Karena Lukas tak kunjung keluar, Kael menghampirinya.


"Lukas... Kau harus bisa mengikhlaskan Alin. Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi. Aku akan membereskannya, kau bisa keluar sekarang."


Namun Lukas masih terdiam dan tak bergeming sedikitpun. Genggaman nya semakin erat, merasa enggan mengiklaskan kepergian Alin. Air mata terus saja berjatuhan tanpa henti, Kael pun tau seperti apa perasaan Lukas sekarang, pasti sangatlah sakit tapi tidak ada cara lain.


"Lukas..." Panggil Kael lagi.


"Kumohon Alin... jangan pergi dulu... Aku, aku menyesal karena aku telah terlambat menyadari perasaanku sendiri. Aku mohon... bangunlah Alin...." Batin Lukas yang terus saja menangis.


Hal keajaiban pun datang dengan tiba-tiba, di titik terakhir keputusasaan ada keajaiban yang datang. Tali kehidupan Alin yang sebelumnya sudah terputus mulai tersambung dengan sendirinya. Alin tiba-tiba saja terbangun dan terduduk dari tempatnya dengan tiba-tiba.


"Uhuk, uhuk."


Lukas dan Kael sangat terkejut saat mendengar suara Alin yang terbatuk-batuk itu. Lukas yang tadi tertunduk, mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Alin yang terbatuk-batuk.

__ADS_1


Lukas benar-benar senang, dengan refleks Lukas memeluk Alin dengan sangat erat sehingga membuatnya terkejut. Ia menangis dengan sejadi-jadinya tanpa adanya suara, tangisan kebahagiaan dan rasa haru mulai muncul. Kael pun benar-benar terkejut sehingga membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.


"Huh? Lukas? Ehm.. a,ada apa? Kenapa kau menangis?"


Sedangkan Alin yang baru saja sadar, terkejut dengan Lukas yang tiba-tiba saja menangis di dekatnya. Ia menoleh ke sana kemari mencari sebab-sebab nya. Alin bahkan memberi isyarat untuk menjelaskan tentang situasi yang telah terjadi sekarang. Namun bukannya menjelaskan tentang situasi sekarang, Kael malah membawa Olivia untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu.


"Ah, Olivia? Kita keluar saja dulu." Ucap Kael dengan senyuman yang mengisyaratkan sesuatu.


"Oke."


Mereka berdua keluar dan meninggalkan Alin serta Lukas yang masih menangis. Alin tentu saja sangat kebingungan harus bagaimana, hingga ia memutuskan untuk menenangkan Lukas terlebih dulu.


"Sudahlah, jangan menangis lagi... Laki-laki tidak boleh menangis di hadapan seorang wanita, bukan? Tenanglah..." Ucap Alin dengan lembut seraya menepuk-nepuk punggung nya.


"Jangan tinggalkan aku..."


"Aku tidak akan pergi."


Sementara itu keadaan di luar sangatlah berduka. Saat Kael dan Olivia keluar, mereka semua tidak memperdulikan keberadaannya. Tapi Kael menyempatkan diri untuk menghampiri mereka.


"Biarkan pasien kita beristirahat dulu, ya..." Ucap Kael dengan senyuman yang terlihat memiliki beberapa makna.


Mereka semua yang bersedih itu tertegun dan menatap Kael dengan kebingungan. Semuanya masih kebingungan dengan perkataan Kael, pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di masing-masing benak mereka.


"Apa maksudmu?" Tanya Gion.


"Ada keajaiban di titik terakhir keputusasaan." Jawab Kael.


"Alin masih hidup?" Tanya Lina lagi.


"Hm!"


"Apa?!" Seru semuanya.

__ADS_1


Keadaan mulai menjadi rusuh kembali, tapi bukan kerusuhan karena kesedihan namun kerusuhan yang dikarenakan oleh kebahagiaan dan haru. Semuanya sangat senang dan berniat untuk masuk ke dalam.


"YHEHEHE... Alinnnnn!"


"Huhuhu... Untunglahhhh."


"Alinnnnn...."


"Puji syukur.... masih hiduppppp.... huhuhu."


"YHEHEHE...Horeeee..."


"Ayo semua, kita masuk!" Ajak Deon Li yang sudah tidak sabar melihat kebenaran itu.


"Ayo!!" Seru semuanya yang menyetujui ide Deon Li.


Namun mereka semua tidaklah tau akan situasi di dalam. Kael benar-benar kelabakan, ia berusaha untuk mencari cara agar mereka tidak menggangu Alin dan Lukas yang sedang berduaan di dalam. Tapi mereka tetap bersikeras ingin masuk ke dalam.


"Eh, eh. Tu-tunggu, Alin sedang beristirahat sekarang! Kalian bisa kembali besok." Tolak Kael yang mulai kelabakan.


"Kenapa tidak? Bukannya Lukas juga ada di dalam?" Sahut Olivia yang protes.


Tanpa Olivia sadari ia membocorkan hal yang tidak ingin Kael katakan kepada mereka. Mereka semua yang mendengar perkataan Olivia itu, menjadi murka dan langsung menerobos masuk tanpa menghiraukan perkataan Kael lagi. Mereka semua menerobos masuk ke dalam untuk menemui Alin bagaikan sekelompok serigala yang sedang memburu mangsanya, tidak ada yang mau mendengarkan Kael.


"Oliviiiaaaaa...."Jerit Kael yang merasa kesal terhadap Olivia yang telah menggagalkan rencanannya.


"Kenapa?" Tanya Olivia dengan santainya.


Olivia masuk ke dalam dan meninggalkan Kael yang terlihat frustasi di luar sendirian. Kael sudah benar-benar pasrah sekarang, ia tidak peduli akan situasi yang ada di balik ruangan itu sekarang, sudah sangat terlambat!


Daripada Kael termenung di luar seperti seseorang yang kehilangan jiwa, ia memutuskan untuk masuk ke dalam dan menghampiri yang lainnya. Saat ia masuk sesuatu yang aneh terjadi, hal yang tidak ia duga! Ia terdiam dan termenung untuk beberapa saat di depan pintu hingga Olivia menyuruhnya masuk.


"Kemari!"

__ADS_1


__ADS_2