Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 136 Rapat pertama.


__ADS_3

Ketika Olivia hendak masuk dan menutup pintu, pintu ruangan Kael seakan macet, pintu nya tidak mau tertutup. Sudah berapa kali Olivia mencoba untuk mendorong nya, tapi tidak berhasil, pintu itu tetap saja tidak mau tertutup.


"Haissshhh! Kenapa lagi pintu ini?! Perasaan pintu nya baru saja di ganti setelah Viko merusaknya beberapa hari yang lalu!" Gerutu Olivia yang masih berusaha keras untuk menutup pintu.


Hingga beberapa saat, tiba-tiba sudah terasa tidak macet lagi, tapi sepertinya momen itu tidak terlalu tepat. Saat itu Olivia tengah berusaha keras untuk menutup pintu dengan sekuat tenaga, tentu saja ia terkejut ketika merasakan pintu yang tiba-tiba saja tertutup dengan mudahnya.


...BRAKK...


"Eaaayyhh.. Eoah... Fyuhh.. Pintu sialan! Hampir saja. " Omel nya sambil menendang ringan pintu.


Namun ketika berbalik, Olivia nampak terlihat sedikit terkejut. Ada seseorang sekarang di depannya, orang itu mengenakan sebuah jibah hitam di pundak. Oranh itu menatap sinis Olivia.


"Ternyata kau memilih untuk mengikuti saran ku, ya? Ku kira kau akan menolaknya." Ucap orang itu.


Tapi Olivia tidak menyahut, ia hanya duduk di kursi tanpa berkata, disusul oleh orang itu juga. Di situ, orang itu membuka jubahnya, memperlihatkan rupa diri nya dengan sepenuhnya.


"Ckck! Olivia.. Olivia.. Kau memang lain di hati, lain di mulut yah...? Bukannya waktu itu kau menolak untuk berkerja sama dengan ku untuk memanipulasi mereka? Ck! Tapi... Sepertinya cara mu itu terlalu halus.." Imbuh orang itu lagi kepada Olivia yang masih terdiam.


"Kau benar Yeni, aku berubah pikiran. Tapi jangan harap aku ingin ikut dengan cara kotor mu." Sahut Olivia yang kemudian angkat bicara.


"Tentu saja, tidak masalah. Euhmm.. itu sepertinya masih sedikit menguntungkan ku. Jadi kesepakatan yang aku tawarkan sebelumnya akan berlaku."


Mendengar itu Olivia langsung tersenyum sinis, ada sesuatu yang ingin di utarakan nya. Ia mengeluarkan secarik kertas dengan sihir dan meletakkan itu di atas meja. Yeni sedikit tercengang akan hal yang di lakukan Olivia.


"Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan yang lebih jelas. Aku akan memanipulasi Alin dan Lukas untuk berpisah, agar Alin dapat fokus mengendalikan Clorian, dan kau dapat mengambil keuntungan mu dari rencana ini. Bagaimana?" Tutur Olivia yang langsung berseri-seri.


Kertas yang ada diatas meja tadi digeser nya kepada Yeni yang sekarang sedang terdiam untuk mempertimbangkan. Seketika itu juga, sejumlah tulisan bermunculan di secarik kertas itu secara perlahan beserta dengan kolom tanda tangan untuk keduanya.


"Tentu saja, dengan begitu... aku akan bisa menjauhkan Alin dari Lukas."


Keputusan Yeni telah bulat, sebulat-bulat nya bola. Tapi tanpa Olivia sadari, Yeni seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari nya. Tanpa pikir panjang lagi, keduanya pun menandatangani surat perjanjian itu, dan inilah awal kerja sama mereka...


"Satu lagi yang akan kutambahkan, apa pun yang terjadi, kau tidak boleh menyakiti Alin." Tegas Olivia.


"Kau ternyata sangat melindungi pewaris-pewaris terakhir mata pikeon yah..."


Yeni berdiri dari tempatnya, berjalan menuju pintu untuk pergi dengan ekspresi licik di belakang sepengelihatan nya. Di sana Olivia kembali berdiri, mengantarkan perginya tamu dengan ada sedikit keraguan di hatinya.


Tapi dan lagi, Olivia hanya dapat pasrah dengan karbu dan nurani yang sedang bertengkar di dalam hati, memperdebatkan yang mana yang terbaik. Sama seperti hal nya orang-orang di luar sana, mereka semua pernah dan sering sekali merasa bimbang seperti Olivia sekarang.


"Sudahlah..."


Sama sekali tak sadar Olivia, bahwa Yeni sama sekali tidak menyetujui kesepakatan terakhir tadi. Ia hanya termenung dan terfokus pada pikiran nya sendiri.


"Olivia... Kau sungguh sangat.. BODOH! Kau pikir aku hanya ingin memisahkan mereka berdua saja? Cih! Tujuan utama ku adalah untuk membunuh Alin.. Membunuhnya..."


Dengan berjalan anggun ala fashion show abal-abal, Yeni berjalan dengan percaya diri melalui para penjaga dan pelayan yang ada koridor, mereka yang ada di sana pun hanya bisa geleng-geleng kepala nya.


...****************...


Berlanjut pada hari berikutnya. Hari ini adalah hari pertama seorang alumni kulkas berjalan harus kembali menjadi kulkas berjalan setelah sekian lama menjadi cupcake hangat untuk seorang wanita tercinta nya.


Di pagi hari itu sungguh bimbang sekali hati Lukas, di setiap kegiatannya, dari bangun tidur, beberes kamar, mandi dan berpakaian selalu saja ada pikiran yang sungguh rumit. Yaitu bagaimana cara untuk berperilaku dan berkata-kata supaya terkesan menjauhi nya.


Tapi tidak ada satu pun yang passs! Sangat pass!


"Aauurrghhh! Apa aku harus mencari cara untuk menjauhi seseorang kedunia manusia?! Huftt... Aku harap saran dari manusia internet bisa membantu. Ck!" Jeritt Lukas yang frustasi.


Frustasi karena tidak mendapatkan jawaban yang tepat pada saat itu, Lukas mengacak-acak rambutnya yang basah itu dengan sangat frustasi, benar-benar frustasi. Untuk beberapa saat Lukas menatap ke cermin, menatap rupa nya sekarang.

__ADS_1


"Loh? Kok aku semakin tampan yak? Pelet cermin pasti!" Lukas memuji dirinya sendiri sambil senyum-senyum.


Segera setelah nya Lukas kembali bersiap, menata rambut dan bajunya dengan sangat rapi. Lukas pun berjalan ke pintu dan membukanya.


Benar-benar terkejut sekali, Lukas terpekik ketika melihat Alin sudah stay di Koridor depan kamarnya. Alin ternyata sudah bangun pagi-pagi sekali dari Lukas, ia telah lama menunggu nya di sana. Ia saat itu terlihat sedang menunggu bersama Ye Min di kursi luar.


Saat melihat Lukas keluar, Alin langsung menghampiri nya, menempel bagaikan magnet. Seperti biasa, Alin berseru dengan antusias, wajah imutnya pun terekspos untuk menghampiri Lukas.


"Lukas... Ayo sarapan bersama!"


Kali ini sepertinya Lukas masih tidak dapat menolak tawaran Alin, ia nampak pasrah di tarik menuju dapur istana. Alin meraih tangan Lukas dengan lembut, membawanya pergi dengan cepat ke dapur istana sebelum kelas di mulai.


Sesampainya di sana mereka duduk bersama dengan Gion dan anggota KIMASEF yang lainnya, menunggu pak Gendi menyiapkan sarapan. Tapi kali ini sepi sekali rasanya, tidak ada Reyhan yang selalu bercanda dan melawak untuk mencairkan suasana.


Untuk sesaat Alin memandang sekitar setelah duduk di kursi. Seperti ada bayang-bayang Reyhan sedang berkeliaran di situ, ada banyak sekali kenangan yang tertinggal di dapur istana bersama Reyhan, tapi sepertinya hanya Alin seorang yang merindukan kehadiran nya.


Sarapan pun berjalan dengan sunyi sepi, hanya terdengar dentingan piring dan alat makan serta obrolan ringan. Para pelayan dan koki yang telah pergi meninggalkan dapur, membuat suasana menjadi semakin sepi tanpa kegaduhan mereka.


Setelah sarapan selesai, Yeni bangun lebih dulu dari tempatnya, menghampiri Lukas dan mengetuk-ngetuk punggung nya dengan pelan.


"Master menyuruh kita untuk memeriksa daerah, terdektesi adanya wabah di sekitaran kota kita."


"Hm. Urus persiapan rapat."


Lukas kemudian berdiri dari tempatnya, meninggalkan beberapa bulir nasi pada piringnya. Ia berjalan mendahului semua orang yang di susul oleh Yeni di belakangnya.


Semuanya pun berdiri dari tempat masing-masing, berjalan mengikuti Lukas ke suatu tempat. Untuk sesaat Alin sedikit merasa aneh dengan Lukas yang tiba-tiba bersikap dingin padanya, dengan wajah yang bingung nan aneh, Alin berjalan paling belakang pada rombongan itu.


"Kenapa lagi orang itu?! Salah apa aku? Apa dia kerasukan setan?" Alin berjalan dengan santainya di belakang, berkacak pinggang sambil mengomel heran.


Mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan setelah beberapa saat berjalan menyusuri koridor istana, tepatnya di aula istana.


Akan tetapi seluruh anggota KIMASEF telah masuk ke dalam, untung saja Gion menyadari akan keterlambatan Alin di belakang. Ia pun berbalik dan menghampirinya dengan kuatir.


"Alin, kau tertinggal, ada apa?"


"Ah, tidak apa-apa. Hanya penasaran kenapa Lukas membawa kita kemari." Alin tersenyum paksa sambil menggaruk sedikit tengkuknya, seakan tidak terjadi apa pun.


"Ooh, kita akan rapat, ini baru pertama kali kau, kan? Ini akan menambah kesan baru untuk mu di KIMASEF."


Gion tersenyum lebar ketika mengingat ini akan menjadi hal baru yang dapat Alin kagumi nantinya.


"Sepertinya menarik, tapi... apa kita akan mengadakan rapat di aula istana? Tidak mungkin kan?"


"Itu dia yang akan menjadi salah satu kesan baru mu! Ayo!"


Gion menarik tangan Alin, menuntunnya untuk lebih cepat mengikuti yang lain. Ternyata anggota KIMASEF lainnya juga menyadari akan ketertinggalan mereka berdua. Mereka pun menunggu Alin dan Gion ditangga sekarang.


"Lama sekali, kami tidak akan menunda rapat hanya karena kalian, kan?" Tatapan Lukas mendingin, tatapan nya menjadi hampir sama seperti diawal Alin pertama kali bertemu dengannya, menyeramkan.


"Sudahlah Lukas, inikan pertama kalinya Alin ikut rapat. Dia masih butuh sedikit adaptasi dengan organisasi kita. Oke? Ayo, ayo, jangan buang-buang waktu lagi." Ucap Gion


Gion mencoba mencairkan suasana mereka, ia tau kalau Lukas sepertinya sedang dalam suasana hati yang baik. Ia merangkul Lukas, menuntun yang lain untuk naik ke lantai atas, menyisakan Alin di belakang beberapa anak tangga.


Alin terdiam, ia menjadi menciut karena kedua hal yang ditakutinya kini datang secara bersamaan. Ia menatap anak tangga yang ada di atas nya, bayang-bayang akan suatu kejadian yang terakhir kali terjadi di sini membuat Alin seketika menjadi gelisah.


Bayang-bayang dimana ia pernah merasa seperti membunuh seseorang di sana. Gelap, darah, mayat, cahaya redup... Tangan Alin menjadi sangat dingin dengan tubuhnya yang kini mulai gemetaran.


Tatapan Lukas tadi juga menambah semakin tercekiknya nyali Alin, tatapan itulah yang paling Alin benci, tatapan yang tidak pernah ingin dilihat nya lagi.

__ADS_1


Kembali Alin sedikit tertinggal di belakang, Gion pun juga kembali memanggilnya.


"Alin! Kau tertinggal lagi, cepat!" Teriak Gion sambil sedikit menoleh kebelakang.


"O-oh. Ya, aku segera kesana."


Dengan kondisi kepala yang masih berputar-putar dan perasaan gelisah, Alin melangkah satu demi satu anak tangga dengan lebih cepat hingga menyusul yang lain.


Sesampainya di tangga terakhir, Lukas yang berdiri memimpin di depan mengibaskan jubahnya, lampu-lampu di lantai atas pun seketika langsung menyala semua.


Seperti yang Gion katakan, ini akan menjadi kesan yang baru bagi Alin. Tak seperti terakhir kali ia mendatangi tempat itu dengan suasana gelap gulita, tempat itu sekarang terlihat seperti ruangan-ruangan rapat pada umumnya, dengan desain khas istana yang elegan.


Mereka duduk disana, mengambil tempat masing-masing. Tujuh kursi telah tersedia dengan satu kursi untuk ketua. Tapi sekali lagi Alin menoleh ke sisi yang kosong, dimana ada terasa yang kurang, yaitu anggota mereka. Sedih sekali rasanya.


Untuk sesaat Alin melamun dengan rindu di hati, hingga suara Lukas yang ada di samping memecahkan kesejahteraan lamunan.


"Semuanya, dengar dan perhatikan."


Lukas memunculkan sesuatu seperti hologram di depannya, terlihat bagaikan dunia modern 4000 tahun kemudian.


Ia menggeser hologram itu seperti sebuah beban, dengan gampang menariknya untuk berpidah kebelakangnya. Kursi milik nya diputar, hingga ia pun dapat melihat hologram itu.


"Jadi menurut laporan dari para tua-tua juga pemerintah di beberapa kota, wilayah yang sudah terkontaminasi adalah kota Hari, Cimki, Wudeo, dan Fuken. Mereka memiliki presentasi wabah yang berbeda-beda." Ucap Yeni seraya berjalan kedepan mendekati hologram yang di tampilkan.


"Kota Hari dengan presentase 2%, Cimki 52%, Wudeo 23%, Fuken 82% dari penduduk mereka masing-masing. Sejauh ini para tabib dan para penyihir ramuan, masih belum menemukan penawarnya." Imbuh Yeni lagi.


Semuanya pun memeriksa laporan itu kembali, mengamati beberapa lembar kertas yang sudah berada di hadapan mereka sekarang. Untuk beberapa saat suasana menjadi terasa mencekam ketika


"Sudah berapa lama wabah ini berlangsung? Kelihatannya wabah ini sangat cepat berkembang. Apalagi kota Fuken memiliki jumlah penduduk yang tidak sedikit, hampir sama dengan kota krestin. Jika 82% sudah terkonfirmasi, itu pasti sangat parah." Ucap Gion yang terlihat serius.


"Sudah hampir sepekan."


Mendengar hal itu, seperti nya sekarang Lukas akan bicara, karena sekarang ia mengacungkan tangannya, meminta perhatian.


"Tunjukan gejala wabah." Pinta Lukas dengan dingin.


Secepatnya Yeni melaksanakan perintah itu. Hogram tadi di kibaskannya pelan, seketika itu pun, tulisan-tulisan langsung bermunculan. Tulisan yang ada di sana adalah gejala dari wabah yang sedang terjadi di beberapa kota. Mereka pun memperhatikannya dengan seksama.


...1. Demam hingga 40°c...


...2. Timbulnya selera terhadap darah...


...3. Mulai tidak merasakan pergerakan tubuh sendiri/kehilangan kedali terhadap tubuh...


...4. Tumbuh nya taring...


...5. Akan selalu haus/lapar...


...6. Mulai akan terpacu untuk mengigit...


...7. Gejala nya akan berangsur menjadi permanen...


Beberapa saat suasana menjadi mencekam karena sunyi nya tempat itu. Sekeliling sekarang dikelilingi oleh orang-orang yang seperti sedang mengasah otak mereka di sana, mengerikan...!


Alin yang merasa sedikit aneh, bingung, serius, juga ikut berfikir, sambil memikirkan kata demi kata, ia menggigit ujung pulpennya. Setelah di pikir-pikir.. Sepertinya gejala-gejala itu mengingatkan nya tentang sesuatu.


"Hmm... Kenapa.. gejala ini seperti di film-film, yah? Seperti.. di film zombie dan Vampir. Tapi ini versi kombinasi nya, mungkin?" Gumam nya dengan terus terang.


"Vampir?! Zombie?!!!!"

__ADS_1


__ADS_2