
[Dunia ini hanya sebuah dongeng, mereka hanya karakter didalam buku, mereka semua hanya tulisan diatas sebuah kertas.]
[Seakan seperti ending yang tak pernah berakhir, ending yang takkan pernah didapatkan....Tapi bukankah itu yang menarik?]
[Kalian hanyalah sebuah karakter didalam sebuah dongeng...]
.
.
.
.
"Alin–!"
Alin tiba-tiba tak sadarkan diri kembali. Tubuhnya perlahan terkulai lemas dalam genggaman Lukas. Rasa sakit di lehernya itu seakan mengganas, sakit sekali, rasanya seperti ditusuk sesuatu namun tak ada yang bisa melihatnya.
Secepat mungkin Lukas menangkap tubuh Alin sebelum terjatuh ke lantai, kemudian ia membaringkan Alin dikasur laboratorium didekat mereka.
Mereka benar-benar terkejut melihat Alin yang tiba tiba pingsan dan tak sadarkan diri itu lagi, mereka bingung... Apa yang terjadi dengan Alin sekarang?
Wajah Alin kembali pucat, dia berkeringat dingin. Sekilas Lukas bisa melihat bekas cengkraman hitam dileher Alin. Namun saat matanya berkedip sekali.... Bekas cengkraman itu menghilang.
"Apa tadi barusan ....?" Gumam Lukas dengan sangat pelan.
Lukas memegangi jidatnya sendiri, kebingungan dengan apa yang barusan dia lihat.
Kael dan Gion juga berusaha memahami situasi disini, apa yang terjadi kepada Alin? Lalu tiba-tiba mereka merasakan merinding yang hebat pada tengkuk leher.
Begitupun Lukas, bulu kuduknya merinding disertai rasa gelisah yang hebat, entah karena apa. Tidak mereka sadari manik birunya Lukas tiba-tiba saja berubah menjadi merah darah.
Ada sesuatu yang tidak beres, bahkan 'sesuatu' yang diam di dalam tubuh Lukas sampai merasakan ketakutan itu..
Ketakutan macam apa ini? Apa yang membuat mereka bertiga begitu merinding....
"Lukas... kau merasakannya juga kan?"
Kael bertanya sambil menoleh dan menatap Lukas. Tapi dalam sekejap manik merah darah tadi kembali menjadi warna biru muda tanpa sempat Kael melihatnya.
Lukas hanya diam tanpa menjawab, kemudian tiba-tiba dia berdiri dari tempatnya dan berjalan keluar dari laboratorium istana tanpa satu katapun. Perasaannya tidak karuan, tidak bisa dimengerti, hanya ada rasa takut dan gelisah... Sesuatu tidak beres.
"Lukas! Kemana?!" Teriak Gion saat adiknya, Lukas yang berjalan tanpa arah itu semakin jauh meninggalkan mereka.
.
.
.
Lukas berlari, dia tidak tau berlari kemana kakinya melangkah. Namun kakinya terus berlari ke suatu tempat yang bahkan Lukas sendiri tidak tau kemana langkah kakinya akan membawanya pergi.
Seperti seseorang menuntun langkahnya. Manik merah Lukas menyala, mata merah yang semerah darah itu seakan-akan sudah tau siapa yang membuat atmosfer disekitar sini menjadi begitu dingin dan mengerikan.
"AAAAGHHHH–!!!! KAU IBLIS!! JANGAN COBA COBA KAU MENGANCAMKU–........"
Suara teriakan terdengar dari kejauhan, Lukas mengenali suara ini... Namun situasi tiba tiba hening. Bunyi tebasan pedang terdengar sekilas, benar-benar tidak beres. Lukas kembali berlari, tapi kali ini dia menemukan tujuan langkahnya, ke asal suara itu.
Langkah Lukas berhenti setelah beberapa saat berlari, dia menatap sosok pria muda berambut hitam panjang yang dikepang, dengan manik mata heterochromia biru dan violet. Didepan pria itu terdapat seorang pria berbaju jirah yang kelihatannya familiar.
"Henil!" Teriak Lukas terbelalak.
Tubuhnya terbaring lemah dengan mengalirkan darah segar dari perutnya yang sobek. Darah segar itu mengotori tanah dengan warnanya yang pekat. Seperti bekas tusukan pedang di sana, namun Henil memegang pedang itu sendiri...
Apa dia bunuh diri? Itu tidak mungkin, dia tak mungkin bunuh diri! Pasti ulah pria muda misterius ini!
"Kau siapa?" Tanya Lukas dengan tatapan yang menusuk.
Kini mata merahnya berubah kembali menjadi warna biru. Lukas menatap tajam pria muda bermata Heterochromia itu.
Pria itu hanya tersenyum penuh makna saat mata mereka bertemu, senyuman yang tak bisa dimengerti oleh pola pikir manusia. Senyuman yang begitu memikat.
"Ternyata kau murid Yohan Jovial ya?"
Lukas lagi-lagi terdiam, namun kemudian jantungnya berdetak kencang... Bagaimana pria ini bisa tau dia adalah murid Yohan Jovial?
Seorang Dewa penghancur yang bukan berasal dari dunia ini. Apa pria muda ini berasal dari dunia yang sama dengan Yohan?
"Jawab pertanyaan ku! Kau siapa?! Kenapa kau membunuh Henil?!" Bentak Lukas menodongkan ujung pedangnya yang tajam ke arah Pria itu. Iris birunya menatap dingin pria bermata Heterochromia didepannya.
Pria muda itu hanya tersenyum, mengangkat tangannya seakan-akan dia sudah menyatakan bahwa dia menyerah di tangan Lukas.
"Baiklah tuan pemarah... Jangan tancapkan pedang itu ke tubuhku.."
Lukas menatap dingin pria itu. Kemudian terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang grasak-grusuk berlari dengan tergesa-gesa ke arahnya dari belakang. Lukas sedikit melirik ke arah orang-orang itu yang terdengar terengah-engah di sisi-Nya.
"Pangeran! Hahhhhh..." Dua orang pengawal menghela nafas berat di sisi Lukas setelah kelelahan berlari.
"Pangeran! Anda sedang apa di sini? Kami diperintahkan untuk mengikuti and-
Tiba-tiba saja kedua pengawal itu terdiam membeku di tempat. Sedetik kemudian jantung mereka berpacu melihat Henil, kepala pasukan mereka terkapar tak bernyawa di tanah dengan bersimbah darah.
"Tuan! Tuan Henil! Tuann!" Jerit mereka yang langsung berlari dan berlutut membekap tubuh Henil yang terbaring.
Tentu saja mereka dengan refleks menggunakan sihir penyembuh pada Henil. Namun sudah terlambat, tidak ada harapan lagi. Kedua pengawal itu menatap Lukas dengan wajah yang kuatir sekaligus sedih, tapi Lukas hanya membalas mereka dengan tatapannya yang dingin dan cuek.
"Pangeran..Tuan Henil..." Ucap salah satu pengawal dengan suara serak yang gemetar.
"Bawa Henil dan 'orang ini'."
Reaksi emosi Lukas tergolong datar saat melihat seseorang yang dia kenal mati di depannya. Tapi memang seperti itulah Lukas yang sekarang. Dia berbalik dan berjalan di depan mendahului mereka. Seketika sebuah borgol sihir muncul dan mengunci tangan pria misterius itu.
Akhirnya dia memerintahkan pengawalnya membawa pria itu ke dalam tenda untuk di interogasi.
__ADS_1
.
.
.
"Siapa sebenarnya pria misterius ini?"
Lukas duduk didepan pria itu, disebuah tenda yang tertutup dengan pencahayaan yang minim membuat suasananya mencekam. Hanya ada satu meja dan dua kursi serta lilin kecil di salah satu sisi meja menemani mereka.
"Namaku Neverth Dominique Agrey... panggil saja Nev." Ucap Pria bermata Heterochromia biru dan violet itu dengan ekspresi yang tenang.
Bagian Dominique dan Agrey masih wajar... Namun Neverth? Lukas baru pertama kali mendengar nama yang seperti itu.
Mata biru Lukas berusaha mengamati Nev dari ujung kaki sampai ujung rambut, dan bodohnya Lukas malah salah fokus ke cara berpakaian Nev.
Kemeja putih berkerah Ruffle, masih normal, namun yang menganggu adalah... Kenapa Nev membiarkan dadanya terlihat? Mana kekar banget lagi itu dada, empuk kali ya kalau dipegang..
"Ini orang gak masuk angin apa? Kebuka itu aurat oi.. Pamer dada gitu, untung lanang." Batin Lukas kemudian mencoba menatap kembali ke arah Nev, namun pria itu malah menutupi dadanya dengan kedua tangannya, berlagak seperti wanita yang di intip.
"Aaw~ kamu ngintip dadaku? Dasar tidak sopan..." Nev berbicara sembari tersenyum jahil dan sedikit menggoda, membuat Lukas semakin kesal dan akhirnya panas.
"Ngotak lah setan! kau yang gak benar makai baju!"
"Yah kamu jangan liatin juga dadaku lah, mesum sekali.."
"Yah kau mikirlah sat, siapa yang gak salfok coba? Situ Pamer dada,"
"Yaudah jangan dilihat."
Perdebatan ini membuat emosi Lukas memuncak dan akhirnya, Nev mendapatkan tiga tamparan keras diwajahnya, kiri kanan pula.
Nev kemudian memegang pipi kirinya yang terasa lebih sakit dari pipi kanannya, Lukas memukulnya dengan tenaga dalam, untung saja jiwa Nev tidak ikut keluar di setiap pukulan itu.
"Jawab dengan serius, kau ini sebenarnya siapa? Kenapa kau bisa tau aku ini murid Yohan? Dan apa yang kau lakukan ke Henil?"
Lukas menatap tajam kearah Nev, pria itu kemudian menghela nafas panjang sebelum menjawab.
"Aku tidak melakukan apapun ke pengawal itu, dia lah yang gila...dan aku ini siapa? Sebut saja aku hanya seseorang yang gabut dan sedang mencari kesenangan~"
.
.
BRAKK
Mendengar perkataan Nev, Lukas naik pitam. Tangan Nev yang terborgol di atas meja oleh sihir, tiba-tiba saja ditusuk cepat oleh belati tajam milik Lukas. Sangat cepat, bahkan pergerakannya hampir tidak disadari oleh mata.
"Ounch..!"
Kedua tangan Nev yang berada diatas meja itu tertusuk belati milik Lukas, tertancap sangat dalam hingga menembus meja. Benar-benar sangat dalam, darah segar terciprat dan mengalir deras pada meja disana.
Darah itu terciprat sedikit ke sebuah lilin kecil yang ada di atas meja, mengotori permukaan meja dan lengan kemeja berwarna putih milik Nev. Namun anehnya, ekspresi Nev tidak menunjukan rasa terkejut sedikitpun, hanya sedikit meringis kemudian bersikap tenang kembali.
Untuk beberapa detik, Lukas sedikit salah fokus dengan respon dari Nev. Karena yang dia lakukan pada Nev bukanlah hal yang biasa-biasa saja, tangannya sedang tertusuk, berdarah, terluka, bagi orang berbahaya sekalipun itu merupakan suatu acaman. Tapi berbeda dengan Nev, responnya cukup datar.
Tatapan Lukas dingin, menusuk langsung ke jiwa Nev. Tatapan mata penuh amarah, benci dan terganggu.
Lukas takkan segan-segan membunuh Nev, jika pria bermata Heterochromia itu semakin kurang ajar. Dia takkan segan-segan menyingkap pedangnya dari sarung dan menusuk pedang itu ke tenggorokan Nev supaya berhenti untuk berbasa-basi.
"Huftt... Ayolah.. Bajuku jadi kotor terkena darah."
Nev menghela nafas panjang menatap Lukas yang seakan sudah siap menusuk jiwa Nev dengan tatapannya. Namun Nev sepertinya lebih khawatir dengan lengan kemejanya daripada kedua tangannya yang sekarang berlumuran darah dan tertancap sangat dalam di atas meja itu.
Benar-benar gila, dia bahkan lebih peduli dengan kondisi pakaiannya daripada dirinya sendiri? Apa dia seorang psikopat?
Yup, Nev bukanlah orang biasa, bisa dikatakan dia seorang psikopat gila yang sudah tak memiliki hati nurani. THE PURE EVIL.
"Lengan baju ku jadi kotor terkena darah.. Kau ini benar benar pemarah, ya?"
Ekspresi Nev benar-benar tenang, membuat Lukas semakin marah dan jengkel padanya. Karena Nev tak ingin menambah masalah akhirnya dia diam sejenak dan menghela nafas panjang.
"Kau lah yang seharusnya lebih berhati hati. Hampir saja kita terlambat, kau memang punya tingkat kepekaan yang rendah. Kau membiarkan pengawal mu itu hidup bebas? Bodoh..!" Decak Nev dengan nada suara yang sinis.
Tiba tiba atmosfer disekitar menjadi mencekam, tubuh Lukas seakan ditusuk oleh ribuan jarum melalui tatapan Nev yang sangat tajam. Aura mengintimidasi ini terlalu menusuk, tatapan mata Nev seperti duri mawar yang tajam, seperti sebuah bilah pisau yang siap menusuk tanpa aba-aba dari segala arah. Tatapan mata yang membalas menusuk ke dalam jiwa Lukas.
Tapi saat Lukas berkedip sekali, Nev masih berekspresi tenang seperti sebelumnya. Apa ini? Apakah ini hanya halusinasi saja?
"Kenapa.. Kenapa kau berpikir begitu? Memangnya apa hubungan mu dengan semua ini?"
Lukas bertanya lagi dengan nada tegas, menatap benci dan muak ke arah Nev. Berusaha menjauhkan rasa takut terintimidasi dari Nev yang barusan dilihatnya.
"Huh... Kalian itu hanyalah sebuah karakter dalam sebuah buku. Jadi sangat mudah menebak keseluruhan situasi disini. Masa depan? Masa lalu? Atau yang sekarang?" Dengus Nev sinis dengan nada angkuhnya, membuat Lukas semakin geram dan ingin memotong lidah milik Nev lalu mencincangnya.
Lukas hanya mendapatkan satu kesimpulan, bahwa orang ini lebih berbahaya dari yang dia duga. Kemudian, Lukas teringat sesuatu...
Gurunya,Yohan Jovial, pernah menyuruhnya berhati hati dengan seseorang. Namun Yohan memanggil seseorang itu dengan sebutan 'The Reader'
.
.
*Flashback*
"Seseorang itu siapa om?"
"Orang itu sudah lama meninggal, namun ada kemungkinan besar dia akan terus kembali... Seakan akan dia takkan bisa mati sebelum melihat sebuah 'Ending'... Kami menyebutnya sebagai 'The Reader'.."
"Uhm...The Reader? Dia hanya pembaca saja kah? Apa hebatnya dia?"
"Memang terdengar remeh, namun sebenarnya... dia adalah kunci utama permasalahan. Kau, jangan sampai terjerumus ke rencananya. Sekali masuk, mungstahil untuk keluar. Dia adalah pria dengan sejuta wajah dan memiliki lidah yang begitu tajam seakan bisa memanipulasi..."
.
.
__ADS_1
Seseorang itu, apa maksudnya adalah Nev? Jadi benar orang ini dan Yohan berasal dari dunia yang sama?
Lukas harus berhati-hati.
"Sudah selesai melamunnya? Ayo buat kesepakatan...."
Tiba tiba Nev berbicara, memecahkan lamunan Lukas dengan suaranya yang masih tenang tanpa menunjukkan ekspresi kesakitan sedikitpun. Lukas hanya diam, namun sebenarnya dia mendengarkan dan nampak sedikit tertarik dengan yang ditawarkan Nev.
"Kau lepaskan aku, dan aku akan membantumu.."
Hanya dengan kalimat itu, mata biru Lukas terbuka lebar. Barusan dia bilang akan membantunya? Tidak, Lukas tidak boleh percaya dengan Nev.
"Omong kosong...! Kau pikir aku akan menerima tawaran mu?"
Lukas menatap Nev dengan begitu dingin, membuat Nev lagi dan lagi menghela nafas panjang sebelum melontarkan kata-kayanya.
Mungkin Nev akan mulai berbicara lagi, dan mencoba memanipulasi Lukas dengan segala cara... Tapi Lukas takkan tertipu–
"Oh, yasudah."
".....Apa?" Pekik Lukas sedikit tertegun dengan suara pelan.
"di-dia menyerah begitu saja? Apa benar dia yang diceritakan om Yohan?" Lukas membatin dengan perasaan terkejut.
Bagaimana bisa Nev menyerah begitu saja? Tidak kah dia ingin bernegosiasi? Atau mungkin memohon pada Lukas? Ataupun memaksanya untuk setuju?
"Yasudah...? Apa maksud mu yasudah?"
"Hah? Yasudahlah, yasudah ajalah..kalau gak mau dibantu yasudah tidak apa-apa...tapi tolong lepasin dong ini belati, aku anemia euy.." Nev berbicara sambil matanya melirik ke belati yang masih tertancap dikedua tangannya diatas meja.
Darahnya masih mengalir dengan banyak di sana. Lukas mengigit bibir bawahannya, langsung tenggelam dalam lamunan.
Apa yang harus dia lakukan? Tawaran Nev nampak menggiurkan... Namun, dia seharusnya tak mempercayai Nev.
"Kau... Benar-benar tau cara menolong kami?"
Lukas bertanya dengan sedikit keraguan pada suaranya, berusaha memastikan apakah yang dikatakan Nev itu benar atau hanya omong kosong?
"Masih saja bertanya, kalau aku tidak tau.. Aku mana mungkin membuat penawaran seperti tadi. Yasudah kalau kau tidak percaya."
Sesaat Nev terdiam, dia menoleh dan menatap ke bagian tenda yang terbuka. Dia menatap langit gelap yang seakan mencekam dengan warna orange dan merahnya, ekspresi tenang, sedikit senyum di sudut bibirnya.
"Ah, buktinya, aku tau kamu tidak akan mencoba membunuhku untuk 6 jam kedepan. Lalu, danau bulan kalian akan terbelah menjadi dua tidak lama lagi..." Nev menyeringai menatap Lukas yang nampak frustasi dengaan dirinya sendiri.
"Apa maksudmu?!"
JDARRR
Sebuah kilat besar melesat dengan cepat di langit yang terlihat mendung dengan warnanya yang tidak wajar. Dari kejauhan, mereka bisa mendengar suara air yang tenang seperti dipukul dengan keras dan terdengar juga suara teriakan pengawal yang berjaga berlarian ke arah tenda.
Lukas tertegun, dia menatap ke bagian tenda yang terbuka. Matanya terbelalak menyaksikan apa yang sekarang terjadi.
"Pangeran! Danau bulan terbelah!" Teriak salah seorang pengawal yang berada di luar tenda.
"Dewa! Tolong! Demi dewa! Apa ini?!"
Dalam sekejap suasana menjadi riuh di luar, teriakan demi teriakan pengawal dan prajurit seakan mendekat ke tenda. Tapi mereka tetap di dalam, diam didalam situasi yang mencengkam.
"Malapetaka... berkunjung." Gumam Nev sambil memejamkan matanya dengan tenang.
Sial! Kata-kata dan pembuktian Nev berhasil membuat Lukas bimbang. Apa Nev benar-benar bisa dipercaya?
Semua pertanyaan muncul di otak Lukas, semuanya dari A-Z. Dia berusaha memikirkan berbagai kemungkinan dan apa yang akan terjadi dimasa depan jika dia menyetujuinya.
Keraguan...
kebimbangan...
Apakah ini sepadan..?
"Aku tau aku ini orang asing, kau pasti curiga denganku sekarang....Tapi percayalah, aku memang tau bagaimana cara mengatasi situasi mu.."
Manik Heterochromia biru nya seakan mengkilap saat matanya terbuka. Senyum tipis yang begitu mengintimidasi, memaksa siapapun yang melihat nya untuk yakin.
Tanpa terduga Nev tiba-tiba menarik kedua tangannya, membuat beberapa bagian telapak tangannya terbelah karena belati yang tertancap... Darah berceceran dan mengalir kemana-mana lagi. Bahkan mengotori tanah, meja dan kemeja putih Nev lagi, lebih banyak.
Lukas terbenyit ngilu melihatnya. Melihat daging yang berjuntai setelah terbelah dengan darahnya yang bersimbah kemana-mana.
Tapi Nev.. masih terlihat tenang dan bersenang-senang seperti anak kecil... "Oyy... Gemoy juga begini.."
Untuk seorang yang dijuluki 'The Reader', pasti Nev memang mengetahui semuanya...
Saat Nev masih sibuk memainkan dagingnya yang terjuntai dan terbelah menjadi empat itu, Lukas terdiam. Dia menenggelamkan sebentar dirinya dalam lamunan sambil menatap genangan kecil darah yang ada di tanah.
"Haruskah?"
Mata biru yang sekilas terlihat mengkilap. Sesaat juga sebelah manik matanya terlihat samar-samar hampir berubah menjadi merah. Tapi saat Lukas mengangkat kepalanya dan menatap Nev, itu menghilang.
"Baiklah...aku terima tawaranmu."
Ucap Lukas menatap Nev dengan setengah yakin dan setengah ragu. Mendengar itu, Nev kemudian tersenyum penuh makna, namun membuatnya juga seolah-olah tersenyum lembut.
"Well then~ senang bisa bekerja sama denganmu."
Lukas sudah memasuki semua rencana Nev. Ah tidak..bahkan jika Lukas menolakpun, dia sudah memasuki semua rencana Nev.
Semua ini sudah tersusun rapi oleh Nev.
–TO BE CONTINUED–
Bonus:
Nev: Btw, kalian ada sihir penyembuh gak? Sembuhin dong...tangan saya kebelah :( baju saya juga jadi kotor...
Lukas: Makanya tangannya Jan ditarik:> bleber semua kan darahnya.
__ADS_1
//Author kalian sudah tertekan secara batin dan mental :D