
Lukas dan Alin sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat sekarang. Dengan perlahan, Lukas memundurkan langkahnya seraya melindungi Alin yang tengah bersembunyi di belakang. Lukas bukannya takut kepada Indra, namun kemampuannya yang sedang lemah saat ini sangat mudah untuk di jadikan kelemahan.
Apalagi dengan adanya kalung Alin, resiko akan menjadi lebih tinggi bagi kekalahan mereka. Jika kalung Alin itu jatuh ke tangan Indra, dunia sihir putih akan di kuasai penuh oleh dunia sihir merah.
Demi keselamatan sisa-sisa pasukan mereka, Alin menyuruh pasukan itu untuk mengamankan diri mereka masing-masing. Sudah banyak sekali korban jiwa dari para pasukan dunia sihir putih, ia tidak ingin ada lebih banyak korban lagi, cukup sampai di situ pengorbanan mereka.
"Pasukan! Mundur!" Teriak Alin.
Saat mendengar Alin berteriak meminta pasukan untuk mundur, Indra malah terkekeh geli. Dengan senyuman jahatnya, Indra berbicara kepada Alin yang terlihat panik dan ketakutan di belakang Lukas.
"Hahaha...Tenang saja putri Jiu. Aku tidak tertarik dengan pasukan kalian yang lemah itu. Aku... hanya tertarik pada kalian berdua."
"Katanya tidak tertarik. Tapi kenapa Hom mereka tertarik untuk membunuh para pasukan?!"
Indra mengayunkan tongkat sihirnya dan mengarahkan tongkat itu ke arah Alin dan Lukas. Tiba-tiba saja ada sebuah tanaman merah yang menjalar muncul dari bawah tanah. Dengan cepat tanaman itu langsung menangkap mereka dan mengangkatnya ke atas tanah. Lukas dan Alin tidak bisa melawan lagi, kini mereka terjebak. Dengan kekuatan dan tenaga yang yang sudah hampir terkuras semua, mereka sudah tidak bisa memberontak akan kekuatan Indra yang sangat kuat itu.
"Lepaskan kami! Orang gila! Siapa kamu?! Lepaskan kami!" Teriak Alin memaki-maki Indra seraya memberontak untuk keluar dari tanaman menjalar itu.
Namun seperti biasa Lukas hanya diam dengan muka yang terlihat dingin dan tenang. Tidak ada yang bisa menebak perasaan apa yang sedang ia rasakan pada saat itu. Entah itu marah, kuatir, ketakutan, ataupun gelisah, tidak ada yang tau.
"Di mana teman-teman kami?!" Tanya Lukas lagi.
"Teman-teman mu? Pfttt.. Kau sekarang diambang kematian, kau sekarang ada di tanganku dan ada sebuah racun yang perlahan akan membunuhmu, tapi kau masih mengkuatirkan teman-temanmu? Bodoh sekali! Tapi... baiklah.." Ucap Indra dengan nada yang ketus.
Tiba-tiba saja ada sebuah tanaman menjalar raksasa yang keluar dari tanah, dengan cahaya merah terang tanaman itu mengangkut teman-teman mereka. Kael, Gion, Reyhan, kepala pasukan, Neli, dan Sarah bergelantungan diangkut oleh tanaman itu. Mereka memberontak dan mencoba untuk melepaskan diri, namun hasilnya nihil, mereka tetap tidak bisa terlepas dari tanaman itu.
"Lepaskan kami atau kau akan menyesal! Lepaskan kamiiiiii!" Teriak Reyhan yang mencoba untuk membebaskan diri tanaman itu.
"Oi Orang gila! Lepaskan aku! Aku akan membunuhmu! Awas saja!" Teriak Gion juga.
__ADS_1
"He! Ingin membunuh ku? Tenang saja, aku akan membunuh adikmu ini dulu. Jika aku sudah membunuhnya, maka aku akan mengizinkan kalian untuk mencoba membunuhku. Itu pun jika kalian bisa... Hahahaha..." Tawa Indra meremehkan mereka.
"Hei mulut bau! Jangan banyak bicara lagi, mulutmu itu bau! Tawa mu juga!" Olok Reyhan yang sudah kesal karena tak kunjung dilepaskan.
Mendengar hal itu, Indra menjadi kesal sekaligus jengkel dengan Reyhan. Dengan tatapan sinis nya, Indra berbalik dan memasangkan sebuah mantra rantai jiwa. Seketika, Reyhan dan yang lainnya langsung tidak bisa bergerak ataupun berbicara, seakan-akan telah di segel.
"Matilah... Hwaaaa bagaimana ini?! Matilah, matilah kami..." Batin Alin yang sudah sangat ketakutan.
Setelah memberi teman-teman Lukas sebuah mantra, Indra berbalik dan berjalan ke arah Alin. Dengan tatapan dan senyuman jahatnya, ia terlihat seperti seorang iblis yang ingin memakan mangsanya. Ia mendekat ke arah tanaman yang menjerat Alin dan tanaman ini langsung menurunkan cabangnya bersamaan dengan Alin yang ia jerat.
"Lepaskan kami... Aku mohon..." Pinta Alin yang sudah berderai air mata.
"Lepaskan dia Indra!" Bentak Lukas dengan ekspresi yang terlihat agak menyeramkan.
"Hm? Melepaskannya? Oh bodohnya kau... memangnya kau bisa apa?! Sudah terjebak masih berlagak! Lemah!" Maki Indra.
Kakinya bergetar ketakutan saat Indra mendekatkan wajahnya ke arah Alin. Indra yang melihat Alin semakin ketakutan, merasa senang dan ia pun tersenyum. Lukas sekarang tidak bisa berbuat apa-apa, semua kekuatan yang ia lakukan untuk menghancurkan tanaman rambat itu tidak berhasil. Tidak hanya Lukas namun teman-teman mereka pun tidak berdaya di segel rantai jiwa Indra.
"Jangan... jangan bunuh teman-temanku... lepaskan kami semua...Kumohon..."
"Tapi tidak bisa!" Tegas Indra dengan ekspresi yang menyeramkan.
Dengan tiba-tiba Indra menarik kalung yang di leher Alin. Tapi saat ia menarik kalung itu, ada sebuah petir yang keluar dari kalungnya dan itu membuat Indra terkejut. Dan saat petir itu menyambar, Alin meringis karena merasakan ada sebuah tekanan kuat yang menekan di dadanya.
"Ugh.. Sa-sakit..."
"Alin!" Panggil Lukas yang mulai kuatir.
Indra menjadi kecewa akan ketidakberhasilan nya mengambil kalung itu. Dengan ekspresi yang murung, ia menjauh ke belakang untuk beberapa langkah dan berbalik.
__ADS_1
"Humptt... Ternyata kakek tua itu sangat waspada. Ia bahkan meletakan segel kembar di jantung dan kalung cucunya. Merepotkan sekali!" Gumam Indra yang jengkel.
"Segel kembar? Segel apa itu? Dada ku terasa sakit sekali... Kakek, tolong Alin.." Batin Alin yang masih merasakan sakit di dadanya.
Hingga akhirnya, Indra teringat akan informasi tentang segel kembar. Ada sebuah cara yang akan membuka segel itu. Dengan menguji kesabaran serta tekad perasaan si pemakai segel jantung yang berhubungan dengan benda yang tersegel.
"Heh, cukup mudah untuk memprovokasi wanita ini. Dengan informasi yang aku punya, pasti rencana ini akan berhasil. Hatinya pasti akan mudah untuk di goyah kan! Hahahaha..."
Indra kembali berbalik ke arah Alin. Ia mendekat dan mengatakan sesuatu untuk membuat Alin kebingungan dengan pilihannya. Yang pasti ia ingin memprovokasi Alin agar hati nya menjadi goyah dan segel kembar itu akan terbuka.
"Begini saja, kita akan melakukan penawaran yang lebih mudah. Dengarlah! Jika kau menyerahkan kalung itu, aku akan pergi tanpa menyakiti teman-temanmu. Tetapi jika kau tidak menyerahkannya, orang yang ada di sebelah mu ini akan mati!"
Indra semakin mendekat ke arah Alin dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Bukankah dia orang yang kau cintai? kau pasti tidak akan tega melihat mayatnya yang terkapar di tanah, bukan? Pikirkan lah baik-baik..."
"Aku... Aku..."
"Heh! Jangan pernah berikan kalung itu! Biarkan saja aku mati! Jika kau memberikan kalung itu kita semua akan mati! Jangan lakukan itu!" Teriak Lukas memperingatkan Alin.
Lukas tidak tau perasaan Alin terhadapnya. Yang ia tau, Alin tidak ingin ada korban jiwa lagi. Namun ia tidak tau akan keberatan hati Alin yang akan melepaskan orang tercintanya itu. Kebingungan lah yang ada di kepalanya saat ini.
Alin menoleh ke arah Lukas yang ada di sebelahnya. Walaupun itu akan membunuhnya, Lukas masih terlihat tenang dan yakin dengan keputusan yang telah di buat. Namun hal itu membuat Alin semakin kebingungan. Ia tidak ingin memilih kedua pilihan itu, rasanya ia ingin menangis saja di pelukan hangat yang sering ia rasakan dulu.
Tidak ada kata tidak untuk pilihan itu, Alin harus memilih dari kedua pilihan. Ia merasa bingung, jika menyerahkan kalung itu, dunia sihir akan musnah dan jika kalung itu tidak di berikan, 1 orang, satu korban akan bertambah dan orang itu adalah orang sangat ia cintai.
"Aku tidak bisa membiarkan Lukas mati.. tapi aku juga tidak bisa memberikan kalung ini! Apa yang harus aku lakukan...?"
Indra merasa sangat senang, Alin mulai termakan kata-kata yang ia lontarkan. Memang benar dugaan dan informasi yang ia dapatkan, Alin memang mencintai Lukas. Karena merasa proses nya terlalu lama, terlalu lambat, Indra akhirnya melontarkan kata-kata yang akan memprovokasi nya lagi.
__ADS_1
"Jika kau tidak memberikan kalung itu kepadaku, orang tercinta mu itu akan mati dan ia tidak akan bisa bersama denganmu lagi. Tapi, jika kau memberikan kalung itu kepadaku, kau masih bisa merebut hatinya dari cinta pertamanya itu, bukan?" Ucap Indra yang terus menerus memprovokasi Alin.