
Alin bergegas masuk ke dalam kamar dan ia terkejut saat melihat Lukas ada di dalam kamarnya bersama Viko. Terlihat, Lukas sedang memegang tongkat sihirnya sambil duduk di lantai dan Viko berdiri dengan serius di menghadap Lukas. Saat Alin masuk mereka menoleh ke arahnya.
"Kenapa...?!" Tanya Alin bingung ingin menanyakan apa saat melihat Lukas di kamar nya.
"Apa?" tanya Lukas balik.
"Err...tidak, Kalian berdua sedang apa?" tanya Alin seraya meletakan keranjang buah yang ia pegang ke atas meja.
"Bukan urusan mu" Jawab Lukas sedikit jutek.
"Viko kan Glom ku, ya pasti itu urusan ku!"
"Cerewet... Cepat ganti baju mu dulu sana!" Perintah Lukas saat ia melihat baju Alin yang basah kuyup.
"Cerewet!" balas Alin mengejeknya.
Alin mengambil baju dari dalam lemarinya dan masuk ke dalam kamar mandi sambil membanting pintu.
...BRAK...
Mereka hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Alin. Mereka berdua kembali memfokuskan pikiran dan kembali melakukan latihan mantra Glom untuk Viko.
Beberapa lama kemudian Alin keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di sebelah mereka berdua. Alin tidak menyapa ataupun berbicara kepada mereka semenjak keluar dari kamar mandi tadi, ia hanya duduk memperhatikan Lukas dan Viko yang sedang berlatih mantra untuk Glom. Alin berdiri dari tempat duduknya nya untuk mengambil buah yang ada di atas meja.
"Tunggu!"
"Kenapa?" Tanya Alin sambil mengambil keranjang buah.
"Darimana kau tadi?"
"Bukan urusan mu!" Sahut Alin membalas Lukas tadi.
Lukas berdiri dan menghampiri nya dengan perlahan. Alin hanya terdiam berdiri di dekat dinding.
"Itu urusan ku, karena misi Regental khusus ku adalah menjagamu!" Sahut Lukas dingin seraya mendempetkan Alin ke dinding.
Ia meletakkan salah satu tangan nya di samping kepala Alin. Alin terlihat sangat tegang saat melihat Lukas mendempetkan nya. Muka mereka berhadapan dengan jarak yang cukup dekat dan itu membuat jantung Alin berdebar-debar serta membuat mukanya menjadi memerah.
...Deg deg deg...
Mereka menatap satu sama lain dalam waktu yang cukup lama dengan jarak yang lumayan dekat. Alin ingin berbicara tapi mulutnya terasa kaku dan matanya terpaku pada wajah Lukas.
"Mengerti?" tanya Lukas masih mendempet Alin di dinding.
__ADS_1
"o-oh, meng-mengerti" Jawab Alin terbata-bata sambil berusaha keluar dari dempetan Lukas, saat ia melihat tangan Lukas yang mulai melonggar.
Namun Lukas kembali mendempet Alin dan kini muka mereka sangat dekat.
"Jadi kau tadi darimana?" tanya Lukas lagi.
Alin menelan ludah dan sedikit mendorong Lukas untuk mundur.
"Mundur...Mundur sedikit." pinta Alin sambil mendorong nya sedikit.
Lukas mundur beberapa langkah ke belakang dan berdiri di hadapannya menunggu jawaban. Alin menatap Lukas beberapa saat, Lukas terlihat sedikit mengerikan dengan ekspresi nya yang dingin itu.
"Itu...Aku tadi pergi bersama Gion" Jawab Alin.
Setelah mendengar jawaban Alin, Lukas langsung kembali duduk di tempat nya tadi dan tidak mengatakan sesuatu. Alin pun duduk juga di lantai, di samping mereka berdua. Alin mengupas buah yang ia pegang tadi dan Lukas tidak menghiraukan Alin, ia hanya fokus pada Viko.
"Hmm..." Gumam Alin.
"Ada apa lagi?" tanya Lukas pada Alin tanpa mengalihkan pandangannya dari Viko.
"Kalau masih sibuk nanti saja"
"hm"
Lukas kembali fokus pada Viko dan Alin
"Aku ingin menanyakan sesuatu..." Ucap Alin memulai percakapan.
"Katakan"
"Dunia manusia kan memiliki bahasa yang banyak dari berbagai negara, lalu bagaimana bisa dunia sihir menggunakan bahasa dari negara kami?" Tanya Alin kebingungan.
"Tidak tau, Cari tau sendiri di buku sejarah dunia sihir!" Sahutnya.
"Tapi..."
"Apa lagi?"
"Tidak jadi" Sahut Alin merajuk karena di jutekin dari tadi.
Setelah itu Lukas hanya duduk diam sambil membaca bukunya dan sedangkan Alin ia bermain-main dengan Viko.
"Lain kali, Jika kau pergi kemana-mana beritahu aku. Jangan merepotkan ku!" Lukas tiba-tiba membahas itu lagi pada Alin yang sedang bermain dengan Viko.
__ADS_1
"Tergantung..." Sahut Alin sambil sedikit bercanda.
"Tergantung apa?"
"Tergantung seberapa baik kau memperlakukan ku" Jawab Alin bercanda sambil tersenyum ke arah Lukas.
"Itu tergantung juga, seberapa baik kau mendengar kan perkataan ku" Balas Lukas.
"Eh tapi tidak bisa begitu" Sahut Alin protes.
"Terserah kau saja, aku akan pergi" Lukas berjalan menuju pintu dan pergi meninggalkan Alin sendiri di dalam kamarnya bersama Viko.
Alin pun duduk di tepi kasur.
"Hmmm.... Sekarang apa yang akan kita lakukan sekarang Viko?" tanya Alin pada Viko.
Viko hanya asik sendiri dengan dunianya, ia berputar-putar mengejar ekornya yang berbulu. Hingga akhirnya Alin ingat akan sesuatu.
"Oh iya, Hari ini kan Yudian dan Miskha mengajak ku makan malam nanti di rumah mereka" Gumam Alin.
Saat Viko mendengar itu, ekornya langsung berdiri tegak. Ia berlari menghampiri Alin yang tengah duduk di tepi kasur dan langsung masuk kepelukannya.
"Ada apa Viko? Apa kau ingin ikut dengan ku nanti?" Tanya Alin.
Segera Viko memasang wajah dan suara yang memelas. Tentu saja Alin mengerti maksud Viko.
"Tidak boleh Viko. Kau tenang saja aku akan menitipkan mu pada Reyhan. Aku yakin Reyhan tidak akan keberatan"
Seketika Viko terlihat murung dan kecewa mendengar jawaban Alin. Namun Alin tidak mau membuat kekacauan dengan membawa hewan peliharaan ikut bersama nya.
"Baiklah, Ayo kita tidur siang" Ajak Alin.
Ia mengguling-gulingkan badannya di kasur ke kiri dan ke kanan seperti anak kecil. Setelah merasa puas menggulingkan badan di kasur, ia tertidur sangat pulas.
Tapi Viko... Dia malah... bermain-main dengan mantra api di dalam kamar Alin. Untung nya itu tidak terlalu berefek Karena dia baru belajar menggunakan mantra api. Viko mengguling-gulingkan badannya juga di lantai dan membuat suara yang lumayan gaduh.
"Grerrr grerrr greeerr" Gerutu Viko.
Hingga akhirnya ia juga tertidur pulas di lantai dekat kasur.
*Di sisi lain, Istana Dunia sihir merah
"Cobalah lagi, tapi aku juga heran pada mu. Kenapa kau mau menjadi penghianat dunia mu sendiri?" tanya Indra Taran, Putra mahkota dari kerajaan Dunia sihir merah kepada seseorang yang misterius itu.
__ADS_1
"Karena aku... tidak ingin dia merebut orang yang ku sukai" Sahutnya.
"Baiklah terserah padamu, yang pasti dapatkan kalung itu pada ku. Dan jika aku mendapatkan kalungnya, Aku akan menguasai semua dunia sihir yang ada di sini HAHAHAHA" Ucap Indra sambil tertawa jahat.