Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 86 Keputusan.


__ADS_3

Lukas melepaskan gelang yang Alin pasangkan di tangannya tadi dan memperhatikannya. Seketika itu juga, kenangan-kenangan terlintas di benaknya, di mana dia dan Anita pernah tertawa dan menghabiskan waktu bersama. Dengan senyuman tipis yang tampak di wajahnya, Lukas mengingat kenangan-kenangan indah yang pernah mereka lalui, hingga kenangan buruk tiba di benaknya. Lukas langsung tertegun dan membuang muka. Banyak sekali hal yang harus Lukas pikirkan sekarang dan banyak hal juga yang ingin ia ketahui sekarang.


"Mungkin aku harus mendengarkan perkataan Kael sekarang. Tuhan sudah memberikan aku kesempatan kedua, maka tidak boleh aku sia-siakan. Dengan memilih siapa orang yang memang aku cintai. Cinta bukan hanya di alaskan dengan rasa suka, tapi juga di alaskan dengan kenyamanan, itulah artinya cinta. Mungkin Alin adalah orang yang tepat untuk ku. Anita memanglah kekasihku ku dulu tapi tidak sekarang, jadi dia tidak bisa mengekang kebebasan perasaan ku.


Aku sudah memutuskan di mana hatiku akan bertempat tanpa adanya paksaan dan kekuatiran. Dulu saat kami bersama, aku selalu memanjakan dan membuatnya senang, tapi dia selalu memaksaku untuk menjadi yang terbaik dan kuat. Tapi aku tidaklah terlalu suka dengan itu, aku ingin wanitaku mencintai aku apa adanya.


Dulu Anita meninggalkan aku demi seorang pria yang kuat dan menyisakan suatu trauma untuk ku di hari yang indah bagi semua orang. Tapi Alin... dia adalah orang asing sebelumnya, dia belum mengenalku, tapi dia tetap bersikap baik dan menerima aku sebagai orang yang di sisinya. Inilah pilihan ku."


Lukas berjalan menuju ke meja belajarnya dan membuka laci yang ada. Gelang itu ia letakkan di dalam laci, sebagai tanda kalau ia sudah melepaskan Anita. Hal itu tak pernah Lukas pikirkan sebelumnya, ia baru sadar kalau orang dicintanya ada di dekatnya. Ia lalu selalu menutup hati demi Anita, namun Anita sampai sekarang tidak menampakan diri ataupun memberikan kabar untuk Lukas.


"Tapi masalahnya... aku takut menyatakannya. Bagaimana aku harus menyampaikan itu? Apa dia memiliki rasa untukku? Sudahlah, akan ku ungkapkan bila aku sudah siap untuk kecewa. Yang terpenting adalah untuk melindunginya sekarang."


Sementara itu, Alin dan yang lainnya tengah mengobrol di kamar Alin. Semuanya mengobrol tentang banyak hal, sedangkan Alin hanya duduk di kasurnya sambil melamun dan terus saja menghela nafas tanpa ada alasan yang jelas.


"Haruskah aku relakan? Tidak! Tidak akan, akan ku pertahankan. Tapi apakah dia ada rasa padaku?"


"Huhhhh..." Alin yang sedang melamun tanpa ia sadari, ia terus saja menghela nafas.


Alin kemudian melanjutkan pelayarannya ke dunia lamunan yang penuh dengan teori dan pikiran Alin yang menumpuk di situ. Kini pikiran dan otak Alin berpindah kepada hal yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Yaitu tentang ke dua nama orang itu, Olivia yang di depannya sekarang dan Clorian yang tak ia ketahui rupanya.


Setelah berpikir keras, Akhirnya menyerah berpikir sendiri, tak satupun dari semua pertanyaan kepalanya yang terjawab. Alin memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada Gion yang tengah membaca resep-resep obat di sampingnya.


"Gion?"


"Hah?" Sahut Gion yang langsung menoleh ke Alin.


"Aku ingin menanyakan sesuatu, apa kau punya waktu?" Tanya Alin.


"Katakanlah, aku akan menjawabnya."


"Apa itu jiwa Clorian? Kael pernah bilang kalau wanita itu, hmm... Olivia... akan mengajariku cara mengendalikan jiwa Clorian. Tapi apa itu?" Tanya Alin yang terlihat sangat penasaran.

__ADS_1


"Owhhh, tapi ini akan sangat panjang penjelasannya."


"Tidak masalah, jelaskan saja."


"Baiklah, jadi begini. Jiwa Clorian itu adalah budak jiwa milik seorang pendekar iblis. Sedangkan budak jiwa adalah jiwa yang menyimpan kekuatan tersembunyi sang pemilik budak jiwa tersebut. Apa kau mengerti sekarang?" Jelas Gion.


"Hm, tapi.. Kenapa budak jiwa pendekar iblis itu bisa ada di dalam diriku?"


"Pendekar iblis Clorian itu adalah orang yang sangat kuat, dia bahkan bisa menebas 10.000 pasukan hanya dengan sekali tebasan pedang. Tapi kakek mu berhasil mengalahkannya, jadi pendekar iblis itu memberikan budak jiwanya, lalu kakek mu menyegel budak jiwa Clorian di dalam kalung mu waktu itu karena kekuatannya yang terlalu kuat. Karena kau menggunakan kalung itu, maka segel kembar akan otomatis mengunci kalian berdua. Segel kembar yang kakek mu buat hanya bisa di hancurkan jika salah satu dari pemakai segel kembar gentar akan tekad dan perasaannya."


"Hmm.. Tenyata sangat rumit untuk di mengerti. Aku tidak bisa memahaminya. Tolong jelaskan sekali lagi!" Pinta Alin yang terlihat sangat berantusias.


"Huffftt... Sudahlah, sudah aku katakan padamu, ini terlalu sulit untuk kau mengerti."


"Tapi aku ingin memahaminya..." Rengek Alin yang masih belum puas dengan jawaban Gion.


"Sudah, sudah. Besok lagi, kau harus beristirahat." Ucap Gion yang lalu menyelimuti Alin dengan selimut.


Alin memalingkan badannya dan memejamkan matanya. Setelah memandang Alin untuk beberapa saat, Gion membaca kembali kertas yang ada di tangannya sambil tersenyum tipis. Sementara itu yang lainnya masih mengobrol, kecuali Olivia. Dari tadi ia hanya diam dan melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.


Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar Alin dan berjalan menyusuri lorong istana. Olivia terus saja berjalan, hingga ia tiba di depan ruangan kerjanya Kael. Para penjaga terlihat tidak berjaga saat itu, suasananya menjadi sangat sepi. Ia menyadarkan punggung ke pintu dan menyilangkan tangannya.


Beberapa saat kemudian, Yeni melewati Olivia yang ada di situ dengan acuh. Tapi karena Olivia memiliki hal yang harus ia bicarakan dengan Yeni, ia menghentikannya.


"Tunggu!" Tegas Olivia dengan Olivia dengan aura yang terasa dingin.


Bukannya berbalik ataupun menjawab Olivia, Yeni hanya berhenti berjalan dan terdiam di situ menunggu tindakan Olivia selanjutnya. Olivia mendekat kearah Yeni, dengan tiba-tiba ia mencekik lehernya.


"Apa maksudmu dengan bertindak seperti itu?!!" Tanya Olivia yang terlihat sangat marah.


"Humppt... Ternyata kau sudah tau..."

__ADS_1


Aura membunuh Olivia kini terlihat, tapi Yeni masih sempat-sempatnya menyeringai ke arah Olivia yang terlihat marah. Entah apa yang Yeni lakukan sehingga membuat Olivia marah seperti itu. Cengkraman Olivia semakin erat, tapi ketenangan masih terlihat di wajah Yeni.


"Jawab aku!! Apa kau tau, apa yang kau lakukan itu?!!" Tanya Olivia sekali lagi.


"Aku tau, memangnya kenapa?" Tanya Yeni balik.


"Dasar wanita gila! Apa kau tau, jika dia sampai mati sebelum dia bisa menguasai budak jiwa Clorian, dia akan di kendalikan oleh budak jiwa itu! Dan dunia mungkin akan musnah olehnya."


"Heh! Itulah yang aku inginkan, aku ingin dia menjadi monster di mata orang-orang. Dengan begitu, semua orang pasti akan membencinya. Hahahah...."


Tawa jahat terlihat di wajah Yeni, aura kini berbeda dari sebelumnya. Yeni sebelumnya dikenal sebagai putri yang anggun dan pendiam, tapi sekarang dia terlihat seperti iblis yang haus akan dendam. Semua kecemburuan dan rasa iri lah yang membuatnya menjadi seperti itu.


"Bukannya kau juga orang jahat? Kau... bukannya keturunan dari dunia sihir merah, bukan? Kau berkhianat, pergi kesini dan membantu musuh bebuyutan sekutu, benar bukan?" Ucap Yeni yang berusaha untuk memprovokasi Olivia.


"Kau..."


"Darimana dia bisa tau?! Apa jangan-jangan..."


Pikiran Olivia mulai berjalan kembali, ia memikirkan suatu kemungkinan, mengapa Yeni bisa mengetahui hal itu. Dia mungkin saja berkhianat atau dia mendengarkan pembicaraan para penyusup yang ada di dunia sihir putih.


"Heh! Kau pun berkhianat dari dunia sihir putih, bukan? Kau berkerja sama dengan dunia sihir merah, itulah mengapa kau bisa mengetahuinya, aku benarkan?" Tebak Olivia dengan percaya diri.


"Tepat sekali! Aku adalah pengkhianat, aku melakukan ini demi bisa menghancurkan orang yang aku benci, yaitu cucu mu itu!"


"Aku memang tidak mengenalnya dengan baik, tapi dia adalah cucu dari kakak tiri ku dan dia adalah orang yang kakak titipkan. Jika kau ingin membunuhnya, maka kau harus mengalahkan aku dulu."


Olivia yang sudah sangat marah langsung mempererat cekikan nya tersebut sehingga membuat Yeni hampir tidak bisa bernafas. Ia menyalurkan kekuatannya tersebut untuk menyakiti Yeni yang tengah ia cekik sekarang


Yeni hampir tidak bisa bernafas, tapi dia masih bisa bertahan di mantra nya Olivia.


"Hahaha! Hah... hah... Kau... Naif sekali! Bodoh! Kau bodoh!... hah.. hah.. hahahaha, bodoh sekali kau Oliviaaaa!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2