
Singkat cerita tim penyelamat sudah datang, mengungsikan penduduk yang tersisa di wilayah yang sebelumnya di terangkan terkontaminasi oleh wabah ke sebuah kapsul besar. Yang di mana para penduduk yang telah di evakuasi diberi perawatan seperti diberi terapi yang memiliki trauma, dirawat, diobati serta di jaga oleh para tabib senior.
Kelegaan hati mereka terpancar jelas dengan tetes demi tetes air mata haru, walaupun tidak semuanya berbahagia setelah di selamatkan. Mereka memang selamat, tapi keluarga mereka yang terkontaminasi harus diambang takdir hidup dan mati.
Terlihat di kota Cimki, Neli dengan bangganya berkacak pinggang atas kerja keras nya sendiri. Tidak heran dia membanggakan dirinya, dia sudah berhasil mengungsikan seluruh penduduk kota Cimki yang tersisa dengan selamat. Yaaa... Apalagi presentase penduduk yang selamat di kota Cimki lumayan cukup besar.
"Huh! Hebat sekali diriku ini!" Gumam nya sambil bernapas lega.
Telah selesai tugasnya di sini. Ketika Neli akan beranjak untuk pergi ke dalam kapsul, ada sesuatu yang terantuk di pundak Neli. Itu adalah tangan, tangan yang besar dan dingin, ia pun berbalik menatap sosok di belakangnya yang menepuk itu.
"Gion?? Kenapa kau di sini?" Neli sedikit terpekik.
"Yahh... Kerja, memangnya apalagi?"
"Owhh... Hm. Jadi.. bagaimana dengan penawar? Ada kemajuan?"
Sesaat Gion menundukkan sedikit kepalanya sambil menghela napas berat, ia menggelengkan kepala nya pelan. Seketika itu juga suasana menjadi hening, Gion dan Neli termenung sedih dengan pikirannya masing.
"Kami tidak menemukan titik terang... Kabarnya para tetua dan ayah ku akan mengadakan rapat, rapat tentang pertimbangan untuk memusnahkan semua yang telah terkontaminasi.." Ucap Gion dengan sayu.
"Tapi itu egois! Mereka tidak bisa dengan begitu saja memusnahkan para penduduk walau mereka terkontaminasi!"
"Itu masih rencana, jika tidak ada jalan, maka kita harus bersikap egois.."
Mata Neli mulai sendu, ia tertunduk, tetesan demi tetesan air mata turun melalui pelupuk matanya. Neli terisak, tak tahan dengan kenyataan yang membuatnya sangat frustasi pada keadaan. Perlahan Neli menjauh dari Gion, ia pergi membawa tangis itu sendiri menjauh dari hadapannya.
"Tapi... bagaimana dengan kakak kuu... huhuhu...Hiks.." Gumam Neli yang perlahan berbalik dan menjauh.
Sebelum Neli terlalu jauh dari jangkauan nya, Gion mengejarnya dan memeluk Neli dengan erat. Pelukan itu terasa seperti penenang sekaligus pemecah tangisnya, itu membuat tenang, tapi juga membuat Neli semakin rapuh. Neli terisak dalam pelukan Gion.
Bagaimana tidak sedih, satu-satunya kakak Neli, orang yang disayangi nya harus terkontaminasi wabah saat perantauannya, lalu berakhir menjadi sebuah kelinci percobaan untuk penawar. Yang penawar itu sendiri tak pasti ada.
"Neli.. Kau sudah melakukan yang terbaik. Sekarang biarkan yang lain mengerjakan bagiannya masing-masing. Percayakan saja semuanya pada para dewa, tabib, tetua dan pemimpin kita!"
"Tapi, bagaimana kalau aku tidak mau mempercayai yang tak pasti dari perkataanmu itu? Bagaimana jikakalau penawar itu tetap tidak ada? Apalagi yang perlu aku percayai?! Omong kosong darimu?!! Hiks..! Gionn.. Huhu..."
Gion terbungkam, tak berani satu pun kata yang terlontar lagi pada saat ini. Ia hanya bisa menepuk-nepuk lembut punggung Neli yang sedang meluapkan segala kekesalan, amarah, kesedihan dan kegusaranya di dalam dekapan Gion.
Tak hanya Neli yang bersedih, banyak orang yang bersedih atas terjadinya wabah tanpa penawar ini..
Kembali pada Lukas dan Alin yang masih di kota Fuken. Semua penduduk mereka juga sudah di kungsikan kedalam kapsul besar dan di rawat oleh tabib, termasuk Alin sendiri.
Keadaan sudah tak sama lagi, suram.. Alin dan Lukas yang sebelumnya masih bisa berbincang-bincang, kini tak dapat lagi. Rasanya baru semenit tadi mereka berbincang, sekarang Alin sudah tak sadarkan diri terbaring pada sebuah kasur yang di sebelahnya ada Lukas yang setia menemaninya.
Gusar sekali pria itu, tapi dia sendiri bingung harus menyalahkan siapa. Lukas menggenggam erat tangan Alin dan menatapnya dengan penuh harap, berharap wanita cantik yang ada di depannya itu bisa segera sadar.
"Benar, salahku.. Ini salah ku Alin.. Aku sangat menyesal telah membiarkanmu berjuang sendiri lagi.. ku mohon bangun lah..." Gumam Lukas sayu.
Ia kembali termenung dan tertunduk dengan sedih. Semua skenario buruk terputar putar dikepalanya , tangannya yang menggengam tangan Alin bergetar, dia sangat gelisah saat ini.
"Pangeran, apakah anda tidak beristirahat? Ini sudah sangat larut..." Ucap salah seorang tabib wanita.
Tiba-tiba saja ada seorang tabib wanita yang masuk tanpa mengetuk. Ia terlihat membawa sebuah troli kecil yang berisi peralatan medis padanya. Baju yang di kenakannya sexy bukan main, di sana sini ada bolongan pada bajunya seperti baju gelandangan elit, tapi Lukas hanya melirik sekilas dengan sinis.
"Tidak."
Kata singkat, padat dan jelas itu langsung menjawab pertanyaan dari sang tabib yang langsung terdiam. Tidak ada kata tambahan dari keduanya.
Dengan sedikit kelabakan, tabib langsung mengeluarkan alat-alatnya sambil sesekali melirik ketakutan kepada Lukas. Tentunya naluri Lukas yang sangat peka terpicu, ia menyadari akan hal itu dan menatap tajam sang tabib.
"Hugh!" Tabib itu mengalihan tatapannya.
Seseram itu kah? Tabib itu sampai cegukan ketika mata Lukas dan dia bertemu. "Tatap lagi dan aku akan mencongkel mata mu itu keluar!" Tentu saja! Pelototan itu seakan memiliki sejuta arti yang suram dan menakutkan.
Entah pada detik ke berapa ketika tabib itu hendak mendekatkan jarum suntik pada kulit Alin, sebuah belati dengan api biru menghempaskan dan menusuknya hingga tertancap pada dinding kapsul. Tabib itu terhempas sangat keras oleh serangan Lukas, tatapannya terlihat sangat sinis dan sangat menakutkan.
...BRAKKK...
...tretk...
...treek...
"Kau–, siapa?!"
"He! Aku ketahuan... Meng Xiao, Lukas Pranatha, satu-satunya pangeran yang diberkati oleh dewa namun tak berguna.. Ternyata kekuatan mu di luar dugaan ku..."
Suara tabib wanita itu memberat bagai suara seorang pria, bola matanya berubah menjadi merah terang dengan salah satu sudut bibir yang dinaikkan nya. Ia menatap sinis dan jijik Lukas.
Lukas menyiritkan dahinya, sejenak ia berpikir sambil berdiri siaga. Akhirnya Lukas menemukan beberapa kemungkinan dan dugaan pada situasi ini.
"Indra?!"
"Haha.. Meng Xiao, aku tidak pernah tau kau bisa dengan baik merasakan elemen tersembunyi. Hebat! Tak semua orang bisa, bahkan ayah mu yang katanya hebat itu. Ku kira hanya perasaanku saja, tapi setelah beberapa kali aku mengirimkan sesuatu dengaan daun filium, aku menyadarinya."
__ADS_1
"Jawab pertanyan ku!" Bentak Lukas.
"Tenang, wabah ini hanya permulaan dari rencana ku. Lihat saja nanti kedepannya, satu persatu orang yang kalian sayangi akan menghilang..."
"Indra! Apa yang kau inginkan sebenarnya?!"
"Kau akan tau nantinya.. pada pertemuan kita yang berikutnya! Haha!"
"Sialan! INDRA!"
Amarah Lukas terpicu, sekali lagi sebuah belati api biru dengan cepat melesat ke arah jantung tabib yang sebelumnya di kuasai oleh Indra tepat mengenai jantungnya. Seketika itu juga tabib wanita langsung hangus dan berubah menjadi sebuah batu Hom yang menguap.
Lukas sangat terkejut dan shock, dia termenung di tempat dengan degupan jantung yang kencang serta keringat dingin.
Beberapa detik setelah kejadian itu terjadi, suara kaki langsung terdengar ramai dan riuh dari luar kapsul Alin. Pintu terbuka dengan kuat, Kael masuk ke dalam dengan napas yang tersengkal-sengkal.
"Lukas! Apa yang terjadi?! Hah.. Aku mendengar keributan dari luar!"
Tapi Lukas tidak menjawab. Setelah diperhatikan sesaat, Kael menangkap ekspresi gelisah dan wajah pucat Lukas. Ia terkejut dan langsung menangkap kedua pundak sahabatnya yang berdiri kaku di sana.
"Hei! Lukas! Kau tidak apa-apa?! Katakan sesuatu!"
"Indra.. Semuanya..." Tubuh Lukas memnjadi dingin bagaikan es.
...----------------...
Di suatu tempat yang tidak diketahui pasti, tempat yang kosong, hampa, dan hanya ada sebuah kendi besar yang meneteskan satu demi satu air dari lubang kecil di sana. Bunyinya terdengar jelas, sekilas bunyi itu membuat tenang sekaligus bisa membuat siapapun menjadi gelisah. Di situlah Alin sekarang berada, dialam bawah sadarnya sendiri.
"Woi!" Suara seorang wanita terpantul entah dari sudut mana.
Alin terus aja berputar-putar mencari asal suara tadi, namun hanya kehampaan dan kendi besar itu saja yang terlihat di sana.
"Woi, aku memanggilmu! Tidak dengar?!" Ucap suara wanita itu lagi dengan tegas.
Kembali Alin kebingungan, tak ada seorang pun atau apapun di hadapannya selain sebuah kendi besar, suara itu terdengar dekat, namun tidak tau dari mana asalnya. Tapi sedetik kemudian ketika Alin berbalik, seorang wanita yang mirip dengannya duduk si sebuah kursi singgasana sambil menyilangkan kaki nya. Ia menatap tajam Alin.
"K-kau!"
Alin terpekik, ia langsung termundur beberapa langkah dari hadapan wanita itu dengan ketakutan. Ia seakan melihat dirinya sendiri di sebuah cermin namun dari pribadi yang lain.
Namun tak ada respon dari Alin, ia masih diam terpaku dengan ketakutan dan bersiaga pada tempatnya. Tampaknya Alin masih kebingungan dengan situasi yang menimpanya saat ini.
"Huhh... Kau budeg yak? Perlu ku bersihkan telinga mu?" Decak Clorian jengkel.
Karena masih tidak ada balasan dari Alin, Clorian menarik uluran tangannya dengan jengkel. Wajahnya terlihat sangat kecewa setelahnya.
Tidak lama, sebuah kursi kayu tiba-tiba muncul di belakang Alin. Alin kembali terkejut dan masih terdiam tanpa kata.
"Duduk. Tunggu apa lagi? Haihh... Tidak ku sangka tuanku bego." Decak Clorian lagi dengan frustasi sambil memijit pelan pelipis matanya.
Alin pun duduk pada kursi itu dengan masih siaga, ia masih membungkam mulutnya, masih menunggu sesuatu yang bisa membuatnya lebih penasaran. Tentunya Clorian sangat kecewa dengan sikap Alin yang diam ini, sebelumnya ia sangat mengharapkan tuannya itu memiliki tingkat penasaran yang tinggi tentang dirinya, tapi tidak.
Kau siapa?
Aku di mana?
Kau sekuat apa?
Apa kita mempunyai hubungan?
Kau hebat tidak?
Kekuatan apa yang kau miliki?
Bagaimana kau bisa terpisah dengan raga mu?
ceritakan tentang sejarah mu!
Semacam pertanyaan itulah yang di harapkan oleh Clorian. Clorian menatap sinis Alin, masih menunggu wanita itu merespon atau berbicara kepadanya. Tetap saja, Alin lebih pandai dalam hal permainan siapa yang bisa lebih lama diam dalam situasi seperti ini, walaupun sebenarnya Clorian sungguh kecewa.
"Oke, oke! Lihat kendi di sana? Itu adalah segel kita berdua, dia menyegel kita berdua. Lihat pecahan dari kendi itu? Deon Li itu melanggar kesepakatan untuk membuka lebih besar segel kita. Sialan makhluk itu!" Jelasnya dengan anggunly.
Mengingat itu Clorian sebenarnya ingin murka, ia sudah dengan bersusah payah untuk membayar perjanjian itu, namun hasilnya sangat kecil dan tak sepadan dengan harga yang di bayarnya. Jengkel sekali, murka sekali, benci sekali rasanya Clorian dengan Deon Li itu, tapi apalah daya dirinya sekarang.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" Alin mulai buka suara.
Setelah sekian kali di pukul oleh cueknya sikap Alin, Clorian pada akhirnya bisa bersikap sok keren dan sok angkuh kepada tuan baru yang memberi pertanyaan padanya dengan vibes seorang pendekar iblis, bangga sekali dirinya itu.
Lihat saja senyum puas Clorian yang ada di depan Alin. Salah satu sudut bibirnya terangkat, ia menunjukkan senyum penuh keangkuhan.
__ADS_1
"Ha! Kamu nanyaek? Hahaha!" Clorian benar-benar terlihat senang, ia tertawa lepas.
"Err... Yaa~ Hehe.." Balas Alin dengan canggung. Sejujurnya dia sedikit merasa geli saat Clorian mengucapkan kalimat 'kamu nanyaek' itu, merasa orang didepannya ini kurang hiburan saja.
"Akhinya kita bisa bertemu... Okey, sekarang kau berada dalam alam bawah sadar mu sendiri, Alin."
"Alam bawah sadar?"
"Yaa.. Kau tau, sekarang kau ada dalam ambang kematian. Itulah mengapa kita berdua bisa bertemu di sini." Ucap Clorian dengan santainya.
"Apa?!"
"Yup! Kau hampir mati." Lagi, satu lagi orang yang tidak mempunyai kontrol atas mulutnya.
Mata Alin terbelalak mendengar itu, ia sekali lagi terkejut dengan semua ini. Sementara Clorian dengan muka santai tanpa rasa berdosanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?!" Alin mulai panik.
"Yaa.. Pasrah saja, terus ngkek–!" Lagi!
Isengnya Clorian memperagakan seperti– Ya.. begitu.. ya semacam itu. Dia memiringkan kepala dengan tangan yang di tarik secara horizontal di dekat lehernya.
"Kurang akhlak!" Gerutu Alin dalam hati.
"Hei! Hei! Aku mendengar gerutuan mu! Kau lupa? Jiwa dan pikiran kita bersatu di sini!"
"Salah sendiri." Balas Alin. "Jadi apa yang bisa aku lakukan agar bisa hidup dan menyelamatkan yang lain?"
"Tidak ada." Lagi, Clorian memancing emosi, benar benar bibit bibit ngajak gelud.
"Ishhh!! Kalau aku mati, kau pun mati! Jadi bantu aku mencari cara!"
"Tidak mau. Kalau kau mati, yasudah, aku masih punya wadah pada benda mati mu."
"Sialan kau!"
Perdebatan pun terjadi diantara tuan dan budak jiwa ini. Tidak heran, karena salah seorang dari mereka sangat suka memanipulasi lawannya dan satunya mudah untuk dimanipulasi.
"Cepat beri tahu! Atau aku akan menyuruh Lukas untuk menghancurkan kalungnya supaya kau ikut mati bersama ku nantinya! Clorian!" Ancam Alin berharap Clorian terpengaruh.
"Silahkan, lagi pula tak ada yang harus ku lindungi dan kurindukan lagi sekarang selain diriku sendiri. Pikir saja untuk dirimu sendiri, kau ditunggu oleh yang kalian sebut 'Keluarga' itu."
Sesaat Alin tertegun, Clorian benar. Ada 'keluarga' yang menunggunya di sana, sementara Clorian sendiri hanya hidup dalam kehampaan bersama dengan kendi besar. Alin tiba-tiba merasa simpati kepada Clorian.
Memang benar dulu Alin memiliki keluarga yang berbahagia, seakan baru sedetik rasanya berlalu, semuanya langsung lenyap begitu saja pada beberapa tahun terakhir dan sekarang keluarga itu muncul dalam wujud baru. Tapi bagaimana dengan Clorian kita?
"Clorian..." Gumam Alin dengan tatapan iba.
"Aishhh! Jauhkan wajah itu, aku membenci nya." Clorian sangat benci saat orang bersimpati kepadanya , tatapan iba itu, tatapan yang membuatnya merasa seperti makhluk rendahan. Clorian sangat membencinya.
"Kalau begitu beri tahu aku cara untuk selamat."
"Untuk apa aku melakukannya?"
"Agar aku bisa bertemu keluarga ku dan kau bisa hidup dalam keluarga kami." Jawab Alin dengan lugas.
Mukanya benar-benar sudah sangat memelas pada Clorian, berharap pendekar iblis yang kejam itu bisa luluh agar ia bisa hidup. Namun sepertinya gagal, Clorian sama sekali tidak bergeming sambil menyandarkan kepalanya di singgasana.
Tekad dan keberanian serta pengharapan Alin menjadi ciut. Bagaimana tidak, tubuhnya sudah mulai berubah menjadi transparan. Sementara Clorian tak berkutik ataupun bergeming dari posisi bersandar nya.
"Yah... Mungkin inilah akhirnya.. Aku akan mati tanpa bisa menyelamatkan seorang pun, seperti sumpahku pada saat penobatan."
Alin sudah sangat pasrah, tak ada satupun yang dapat di lakukan nya lagi. Clorian tentu saja tau setiap pemikiran Alin karena mereka berada dalam satu tubuh, sesekali Clorian melirik, mulai rasa iba dan luluh. Tapi terkadang Clorian merasa jengkel dengan sikap Alin yang mencoba untuk menurunkan rasa gengsi nya. Hingga...
"Oke, oke! Kita buat kesepakatan."
"Heh?! Serius? Kau ingin membantu ku?!" Sahut Alin yang tidak menyangka.
"Hm." balas Clorian dengan anggukan.
"Baiklah, apa kesepakatan nya?"
"Pecahkan kendi yang ada di sana agar segel kita bisa hancur, setidaknya sebagian kecil dari segel itu..."
Seketika sebuah panah dan busur telah muncul di tangan Alin. Adegan ini seperti ada dalam dunia fantasi, tapi memang benar adanya itulah juga yang terjadi juga dalam dunia fantasi ini. Alin menatap kendi yang sedikit bocor itu untuk kesekian kalinya lagi.
"Bagaimana caranya?"
"Ini alam bawah sadarmu, kau yang kendalikan semuanya." Ucap Clorian yang mulai terlihat antusias.
Tanpa banyak bertanya dan cingcong lagi, Alin langsung menarik anak panah pada busur ke arah kendi. Alin pun mulai membayangkan panah itu melesat dengan kuat ke arah kendi dan menghancurkan pecahan kendi menjadi lebih besar, tapi benar apa adanya, hal itu terjadi karena memang Alin sendirilah yang empunya tempat itu.
"Bagus!" Tatapan mengerikan dan puas Clorian terlihat jelas pada wajahnya.
__ADS_1