Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 131 Angan ketinggian.


__ADS_3

Waktu pun terus berjalan, tak terasa kini matahari mulai berpindah dari timur ke barat. Kedua orang itu kini sudah ada di sebuah tebing yang tinggi dengan sebidang lahan yang luas. Mereka duduk bersebelahan sambil menikmati pemandangan sunset yang indah dari sana.


"Sudah tidak terasa.." Gumam Lukas sambil tersenyum tipis.


"Apanya?" Tanya Alin kebingungan.


"Sudah tak terasa sudah hampir setahun sejak kedatangan mu ke dunia sihir ini.Benarkan?"


Lukas menoleh ke arah Alin dengan mata yang berbinar-binar sambil tersenyum. Pesonanya seketika itu juga terumbar-umbar, oleh karena angin yang mengibaskan rambut putihnya yang indah saat menatap mata Alin.


Untuk beberapa waktu Alin mematung karena tatapannya yang begitu melekat padanya. Alin langsung benar-benar terpikat hingga hampir tak dapat berkutik ketika ditatap begitu. Matanya masih melekat di sana disusul oleh wajah yang mulai merah merona.


"Eng... Hm, ya, "benar." Sahut Alin masih fokus pada Lukas yang menatapnya di samping.


"Selama setahun ini... Apakah kau ada merasakan sesuatu? Seperti... Perasaan yang berbeda mungkin? Atau mungkin suasananya?" Ucap Lukas lagi sambil memandang ke arah langit-langit yang mulai menggelap.


Alin langsung tertegun, ia pun memikirkan jawaban dari pertanyaan Lukas itu. Untuk beberapa saat ia terdiam berpikir untuk menjawabnya, termenung sambil menatap langit juga.


"Aku? Entahlah... Bagaimana dengan mu?" Tanya Alin balik.


"Sangat berbeda 130 derajat. Hampir berubah sempurna. Dari segi suasana, perasaan, juga ada keberadaan yang hilang dan datang. Sangat berbeda..!" Jawab Lukas terus terang.


"Apa keberadaan yang hilang dan datang itu?"


"Ingin tau apa yang datang? Atau ingin lebih tau yang hilang?"


"Ingin tau apa yang datang!" Tegasnya dengan antusias.


"Kalau begitu, aku akan memberikan mu waktu 3 detik untuk menamparku." Ucap Lukas.


Lukas kemudian mendekatkan diri untuk duduk dekat sekali dengan Alin, menunggu orang itu untuk menampar nya. Alin pun hanya menatap heran dengan Lukas yang tiba-tiba bertingkah aneh itu. Sambil tersenyum tipis, Lukas mulai berhitung.


...1...


...2...


"Aih, Lukas. Berhentilah berhitung seperti itu, kau membuatku takut." Decak Alin heran.


...3...


Setelah hitungannya habis, Lukas tersenyum dengan senyuman yang tidak meyakinkan. Firasat Alin langsung menjadi buruk saat melihat Lukas yang tiba-tiba saja tersenyum seperti itu. Itu semua karena senyuman nya terlihat seperti menyimpan makna tersembunyi lainnya.


"Mau tau apa yang datang?" Tanya Lukas lagi yang masih tersenyum lebar.


Seketika itu juga pikiran Alin langusng terbang kemana-mana, detak jantung nya kian melaju oleh karena merasa gugup. Di tambah lagi jarak mereka yang kini sudah tidak jauh lagi. Hingga Alin ingat akan perkataan kakaknya, Yu.


"Apa kau tau apa yang akan di lakukan seorang pria jika hanya berduaan dengan wanita?"


"Apakah ini yang kak Yu maksud? AAHHHHH.... TOLONG! Jantung ku rasanya ingin copot! Jarak kami terlalu dekat."


Alin terlihat menegang. Lukas pun juga mengerti dengan ketegangan yang Alin rasakan sekarang, karena ia pun juga merasakannya. Tanpa di sadari oleh dirinya sendiri, nafas nya memburu, dengan ujung telinga yang mulai terasa memanas. Hati Lukas pun juga terasa sangat gelisah saat ini.

__ADS_1


"Aihh... Gugup sekali..." Lukas pun mendengus pela sambil tersenyum tipis.


Tapi karena dirinya juga merasa tegang, Lukas pun memutuskan untuk menunggu suasananya menjadi lebih rileks lagi. Ia kembali duduk bersebelahan dengan Alin sambil menggengam tangannya. Lukas terlihat agak kecewa dengan rencananya.


"Lukas... "


"Hm?"


"Jadi... Apa keberadaan yang datang itu?"


"Tidak jadi, lihat saja kau sampai takut begitu. Lain kali saja." Ucap Lukas dengan sedikit kecewa.


"Oh, ayolahhh! Aku sangat penasaran! Katakan padaku.." Rengek Alin.


Tapi Lukas tidak bergeming, ia nampak seperti mengigit-gigit bagian bawahnya bibinya dengan gemas, Alin juga melihat hal itu dengan sangat jelas. Ia seperti sedang menahan sesuatu yang hampir sudah tidak dapat di tahannya lagi.


Karena tidak Lukas tidak meresponnya, Alin menjadi kesal. Ditambah lagi dengan rasa penasaran Alin yang kian terus meluap pada apa yang membuatnya penasaran. Ia kembali merengek pada Lukas yang ada sampingnya itu.


"Lukas.."


"Ini.."


Tiba-tiba saja, Lukas mendekatkan tubuhnya dekat sekali ke Alin dengan sangat cepat. Dan sedetik kemudian, ada sesuatu yang terasa pada permukaan bibir Alin. Bibir mereka kini telah tertaut, Lukas sudah tidak dapat mengontrol hasratnya yang sudah begitu lama di tahannya itu.


Alin juga langsung terbelalak saat Lukas tiba-tiba saja meletakan bibirnya di sana. Tapi walaupun begitu, tidak ada penolakan sama sekali, seakan tangan dan kakinya sudah di luar kendali majikannya. Waktu seakan-akan menjadi sangat lambat sekali pada waktu itu.


"Ci-Ciuman.. Ciuman.. pertamaku..."


Menyadari akan hal itu, Lukas melepaskan ciumannya sejenak. Lalu menciumnya kembali dengan lebih dalam lagi, lebih bergairah lagi dan lebih lembut lagi. Dan di titik itu Alin sudah mulai nyaman dan terbiasa dengan tempo yang Lukas berikan. Ia pun mulai menikmati dan mengikutinya.


Beberapa saat kemudian, setelah puas, Lukas melepaskan ciuman itu dengan nafas keduanya yang sedikit memburu. Seketika setelah itu, Alin langsung kembali tersipu malu. Ia menjauh dan memalingkan wajahnya yang sedang tersipu malu dari Lukas.


"Pfft... Kenapa? Apa kau malu? Hehehe.. " Kekeh Lukas tanpa rasa bersalah.


"Humpt! Ka-kau..!"


"Hm?"


Ingin sekali rasanya Alin menampar Lukas. Tapi menatap Lukas saat ini saja sudah menciutkan nyalinya, apalagi sampai menampar nya. Alin terlihat masih tegang, ia menarik-narik rumput dengan gemas karena masih syok dengan apa yang barusan terjadi.


Sementara Lukas hanya memasang ekspresi tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Ia hanya tersenyum dengan sedikit tertawa melihat reaksi Alin.


Kembali Lukas mendekat ke Alin yang berada tak jauh dari tempatnya sekarang. Ia memeluk Alin dari belakang sambil menyandarkan dagunya di pundak Alin.


"Kenapa malu? Bukannya kau ingin tau tentang apa yang datang di kehidupan ku, bukan? Yaitu kau." Jelasnya.


"Ka-kau! Mencuri ciuman pertama ku..!" Decak Alin kesal.


"Oh, yaaa?" Ejek Lukas.


...Cup...

__ADS_1


"Ciuman kedua mu juga jadi milikku."


Lukas kembali bertindak jahil, ia mengecup bibir Alin lagi tanpa seijinnya. Alin menjadi sangat kesal. Ia berbalik, menatap Lukas yang ada di belakang dengan raut wajah yang kesal.


Benar saja, saat melihat mata Lukas nyalinya menjadi ciut untuk meneriaki nya. Ia merasa malu dan canggung dengan Lukas. Alin pun tertunduk tak berani menatap Lukas.


"Anu... Kenapa kau menciumku?" Tanya Alin ragu-ragu.


Lukas menatap heran Alin yang tertunduk itu. Ia pun mengangkat dagu Alin, agar ia bisa menatap wajah dari wanita cantiknya itu.


"Bukannya sudah jelas? Itu karena aku menyukaimu. Tenang saja, tidak perlu terburu-buru." Ucap Lukas tanpa ada keraguan.


"Bi-bisa tolong jitak kepala ku? Barang kali aku berimajinasi atau bermimpi sekarang."


Lukas tersenyum geli mendengar permintaan Alin. Tapi sepertinya hasrat Lukas belum sepenuhnya terpenuhi saat itu. Bukannya melakukan apa yang Alin pinta, ia malah mincium Alin kembali dengan sedikit menggigit lembut bibirnya.


"Awh.."


"Apa ini mimpi?"


"Tidak."


Alin terdiam kembali sambil menundukkan kepalanya. Melihat Alin yang seperti itu, Lukas menjadi kecewa. Lukas kira, Alin akan sangat senang jika ia menyatakan perasaannya, tapi nyatanya tidak terlihat seperti itu.


Senyuman yang sebelumnya mengembang dengan sangat lebar seketika langsung memudar. Dengan berlapang dada, Lukas beranjak dari tempatnya dan berdiri di depan Alin. Ia terdiam sejenak, menerima kekecewaan itu.


"Haihh... Sudahlah... Anggap saja tadi itu aku berhutang padamu. Lupakan saja. Maaf sudah membuatmu terkejut dan merasa tidak nyaman." Ucap Lukas yang masih membelakangi Alin sambil tersenyum gentir.


Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Di tengah suram nya hati Lukas sekarang, tiba-tiba saja ia merasakan ada sedikit tarikan di bajunya. Kemudian di susul oleh sesuatu yang tiba-tiba saja menyentuh punggungnya.


Alin memeluknya dari belakang dengan erat sambil menyandarkan kepalanya di punggung Lukas. Untuk sesaat Lukas kebingungan dengan apa yang terjadi. Tapi akhirnya ia paham dan kembali tersenyum seperti sebelumnya.


"Aku juga." Ucap Alin.


"Kau apa? Hm?" Tanya Lukas jahil.


"Hmm.. anu, ya itu..."


"Itu apa?"


"Ah sudahlah! Jangan berpura-pura bodoh! Berhenti menjahili ku."


Tapi itu semua hanyalah angan-angan dari Alin. Sedari tadi ia hanya melamun membayangkan semua itu, nyatanya Lukas sedang diam duduk di samping nya sambil berkencan dengan sebuah buku seperti biasa.


Setelah tersadar dari imajinasinya, Alin menatap iba Lukas yang di samping. Bukan iba pada Lukas, tapi pada dirinya sendiri, yang sampai sekarang masih takut dan gengsi untuk menyatakan cinta nya lebih dulu.


"Apa mungkin orang yang dingin seperti Lukas dapat menerima seseorang dengan begitu saja?" Pikir Alin dengan keras.


Sungguh mengenaskan nasib orang yang memiliki setengah cinta, hanya bisa membayangkan betapa romantisnya jika dia bisa memiliki sepenuhnya cinta itu.


...Apakah ini termasuk cinta yang bertepuk sebelah tangan?...

__ADS_1


__ADS_2