Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 94 Menemui Yudian.


__ADS_3

Karena sudah berhasil lolos dari istana dengan aman, Alin langsung pergi ke rumah Yudian untuk menemuinya. Sesampainya di sana, ia langsung mengetuk pintu rumah Yudian.


...tok tok tok...


Pintu rumah terbuka dan keluarlah seorang wanita dari dalam. Wanita itu adalah adiknya Yudian, Pei. Pei yang melihat Alin langsung menyambutnya dengan ramah.


"Oh, Kak Alin. Ada apa? Ayo masuk dan minum dulu."


"Tidak usah repot-repot. Apa Yudian ada di rumah?"


"Kak Yudian? Kakak sedang pergi ke panti asuhan. Apa kakak ingin aku antarkan sana?" Sahut Pei yang menawarkan diri.


"Hehe... tidak perlu. Di mana tempatnya?"


"Di kota sebelah, kota Ohan."


"Baiklah aku akan pergi menyusulnya, terima kasih. Aku pergi dulu." Pamit Alin.


"Dadah..."


Setelah mengetahui dimana Yudian berada, Alin langsung pergi ke kota Ohan untuk menemui Yudian. Sudah lama sekali Alin berjalan, tapi masih belum sampai jiga di kota Ohan.


Karena sudah kelelahan, Alin akhirnya memutuskan untuk singgah di salah satu kios yang ada di pinggiran jalan. Ia duduk di situ dan pemilik kios menghampirinya.


"Ada apa nona?" Tanya lelaki itu.


"Ehm.. hehe... tidak. Saya hanya sedikit lelah dan ingin beristirahat sejenak di sini. Apa boleh?"


"Tentu saja, nona. Apa nona ingin minum?" Tanya nya lagi.


"Boleh."


Orang itu pergi ke dalam kios dan membuatkan minum untuk Alin. Sambil membuat minum, orang tersebut mengobrol dengan Alin yang tengah duduk santai di luar kios sambil mengipasi diri dengan tangannya.


"Nona ingin kemana? Sepertinya dari luar kota ya..." Tebak lelaki tersebut.


"Hehe... iya. Ngomong-ngomong, apa kota Ohan masih jauh lagi? Saya ingin pergi menemui teman ku, saudari nya bilang, dia sedang ada di panti asuhan di kota Ohan. Apa bapak tau?"


"Ohh... Panti asuhan, ya? Nona tinggal lurus sedikit saja dari sini, lalu berbelok ke kiri, maka nona akan menemukan panti asuhan Tekino di sana." Jelas lelaki itu memberi jalan kepada Alin.


"Wahhh, terima kasih pak." Ucap Alin.


"Sama-sama, di minum dulu, nona."


Orang tadi memberikan minum kepada Alin dan tanpa banyak basa-basi lagi Alin langsung meminumnya karena kehausan. Sementara itu, pemilik kios tadi kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya di dalam kios.


Setelah menghabiskan minum, Alin memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Ia pun berpamitan dengan pemilik kios tersebut.


"Terima kasih atas tumpangan dan minumnya. Kelak jika saya bertemu dengan bapak lagi, saya akan membayar hutang budi bapak." Ucap Alin seraya berdiri dari tempatnya.


"Tentu."


Karena sudah merasa lebih berenergi, Alin kembali berjalan melanjutkan perjalanannya ke panti asuhan dimana Yudian berada. Alin terus berjalan menyusuri jalanan yang ada dan pada persimpangan ia berbelok seperti yang di instruksikan oleh pemilik kios sebelumnya.

__ADS_1


Beberapa saat setelah Alin berjalan lagi, gedung-gedung besar sudah mulai terlihat dari tempat berdirinya sekarang. Kota Ohan adalah tempat yang belum ia kunjungi sebelumnya dan saat itulah Alin takjub dengan kota Ohan.


"Wahhh, indah sekali... Banyak gedung-gedung! Gedung apa di sana?" Gumam Alin saat melihat gedung besar yang ada di hadapannya.


Gedung itu memiliki sejumlah tanah yang luas dan di sana ada banyak sekali anak-anak yang berlarian dan bermain. Di saat itu juga, Alin tau bahwa gedung itu adalah panti asuhan. Alin pun sangat senang atas perjuangannya yang tidak sia-sia.


Ia berlari-larian mencari keberadaan Yudian di sana sambil memanggil-manggil namanya.


"Yudian! Yudian!" Panggil Alin.


Tak berselang lama, seseorang memanggil nama Alin dari kejauhan. Orang itu pun berlari menuju ke arah Alin.


"Alin!"


Alin yang mendengar namanya disebut, refleks langsung mencari asal dari suara tersebut. Saat ia mendapatkan asal suaranya, ia melihat Yudian yang berlari menghampirinya.


"Kau... sedang apa di sini?! Dengan siapa kau kemari?!" Tanya Yudian yang terlihat kuatir.


"Kau tenang saja. Aku baik-baik saja, lihatlah."


"Huftt... Apa yang kau lakukan di sini?"


"Tentu saja aku ingin menemui mu. Lukas dan Kael terus saja mengurungku, aku merasa bosannnnn..." Rengek Alin.


"Oke, oke. Bagaimana jika kita pergi ke taman di sini?"


"Okeee, ayo."


Alin yang sangat bersemangat, menggandeng dan menarik tangan Yudian untuk segera pergi. Di sepanjang jalan terlihat banyak sekali anak-anak yang berlalu lalang di sana. Mereka pun merasa terhibur dengan suasana yang ramai karena anak-anak tersebut.


"Aku dengar kau absen hampir selama sebulan karena sakit, apa kau sekarang baik-baik saja?"


"Iya, itulah mengapa aku berani kesini sendirian. Hari ini adalah hari terakhir masa penyembuhan, tapi Kael dan Lukas terlalu lama! Jadi aku kabur..." Jawab Alin dengan tanpa ada rasa dosa.


"Wahhh, pangeran Lukas dan tuan Kael pasti sangat marah padamu jika mereka tau tentang ini. Lalu bagaimana kau pulang ke istana?" Tanya Yudian yang lalu menghadap Alin.


"Hehe... tenang saja, aku sudah meminta kepala pasukan istana untuk tidak memberi tahu mereka. Pintar kan aku?"


"Bagaimana jika kepala pasukan itu memberitahu mereka?!" Sahut Yudian lagi.


"Benar juga yah... Bagaimana jika Henil memberitahukan nya kepada mereka? Gawat!"


Alin akhirnya sadar, bahwa yang ia lakukan itu mungkin saja akan berakibat fatal. Tapi setelah dipikir-pikir, itu setimpal dengan yang ia dapatkan di kota Ohan itu. Alin pun tidak jadi mengkuatirkan tentang hal itu.


"Sudahlah... Yang penting aku senang... Benar bukan?" Ucap Alin dengan percaya diri.


"Kau memang anak yang nakal! Tuan Kael pasti akan menghukum mu nanti. Hayoooo..." Sahut Yudian yang menggoda Alin.


"Maka nya itu, aku harus bersenang-senang dulu supaya tidak merasakan hukumannya."


"Hahaha... Terserah kau saja."


"Oh, iya Yudian. Aku merasa agak aneh dengan. sesuatu."

__ADS_1


"Apa itu?" Tanya Yudian yang terlihat penasaran.


"Ibu Lina bilang kalau ayahnya Lina meninggalkan mereka pada saat Lina berumur 8 tahun, tapi Renu baru berumur 8 tahun, bukan? Sedangkan Lina, dia sudah berumur 19 tahun. Maksudnya... bagaimana?"


"Oh... itu. Renu bukanlah anak kandung tapi anak angkatnya. Saat Lina berumur 8 tahun, ibunya mengasuh Renu dari panti asuhan ini pada saat ia baru berusia 1 bulan. Renu berusia 8 tahun? Hahaha... kau lucu sekali. Sekarang Renu sudah 11 tahun, dari mana kau tau kalau dia berumur 8 tahun?" Jelas Yudian.


"Hehehe... Aku hanya menebak! Oh iya, jam berapa sekarang?"


Alin menarik tangan Yudian dan melihat ke jam tangan yang ada di lengannya Yudian. Yudian hanya terdiam membiarkan Alin melihat jam di lengannya sambil tersenyum. Ingin sekali ia memiliki Alin, Alin adalah cinta pertama yang Yudian miliki.


"Yahh, sudah pukul setengah 1 siang. Aku akan pulang." Ucap Alin seraya berdiri dari tempatnya.


"Secepat ini?"


"Hm, seperti yang kau katakan, kedua orang itu akan murka kepadaku nantinya."


"Apa kau ingin aku antar?" Ucap Yudian yang lalu berdiri untuk menawarkan dirinya.


"Tidak perlu, kau pasti sibuk. Aku akan berkeliling sebentar lalu pergi. Sampai jumpa, Yudian..." Pamit Alin.


Alin pergi dari tempat itu dan meninggalkan Yudian. Yudian yang di tinggalkan hanya bisa menghela nafas melihat punggung Alin yang semakin menjauh dari pandangannya. Setelah beberapa saat berada di situ, Yudian kembali masuk ke gedung panti asuhan untuk menyelesaikan tugasnya.


Sedangkan Alin, ia pergi berkeliling di kota Ohan sendirian sambil menikmati pemandangan nya. Tapi yang aneh, Alin hanya melihat sedikit sekali rumah-rumah warga di sana. Saat ia sedang asiknya menoleh kesana-kemari, Alin tidak memperhatikan jalan sehingga ia menabrak seseorang di depan.


...Bruukk...


"Awhhh... maaf-maaf, saya tidak sengaja." Ucap Alin yang langsung menggosok-gosok keningnya yang terbentur.


Alin mengangkat kepalanya dan melihat orang yang ia tabrak tadi. Terlihatlah seorang pria di hadapannya, dengan pakaian formal dan juga wajah yang tampan. Untuk beberapa saat Alin menatap orang itu, sampai orang tersebut menyadarkannya.


"Apa kau baik-baik saja, nona?" Tanya orang itu yang terlihat agak kuatir.


"Owh, iya, iya. Saya baik-baik saja." Alin kelabakan dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apa ada yang sakit? Apa perlu saya antar ke klinik?"


"Tidak, tidak. Tidak perlu, saya akan pergi. Maaf..."


Alin langsung berlari pergi meninggalkan orang tersebut. Orang itu berbalik dan tersenyum tipis melihat Alin yang berlari menjauh darinya.


Setelah merasa sudah jauh dari orang tadi, Alin berhenti berlari dengan nafas yang sudah terengah-engah. Untuk memastikan orang tersebut sudah tidak ada di belakangnya, Alin menoleh kebelakang lagi.


"Hufttt... Akhirnya... Siapa dia tadi, dia berpakaian sangat formal. Lupakan! Aku harus pulang sekarang."


Saat ingin kembali berjalan dan berbalik, lagi dan lagi Alin menabrak seseorang di depan nya. Tapi untuk kali ini, ia tidak menoleh ke arah orang tersebut.


"Ishhhh... maaf-maaf, saya tidak sengaja." Ucap Alin lagi.


Alin tidak berani menoleh ke arah orang asing lagi, ia memutuskan untuk langsung pergi dari tempat itu. Baru saja ia melangkah, orang itu berbicara kepadanya.


"Kau ingin kemana, nona?"


Suara berat seorang lelaki terdengar di telinganya dan suara itu sangatlah familiar untuk Alin, sehingga membuat Alin penasaran dan berbalik dengan cepat. Setelah berbalik, betapa terkejutnya ia.

__ADS_1


"Ada apa? Sekarang sudah hilang ingatan karena sudah ketauan kabur dari istana?"


__ADS_2