
Setelah Indra kabur, Gion, Reyhan dan Kael langsung menghampiri Lukas yang tengah memperhatikan penjara jiwa Alin. Untuk beberapa saat Lukas tenggelam di dalam pikirannya seraya menatap Alin yang ada di dalam.
Alin terus saja menggumamkan kata-kata yang sama secara terus menerus dengan berlinang air mata. Dan semakin lama berjalannya waktu, penjara jiwa yang Lukas buat, semakin melemah karena jiwa Clorian yang sangat kuat itu. Mereka bertiga yang melihat hal itu menjadi kebingungan, jika penjara jiwa itu saja tidak bisa menahan Alin lalu apa yang harus mereka lakukan?
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?! Penjara jiwamu sudah retak?!" Tanya Gion yang terlihat panik.
"Matilah kita... Jiwa kristal Clorian lepasssss..." Seru Reyhan yang ikut panik juga.
Namun Lukas tidak mendengarkan mereka dengan baik, dia masih termenung dengan penjara jiwa itu. Karena tak kunjung di respon, mereka menjadi agak kesal dan memutuskan untuk mengambil keputusan sendiri.
"Ya sudahlah, mungkin saja otaknya sedang rusak. Kalian berdua pergilah ke istana bawah tanah untuk menjemput ayahku, aku akan menemani mereka berdua." Ucap Gion.
"Hm, kami akan pergi!"
"Aku ingin pulang..." Sahut Reyhan yang sudah kelelahan.
"Kita akan pulang setelah urusan ini selesai! Ayo cepat! Jika tidak cepat kita semua akan mati di bunuh oleh jiwa Clorian!"
Setelah mendengar itu, Reyhan langsung tertegun dan panik. Dengan cepat ia langsung berlari entah kemana meninggalkan mereka. Kael yang melihat Reyhan tiba-tiba berlari, merasa kebingungan dengannya.
"Hei! Hei! Kemana?! Tunggu aku!" Teriak Kael kepada Reyhan yang sudah pergi jauh meninggalkan nya.
Dengan cepat Kael langsung ikut berlari mengejar Reyhan yang berlari tak tentu arah itu. Sementara itu, Gion masih memperhatikan Lukas dan Alin yang ada di dekatnya. Semakin lama retakan penjara jiwa yang ada itu semakin membesar dan terlihat hampir pecah.
Setelah melihat penjara jiwanya akan pecah, Lukas mundur untuk beberapa langkah ke belakang, namun ia tetap mematung setelah itu. Beberapa saat kemudian, penjara jiwa pecah berkeping-keping.
__ADS_1
...Krak krak PRANGGG...
Gion panik, dengan cepat ia menarik Lukas yang masih melamun itu kebelakang. Aura Clorian semakin kuat dan Lukas masih saja tenggelam di dalam lamunannya, Gion menjadi sangat panik. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk melawan jiwa Clorian yang ada di dalam tubuh Alin sekarang ini.
"Hei! Sadarlah, apa kau gila?! Mau mati?! Terserahlah! Kalau mau mati, cabut dulu posisimu sebagai saudaraku! Jika kau masih saudara ku aku tidak akan tega membiarkan mu mati! Woy! Sadar!" Omel Gion yang sudah sangat kesal dengan Lukas yang masih saja melamun, sambil menguncang-guncangkan tubuhnya.
Alin yang sudah terlepas, berjalan ke arah mereka berdua. Semakin lama, semakin dekat ia di hadapan mereka. Gion ingin pergi mundur, tapi ia tidak bisa meninggalkan Lukas yang belum mencabut posisinya sebagai saudara Gion, sehingga ia harus tinggal bersama dengan Lukas. Gion berdiri di belakang Lukas dengan ketakutan dan sementara itu Lukas masih mematung dengan tatapan kosongnya.
"Kalian semua... harus mati.. tidak ada yang boleh tersisa...!" Ucap Alin lagi.
"Sekarang!"
Saat Alin sudah semakin dekat dengan mereka, dengan tiba-tiba Lukas mengeluarkan semua mantra elemen api biru miliknya. Ia berlari memeluk Alin dan membuat penjara jiwa baru yang membuatnya juga terjebak di dalam bersama dengan Alin yang masih dirasuki oleh jiwa Clorian.
Gion yang melihat tindakan Lukas yang gegabah itu menjadi sangat panik. Ia langsung berlari ke arah penjara jiwa dan menggedor-gedor dengan sangat kuat.
Jiwa Clorian yang ada di dalam tubuh Alin, sangat terkejut akan kenekatan Lukas yang berani menantang maut yang ada di hadapannya. Api jiwa Clorian adalah api yang sangat panas, api itu hampir sama panasnya dengan api neraka dan Lukas sudah berani menantangnya dengan api yang terbilang jauh dari api Clorian.
Rasa panas yang luar biasa tentu saja tak terelakan dan begitu juga dengan rasa sakit yang luar biasa itu pun tidak bisa terelakkan. Namun Lukas tetap bertahan dan memeluk Alin dengan sangat erat, seberapa panas pun api dan rasa sakit itu menyerang tubuhnya, Lukas tetap tidak melepaskan nya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mati dengan cepat?" Tanya Alin.
"Ugh, diamlah kau! Aku ingin kau sadar dan tetap hidup di dunia ini, jadi kau harus sadar, Alin!"
"Humptt.. Alin? Alin sudah tidak ada, hanya Clorian. Aku yang akan membunuh kalian semua."
__ADS_1
"Aku tau kalau kau sudah melahap jiwa Alin, tapi ku mohon Clorian... Lepaskan dia, aku akan menggantikan Alin. Kumohon..." Pinta Lukas.
Tanpa ia sadari, air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. Saat air mata Lukas berjatuhan ke baju Alin, dengan perlahan kekuatan Clorian menjadi semakin melemah. Clorian yang menyadari akan hal itu, menjadi tertegun dan terkejut dengan apa yang telah terjadi terhadap dirinya.
"Apa yang terjadi? Aku tidak bisa menggerakkan tubuh wanita ini lagi dan kekuatan ku semakin melemah. Dan... pelukan pria ini terasa hangat dan familiar. Seberapa banyak cinta yang wanita ini keluarkan untuk pria itu? Sampai-sampai jiwanya memaksa ku mengeluarkannya kembali. Kekuatan ku... perlahan di pudarkan."
Sementara itu, Reyhan dan Kael pergi ke istana bawah tanah untuk menemui Master ketua Deon Li. Ternyata benar saja apa yang telah di katakan oleh kepala pasukan sebelumnya, ada pelindung di pintu masuk istana bawah tanah. Setelah melihat hal itu, Kael dan Reyhan mencoba untuk menghancurkan pelindung itu bersama.
"Ayo kita hancurkan!" Seru Kael.
"Sekarang?"
"Kalau kau mau mati, tahun depan pun tidak apa." Jawab Kael dengan senyuman yang terlihat jengkel.
"Aku tidak ingin mati, jadi kapan kita melakukannya?" tanya Reyhan dengan bodohnya.
"Ya, sekaranglah Reyhan..." Jawab Kael yang masih menahan amarahnya.
"Yasudah, ayo! Kenapa berbasa-basi?!" Tanya Reyhan yang malah balik memarahi Kael.
Kael ingin meninju Reyhan pada saat itu juga, tapi ini bukanlah waktu untuk berkelahi dan ia pun menahan amarahnya. Tanpa banyak basa-basi lagi, Reyhan dan Kael langsung menghancurkan pelindung itu. Setelah pelindung nya hancur, mereka langsung masuk ke dalam dan pergi ke ruangan aula istana.
Mereka berlari dan berlari dengan secepat mungkin ke aula istana. Hingga mereka telah tiba di depan aula, mereka mendobrak pintu dan langsung masuk ke dalam. Semua orang yang ada di dalam aula sangat terkejut akan kedatangan mereka yang tiba-tiba, begitu juga dengan Deon Li. Mereka datang ke aula istana pada jam setengah 4 subuh.
"Master Deon Liiiiii... Master... Jiwa... Jiwa... uhuk...uhuk... Alinn..." Ucap Reyhan yang masih terengah-engah.
__ADS_1
"Master, Gawat...! Gawat..." Tambah Kael yang terengah-engah juga.