Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 58 Mulai menyadari.


__ADS_3

Sesampainya di istana, Alin langsung berlari ke dalam kamarnya. Ia membersihkan diri dan setelah itu Alin langsung menghamburkan semua buku yang ada di dalam tas dan lemari nya ke lantai.


Alin duduk di lantai dan mulai mengerjakan soal-soal yang di berikan oleh ibu guru tadi. Tidak terbayang, dia harus mengerjakan 42 halaman soal itu dalam satu malam. Di tambah lagi, Alin tidak ada tidur sama sekali. Semakin lama, mata Alin terasa berat dan badannya terasa semakin lemas karena kelelahan. Namun Alin memaksakan dirinya untuk tetap terjaga agar bisa menyelesaikan semuanya.


"Andai saja... Di dunia sihir ini ada teknologi, pasti tidak akan sulit. 42 halaman dalam semalam... Aku tidak yakin kalau aku dan Lina bisa mengerjakan nya dalam semalam."


Di sisi lain, di kamar sebelah, kamarnya Lukas. Lukas sedang tiduran di kasurnya sambil melamun. Lukas menatap ke arah langit-langit kamar nya sambil memikirkan Alin dan Anita.


"Orang yang membuatku nyaman? Ini terlalu menggangu pikiran ku. Aku mungkin memang masih mencintai Anita, tapi... aku juga sudah mulai merasa nyaman dengan Alin. Tapi apakah aku memang benar-benar mulai menyukai nya?!"


Lukas berpikir keras memikirkan itu semua. Semua yang Kael katakan tadi sangat mengganggu pikirannya, Lukas tetap berusaha berpikir hingga ia hampir lupa dengan hukuman Alin yang ia janjikan beberapa hari yang lalu. Saat Lukas mengingat itu, ia langsung bersiap-siap dan pergi ke kamar sebelah.


Seperti biasa Lukas masuk ke dalam kamar Alin dengan begitu saja. Tapi kali ini, Alin tidak terkejut dengan Lukas yang datang tiba-tiba ke dalam kamar. Karena Alin terlalu fokus dengan tumpukan bukunya.


Lukas pun berjalan mendekat ke arah Alin dan ia kini berdiri tepat di belakangnya. Dari jarak sekitar 1 meter setengah saja, Lukas sudah bisa melihat apa yang Alin baca sekarang. Dia melihat soal-soal sejarah di buku yang Alin baca.


Lukas berjongkok di dekat Alin untuk melihatnya lagi dengan jelas. Alin yang tengah fokus belajar dan tiba-tiba melihat Lukas di sampingnya, langsung terkejut. Sontak ia berteriak.


"WHAA! SETAN!"


Lukas yang tiba-tiba di katai setan pun terkejut. Karena teriakan Alin begitu keras, para penjaga yang ada di luar juga ikut terkejut dan langsung masuk ke kamar Alin.


"Ada apa putri Jiu?!" Tanya salah satu dari mereka dengan panik.


Alin pun berusaha untuk melihat siapa yang ada di sampingnya sekarang, saat ia melihat Lukas Alin langsung merasa tidak enak.


"Oeh... Lukas, aku kira setan. Hehe... Maafkan aku." Ucap Alin dengan canggung.


"Kalian bisa keluar sekarang"


"Baik, pangeran!" Ucap para penjaga itu secara bersamaan. Mereka semua pun keluar dan meninggalkan Alin dan Lukas sendirian di dalam.


"Huftt... Apa kau tidak bisa mengubah kebiasaan mu itu?! Kau selalu saja membuat jantung ku terasa ingin copot setiap saat!" Ucap Alin kesal.


"Setiap saat?" Tanya Lukas kebingungan.


"Ups.."


Alin langsung menutup mulutnya menggunakan lengannya. Tanpa ia sadari, ia mengatakan apa yang tidak ingin katakan pada Lukas. Mukanya kini memerah bagaikan tomat yang sudah sangat matang.


"Hmn.., A-apa yang kau inginkan?" Tanya Alin dengan terbata-bata.


"Sesuai janji ku, aku akan memberikan hukuman untuk mu. Kerjakan soal mantra teleportasi dari halaman 45 sampai 50, berikan pada ku besok."


"O-oh, o-ke. Akan ku kerjakan. A-aku ingin minum dulu"


Karena sudah tidak tahan lagi dengan mukanya yang memerah, tanpa Alin sadari ia mengiyakan hal yang mungkin tidak bisa ia lakukan saat ini. Alin pun berjalan kearah pintu keluar dengan keadaan salah tingkah.


"Sial sekali... kenapa mulut ini tidak bisa mengatakan tidak padanya. Tugas 42 halaman saja belum, aku malah mengiyakan nya."

__ADS_1


Karena ada yang ingin Lukas katakan pada Alin sekarang, ia memanggilnya.


"Tunggu!" Teriak Lukas sambil menarik ujung baju Alin dengan sedikit kuat.


Alin berbalik sekilas, namun Alin yang sudah lemas dari tadi, tiba-tiba saja kehilangan keseimbangan nya saat Lukas menariknya. Lukas belum siap dalam situasi itu dan ia juga kehilangan keseimbangan nya hingga ikut terjatuh juga. Alin pun terjatuh tepat di atas Lukas. Untuk beberapa saat mereka bertatapan dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing hingga mereka tidak menyadari kalau mukanya sudah memerah.


"Perasaan ini muncul lagi... Apa benar aku mulai menyukai Alin?"


"Mu-mungkin Lina benar! Sepertinya aku memang menyukainya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?!"


"Ups... Sepertinya... Aku datang di waktu yang tidak tepat. Aku akan keluar dulu." Gumam Lina.


Tiba-tiba saja Lina masuk dan mendapati Alin dan Lukas sedang dalam posisi itu. Lina tentu saja merasa tidak enak dan ia memutuskan untuk keluar. Saat mereka menyadari Lina melihatnya, Lukas dan Alin langsung kelabakan. Alin langsung berdiri dan menjauh dari Lukas, begitu juga dengan Lukas.


"Aku... akan kembali. Kau.. tadi ingin minum kan?" Ucap Lukas salah tingkah dengan mukanya yang merah tomat.


"Oh, na-nanti saja"


"Kalau begitu... aku akan keluar" Lukas pun keluar dari kamar Alin dengan muka merah tomat nya.


Lukas keluar dan Lina masih menunggu mereka di luar. Saat Lina melihat Lukas keluar dari dalam, tak sengaja ia melihat muka Lukas yang memerah. Lina merasa bahagia saat melihat itu.


"Hohoho.."


Lina masuk ke dalam lagi dan melihat Alin yang sedang mondar mandir mencari buku-buku nya. Lina menghampiri Alin dan duduk di atas kasurnya.


"Wahh... Kasur mu sangat empuk." Ucap Lina sambil menepuk-nepuk nya.


"Ke sini dulu!" Pinta Lina sambil menepuk-nepuk di sampingnya.


Alin berjalan ke arah Lina, duduk di dekatnya dan menunggu Lina berbicara. Lina menatap Alin dengan tatapan yang menyelidik dan Lina akhirnya membuka mulutnya.


"Apa yang kalian lakukan tadi?"


"Tidak ada, sudahlah lupakan saja"


"Kalian berdua sudah sampai tahap apa? Berpelukan? Berciuman? Atau tahap...?"


Lina tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Dia menutup mulutnya, tidak menyangka dengan apa yang ia ucapkan. Tapi dia sebenarnya mengharapkan itu.


"Berhenti membicarakan itu lagi atau aku akan membunuhmu!" Ancam Alin dengan muka datar Nya.


"Yeee... hanya bercanda saja, kau terlalu serius seperti pangeran Lukas saja."


"Hmm... Sudahlah, perkerjaanku tidak akan selesai jika kita berdebat."


"Okelah"


"Tunggu! Apa kau tidak membawa Viko?!" Tanya Alin tersadar.

__ADS_1


"Oh iya! Aku lupa lagi. Hehe.."


"Sudahlah, besok aku akan menjemput Viko." Sahut Alin.


"Oh, datanglah saat malam hari. Viko sering ikut dengan Renu saat tinggal di rumahku. Sekalian kita makan malam bersama."


"Tentu."


Lina mengeluarkan semua buku dan peralatan sekolah yang ada di dalam tasnya. Mereka berdua langsung mengerjakan soal-soal yang ada. Tapi Alin tidak terlalu fokus, sebelumnya ia sangat serius dan fokus pada buku-buku nya, ada banyak hal yang menganggu kepalanya.


Terkadang dia melamun dan terkadang dia merebahkan tubuhnya ke lantai sambil memikirkan yang baru saja dia alami bersama Lukas tadi. Alin sangat gelisah. Lina yang melihat Alin gelisah, ikut gelisah juga.


"Kau kenapa?"


"Apa yang kau katakan tadi sore itu benar?"


"Tentang apa?"


"Anu... tentang.. Aku menyukai... Lukas itu" tanya Alin malu-malu.


"Oh.. Hahaha.. Bukannya kau bilang tidak ingin membicarakan itu lagi?" Tanya Lina sambil terbahak-bahak.


"Ah.. katakan saja!"


"Oke, oke. Aku yakin 100%. Sisanya tergantung perasaanmu yakin atau tidak." Jawab Lina dengan ekspresi yang meyakinkan.


"Sepertinya... aku juga yakin... 100%, kalau aku mulai... menyukai Lukas."


"Bagus sekali!" Seru Lina kegirangan. Sontak Lina langsung memeluk Alin karena kesenangan.


"Tapi sepertinya 99% saja. Hehe.."


Lina yang mendengar ketidak pastian itu merasa kesal dan ia memasang wajah datarnya. Lina menjitak kepala Alin dengan sedikit keras.


"Awh.. Sakit..."


"Kalau bicara jangan setengah-setengah. Katakan saja langsung!"


"hehe.. iya, iya"


"Jadi seberapa yakin kau?" Tanya Lina lagi.


"99%"


"Huftt... Yah... baik"


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alin sambil memasang ekspresi imut nya.


"Berhenti memasang ekspresi mu itu untukku, simpan saja untuk pangeran Lukas. Dan... jika kita terus membahas tentang cinta terus, soal-soal ini tidak akan selesai." Jelasnya.

__ADS_1


"Huh... oke, oke."


Alin dan Lina kembali menghadapi pertempuran mereka dengan gunung buku yang ada di hadapannya. Mereka berdua mulai fokus pada soal-soal nya dan kini mereka sudah menyelesaikan 26 halaman bersama.


__ADS_2