Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 121 "Meng Xiao?!!!"


__ADS_3

Dengan sangat cepat, Clorian melesat bagaikan petir dalam badai ke arah Lukas. Sihir yang keluar dari kepalan tangannya melesat dengan cepat. Itu hampir saja mengenainya, untung saja Lukas dengan gesit mengelak. Lukas sudah cukup gesit untuk mengelak, tapi untuk beberapa kali, ia hampir saja terkena serangan Clorian.


"Tidak bisa kah kita bicarakan baik-baik?" Ucap Lukas yang mulai kewalahan.


"Ada apa? Lelah? Cih! Berani masuk, berarti berani melawan. Kalahkan aku dulu, maka aku akan meladeni mu dengan baik-baik." Seringai Clorian lagi.


"Apa?!"


Tiba-tiba saja, Clorian sudah berada di belakang, Lukas sangat terkejut hingga hampir kehilangan keseimbangannya. Serangan yang sedari tadi telah di siapkan oleh nya, kembali melesat ke arah Lukas. Tapi sekali lagi keberuntungan berpihak padanya, ia berhasil menghindar, tapi serangan tadi mengenai lengan jubah Lukas dan membakar nya.


"Kau cukup hebat juga, bagaimana kalau kau yang menjadi wadah ku? Aku jamin kau akan lebih kuat dari ini."


"Tidak, terima kasih. Aku sudah lebih kuat dari apa yang terlihat." Lukas menolak tawaran Clorian dan tersenyum tipis seraya menghembuskan nafas pelan.


"sombong sekali... Kalau begitu, kita bertarung saja. Kau bisa menanyakan apa yang ingin di tanyakan sambil bertarung, kalau berhasil menang, aku akan menjawabnya."


"Baiklah, ayo!"


Mendengar Clorian berkata seperti itu, kepercayaan diri yang begitu besar membarai semangat yang di miliki nya. Mereka berdua kembali bertarung dengan sangat sengit, Lukas yang tadinya hanya menghindar, sekarang mulai melawan Clorian dengan hebatnya. Pertarungan sengit itu terlihat hampir imbang. Beberapa kali Clorian terlihat tersudut oleh dengan lawannya itu. Dan sela-sela pertarungan Lukas mulai mengutarakan pertanyaannya.


"Aku ingin tau, apa yang sebenarnya terjadi tadi saat kalian di panggil oleh ayahku. Bagaimana situasi tempat kejadiannya?" Tanya Lukas yang terlihat menikmati pertarungan itu.


"Hanya itu yang kau ingin tanyakan? Tidak ada yang lain selain itu?" Tanya Clorian balik yang terlihat tidak yakin dengan pertanyaannya.


"Tentu saja."


"Kalahkan aku dulu kalau begitu!"


Semakin lama pertarungan itu sangat sengit. Clorian terlihat sangat terkejut dengan kekuatan yang di miliki Lukas, tidak seperti yang di duga nya. Sedangkan Lukas terlihat sangat menikmati pertarungan yang sedang berlangsung, ia bahkan sampai sempat menyeringai.


^^^l^^^


Sudah sangat lama sekali mereka bertarung, hingga tenaga keduanya sudah hampir terkuras habis. Mereka berdua sudah terengah-engah dan akhirnya berhenti sejenak dari pertarungan itu.


"Hah.. hah.. Kau.. siapa bocah, hah? Kenapa... Bisa kuat sekali?! Padahal segel ku sudah terbuka setengah." Tanya Clorian yang terengah-engah.


"Hah... aku? Bukannya sudah tau?"


"Bukan, bukan. Nama asli mu bocah..!"


"Nama asli ku? Namaku... Nang Meng Xiao. Memangnya... kenapa?"


Untuk beberapa saat, Clorian terdiam sambil mengerutkan keningnya, mencoba untuk mengingat-ingat kembali nama itu. Hingga, ia benar-benar ingat barulah iya sadar dari lamunannya.


"Owhhh, bocah yang buta sihir itu...?" Gumamnya refleks.

__ADS_1


Dengan blak-blakan, kata-kata itu keluar dengan sendirinya dari mulut Clorian. Sedetik kemudian, ia langsung terkejut. Tapi bukan hal sepele itu yang membuatnya terkejut, namun ada suatu hal lain yang membuatnya terkejut.


"EHHHHH??!!!"


Pekikan Clorian sangat nyaring dan mengejutkan. Bahkan Lukas yang sedari tadi dalam mode waspada pun sampai terkejut mendengarnya.


"Astaga..!" Pekik Lukas pelan ala laki-laki cool.


"Tunggu, tunggu! Ini benar-benar Meng Xiao itu?!"


"Hm? Hm." Gumam Lukas rada-rada linglung.


"Tidak mungkin! Aku sering sekali mendengar nama mu di bicarakan oleh penyihir-penyihir di dunia manusia setiap gadis ini lewat. Tapi... Kenapa bisa begini?! Bukannya kata mereka kau itu buta sihir?! Tapi, tapi, tapi...! Kau bahkan bisa menguasai sihir api biru tingkat akhir. Kenapa...? Tunggu, tunggu! "


Clorian langsung gagal fokus, bukannya fokus untuk waspada, ia malah mengoceh sendiri menggumamkan kata-kata yang membuatnya bingung itu berulang-ulang. Karena Clorian sedang teralihkan perhatiannya, Lukas mengambil kesempatan itu untuk mengambil sebuah keuntungan.


Lukas langung menyerbu Clorian di tengah-tengah kebingungannya. Untuk beberapa kali Clorian masih bisa memberikan perlawanan, namun sayangnya ia belum siap untuk serangan dadakan itu. Hingga Lukas berhasil menaklukan nya.


BRUKK!


"Berhasil!"


Lukas menjatuhkan Clorian ke lantai dengan sangat keras. Clorian pun tergeletak dengan posisi tengkurap di lantai, dengan Lukas yang berada di atas punggungnya untuk menahannya. Kemudian Lukas membuat segel yang cukup kuat ke Clorian.


"Ah! Tidak adil! Dasar bocah licik! Curang! Kau bermain curang!" Teriak Clorian yang mencoba berontak.


"Lepas dulu!!! Bagaimana bisa aku menjawabnya jika kau menghimpitku?" Decak Clorian kesal.


Lukas pun turun dari atasnya. Setelah itu, Clorian juga bangkit dari situ dan mengibaskan bajunya yang tidak kotor dengan sengaja. Tapi sesudah itu, Clorian tak kunjung memberi jawaban. Ia hanya diam sambil membelakangi Lukas yang menatapnya.


"Hei, mana janji mu?" Ucap Lukas.


"Kau yakin ingin menyia-yiakan kesempatan ini hanya demi pertanyaan konyol itu?"


"Tentu saja. Memang benar ini sepele dan aneh, tapi ini bagi orang yang spesial buatku. Dan juga ini akan mempengaruhi mu. Orang yang kau tempati ini menunjukan gejala fobia, tapi aku tidak tau apa yang membuatnya trauma." Jelas Lukas.


"Hmm.. Masuk akal. Terserah padamu saja, semoga kau tidak menyesal. Karena kelak kau mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan ini lagi."


"Tidak masalah." Jawab Lukas dengan yakin untuk yang kesekian kalinya.


Clorian berbalik, terus berjalan dan melewati Lukas, lalu duduk dikursi yang sebelumnya. Ia kemudian mulai bercerita tentang kejadian yang sebelumnya kepada Lukas seperti yang di mintanya.


Cerita dan penjelasannya sangat mendetail, ia bahkan sampai-sampai memasukkan bebek karet yang ada di atas meja pada saat itu ke dalam ceritanya. Bahkan panjang kali lebar kali luas pun di ceritakannya. Dan konyolnya lagi, Lukas tidak merespon tentang ke anehan itu dan tetap mendengarkan dengan seksama.


Setelah beberapa saat cerita itu berlangsung, akhirnya berakhir juga. Lukas kemudian bersiap untuk kembali ke dunia luar.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih banyak untuk bantuannya, Clorian. Maafkan aku jika ada kata-kata yang kasar keluar dari mulutku." Ucap Lukas sedikit menunduk.


"Hm." Gumam Clorian dengan ekspresi datarnya.


Kemudian Lukas berbalik dan mulai berjalan menjauh, pergi ke dunia nyata. Baru saja 3 langkah Lukas jalankan kakinya, Clorian sudah tiba-tiba saja menyela perjalanannya.


"Tunggu! Kau yakin tidak mau menjadi wadah ku? Kesempatan ini mungkin tidak akan datang dua kali. Kau bisa menjadi lebih kuat jika aku bersama mu."


"Tidak, aku lebih suka menjadi diriku sendiri. Walaupun kelak aku tidak akan bisa mengalahkan mu seperti tadi jika segel mu terbuka sempurna, aku lebih suka seperti ini." Tolak Lukas.


"Terserah, pergi saja sana. Waktu di sini sangat berbeda jauh, satu jam di sini, satu menit di sana." Usir Clorian.


"Hm."


Sementara itu, Alin masih saja menutup matanya. Tapi beberapa menit kemudian, tangan Lukas yang ada terasa pada matanya sebelumnya, sudah tak terasakan lagi. Karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi, ia membukanya.


Tapi pemandangan sekitar tidak sama seperti sebelumnya. Alin hanya melihat kegelapan dan yang terlihat hanya kasur yang ia duduki tadi. Ia berdiri dari tempatnya dan memanggil-manggil nama Lukas.


"Lukas? Lukas, kau dimana? Kenapa tempat ini jadi gelap? Mati lampu?" Panggil Alin sambil mondar-mandir.


Tapi tidak ada jawaban. Lalu pemandangan kembali berubah, kali ini menampakan Deon Li yang sedang berdiri menghadap Alin. Ia pun menghampirinya.


"Master? Kenapa anda bisa ada di sini? Lah, ini siapa? Bukannya ini aku?" Tunjuk Alin pada dirinya yang ada di depan Deon Li.


Tapi lagi-lagi keduanya tetap diam dan tidak menyahut. Pemandangan pun berubah lagi. Kali ini pemandangan itu berupa kejadian yang terjadi di aula. Dimana Clorian saat itu sedang mengusai tubuhnya, dan sedang menebas Cioni dengan pedang tajam.


...Srakkk...


Darah dari Cioni langsung muncrat ke arah tubuhnya dan lantai aula. Dan seketika itu juga dada nya terasa sesak. Kegelisahan dan keringat dingin mulai bercucuran.


"Hentikan... hentikan... jangan.. huhuhu... hentikan ini... " Guman Alin dengan pelan.


Setitik demi setitik, air mata mulai membanjiri pipiAlin, yang disertai oleh ketakutan. Ia langsung meringkuk di lantai dengan gemetaran. Bayangan darah yang di sebelumnya kembali berputar seperti film pada kepalanya.


"Lukas! Huhuhu! Kau di mana?" Teriak Alin dengan air mata yang terus bercucuran.


Di tengah-tengah ketakutannya, sebuah tangan yang hangat menyentuh lembut pundaknya. Alin sontak menoleh kearah tangan itu. Ketika berbalik, ia sudah melihat Lukas menatap nya dengan hangat, di saat itulah Alin merasa sangat aman. Ia langsung memeluk Lukas, memeluknya dengan sangat erat. Dan seketika, pemandangan tadi berubah kembali seperti semula.


"Maaf, aku tidak akan bertindak gegabah lagi." Ucap Lukas yang mulai membalas pelukan Alin.


"Maksudnya?"


Alin mengangkat kepalanya, menatap Lukas dengan bingung.


"Ilusi ini... Yang kau liat barusan, itu semua ulah ku. Maaf, sepertinya aku benar-benar gegabah untuk membantu mu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa."


"Asalkan aku tidak sendirian lagi... tidak masalah... tolong jangan pernah tinggalkan aku sendirian seperti tadi..."


__ADS_2