Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 51 Kesal


__ADS_3

Mereka bertiga memutuskan untuk pergi dari situ. Alin dan Gion berjalan mendahului Lukas dan meninggalkan nya sendiri di belakang. Lukas sibuk tengok kiri dan kanan seperti mencari sesuatu. Saat Gion menyadari Lukas tidak ada di dekat mereka, ia berbalik dan menghampiri Lukas. Alin pun berhenti berjalan dan menunggu Gion dan Lukas di situ.


"Apa yang sedang kau cari?"


"Kotak" Jawab Lukas sambil celingak-celinguk.


"Kotak?"


Lukas tidak merespon Gion dan terus mencari kotaknya tanpa menjelaskan nya pada Gion. Alin mendekat ke arah Gion dan berbisik.


"Apa yang sedang kalian berdua cari?"


"Kotak? Dia bilang kotak. Tapi kotak apa?" tanya Gion kebingungan.


"Kita cari saja dulu"


Alin dan Gion mencoba untuk membantu Lukas mencari kotak yang ia maksud. Mereka bertiga berpencar ke sekitar situ untuk mencarinya. Lukas terlihat sedikit panik karena kehilangan kotak itu, ia mencarinya dengan sangat teliti di sekitar tempat itu.


Beberapa lama kemudian, Alin melihat sebuah kotak kaca yang terpantul cahaya matahari di sebuah makam orang lain. Ia mengambilnya dan menghampiri Lukas yang tengah sibuk mencari juga.


"Apa kotak ini?" Tanya Alin seraya memperhatikan kotaknya, lalu ia membukanya.


Terlihat di dalam kotak itu ada sebuah cincin perak dengan desain bunga hijau yang sangat indah. Lukas menghampiri Alin dan langsung merebut kotak itu kembali dengan kasar.


"Berikan padaku!"


"Kenapa kau begitu kasar sekarang?! Aku sudah membantu mu mencarinya, tapi kau bersikap kasar padaku! Apa ini tanda terima kasih mu?!" Bentak Alin karena kesal.


"Terserah"


Dengan entengnya Lukas menyahut Alin dan memasukkan kotak itu kembali ke saku bajunya. Alin terlihat sangat kesal dengan tingkahnya Lukas yang kasar dan kini mukanya memerah karena menahan amarah, ia ingin menangis karena ia sangat kesal pada Lukas yang sering sekali bersikap kasar padanya. Gion datang menghampiri mereka berdua berusaha menenangkan nya.


"Hei, sudahlah kalian berdua... Ini sudah siang sebaiknya kita pulang sekarang."


"Hummp! Aku tidak ingin dekat-dekat dengan Gunung kutub itu!" Tegas Alin dengan muka yang cemberut.

__ADS_1


"Terserah padamu. Pulang saja sana, jalan kaki saja sana."


"Woy! Kau itu punya hati nurani tidak! Apa kau menyuruh Alin untuk berjalan sendirian di siang bolong yang panas ini?!" Bentak Gion.


"Tentu saja" Jawab Lukas dengan entengnya dan berjalan kembali menuju mobil.


"HUH! Aku tidak butuh hati nurani mu!" Gerutu Alin kesal dan langsung berlari dengan cepat ke jalan yang sebaliknya.


"HEI! ALIN! LUKAS!" Teriak Gion pada mereka berdua.


Namun itu tidak berguna. Lukas dan Alin tidak menghiraukan nya. Lukas tetap saja terus berjalan menuju ke arah mobil sendiri dan sementara itu Alin sudah menghilang dari tempat pemakaman dengan cepat.


Gion harus memilih 'Lukas atau Alin'. Akhirnya Gion memilih untuk mengikuti Lukas. Jika ia memilih untuk mengikuti ke arah Alin tadi, ia mungkin akan tersesat di situ. Alin berlari dengan sangat cepat, sehingga dalam beberapa menit ia sudah menghilang dari situ dan Gion tak punya pilihan lain selain mengikuti Lukas dan mencarinya nanti.


Sementara itu Alin berlari keluar dari tempat pemakaman melewati jalan pintas yang langsung tembus ke jalan raya yang di kota. Saat sudah tiba di tepi jalan raya, Alin merasa kelelahan karena harinya yang terasa sangat terik dan karena energi nya yang sudah terkuras saat berlari tadi.


Terlintas lah sebuah aroma yang sangat akrab di hidung Alin yang membuat perutnya keroncongan. Ia berjalan mengikuti aroma itu dan sampailah Alin di sebuah toko roti yang sering ia kunjungi saat kecil bersama ayahnya.


Alin melihat ke jendela toko roti itu dan terlihatlah roti-roti yang tersusun rapi di rak. Alin menatap toko itu dan tiba-tiba terlintas lah kenangan kecil di benaknya. Dulu, Alin dan ayahnya selalu ke sini setiap pagi untuk membeli roti dari toko itu. Alin tersenyum ke arah toko itu.


Lalu Alin kembali menatap kacanya. Ia ingin membeli nya tapi saat ia merogoh saku bajunya, Alin lupa kalau ia tidak punya uang sepeserpun.


"Apa ini nasibku? Entah itu di dunia sihir atau di sini, aku selalu saja seperti gelandangan yang tidak punya uang!"


Tiba-tiba keluarlah seorang pria dari pintu toko itu. Ia menoleh dan melihat ke arah Alin. Orang itu terlihat sangat familiar di matanya. Itu Arga! Arga menghampiri dan menyapa Alin dengan ramah.


"Hei Alin! Apa kabar?"


"Aku baik, bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik. Tapi... kenapa kau di sini?"


"owh, Aku hanya lewat saja" Jawab Alin sedikit canggung.


"Tidak, bukan itu maksudku."

__ADS_1


"Lalu apa?" Alin mulai penasaran dan mendengarkan penjelasan Arga.


"Jadi beberapa bulan yang lalu polisi datang ke rumahku dan membawa jas ku yang aku berikan padamu waktu itu. Polisi bilang kalau kau itu hilang. Dan beberapa Minggu setelah polisi datang ke rumah ku, ada sebuah berita kecil di sebuah surat kabar yang ada nama mu di situ dengan topik seorang pelajar yang hilang dan di perkirakan ia meninggal karena dibunuh."


"Tunggu, tunggu. Apa mereka percaya kalau aku sudah meninggal dengan begitu saja?!" Alin menyela penjelasan Arga.


"Aku tidak yakin.Tapi...tidak ada mayatnya dan polisi juga bilang kalau kasus itu di tutup atas permintaan orang tuamu. Apa itu benar?" Tanya Arga.


Alin menundukkan kepalanya sedikit. Alin tidak menyangka dengan apa yang telah ibunya lakukan. Ibunya bahkan mengatakan kalau ia sudah meninggal dan nyatanya dia masih hidup dan Alin juga pernah datang ke rumahnya saat itu.


"Anak hilang? Meninggal? apa ibu sangat membenciku sampai sebegitu nya? Apa mungkin seorang ibu akan melakukan itu kepada anaknya sendiri? Aku...Mungkin sudah benar-benar di lupakan olehnya."


Arga kebingungan melihat Alin yang tiba-tiba diam dan menundukkan kepalanya. Ia mendekat dan memanggilnya.


"Alin? Apa kau baik-baik saja?"


"O-oh, Aku... baik-baik saja"


Alin merasa kalau air matanya akan segera berjatuhan. Hatinya benar-benar sakit. Alin ingin menangis, tapi ia merasa kalau dirinya tidak punya siapa-siapa lagi untuk tempat sandarannya. Alin mencoba untuk tetap tersenyum dan menyembunyikan kesedihannya nya.


"Apa kau mau ikut dengan ku?" tanya Arga.


"Apa?"


"Maksudku...tinggal bersama keluarga ku."


Alin ingin menerima nya. Tapi ia tidak bisa menerima itu karena ia sekarang sudah menjadi seorang putri di dunia sihir dan ia juga punya kewajiban yang harus di lakukan. Alin juga sudah banyak berhutang budi kepada orang-orang yang ada di dunia sihir.


"Maaf Arga, tapi aku sudah tinggal dengan teman ku." Tolak Alin dengan sedikit canggung.


"Oh, tidak apa-apa. Apa kau sendirian kemari?"


"Tidak, aku tadi kemari dengan temanku." Alin tau kalau Arga akan memaksa nya untuk pergi dengan dirinya jika Arga tau dia pergi sendirian.


"Lalu di mana dia?" tanya Arga.

__ADS_1


"Anu...Itu..." Alin bingung ingin menjawab apa. Ia melihat ke kiri-kanan jalanan berharap Lukas atau Gion datang menghampiri nya dan menjadi seorang pahlawan untuk dirinya.


__ADS_2