Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 50 Berkunjung ke makam


__ADS_3

Setelah bersiap-siap, Alin berjalan pergi ke arah pintu depan. Namun di tengah jalan, ia di hadang oleh Chan Lu. Chan Lu menatap Alin dari atas hingga bawah dengan tatapan yang sinis.


"Pergi kemana?" Tanya Chan Lu dengan nada yang ketus.


"Aku ingin pergi menemui teman-teman ku sebentar. Nanti kalau ibu sudah pulang, tolong sampaikan padanya yah kak..."


"Tunggu dulu!"


Chan Lu mendekat dan mengelilingi Alin dengan tatapan sinis sambil menatap bajunya Alin. Chan Lu tau kalau baju yang Alin kenakan sekarang adalah baju yang sangat mahal. Ia iri pada Alin dan ingin memiliki nya juga.


"Darimana kau mendapatkan baju ini?"


"Itu... Kemaren temanku memberikan baju ini untuk ku."


"Oh, berapa banyak baju yang dia berikan pada mu?!"


"Hm..Aku tidak tau, aku tidak menghitungnya tadi."


"Pergi saja sana!" perintah Chan Lu dengan sedikit kasar.


Alin pun pergi, ia juga sudah tau kalau Chan Lu pasti akan bersikap kasar padanya, maka Alin pergi dan memaklumi nya. Setelah Alin pergi, Chan Lu berjalan ke arah pintu depan untuk memastikan Alin sudah pergi atau belum.


Chan Lu sudah tak melihat tanda-tanda Alin lagi di sekitar situ. Ia masuk kembali dan menyelinap ke dalam sebuah ruangan yang ada beberapa barangnya Alin. Lalu ia mengobrak-abrik barang-barang nya Alin yang ada di dalam tas.


"Humpp... Dimana dia menyimpan bajunya?"


Chan Lu tetap saja mengobrak-abrik barang Alin dan berusaha untuk mencari baju Alin yang terlihat mahal. Beberapa menit kemudian, akhirnya Chan Lu menemukan baju nya Alin yang masih ada labelnya. Nama label bajunya adalah nama salah satu label dari sebuah perusahaan yang ternama di dunia.


"Wahhh, ternyata baju Alin semuanya mahal-mahal. Pantas saja dia betah menjadi simpanan nya Presdir itu. Tapi dia tidak pantas untuk mendapat kan orang kaya yang seperti tuan muda Lukas itu. Hanya aku yang pantas..." Chan Lu terlihat sedikit menyeringai di pantulan cermin yang ada di hadapannya.


Chan Lu sungguh tertarik dengan desain bajunya yang begitu indah dan elegan. Tanpa banyak basa-basi lagi, Chan Lu mengambil semua baju yang berlabel itu dan membawanya keluar tanpa ada rasa bersalah. Chan Lu juga membiarkan barang-barang Alin berserakan di lantai, ia tidak membereskannya atau pun menghilangkan jejak bekas perbuatan nya tadi. Chan Lu pergi ke kamarnya dan langsung memakai baju itu.


Sementara itu, Alin pergi ke taman kota untuk menemui Lukas dan Gion. Alin memesan taksi dan menunjukkan lokasi yang ia ingin tuju kepada supir taksi. Supir itu mengangguk dan dengan segera melajukan mobilnya.


Tidak butuh waktu yang lama, mereka sudah sampai di tujuan. Alin turun dari mobil dan membayar ongkos nya.

__ADS_1


"Ini pak, terima kasih ya.." Ucap Alin sambil menyodorkan beberapa lembar uang kepada supir itu.


"Iya, sama-sama. Semoga harimu menyenangkan." Sahut supir itu dengan ramah. Supir itu langsung melajukan mobilnya, pergi meninggalkan Alin di situ sendirian.


Setelah supir itu pergi, Alin berbalik ke arah taman dan melihat-lihat di sekitar situ untuk menemukan Lukas dan Gion. Alin menoleh ke kiri-kanan taman, namun Alin tidak menemukan mereka berdua di situ.


Tiba-tiba saja, Alin merasakan ada sebuah telapak tangan di bahunya. Alin berbalik menoleh ke belakang, ia melihat ada seseorang di belakang, orang itu memegang pundak nya. Dan ternyata itu adalah Gion. Terlihat juga ada Lukas di belakang Gion yang sedang sibuk dengan jam tangan nya.


"Jadi kita akan pergi kemana dulu?" Tanya Gion.


"Terserah saja"


"Kita pergi ke makam Master terlebih dahulu" Sahut Lukas tiba-tiba.


"Baiklah, ayo"


Lukas dan Alin berjalan di depan mendahului Gion.


"Hei! Tunggu aku dulu, jangan tinggalkan aku." Teriak Gion dari belakang Alin dan Lukas.


Mereka bertiga pergi bersama menuju ke makam nya Kakek Alin. Alin, Lukas dan Gion masuk ke mobil pribadinya Lukas dan pergi ke pemakaman umum di kota C. Mobil pribadi nya Lukas sangatlah mewah, anggun dan pastinya mahal. Semua orang yang berpapasan dengan mobilnya itu sangatlah terkagum-kagum, mobil nya itu sangat terkenal karena harganya yang mahal.


"Wow! Mobil siapa itu? Bagus sekali!"


"Itu mobil pribadinya Presdir PRANATHA! PRESDIR! BAWA AKU PULANG BERSAMA MU!"


"Hei! Hei! itu mobil nya Presdir Lukas"


"Presdir Lukas? Presdir dari keluarga Prantha itu?!!"


Beberapa orang-orang berteriak ke arah mobil mereka bertiga dan bahkan ada yang sampai nekat mengejar mobilnya. Namun mereka tidak mempedulikan nya dan pergi melewati orang-orang itu.


Beberapa lama kemudian, mereka akhirnya tiba di gerbang pemakaman umum kota. Mereka turun dari mobil dan berjalan kembali melewati makam yang lainnya menuju makam kakek dan ayah Alin.


Di tempat pemakaman itu, ada tempat pemakaman khusus untuk keluarga Alin. Terlihat dari jauh, di situ ada 1 makam yang terlihat masih baru. Saat Alin mendekat ke situ, ia merasa terpukul. Ternyata makam itu milik nenek nya Alin. Alin berjongkok di sebelah situ dan menatap nya untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Nenek..." Gumam Alin sedih sampai ingin meneteskan air mata.


Alin sungguh sedih, ia sudah kehilangan ayah dan kakeknya kini ia juga kehilangan neneknya. Lukas dan Gion ikut berjongkok juga di samping kiri dan kanannya. Secara bersamaan mereka menepuk bahu Alin untuk menguatkan nya.


"Sudahlah... Aku tau kau pasti sangat sedih dengan semua ini, tapi kau harus kuat dan sabar melalui semua ini" Ucap Gion menyemangati Alin.


"hm, terima kasih Gion, Lukas."


Gion tersenyum ke arah Alin menerima ucapan terima kasih nya dan sementara itu Lukas hanya diam tanpa ekspresi. Ia berjalan ke seberang Alin dan meletakan sebuah bunga di makam neneknya Alin.


"Apa itu Lukas?" tanya Alin.


"Bunga ziko, bunga khusus untuk makam. Semoga putri Heju damai di sana.." Lukas menundukkan kepalanya sedikit ke arah makam nenek Alin dan begitu juga dengan Gion.


"Semoga putri Heju damai di sana.."


Alin sungguh terharu dengan tindakan mereka berdua yang sungguh menghormati dan peduli pada keluarganya. Tiba-tiba saja air matanya berjatuhan membasahi pipinya.


"Terima kasih..." Ucap Alin dengan berlinang air mata yang bahagia.


"Tidak sudah menangis begitu!"


"Lukas benar Alin. Kamu tidak perlu menangis dan berterima kasih pada kami. Karena kami ini juga keluarga mu. Yah... Kau jangan terlalu menghiraukan sifatnya yang so cool. Sebenarnya dia itu peduli, tapi memang kebiasaannya saja yang menutupi kepedulian nya itu." Gion sedikit berbisik sedikit ke telinga nya.


"Hehehehe..Iya..."


"Tapi dia pernah berbicara lembut padaku..."


Lukas kesal pada Gion. Namun dia hanya diam dan menatap Gion sekilas dengan tatapan sinis nya. Lalu mereka bertiga juga mendoakan Kakek dan Ayahnya Alin. Ketika sudah selesai mereka memutuskan untuk duduk sebentar di bangku yang ada di situ. Alin kembali memikirkan hal-hal yang di katakan mereka tadi.


"Keluarga? Apa aku benar-benar bagian dari keluarga mereka? Mereka saja mau menerima ku sebagai keluarga nya. Tapi keluarga ku sendiri tidak mau menerima ku."


"Tunggu! Sebenarnya apa maksud dari perkataan kakek waktu itu di mimpiku?!"


"Lukas adalah takdir mu, belajarlah mencintainya"

__ADS_1


__ADS_2