Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 59 Reyhan menyatakan cinta.


__ADS_3

Berjam-jam mereka mengerjakannya, tak terasa hari sudah semakin larut. Soalnya tinggal beberapa halaman lagi dan Alin sudah tidak bisa menahan kantuknya. Tanpa Alin sadari ia tertidur di samping kasurnya. Lina yang melihat Alin tertidur pulas tidak tega membangunkannya dan Lina membiarkan Alin tidur.


Tiba-tiba saja pintu kamarnya Alin perlahan terbuka dan terlihatlah seorang pria masuk ke dalam. Lina merasa familiar dengan orang itu, setelah mengingat-ingat nya ia akhirnya ingat. Orang itu adalah Reyhan. Setelah menyadari itu Lina langsung memberikan hormat.


"Oeh... Salam sejahtera untuk pangeran Reyhan." Ucap Lina sambil kelabakan.


"Stt.. apa dia tidur?" tanya Reyhan sambil menunjuk ke arah Alin.


"Iya"


Reyhan berjalan mendekat ke arah Alin. Ia berjongkok dan memperhatikan Alin untuk beberapa saat.


"Gunung kutub itu memang tidak punya hati nurani! Dia bahkan tidak membantu Alin, untung saja temannya baik. Alin sangat cantik dan pintar, aku heran dengan gunung kutub itu. Kenapa dia tidak tertarik dengan Alin?"


Reyhan menggendong Alin dan meletakan nya di atas kasur dengan perlahan. Lina yang melihat itu merasa sedikit iri pada Alin.


"Alin sangat beruntung, dia selalu saja di kelilingi dengan pria yang tampan dan baik hati di sisinya. Hiks.. Jujur, aku merasa sedikit iri padanya. Tapi dia sahabatku, kau tidak boleh dengki padanya. 'Iri boleh, tapi tidak boleh Dengki' " Batin Lina menasehati dirinya sendiri.


Setelah Reyhan meletakan Alin di kasurnya, ia menghampiri Lina yang tengah bengong melihatnya dari tadi. Reyhan duduk tepat di sampingnya. Lina yang tidak pernah di dekati oleh seorang pria, seketika ia langsung salah tingkah.


"Berapa halaman lagi yang tersisa?" Tanya Reyhan dengan nada yang lembut.


"Eh...ehm. 4 halaman lagi pangeran."


"Baiklah aku akan membantumu. Kau kerjakan 1 halaman dan biar aku yang mengerjakan sisanya" Ucap Reyhan.


"Hm.. Supaya adil, kita kerjakan masing-masing 2 halaman saja, pangeran." Sahut Lina.


"Tidak usah, aku bisa mengerjakan 3 halaman itu dengan cepat."


"Wah... Anda keren sekali pangeran." Puji Lina.


"Hehe..."


"Ya tentu saja lah, aku kan sering di hukum. Jadi aku sudah terbiasa. Haha..."


Lalu Lina dan Reyhan mulai mengerjakan soal-soal yang tersisa. Tapi terkadang Reyhan melirik-lirik Lina tanpa sepengetahuan nya. Reyhan dan Lina memang sudah lama sekelas, namun mereka tidak pernah mengobrol sedekat ini. Sepertinya, kini Reyhan mulai tertarik dengan Lina.


"Teman Alin yang satu ini lumayan juga. Dia baik, pemberani, setia dan suka menolong. Wehhhh... Apa yang ku pikirkan?! Oh, Reyhan fokuslah... FOKUS!" Batin Reyhan sambil menepuk-nepuk pipinya.


Lina yang melihat Reyhan bertingkah aneh, merasa bingung dan keheranan. Lina mendekati Reyhan dan bertanya padanya.


"Anda kenapa pangeran?"


"O-oh, tidak. Aku... Aku lupa jawaban yang ini. Jadi... makanya aku menepuk-nepuk pipiku" Jawab Reyhan berbohong dalam keadaan salah tingkah.


"Owh..."

__ADS_1


"Aneh..."


Mereka berdua kembali melanjutkan tugas mereka. Beberapa menit kemudian, Reyhan sudah selesai dengan ketiga halaman soalnya. Benar saja, Reyhan memang sangat cepat mengerjakan soal-soal itu. Sedangkan Lina yang mengerjakan 1 soal itu juga sudah kesusahan.


Saat Reyhan melihat Lina belum selesai mengerjakan soalnya, Reyhan berinisiatif untuk membantunya. Reyhan bergeser lagi mendekati Lina, sangat dekat hingga jarak tangan mereka hanya tersisa beberapa senti. Lina tiba-tiba saja tersipu malu dan mukanya mulai memerah. Reyhan yang melihat Lina tiba-tiba tersipu malu, terkekeh.


"Hihihi... Kau kenapa?"


"Ah... tidak apa pangeran..." Sahut Lina sambil membuang muka merahnya ke arah lain.


"Sini biar ku bantu" Ucap Reyhan sambil menarik buku yang ada di bawah tangan Lina dengan perlahan.


Reyhan melihat sisa-sisa soal yang ada. Sementara itu Lina masih menatap wajah Reyhan dengan muka yang masih tersipu malu dari dekat.


"Dahlah... Pria lemah lembut dan tampan begini mana bisa hilang dari otakku!!!"


Reyhan mengerjakan semuanya dalam sekejap, dalam beberapa menit dia sudah mengerjakan semuanya. Setelah selesai, Reyhan menoleh ke arah Lina.


Tapi karena mereka duduk berdekatan dan karena Lina menatapnya dari tadi, saat Reyhan ingin menoleh ke arah Lina mata mereka saling bertemu. Kini bibir mereka juga hanya berjarak beberapa senti. Mereka terdiam sejenak dan dengan segera mereka tersadar, dan membuang muka ke arah yang berlawanan. Seketika mereka berdua tersipu malu.


"Hm.. Anu.. semuanya sudah selesai. Aku...aku akan mengantarmu" Ucap Reyhan terbata-bata.


"Hm..."


Lina membereskan barang-barang nya dan berdiri dari tempatnya. Reyhan pun berdiri dan keluar kamar Alin di ikuti Lina dari belakang nya.


"Pak, siapkan kereta kuda untuk kami berdua." Pinta Reyhan.


"Baik, pangeran."


Pengawal itu langsung mengambil kereta kuda untuk Reyhan dan Lina. Beberapa lama kemudian, pengawal itu datang dengan kereta kuda yang mewah. Lina sangat takjub dengan apa yang ia lihat. Mereka berdua pun masuk ke dalam kereta kudanya.


Setelah Reyhan dan Lina masuk, kusir langsung melajukan kereta kudanya. Di dalam kereta hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Tidak ada yang mau membuka topik pembicaraan.


Reyhan ingin mengatakan sesuatu pada saat itu, Reyhan mendekatkan tangannya dengan perlahan ke arah tangan Lina. Saat tangannya sudah dekat dengan tangan Lina, Reyhan menggenggam tangan Lina.


Lina yang di genggam tangan nya secara tiba-tiba, tentu saja langsung kelabakan. Ia menatap Reyhan dengan perasaan dan detak jantung yang cepat. Reyhan pun menatap Lina dengan tatapan yang terasa hangat.


"A-ada apa pangeran?"


"Ada yang ingin ku bicarakan padamu!" Ucap Reyhan dengan percaya diri.


Lina hanya diam, menunggu Reyhan berbicara. Lina terus saja menatap matanya Reyhan dan Reyhan akhirnya berbicara.


"Aku.. menyukai mu"


Lina seketika tertegun dan kini ia membelalakkan matanya, tidak menyangka dengan apa yang dia dengar sekarang. Lina melepaskan tangan Reyhan dan dia menatap ke depan kembali.

__ADS_1


"A-apa maksud anda pangeran?"


"Huftt... Akan ku ulangi. Aku mencintaimu. Belum jelas?"


Reyhan benar-benar serius menyatakan cintanya. Reyhan bahkan tidak ragu untuk mengatakan nya secara langsung ke orang yang dia sukai.


"Aaa..aaa... iya jelas, jelas."


Lina kelabakan saat mendengar Reyhan ingin mengulanginya. Ia tidak mau kalau para penjaga yang di luar mendengar percakapan mereka ini.


"Tapi... Bukannya pangeran menyukai Alin" lirih Lina sambil menunduk.


"Haha.. Alin? pftt... Jadi kau cemburu? Aku tidak menyukai Alin, aku hanya menganggap Alin sebagai teman baikku." Jelas Reyhan.


Lina mengangkat kepalanya dan menatap mata Reyhan lagi. Tapi masih ada hal yang menganggu nya. Ia takut berhubungan dengan keluarga kerajaan. Lina sadar dengan statusnya yang rendah, jika di bandingkan dengan Reyhan yang seorang pangeran dia bukan apa-apa nya. Lina kembali tertunduk dan memikirkan nya lagi.


"Tenang saja, sayang... Aku tidak memintamu untuk mengatakan nya sekarang. Aku akan menunggu jawabanmu." Ucap Reyhan dengan nada yang lembut.


Seketika, Lina kembali tersipu malu. Mukanya kembali memerah seperti sebelumnya. Dia menatap mata Reyhan lagi.


"Sa-sayang? Dia me-memanggilku... SAYANG?! Aku tidak bermimpi kan?!"


"A-anu pangeran... jangan membicarakan nya di sini. Tidak enak di dengar para pengawal yang ada di luar." Lirih Lina.


"Haha.. untuk apa kau malu? Mereka pengawal ku. Mereka tidak menghiraukan apa pun yang kita lakukan. Apa aku perlu membuktikan nya padamu? Aku bisa berteriak ke mereka kalau aku mencintaimu." Ucap Reyhan dengan lantang.


"Aaa.. iya, iya aku percaya. Tolong jangan ucapkan itu lagi pangeran. Anda... akan membuatku meleleh nantinya."


"Hehe... baiklah. Mulai sekarang panggil aku Reyhan saja."


"Tapi.."


"Tidak ada tapi, sayang. Dan aku akan menunggu jawaban mu."


"Oke, aku... Aku akan menjawabnya nanti bila aku sudah siap."


"Tidak masalah bagiku. Bahkan jika aku perlu menunggu selama 1000 tahun aku akan menunggu nya."


Tak terasa mereka tenggelam dalam obrolan mereka itu dan mereka kini sudah tiba di depan rumahnya Lina. Lina langsung turun dari kereta kuda dan melangkah pergi menjauh dari Reyhan. Reyhan tersenyum ke arah Lina yang tengah melangkah menjauh darinya.


"Hei! Sampai bertemu lagi di academy!" Teriak Reyhan dari kejauhan.


"Baiklah" Balas Lina.


Setelah mengatakan itu, Lina langsung berlari ke rumahnya sambil senyum-senyum. Sesampainya di rumah, Lina masuk ke dalam kamarnya sambil senyum-senyum sendiri.


Saat Reyhan sudah melihat Lina masuk ke dalam rumahnya, Reyhan dengan para pengawal itu kembali ke istana. Di sepanjang perjalanan pulang nya, Reyhan terus saja tersenyum mengingat kejadian tadi.

__ADS_1


__ADS_2