Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 103 Rencana tes putra mahkota baru.


__ADS_3

Di sisi lain, di kamar milik Deon Li, ia dan Yuno sedang berbincang-bincang di sana dengan serius nya. Mereka duduk di kursi yang ada dan berpikir dengan keras tentang sesuatu. Hingga membuat suasana menjadi hening.


"Ayah?"


"Hm?" Sahut Deon Li yang masih berpikir dengan keras itu.


"Kalau orang tadi itu anaknya paman Woon Yeo, kakaknya si Alin, itu berarti..."


Saat Yuno ingin mengucapkan kata terakhirnya, ia menoleh ke Deon Li yang ada di sebelahnya. Kemudian Deon Li pun menoleh dan menatap Yuno dengan tatapan yang tajam. Seolah-olah tersambungkan oleh kabel, kepala keduanya memikirkan hal yang sama pada saat itu.


"Putra mahkota yang ke dua! Hahahaha....!" Seru mereka berdua.


Mereka berdua terlihat bahagia saat menyadari kalau Yu adalah putra mahkota yang akan memimpin dunia sihir putih bersama Yuno kedepannya.


Sebenarnya Deon Li melamun tadi karena ia merasa merindukan Woon Yeo yang telah membuat janji dengan nya. Mereka berdua telah membuat janji, kalau keduanya akan memimpin dan membangun dunia sihir putih bersama agar menjadi tempat yang lebih nyaman lagi. Tapi janji itu harus teringkar oleh karena suatu alasan yang merupakan takdir.


Tak berselang lama, pintu kamar Deon Li terdengar bunyi ketukan, yang diketuk oleh pengawal yang ada di depan. Deon Li berdiri dari tempatnya dan membukakan pintu, lalu pengawal tersebut memberikan membungkuk memberikan hormat kepadanya.


"Salam sejahtera untuk Master ketua Deon Li, maaf menggangu anda."


"Tidak apa. Ada apa?" Tanya Deon Li.


"Itu, ya-"


"Halo paman... Malam." Sapa Yu yang langsung memotong pembicaraan mereka.


Yu menyapa Deon Li dengan senyuman lebarnya yang begitu imut itu. Deon Li tentu saja merasa terkejut akan kedatangan Yu tiba-tiba, belum lagi ia langsung menyapa Deon Li tepat di depan wajahnya.


"E-eh! Oh... Kau, ya... Masuk dulu, kita bicara di dalam saja." Ajak Deon Li yang langsung berjalan meninggalkan Yu di belakang.


Karena sudah di persilahkan masuk, Yu masuk dan melihat ada Yuno di sana. Yu memiliki pribadi yang ramah dan juga baik, yang membuat ia langsung menyapa Yuno dengan senyuman saat Yuno menatapnya, Yuno pun membalas senyuman Yu itu. Mereka duduk di kursi yang ada di situ dan membahas hal yang perlu mereka bahas.


"Jadi paman, apa yang ingin kau katakan tadi?" Tanya Yu.


Jadi saat mereka dalam perjalanan ke aula tadi sore, Deon Li meminta Yu untuk menemuinya setelah bertemu dan berbicara dengan Alin. Dan Yu menepati nya dengan datang langsung ke kamarnya Deon Li.


"Ehmm... Jadi begini... apa kau tau struktur pemerintahan dunia sihir putih?" Tanya Deon Li.


"Tentu saja, paman."


"Baguslah... Sesuai dengan struktur pemerintahan, setiap anak sulung dari seorang master ketua akan di tes kemampuannya dan jika berpotensi besar, maka anak itu akan di jadikan sebagai putra mahkota. Berhubung kau adalah anaknya Woon Yeo dan cucunya Master Jun Yeo, maka kau harus mengikuti tes untuk menjadi seorang putra mahkota besok."


"Besok? Apa tidak terlalu cepat, ayah? Yu Yeo baru saja tiba di sini tadi siang." Protes Yuno.


"Yahhh.. mau bagaimana lagi? Kita harus menyelesaikan urusan ini secepatnya agar Yu dapat ikut dengan kerja sama kita dengan kota Ohan nantinya."


"Hmm... Benar juga. Baiklah! Aku akan membantunya dalam 5 hari kedepan!" Seru Yuno dengan percaya diri.


"Hah?! 5 hari?! Tesnya berlangsung selama 5 hari?!"


Yu langsung tercengang mendengar Yuno berkata seperti demikian. Karena tes ini memang berlangsung selama 5 hari, mereka pun mengangguk tanpa adanya rasa berdosa dengan polosnya.

__ADS_1


"Hm, hm."


"Lalu bagaimana dengan adikku? Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin bersenang-senang dengannya. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya?" Rengek Yu.


"He! He! Kau ini anak kecil atau apa? Kau merengek seperti adikku saja." Ejek Yuno.


"Aku adalah bayi besar yang rindu dengan adikku." Balas Yu lagi.


"Hahahaha..."


Deon Li yang melihat mereka berdua seperti itu, teringat akan ia dan Woon Yeo dulu, yang begitu akrab seperti itu. Karena sudah hari semakin larut, Deon Li menghentikan candaan mereka itu dan melanjutkan pembahasan mereka.


"Kau tenang saja, Alin akan menjalankan misi Regental pertamanya dalam beberapa hari lagi. Salah satu putra ku yang akan menemaninya nanti, dia akan aman." Ucap Deon Li.


"Eh? Putra mu? Apa salah satu dari kedua laki-laki tadi? Yang berambut putih perak dan coklat tadi?" Tanya Yu.


"Ya, mereka berdua adalah putra ku."


"Ishhh... Kau ayahnya! Memiliki kepribadian yang ramah dan juga humoris. Tapi, tapi, kenapa laki-laki berambut putih tadi terlihat dingin dan juga menyeramkan." Tanya Yu sambil memasang ekspresi yang cemberut.


"Ohhh... Lukas? Jangan hiraukan hal itu. Dia memang seperti itu, kau bisa memanggil nya gunung kutub atau bocah batu.. Hahaha..." Canda Yuno.


"Pantas saja namanya Lukas, tenyata dia memang kulkas beku! Entah kenapa adikku bisa berteman dengan dia." Gerutu Yu dengan suara yang pelan.


"Baiklah semuanya sudah selesai, bukan? Kau pergilah, tesnya akan di mulai besok." Ucap Deon Li.


Yu tentu saja kebingungan, Deon Li menyuruhnya pergi tapi tidak memberikan tempat untuk nya tinggal. Entah apa yang Yu pikirkan, yang pasti dia sedang menggerutu dengan kesalnya. Karena merasa aneh dengannya, Yu protes kepada Deon Li.


"Ha? Oh, iya. Hahahaha... Maaf Yu Yeo, aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan tempat untuk mu."


"Aku akan menemani nya pergi, ayah." Ucap Yu yang langsung merangkul ramah tengkuk Yu.


Mendengar Yu berkata seperti itu barulah Deon Li mengingat nya. Ia langsung menyuruh para pelayan untuk menyiapkan kamar untuk Yu. Dengan di temani oleh Yuno, Yu pergi kamar barunya.


Sementara itu di waktu yang sama, Alin berserta Lukas dan Gion sedang menunggu matangnya roti dari pemanggang. Lukas duduk di meja makan bersama dengan Gion sambil membaca buku seperti biasanya. Sementara Alin, sedang sibuk memantau pemanggang dengan pak Henil.


Gion sudah sangat bosan menunggu, ia pun menghampiri Alin dan berjongkok di samping Alin yang sedang melihat perkembangan roti nya itu. Alin yang menyadari akan Gion di sampingnya langsung menoleh.


"Ada apa, Gion?"


"Lama sekali! Aku sudah bosan dan kelaparan." Rengek nya.


"Tunggu saja, ini sebentar lagi."


Lukas yang sedang membaca bukunya, langsung menoleh ketempat Gion tadi saat ia menyadari kalau Gion sudah tidak ada di sampingnya. Ia pun menoleh ke arah Alin dan ia juga melihat ada Gion di sana bersama dengannya.


Lukas menutup bukunya dan berjalan ke arah mereka berdua lalu ikut berjongkok di sisi lain Alin. Karena memang sudah merasa bosan juga, Lukas juga merengek ke Alin.


"Ishhh... lama sekali... Kapan jadinya? aku sudah lapar dan tidak sabar." Rengeknya juga.


"Sabarlah wahai para makhluk hidup...! Hahaha!" Kekeh Alin yang bercanda.

__ADS_1


Tapi Lukas dan Gion hanya diam dan tidak menanggapi candaan itu, mereka malah memasang ekspresi datar kepadanya. Dengan akal jahil kedua makhluk hidup yang tidak bisa sabaran itu, mereka menggelitiki Alin dengan mantranya sehingga Alin tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahaha! Hentikan, geliii! Hahaha... Gion, Lukas, berhenti...!"


"Hm! Rasakan! Memangnya kau makhluk mati?! Hm? Hahaha..."


"Hahaha... Rasakan itu! gelitiki dia lagi, Lukas..." Ucap Gion yang masih menggelitik Alin juga.


Terlihat Lukas dan Gion yang mengeluarkan mantra bulu ayam milik mereka dan mengarahkan bulu-bulu itu dengan senangnya ke arah Alin. Bulu-bulu itu mengelilingi dan menggelitik, serta mengejar Alin kemanapun ia pergi, sehingga ia terus saja tertawa sampai-sampai perutnya terasa sakit. Dapur istana pun terdengar sangat ramai dan rusuh oleh ketiga orang yang tertawa lepas itu.


"Hahaha.... Pak Gendi, tolong aku...! Aku hampir mati di gelitiki oleh mereka... Ah.. Hahahaha!" Tawa nya.


"Jangan di bantu...!" Seru Lukas dan Gion yang terlihat sangat menikmati permainan mereka itu.


Pak Gendi pun hanya diam melihat mereka dari tempatnya sambil tersenyum senang. Baru hari ini dia bisa melihat mereka tersenyum dan tertawa dengan gembiranya. Hari ini adalah hari yang termasuk spesial bagi pak Gendi. Tak sering ia bisa melihat para anak muda bisa tersenyum gembira bersama seperti ini.


Pada periode yang lalu, yang ada hanyalah persaingan untuk menjadi seorang master ketua, agar bisa membuat keturunan nya menjadi seorang penerus selanjutnya. Sehingga hal itu membuat sebuah pertikaian dan perselisihan antar anak muda untuk bersaing. Tapi berbeda dengan periode sekarang, hanya ada sedikit yang seperti itu.


Beberapa saat kemudian, aroma sedap mulai tercium dari pemanggang yang menandakan kalau roti milik Alin telah matang. Setelah mencium aroma itu, pak Gendi langsung segera mengeluarkan roti tersebut dan meletakan nya di atas nampan besar yang ada di atas meja. Ketiga makhluk hidup tadi yang mencium aroma itu pun berhenti bermain dan langsung duduk di meja makan.


"Silahkan pangeran, putri..."


"Wahhhh benar yang Reyhan katakan, rotinya pasti sangat enak. Bau nya enak, apalagi rasanya." Puji Gion.


"Banyak saja ngoceh mu, ku habiskan baru tau." Ucap Lukas yang langsung mengambil roti segenggam besar kedua tangannya dengan rakus.


"Tidak usah bertengkar seperti itu! Woyyyy! Hadeuhhhh..." Seru Alin yang berusaha untuk menghentikan mereka berdua.


Gion yang melihat itu menjadi marah dan tidak terima jika rotinya di ambil. Ia pun meneriaki dan mengejar si bandit roti yang jahil itu keliling dapur istana.


"Heiiiii!!! Lukas! Kembalikan roti milikku!"


"Sudeuhhh ku bileonggkan? Jangeonnee terlalou banyaokkk ngoceohh. Hehehe....!" Ucap Lukas dengan mulut penuhnya.


"Heh! Awas kau yah!"


Lukas dan Gion pun terus saja berkejaran kesana-kemari. Tidak ada yang mau mengalah satu pun dari mereka berdua. Hingga Gion sudah sangat kesal dengan Lukas yang jahil itu.


Saat Lukas masih saja berusaha untuk kabur dari Gion, Gion menggunakan mantra teleportasi nya untuk langsung muncul di hadapan Lukas dengan tiba-tiba. Lukas yang masih belum siap langsung terkejut dan berhasil di tangkap oleh Gion.


"Hehehe.. Dasar adik tidak punya akhlak...! Akan ku balas kau...!" Ucap Gion dengan senyuman ala Devil.


"Maaf..."


"Alin! Bantu aku menggelitiki nya!" Teriak Gion.


"Baik! Hahaha..."


Alin berlari ke arah mereka berdua dan menggelitiki keduanya, begitu pun sebaliknya. Ruangan tersebut kembali ramai oleh tawa dan canda ketiganya yang di ikuti oleh tawa orang-orang yang ada di ruangan itu juga.


"Hahahaha...!"

__ADS_1


__ADS_2