Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 119 Kesepakatan.


__ADS_3

"Aihhh... Penyihir-penyihir sialan...! Saat tidak di butuhkan di segel, saat di butuhkan di berikan bahaya."


Deon Li kembali memunculkan simbol di hadapannya, tapi lebih besar dari yang sebelumnya, lalu menghempaskan tongkat sihirnya hingga simbol itu menjadi pecah berkeping-keping. Bunyi simbol yang terpecah itu sampai menggema di seluruh ruangan dengan suara yang nyaring.


...PRANG!...


Sesosok bayangan yang mengerikan berlari ke arah Clorian dari belakang. Sosok itu menyerangnya menggunakan jari-jari yang terlihat tajam dengan cepat. Mukanya sangat mengerikan, ada darah di mana-mana dan rambutnya pun acak-acakan. Tapi Clorian bersikap sangat santai, ia bahkan sempat-sempatnya menyandarkan pedang ke pundaknya, lalu menghindar dari serangan dengan gesit.


"Kembalikan orang tua ku....!!! Kembalikan mereka!!! Kalian harus membayarnya!!!" Ucap sosok itu dengan nada yang sedikit di tekankan.


"Ehm... entah apa yang kalian perbuat sampai membuat roh ini marah. Tapi ini masalah kalian, kenapa malah menyeret ku ke sini?"


...Tak tak tak...


Clorian dengan mudahnya menghindar dari serangan roh tadi, ia melompat-lompat dengan lincah di dalam lingkaran yang telah di buat Deon Li dengan tenang. Sesekali ia menyeringai karena roh itu hampir mengenainya, tapi Clorian berhasil lolos.


Setelah diam untuk beberapa saat Deon Li akhirnya membuka mulutnya dan berbicara kembali pada Clorian. Tapi kali terlihat lebih serius dari sebelumnya, ia menatap tajam Clorian yang masih menghindar dari roh Cioni.


"Kami membutuhkan bantuan mu. Kekuatan supranatural nya sangat kuat, apalagi dia adalah roh dari dunia sihir merah, aku tidak punya wewenang untuk membunuhnya. Jika tidak di hancurkan sekarang, roh pendedam ini akan menghancurkan dunia."


Mendengar jawaban Deon Li, Clorian sudah tau apa maksud dan tujuan dari orang itu memanggil dirinya. Lagi-lagi Clorian menyeringai, ia mempunyai sebuah pemikiran yang akan menguntungkan dalam kesempatan ini.


"Hmm... Bagaimana ya? Aku bisa saja melakukannya untuk kalian, tapi aku punya syarat." Ucap Clorian dengan ekspresi licik.


"Syarat? Apa syarat mu?"


"Benarkah? Kalian mau memenuhinya? Baiklah kalau begitu. Pertama, jika aku berkerjasama dengan kalian, aku tidak mau terlibat dalam pertarungan dari kedua dunia sihir. Kedua, aku ingin kau... melepaskan segel ku." Ucap Clorian.


Ia berhenti sejenak menghindar dari serangan roh Cioni dan menatap Deon Li dengan senyuman liciknya. Roh Cioni terus menyerangnya. Saat Clorian berhenti menghindar dari serangannya, Cioni mengambil kesempatan ini untuk melukainya.


Ia berlari ke arah Clorian dengan cepat dan berseru kepadanya. Cioni mengarahkan jari-jari yang panjangnya itu ke arah tubuh Alin yang di kuasai oleh Clorian dan menusuknya.


"Kalian orang sialan!!! PERGILAH KE NERAKA!!"


...Crakkk...


Jari-jari Cioni menancap pada bagian perut dan dada Alin hingga tembus. Darah yang sangat banyak mengalir dengan begitu saja dari tubuhnya. Deon Li mulai panik. Memang benar Alin sedang di kuasai oleh Clorian, tapi tubuh itu tetap tubuhnya, Clorian hanya menjadikan tubuh Alin untuk menjadi wadah sementara nya saja.


"Kau berdarah!" Seru Deon Li ketakutan.


Clorian memegang bagian wadah jiwanya yang tertusuk oleh jari-jari itu. Ia mengelusnya beberapa saat dan menatapnya dengan lekat. Lalu memalingkan sedikit kepala nya ke belakang dengan ekspresi malasnya. Tatapan nya kini tertuju pada Cioni yang berparas menyeramkan di belakangnya.


"Kau kira aku ini apa? Mainan kecil yang hanya bisa kau rusak dengan hanya di banting?"


Tanpa mengalihkan pandangannya, Clorian memegang kembali kuku itu dan hal yang tak terduga terjadi. Kuku tersebut tiba-tiba saja di selimuti oleh cahaya merah yang membara. Seketika itu juga kuku-kuku Cioni hangus tak bersisa, yang membuatnya menjerit kesakitan.

__ADS_1


"Arghhh....! ARRRGGGHHHHH!" Jerit Cioni.


Clorian kembali menoleh ke arah Deon Li dan membiarkan Cioni kesakitan di belakangnya. Tak lupa Clorian mengunci dulu roh itu di rantai roh miliknya untuk berjaga-jaga. Ekspresi Clorian berubah dengan cepat saat melihat Deon Li, ia menatap Deon Li dengan senyuman liciknya kembali.


"Aku bisa memenuhi syarat mu. Tapi untuk syarat yang kedua, aku tidak bisa. Tidak ada yang bisa menjamin jika kau membelot dan menghancurkan kami nanti." Sahut Deon Li dengan persyaratan Clorian tadi.


"Cih! Baiklah, baiklah! Setengah! Aku mau segel ku di buka setengah!" Ucap Clorian dengan sedikit jengkel.


"Seperempat! Aku akan membuka seperempat segel mu, jika kau mau berkerja sama dengan kami. Seperempat atau tidak sama sekali!"


"Setengah! Ingatlah... jiwa dan raga gadis ini bisa mati. Tapi aku tidak. Walaupun dia mati, aku masih bisa hidup. Lihatlah darah-darah yang mengalir ini." Tegas Clorian yang tidak mau kalah sambil menunjuk-nunjuk luka yang di sebabkan oleh Cioni tadi dengan telunjuk nya.


Deon Li termenung, ia menatap luka-luka itu dan berpikir sejenak. Memang benar apa yang Clorian katakan, tapi resikonya sangatlah besar. Kekuatannya tidak cukup untuk menyegel Clorian sendirian jika kekuatannya sudah pulih semua nantinya. Sebelumnya, sangat mudah bagi Deon Li untuk menyegel Clorian karena jiwa terpudarkan pada saat itu, tapi selanjutnya mungkin sulit.


Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya sudah memiliki suara dari keputusan yang akan di ambilnya, di dalam hati. Walaupun ragu, tapi ini lah satu-satunya agar Alin selamat dan juga ini satu-satunya cara untuk mencegah mengamuknya roh Cioni di wilayah penduduk. Deon Li pun menyetujuinya.


"Hufttt... Baiklah, akan ku penuhi." Jawab Deon Li yang masih merasa ragu.


Mendengar jawaban Deon Li, Clorian menyeringai puas. Ia mengusap lembut luka-luka yang ada pada tubuh Alin dengan telapak tangannya. Seketika, luka-luka itu pun langsung hilang dan sembuh, walaupun masih ada bercak darah yang tersisa pada pakaian.


"Baiklah, ini kesepakatan kita. Mohon kerjasamanya... Master..." Ucap Clorian.


Lalu ia melepas rantai roh miliknya, yang membuat Cioni kembali mengamuk. Cioni tentu saja langsung menyerbu Clorian kembali. Tapi selisih kekuatan Clorian dan roh Cioni sangatlah jauh, Clorian jauh lebih kuat dari padanya. Dengan gesit ia menghindar dan sesekali menyerang, hingga di satu momen Clorian menebas roh Cioni dengan pedang yang ada di tangannya.


...Crattt...


Darah dari Cioni menyembur ke mana-mana, bahkan mengenai wajah Alin yang sedang di kuasai oleh Clorian itu. Entah bagaimana reaksinya setelah sadar nanti.


"Akh! Aku... aku kalah? aku kalah! Kau yang seharusnya kalah...!"


...BRUK...


Tidak sampai sepuluh menit, Clorian sudah berhasil membuat Cioni tumbang mati di tempat di dalam pertarungan ini. Ia menyeringai bangga atas kemenangannya sambil menatap Cioni yang telah mati olehnya. Lalu menghampiri Deon Li di pinggir garis roh.


"Penuhi persyaratan ku, maka aku akan berkerja sama dengan kalian. Tapi itu tidak akan menjamin untuk aku terus berpihak pada kalian. Jika berubah pikiran sekarang pun sudah terlambat, aku akan membunuh gadis ini jika tidak setuju."


Tatapan Clorian menajam, ia menunggu persetujuan Deon Li dan sangat berharap dengan keputusan orang itu. Karena saat ini adalah saat yang tepat baginya untuk mendapatkan keuntungan yang cukup besar.


"Semoga saja dia menyetujui nya. Jika tidak, tidak ada kesempatan lagi. Ini semua gara-gara bocah payah ini! Bagaimana bisa dia memudarkan jiwaku pada saat itu?! Sedangkan dia saja sangat lemah sekarang! Cih! Jika bukan karena janji, aku pasti sudah benar-benar membunuhnya."


Deon Li terdiam, ia memikirkan kesepakatan mereka itu dulu. Sejak awal pilihannya dan akibatnya sama. Ia bisa saja membatalkan perjanjian dan membiarkan Alin terbunuh, tapi setelah dipikir-pikir...


"Jika Alin terbunuh... Dunia ini masih memiliki banyak misteri, tidak bisa! Hanya dia satu-satunya yang bisa memecahkan misteri dunia ini."


"Hm, akan ku penuhi. Tapi jangan sakiti dia."

__ADS_1


"Baiklah. Tapi sebelum itu... kalian sepertinya harus melatih wadah tubuh ku ini dulu." Ucap Clorian yang ingin menunjukan sesuatu.


Clorian mengangkat sedikit tangannya, tangan Alin terlihat gemetaran memegang pedangnya. Deon Li terlihat sedikit heran, tapi akhirnya tidak memperdulikan itu. Untuk ke sekian kalinya, Deon Li membuat simbol di hadapannya.


"Segel Clorian, perbaiki kerusakan, buka yang sudah membaik." Gumam Deon Li pelan.


"Sampai jumpa orang payah. He!"


Sebelum kembali di segel, Clorian masih sempat mengejek-ejek Deon Li itu. Tapi Deon Li hanya merespon ejekan itu dengan menutup matanya, namun di balik itu dia merasa sangat kesal pada Clorian. Simbol yang ada di depannya terbelah menjadi dua, hancur dan lenyap seketika.


Lilin-lilin langsung mati dan lampu aula pun menyala dengan segera setelah itu. Di waktu yang bersamaan Alin terjatuh terduduk ke lantai dengan nafas yang memburu. Keringat dingin dengan segera melayani ketakutannya. Pedang yang tadinya ada di tangannya, kini sudah ada di lantai yang tidak terlalu jauh.


"Alin, kau tidak apa-apa?" tanya Deon Li yang langsung menghampirinya.


Setelah beberapa saat mengatur nafasnya, Alin mengangkat sedikit kepalanya. Ia melihat suatu hal yang membuatnya trauma sebelum. Tubuhnya di penuhi oleh darah, ada darah di mana-mana, dan ada mayat juga. Alin pun menyimpulkan kalau dialah yang membunuh orang itu.


"Aku... membunuh... Aku seorang pembunuh...! Orang jahat..." Gumam Alin dengan pelan.


Kepalanya terasa pening, suara yang mendengung menyerang pendengarannya, juga pandangannya pun mulai mengabur. Alin memegang kepalanya sambil tertunduk menahan rasa sakit yang terasa di kepala. Deon Li dengan segera mendekati dan menyelimuti Alin dengan jubahnya.


"Alin, kau baik-baik saja?"


Deon Li terlihat sangat kuatir dengan kondisi Alin. Mendengar suara Deon Li, Alin langsung tersadar. Ia mengepalkan tangannya menahan sakit, mencoba untuk bersikap baik-baik saja.


"Saya... Saya baik-baik saja. Terima kasih karena sudah mengkuatirkan saya, master." Balas Alin dengan senyuman.


Ia kemudian berdiri yang di susul oleh Deon Li yang berdiri mengikutinya juga. Dengan kondisi yang masih lemah Alin masih mencoba untuk bersikap baik-baik saja di hadapan Deon Li. Alin pun berpamitan dengan Deon Li untuk pergi beristirahat.


"Master-"


"Semuanya sudah beres, Alin. Kau boleh pergi beristirahat sekarang. Terima kasih atas bantuannya." Ucap Deon Li.


"Ehm... Tidak masalah, saya senang bisa membantu kerajaan ini." Balas Alin.


Tanpa isyarat dari Alin, Deon Li sudah tau dan peka terhadap apa yang harus ia katakan dan lakukan pada saat itu. Setelah Deon Li berkata seperti itu, Alin tersenyum sekilas dan langsung menuruni tangga, lalu keluar dari aula.


Di luar aula sudah ada seseorang yang menunggunya. Saat Alin membuka pintu aula, orang itu langsung berbalik menatapnya. Tanpa pikir panjang orang itu langsung menghampiri Alin dengan senyuman yang lebar di wajah.


"Sudah selesai? Aku sudah mencari mu kemana-mana, tenyata di sini."


Kini Lukas telah berdiri tepat di depan Alin. Wajah Alin terlihat lesu, badannya terasa lemas semua setelah keluar dari aula. Ia maju selangkah dan menyandarkan kepalanya ke Lukas. Dengan erat Alin mencengkram kuat jubahnya itu.


"Alin, kau.."


"Sebentar saja."

__ADS_1


Lukas pun langsung mengerti, ia memeluk Alin dan membiarkan Alin membenamkan kepalanya. Nafas Alin kembali memburu seperti sebelumnya dan satu-satunya yang membuat Alin tenang adalah suara detak jantung Lukas yang berdetak dengan beraturan itu.


__ADS_2