Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 126 Peluang bersama.


__ADS_3

Tiba-tiba saja bunyi ketukan terdengar di balik pintu kamar Alin. Alin pun berdiri dan membukakan pintu itu. Lalu terlihatlah seorang wanita dewasa berdiri di ambang pintu dengan Viko di tangannya, yang tidak lain adalah Ye Min. Setelah melihat Alin membukakan pintu untuk nya, Ye Min merasa tidak enak dan langsung menundukkan badannya memberi hormat.


"Ah, maaf putri Jiu, jadi merepotkan anda membukakan pintu untuk saya." Tutur Ye Min sedikit panik.


"Tidak apa-apa. Masuklah, kita ada kedatangan tamu di sini."


Ia pun masuk bersama Viko ke dalam setelah Alin menutup pintu. Melihat ada Lina disana, Ye Min kembali memberi hormat padanya juga.


"Salam, nona."


"Ye Min perkenalkan ini Lina, sahabatku. Dan Lina ini Ye Min, pelayanan pribadiku." Ucap Alin memperkenalkan keduanya.


"Hai, Ye Min. Salam kenal." Sapa Lina ramah.


Ye Min hanya menanggapi nya dengan tersenyum dan menunduk pada Lina, kemudian duduk di lantai bersama Viko. Alin yang tadinya berasa diantara mereka berdua, kini telah berpindah tempat ke samping Lina kembali.


"Lihat, dia orang yang sangat baik, bukan? Wahhh.. senangnya aku ada bahan untuk pamer dengan mu. Kau selalu saja memamerkan Reyhan, sekarang aku akan memamerkan Ye Min padamu."


"Hehehe.. Makannya segeralah mencari pasangan. Viko saja punya pasangan, dia selalu sibuk bermain dengan glom ku saat berada di rumah ku." Sahut Lina.


"Ehmm." Dengus Alin.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja pintu kembali di ketuk oleh seseorang dari luar, tapi segera setelahnya pintu tersebut di buka oleh orang yang ada di luar itu.


"Alin, apa kau tau di mana Lukas? Aku sudah mencarinya keliling istana dari tadi."


Kael tiba-tiba saja memunculkan kepalanya dari balik pintu sambil celingak-celinguk melihat sekitar mencari keberadaan Lukas. Viko terpekik dan langsung melompat dari pangkuan Ye Min.


...Grarrrr...


Viko menggeram dan melompat cepat ke arah Kael. Untungnya dengan sigap, kael bisa menangkap Viko yang ingin menerkam nya.


"Dasar rubah galak! Aku akan memberi pelajaran untuk mu, sekalian bantu aku mencari Lukas." Gumam Kael sambil memainkan gemas mulut Viko.


"Lukas? Bukannya dia sudah pulang dari tadi?" Jawab Alin.


"Benarkah? Aishhh! Kemana lagi orang itu."


Kael nampak mulai frustasi mencari Lukas yang seakan-akan lenyap dari istana itu. Karena tidak mendapatkan keberadaan Lukas di tempat Alin, Kael segera pergi dari tempatnya. Saat ingin melangkah pergi, Alin tiba-tiba saja menghentikannya.


"Viko?"


Tanpa di sadari, Kael hampir saja menjadi pencuri glom orang. Kael menoleh arah Alin dengan bingung, lalu menoleh ke arah lengannya lagi dan melihat Viko masih berada di sana. Ia tidak sadar bahwa Viko masih di gendongan nya pada saat itu, hingga Alin mengingatkannya.


"Ah, iya ini."


Saat ingin menyerahkan Viko, cakar Viko mencengkram erat lengan jubah Kael seakan tidak ingin pergi jauh dari nya. Berkali-kali Kael mencoba memisahkan Viko, tapi Viko masih saja mencengram erat di sana.


"Hei! Rubah, lepas. Kau ini suka dengan ku atau dengan jubahku?"


Viko yang tadinya terlihat garang langsung berubah menjadi rubah nan imut yang mengelus-elus lengan baju Kael dengan manja. Viko tidak pernah terlihat manja seperti itu dengan Kael, tapi kali ini berbeda. Sikapnya berbeda dari biasanya.


"Sepertinya Viko menyukaimu. Lihatlah, dia bahkan rela begitu." Ucap Alin seraya menatap keduanya.


"Nyehh, baiklah. Tapi siapa yang akan menjaganya jika aku ada urusan nanti?" Keluh Kael.


Telunjuk Alin tertuju langsung pada suatu arah. Kael pun mengikuti jari Alin itu yang berakhir pada Ye Min yang duduk di lantai. Ye Min hanya kebingungan dan plangaplongo saat Alin menunjuk padanya.


"Hah? Ya, putri?"


"Pergilah bersama Kael, tolong jaga Viko dengan baik, ya." Pinta Alin.


"Ba-baik, putri Jiu. Segera laksanakan perintah."

__ADS_1


Buru-buru Ye Min langsung beranjak dari tempat dan mengambil sebuah tas diatas meja. Ia pun menghampiri Kael yang ada diambang pintu sambil sedikit menunduk.


"Yasudah. Jika kau melihat Lukas, tolong kabari aku. Kulkas berjalan itu kalau sudah lenyap, ya lenyap. Tidak akan mudah di temukan." Gerutu Kael kesal.


Bahkan omelan Kael masih terdengar walau ia sudah keluar dari kamar Alin. Keduanya pun sampai terbahak-bahak melihat kelakuan Kael. Sesaat kemudian, Kael dan Ye Min sudah benar-benar tidak ada di sana. Hanya ada bahak keduanya yang terdengar.


"Hahahaha!"


"Hahaha! Astaga, Kael..." Tawa Alin.


Setelah puas tertawa, Alin mengambil sesuatu dari laci nya dan menyodorkan benda itu kepada Lina. Lina nampak kebingungan, tapi tangannya tetap menyambut sodoran Alin. Alin pun kembali duduk di sebelah Lina.


"Apa ini?"


"Untuk mu, memangnya untuk siapa lagi."


Ketika sebuah kantong yang ada di tangannya itu di buka, terlihat ada sejumlah keping emas yang memiliki nilai tinggi di sana. Lina nampak masih kebingungan, ia menatap Alin dengan kebingungan lagi.


"Kau mungkin akan membutuhkan ini nanti. Misalnya... untuk biaya hidupmu dan anakmu..? Walaupun Reyhan sebenarnya cukup kaya, anggap saja ini sebagai bingkisan dari ku."


"Aku tidak akan meminta bingkisan dari mu, jadi ambillah kembali. Kita sahabat, tidak perlu sungkan. Lagi pula.. dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini. Pasti tidak mudah mendapatkan nya." Lina menyodorkan sekantung emas itu kembali pada Alin.


"Ambil saja. Kelak, jika aku menikah, berikan juga aku sebuah bingkisan untuk balasannya ya..." Ucap Alin seraya menyodorkan kembali emas tersebut.


Lina pun menerimanya dengan senyuman manis di wajahnya. Kantong tadi di simpan nya baik-baik dalam tas. Lina sangat merasa terharu dan senang, selama hidupnya tak ada yang mau berbuat demikian kepadanya.


Bahkan rakyat biasa pun tidak ada yang mau mendekatinya, apalagi para bangsawan. Hanya Alin seorang temannya, yang walaupun memiliki derajat tinggi tidak pernah mengucilkan apalagi menjauhinya.


Lina mempunyai kehidupan rumit dari yang terlihat. Itu semua oleh karena cerita lama rumah tangga dan keluarganya, cerita lama yang menurutnya sangat gelap dan kelam.


Mendengar Alin yang berkata seperti itu, Lina terkekeh. Hingga Lina sudah merangkai sebuah kata yang akan membuat Alin merasa malu setengah mati.


"Akan ku berikan arak langka kakekku untuk mu, jika kau menikah dengan pangeran Lukas sebagai bingkisan pernikahan mu suatu saat nanti." Goda Lina yang jahil.


"Ahhhh.. Sudahlah, Lina..."


"Pftt.. Cie, cie... yang malu-malu.." Ejek Lina lagi.


"Lina...!"


"Hahaha! Tapi menurut ku pangeran Lukas memang baik, dia sangat cocok untuk mu yang hiperaktif dan juga polos."


"Entahlah.." Gumam Alin yang mulai membuka bantal yang menutup wajahnya.


"Aku tidak yakin..."


Alin terlihat termenung dengan tatapan sayu. Terlihat sekali ada rasa kecewa dan takut, bahkan frustasi di matanya. Sepertinya Alin sudah benar-benar mencintai Lukas, bahkan merasa sangat tenang saat orang itu berada di dekatnya.


"Kau harus menikah dengan pangeran Lukas! Harus! Aku harus menyingkirkan sebagian arak kakek yang mulai beraura gairah di gudang. Hmm... itu mungkin bagus juga untuk menambah gairah pengantin baru. Bagus sekali! " Batin Lina sambil cengesan.


"Entahlah.. Lukas kadang-kadang terlihat dingin dengan tatapannya yang menyeramkan. Bahkan kadang-kadang perhatian padaku. Saat ditanya dia pasti akan menjawab dengan alasan misi regentalnya. Terkadang aku juga sering berdebat dengan firasat ku... Sungguh membingungkan." Gumam Alin datar.


"Hmm... Mungkin saja pangeran Lukas masih terjebak di masa lalunya, berikan waktu untuknya meninggalkan masa lalu nya itu dulu. Dan sebisa mungkin buat dia nyaman." Balas Lina menyarankan dengan percaya diri.


Alin kembali terdiam dan termenung. Tatapan nya semakin sayu saja. Ada hal yang membuatnya sesak dan terganggu mendengar hal tersebut. Wajah Alin memerah dan air mata seakan-akan hampir lolos keluar dari pelupuk matanya.


"Bagimana caranya? Dia saja bisa bersikap dingin padaku."


Suara Alin bergetar, benar-benar hampir menangis di hadapan Lina. Tapi sebisa mungkin ia menahan air matanya untuk tidak terjatuh.


"Jangan menyerah dulu, Alin.. Apa kau tau, pangeran Lukas itu menurut rumornya, dulu dia adalah orang yang lemah lembut juga perhatian." Ucap Lina menenangkan.


"Itu dulu. Apalagi perhatian itu tertuju pada Anita, bukan aku."

__ADS_1


Menurut Lina ucapan Alin ada benarnya juga. Ia terdiam, tidak berani berkata-kata lagi, takut membuat Alin semakin sedih. Alin benar-benar terlihat murung, ia masih membekap separuh wajahnya untuk menahan tangisnya.


"Huftt.. Sudahlah jangan bahas itu lagi. Ayo, kita pergi menemui Reyhan. Belum terlalu larut, seharusnya Reyhan belum tidur."


"Yakin kau baik-baik saja?"


Alin beranjak dari tempatnya seakan-akan dirinya baik-baik saja. Tapi nyatanya tidak, hatinya terasa sakit dan gelisah. Dibalik senyuman yang sedang Lina lihat sekarang, ada hati yang sudah hampir retak.


"Hm! Ayo."


Mereka berdua keluar dan melihat lingkungan sekitar yang sudah nampak sepi. Alin pun menarik tangan Lina untuk membawanya ke tempat Reyhan.


Sementara itu, tanpa di sadari oleh keduanya, ada orang yang sedang menguping di kamar sebelah. Yang ternyata adalah Lukas dan Kael.


Lukas terlihat sedang tiduran santai diatas kasur sambil mentap langit-langit. Tangannya terlipat di belakang menyangga kepalanya. Sedangkan Kael nampak sangat serius menguping. Ia menempelkan telinganya dekat sekali dengan tembok.


"Sepertinya mereka sudah keluar. Apa kau dengar perkataan mereka tadi, Lukas?"


"Dengar. Mereka baru saja membicarakan ku." Jawab Lukas sambil tersenyum tipis.


"Ternyata firasat ku tidak salah."


Senyuman manis yang terlihat imut nampak dengan sangat jelas. Kael seketika terasa suram. Setelah sekian lama, Lukas akhirnya bisa tersenyum seperti itu. Lukas yang seperti itu seakan seperti seorang bayi baru lahir yang langsung pandai berbicara, yang artinya hampir mustahil.


"Astaga! Seketika langsung katarak mataku. Baru tau kalau Lukas bisa tersenyum seimut ini. Ckckck... Jika di masukan dalam sejarah mungkin akan viral di 3000 tahun kedepan. 'Kulkas berjalan yang imut' Yup!"


"Apa lagi yang kau tunggu?" Tanya Kael yang langsung duduk di depan Lukas dengan antusias.


"Belum saatnya."


"Eishhh... Jangan tarik-ulur seperti ini, kasian Alin yang akan tersakiti nantinya. Jika memang cinta kenapa harus di tahan. Nanti kalau Alin sudah tidak suka dengan mu bagaimana? Nanti nangesss..." Sindir Kael.


Lukas tiba-tiba terduduk, ia menatap Kael dengan serius beberapa saat.


"Kau benar! Lalu aku harus bagaimana?"


"Ya, di tembak. Kalau perlu dilamar saja sekalian." Sahut Kael percaya diri.


"Pakai pistol atau panah?" Tanya Lukas dengan bodohnya.


Kael seketika frustasi, ia meneplak dahinya dengan kesal. Tidak di sangka-sangkanya orang paling pintar di academy Ligen ternyata bisa bodoh juga. Antara rasa frustasi atau lucu tidak bisa dibedakan nya sekarang.


"Adoeehhh! Haishhh...!! Haishhh! Coba, bagimana kau menyatakan cinta pada Anita dulu."


"Hmm..." Gumam Lukas.


"Jangan bilang kau lupa! Yang benar saja! Selama beberapa tahun ini otak mu mati atau apa?!"


Nampaknya Lukas bingung, tapi juga terlihat lupa. Untuk beberapa saat Lukas belum saja menjawab pertanyaan Kael, dia terlihat sudah berpikir dengan keras.


"Kau lupa?" Tanya Kael datar.


"Sepertinya."


"Huftt... Sabar Kael... sabar..." Gumam Kael.


Lukas berjalan ke arah sebuah meja di sudut kamarnya. Lalu mengambil secarik gulungan kertas beserta setangkai bunga tulip merah di tangan. Ia pun kembali duduk di tempat sebelumnya sambil membawa barang itu.


Tanpa ragu Lukas menyerahkan surat tersebut kepada Kael untuk di baca nya....


"Apa ini?" Tanya Kael penasaran.


"Surat dari Anita."

__ADS_1


__ADS_2