Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 110 Pertarungan hebat bandit.


__ADS_3

Lalu di depan, tepatnya di tenda para bandit, bandit-bandit sedang duduk di depan api unggun sambil mengobrol. Mereka juga terlihat sedang sibuk menyembuhkan dan memulihkan diri setelah pertarungan singkat yang memakan banyak energi tadi.


"Haissshhh... Kakak, memangnya apa yang akan kita dapatkan dengan menculik ketiga orang itu? Bukannya untung malah buntung. Lihatlah kalian, kalian terluka, bukan?" Tanya Adik perempuan ketua bandit, Ciki.


"Apa kau tidak memperhatikan nya? Mereka mengenakan baju yang di lapisi emas di pinggiran bajunya. Pastilah mereka orang kaya! Kalian tenang saja."


"Benar juga. Tapi bukannya kita hanya ingin memburu satu orang saja hari ini. Kenapa sampai tiga?"


"Lebih banyak, lebih baik. Siapa suruh juga kedua orang bodoh itu masuk ke dalam sarang harimau. Kita kan hanya ingin memburu wanita cantik itu tadi." Tambah Taki.


"Benar juga, tapi aku merasa sedikit takut. Pria yang bersamanya tadi terlihat kuat. Aku takut kalau mereka akan menangkap Cioni." Sahut Ciki.


Lalu ketua bandit itu terlihat termenung, ia berpikir sambil menengadahkan kepalanya ke atas melihat langit malam yang begitu cerah dengan cahaya bulan. Setelah di pikir-pikir, adik nya itu mungkin saja benar. Karena pria yang mereka lawan tadi bisa melumpuhkan mereka berempat yang terbilang kuat.


"Dia... memang terlihat sangat kuat. Apa tak apa seperti ini?"


Mereka berenam pernah merampok di rumah seorang bangsawan ternama dan 20 prajurit dapat mereka kalahkan dengan sekejap saja. Tapi pria tadi bisa melumpuhkan mereka berempat dengan cepat, yang artinya pria itu mungkin saja mempunyai kekuatan yang sebanding dengan 15-17 orang prajurit ataupun lebih.


Ketua bandit kemudian menatap semua rekannya yang ada di hadapannya saat ini. Tentu saja itu menjadi pikirannya. Ia pun merasa iba dan merasa ingin mengakhiri ini semua dengan cepat tanpa adanya resiko.


...Tak tak tak...


Tiba-tiba saja terdengar ada suara langkah kaki dari suatu tempat. Mereka yang mendengar itu langsung bersiaga dan bersiap untuk menghadapinya. Lalu tanpa ketua bandit sangka-sangka, Lukas melompat dan bergelantungan padanya. Dengan erat Lukas menahan ketua bandit itu.


"Dapat!" Seru Lukas yang tersenyum puas.

__ADS_1


"APA?! Bagaimana...?!! Bagaimana kalian bisa membebaskan diri?!!!" Teriak ketua bandit yang terkejut sekaligus ketakutan itu.


"Itu rahasia ku, kakek tua! Kau tidak perlu tau."


Lalu Alin dan Olivia pun tidak tinggal diam, mereka berdua menyerang bandit-bandit yang lainnya. Dan terjadilah pertarungan yang cukup sengit antar kedua belah pihak itu. Lukas bertarung dengan hebatnya kali ini, ia mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk menyerang ketua bandit.


Celah-celah yang sebelumnya sulit untuk di temukan dalam ketua bandit, kini terlihat semua. Begitu banyak celah yang terbongkar dan terbuka saat melihat rekan-rekan dan saudaranya terkapar sekarat di tanah oleh karena Alin dan juga Olivia. Ia terpojok dan terlihat gemetaran. Air mata dan rasa takut mulai menyelimuti dirinya.


Pada pandangan ketua bandit yang sedang terpojok itu, Lukas, Alin dan juga Olivia terlihat menatap sinis dirinya. Hal itulah yang membuatnya semakin marah dan juga bertekad untuk mengalahkan dan membunuh mereka.


"SIALAN KALIANN!!! AKAN KU BALAS KAN PENDERITAAN MEREKA BERKALI-KALI LIPAT KEPADA KALIAN!!!" Teriaknya dengan lantang.


Lukas dan Olivia juga tidak tinggal diam, keduanya bersiap dan bersiaga dengan seriusnya dengan Alin yang hanya terdiam di belakang. Lalu tidak lama setelah itu, api yang berkobar-kobar keluar dari dalam tubuhnya meliputi amarah yang begitu membara. Bandit itu terlihat sangat menyeramkan, Alin sampai gemetaran karena ketakutan.


Ketua bandit berlari dan menyerang Lukas dan Olivia dengan sihir apinya yang sangat kuat. Api yang berkobar-kobar kemana-mana menyerang dari segala sisi mereka. Bahkan Alin yang ada di belakang pun terlihat panik dan kesusahan untuk menjauhkan diri dari serangannya. Hingga api nya itu pun ikut membakar rekan-rekannya yang sekarat beserta tenda mereka. Api yang buas ada di sekeliling mereka yang membuat suasana menjadi semakin panas.


...Slasshhh slaaashhhh slasshhh...


Lukas, Alin dan Olivia sudah terlihat mulai kewalahan menghindari api-api itu. Hingga di suatu kesempatan, ketua bandit itu menyandera Olivia yang lengah, menggunakan mantra teleportasi. Ia menarik Olivia kepelukannya dengan kuat dan mencondongkan pisau pada leher Olivia. Lalu ia menatap ke arah Lukas, yang ia anggap sebagai orang yang harus di waspadai gerak geriknya.


"Uhuk! uhuk! Huekkkk! Tanganmu bau! Singkirkan!" Berontak Olivia yang masih sempat-sempatnya bercanda.


"Diam kau! Kau akan menjadi umpan bagi 3 mangsa yang akan kulempar dengan 1 batu. Aku akan membalaskan kematian teman-teman ku." Ucapnya.


"Lah salah sendiri menggunakan mantra api sembarangan begitu. Padahal mereka masih bisa hidup lhooo... Walaupun itu berarti hidup dalam penjara." Sahut Olivia dengan santainya.

__ADS_1


"Diam kau!"


Karena merasa semakin kesal dengan sandera yang mulutnya pedas bagaikan api, ia menarik pisau itu hingga leher Olivia berdarah. Olivia langsung berkeringat dingin merasakan adanya suatu cairan yang mengalir di lehernya. Sedikit saja bergerak, maka pisau tajam itu akan memotong lehernya.


"Pisau?! Darah?! Oh tidak!"


"Lepaskan aku atau kau akan menyesal. Karena suatu jiwa tidak akan membiarkan aku terbunuh dengan sia-sia. Ingat itu, kau akan menyesal 7 turunan!" Lirih Olivia yang terlihat berusaha untuk tenang dan mengancam.


"Heh! Kau berbicara seperti ada suatu budak jiwa yang akan melindungi mu saja! Mimpi saja kau!"


"Memang ada, memang ada budak jiwa yang akan melindungi ku. Kau akan menyesalinya kelak."


"Lepas dia! Atau kau-" Ucap Lukas.


Tiba-tiba saja, dengan kekuatan yang tersisa, ketua bandit mengeluarkan mantra penangkap bayangan yang langsung menangkap bayangan dan menahan Lukas yang ada di hadapannya. Lukas hanya bisa terdiam kembali. Tapi kali ini tatapannya terlihat tenang.


Mantra penangkap bayangan adalah mantra yang hampir sama dengan perisai jiwa. Bedanya adalah penangkap bayangan bisa menangkap lawannya dengan jarak yang jauh, tergantung dengan kekuatan sang pengguna, tapi penangkap bayangan itu mudah sekali untuk di hancurkan oleh orang yang kuat seperti Lukas. Sedangkan perisai jiwa adalah perisai yang bisa menghentikan dan mengurung seseorang di dalam jangka suatu wilayah, tapi hanya bisa di aktifkan dengan jarak beberapa meter. Tentunya kedua mantra itu memakan energi yang cukup banyak.


Olivia kemudian memberikan sebuah isyarat dari gerakan tangan yang menyuruh Lukas untuk melakukan sesuatu dan ia mengulurkan waktu untuk sementara. Lukas pun dengan cepat paham dengan isyarat itu dan ia berpikir sejenak. Lalu Lukas teringat akan Alin yang sedang ketakutan di belakangnya sekarang.


"Hahaha! Sekarang apalagi yang akan kau lakukan, tuan? Kau... lemahhhhhh!" Ucap ketua bandit kepada Lukas.


Tapi Lukas tetap tidak menunjukan ekspresi yang ketakutan. Ia malah tersenyum dan menyeringai ke arah bandit itu.


"Benarkah? Dengar ini. Sebaiknya harimau jangan memancing seekor kelinci kecil ke dalam sarangnya dengan suara yang nyaring, karena kelinci kecil itu... temannya singa, raja hutan. Ketika singa tau kalau kelinci kecilnya masuk ke dalam sarangmu, ia pasti akan menyelamatkannya dan membinasakanmu...!" Tegas Lukas dengan santainya.

__ADS_1


Saat kepala bandit lengah dengan kata-kata Lukas, tiba-tiba saja, sebuah tangan muncul dari belakangnya dan mencondongkan belati ke kiri dan kanan leher kepala bandit. Ia pun terlihat panik sekaligus terkejut dengan serangan tiba-tiba itu.


"APA?!"


__ADS_2