
*Malam harinya di istana dunia sihir putih.
Setelah pulang academy tadi Alin langsung masuk kamar dan mengurung diri nya di dalam kamar bersama Viko. Malam hari pun tiba, Alin merasa lapar namun dia terlalu takut untuk keluar karena mungkin saja ia bertemu Lukas nanti nya.
"Hufttt...Aku lapar sekali Viko." keluhnya pada Viko.
Saat Viko mendengar Alin berkata begitu, tiba-tiba ia berlari ke pintu lalu mencakar-cakarnya. Alin terlihat kebingungan melihat tingkah Viko yang seperti itu.
"Ada apa Viko?"
Viko tidak berbalik ataupun menghiraukan nya, ia hanya terus mencakar pintu itu. Setelah Alin berpikir sejenak, melintas lah sebuah pikiran di kepalanya.
"Apa kau ingin mengambil kan makanan untuk ku?" tanya Alin menebak nya. Viko berbalik dan mengelus-elus badannya di lengan Alin. Dan Alin menyimpulkan nya sebagai jawaban, "Ya".
"Baiklah kalau begitu, aku serahkan padamu ya. Tapi jangan membuat keributan di dapur!" Tegas Alin, Viko pun mengangguk pelan. Lalu Alin membukakan pintu untuk nya.
Beberapa lama kemudian Viko datang membawa beberapa pelayan dengan nampan yang berisi makanan dan minuman. Entah bagaimana caranya dia melakukan itu. Saat Alin melihat semua itu ia hanya bisa tercengang tidak menyangka dengan apa yang ia lihat.
"Wahhh...Putri Jiu, Glom Putri Jiu sangat baik sudah mau membawakan makanan. Dari mana Putri Jiu mendapatkan nya?" ucap salah satu pelayan itu pada Alin.
"Entahlah, seperti nya aku tidak mengenalnya. Apa dia benar-benar Glom ku?" tanya Alin balik masih tercengang.
"Baiklah Putri Jiu selamat menikmati makanan nya, kami akan kembali" Para pelayanan itu pamit dan pergi kembali.
"hooh" Sahut Alin masih tercengang.
Sementara Viko hanya tenang dan duduk makan. Setelah semua pelayan pergi Alin mengunci pintu kamarnya. Alin juga duduk dan makan bersama Viko, sesekali ia juga melirik Viko.
"Entah bagaimana kau melakukan nya" gumam Alin dengan suara pelan masih tidak menyangka dengan apa yang dilihat nya.
Di sisi lain, di kamar Lukas hanya ada keheningan di tempat nya. Ia sedang membaca buku di atas kasur. Tiba-tiba ada suatu pikiran yang melintas di kepalanya.
"Apa aku tadi siang tidak terlalu menakutinya? Hufttt...entah kenapa aku merasa bersalah. Mungkin aku harus bersikap lebih baik padanya. Bagaimana pun juga dia sudah membantu ku dan kami berdua juga sama-sama menguntungkan satu sama lain."
__ADS_1
Lukas beranjak dari kasurnya dan bersiap-siap. Setelah bersiap-siap ia berjalan menuju kamar Alin. Seperti biasanya Lukas membuka pintu seperti kebiasaan nya, namun kali ini berbeda karena Alin mengunci pintu kamar nya.
Saat ia ingin membuka kamar nya, pintu nya seperti macet. Lukas pun sadar kalau Alin mengunci kamar nya. Ia pun mengetuk pintu.
...tok tok tok...
"Siapa?!" Teriak Alin dari dalam kamar.
"Buka!" Perintah Lukas dingin.
Saat Alin mendengar suara Lukas dari balik pintu tangannya mulai terasa dingin seperti es. Alin mulai kelabakan, ia berlari kesana-kemari, menahan pintu bahkan hampir menabrak meja dan sementara itu Viko hanya diam kebingungan melihat Alin yang terlihat aneh.
"Buka pintu nya!" Perintah Lukas lagi.
Namun Alin tidak mendengar nya karena terlalu panik, ia masih saja mondar-mandir tak tau arah. Setelah beberapa saat ia mondar-mandir, akhirnya ia memutuskan untuk berpura-pura tidur. Alin berlari dan melompat ke atas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang tebal.
Karena kesal dengan Alin yang tidak kunjung membukakan pintu Lukas pun mencoba dengan cara yang lain. Ia mengayunkan tongkat dan masuk ke kamar Alin dengan mantra teleportasi. Pengawal yang ada di situ tidak menghiraukan itu karena mereka tidak mengira kalau Lukas akan masuk ke dalam kamar nya Alin dengan mantra itu.
Lukas berhasil masuk kedalam dan mendapati Alin sedang bersembunyi di bawah selimut nya. Lukas menarik selimut nya dengan tiba-tiba. Itu membuat Alin terkejut dan ia pun tak sempat mempertahankan selimut nya.
"Kenapa bersembunyi?" Tanya Lukas dingin seraya menatap Alin.
"Ti-tidak kok, kumohon pergilah!" Pinta Alin masih ketakutan.
"Duduk di situ!" Perintah Lukas sambil menunjuk ke arah lantai.
"Tidak mau" Sahut Alin dengan suara yang pelan.
"Duduk di situ! atau aku akan mengambil Viko kembali!" Ancamnya dingin.
"Ba-baiklah"
Alin duduk di lantai bersama Viko seperti perintah Lukas dan Lukas juga duduk di dekatnya. Alin sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya ataupun menatap Lukas, ia hanya menundukkan kepalanya. Lukas mendekati Alin.
__ADS_1
"Tatap mataku!" perintah nya lagi.
Alin hanya diam tidak menyahut, menatap nya, ataupun bergerak. Ia tetap menundukkan kepalanya.
"Alin!" Panggil Lukas dengan nada yang sedikit tinggi.
Tak Alin sadari air mata mengalir dari pelupuk matanya dan membasahi bulu-bulunya Viko. Lukas melihat itu, ia pun memegang dagu Alin dan mengangkat kepalanya. Lukas melihat Alin berlinang air mata dan Alin terlihat sangat tertekan dan ketakutan.
"hiks...hiks..." Alin menangis sampai terisak.
Lukas sangat terkejut melihat Alin yang tiba-tiba menangis. Ia sangat lemah saat melihat seorang wanita menangis seperti itu. Lukas sebenarnya hanya berniat untuk menanyakan apakah dia ketakutan dengannya tadi, tapi Lukas hanya memperburuk keadaan dengan membuat Alin semakin takut padanya.
"Hei, berhentilah menangis..."Pinta Lukas dengan lembut.
"Ka-kau membuat ku ketakutan... hiks..." Ucap Alin masih terisak dengan air mata yang terus mengalir.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu." Perlahan Lukas menyeka air matanya.
...Deg Deg Deg...
Seketika jantung Alin berdetak kencang dan mukanya terasa memanas. Namun itu tetap saja tidak meredakan airnya matanya untuk berhenti mengalir. Lukas perlahan mendekatkan tubuhnya dan memeluk Alin dengan perlahan.
"Kumohon... berhentilah menangis" Bisik Lukas dengan lembut.
Alin pun dengan cepat menyeka air matanya dan berusaha menenangkan dirinya. Lukas mendengar jantung Alin yang berdetak dengan kencang. Saat ia merasa detak jantung Alin yang kembali normal, ia pun melepas pelukannya.
"Maaf jika itu tadi membuat mu takut" Ucap Lukas.
"hm" Sahut Alin sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Ikutlah dengan ku, aku akan menemanimu malam ini sebagai tanda permintaan maaf ku" Ajak Lukas seraya berdiri dan mengulurkan tangannya pada Alin.
Alin menggapai tangannya dan mereka berdua pun pergi keluar istana untuk jalan-jalan. Lukas membawa nya ke sebuah tempat yang cukup jauh dari istana, mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Lukas dan Alin melewati jalan pulang mereka yang biasanya dari academy. Lukas kemudian membawa Alin ke sebuah tempat yang pernah Alin kunjungi sebelumnya.
__ADS_1
Hingga mereka berdua pun tiba di danau salju. Tapi entah kenapa Lukas membawanya kesitu malam-malam begini. Lukas menuntunnya ke tepi danau itu dan duduk di tepinya.