Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 55 Mencoba memahami perasaan Lukas


__ADS_3

Sesampainya Lukas dan Alin di depan gerbang istana, para penjaga langsung membukakan gerbang untuk mereka berdua. Alin kembali berjalan menuju ke kamar mereka sambil memapah Lukas. Alin tentu saja kelelahan, ia sudah memapah Lukas yang lebih berat dari nya, dari hutan Jlim hingga ke istana.


Lukas ternyata juga menyadari itu dari wajahnya Alin, mukanya terlihat lesu dan ngos-ngosan. Karena kasihan, Lukas pun berhenti berjalan mengikuti irama langkah kakinya Alin dan Alin pun berhenti sejenak.


"huftt... Dia lumayan berat juga."


"Lepaskan aku" Pinta Lukas dengan nada yang dingin.


"Kenapa?"


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu memapah ku lagi!"


"Tidak! Aku akan tetap memapah mu! Lagi pula kau tidak terlalu berat." Tolak Alin sambil berbohong.


"Terserah... Kau memang keras kepala!"


Alin pun kembali berjalan sambil memapah Lukas. Jujur saja, Alin sangat kebingungan dengan Lukas. Lukas tidak terlihat seperti biasanya, dia terlihat pucat dan kelihatan agak lesu. Namun dia lebih keheranan dengan dirinya sendiri. Setiap kali dia berada di dekat Lukas, jantungnya akan berdetak dengan kencang dan tak beraturan.


Sesampainya di kamarnya Lukas, Alin langsung membuka pintu dan langsung masuk ke dalam. Di dalam kamar Lukas terasa sangat sepi, hampa dan gelap. Setelah Alin membantu Lukas untuk duduk di kasurnya, Alin berjalan ke salah satu kendala yang ada di kamar Lukas. Ia membuka tirai nya dan membuka jendela nya. Cahaya matahari pun masuk ke dalam, menerangi ruangan yang terasa hampa itu.


"Kenapa jendelanya di buka?" tanya Lukas sambil mengerutkan dahinya.


"Sekarang giliran ku yang bertanya, kenapa jendelanya dibiarkan tertutup?"


"Yah..itu...anu.." Lukas bingung menjawab pertanyaannya Alin.


"Hah?! Apa kau sering membawa banyak wanita ke sini?" Tanya Alin menduga-duga seraya menutup mulutnya menggunakan tangan, karena tidak menyangka.


"Bodoh! Aku tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak seperti dugaan mu!"


"Lalu...Apa kau sering mencoba percobaan bunuh diri?!" tanya Alin lagi.


"Kau tidak akan mengerti!"


Lukas mengalihkan pandangannya ke arah lain. Alin pun mendekat ke arah Lukas dan duduk di sampingnya. Namun Alin bodoh, ia kira Lukas memang benar sering mencoba aksi percobaan bunuh diri tanpa sepengetahuan orang lain


"Jadi benar kau sering melakukan percobaan bunuh diri? kau seharusnya tidak boleh begitu. Kalau kau punya masalah, kau bisa menceritakan masalahmu pada orang terdekat." Lirih Alin sedih sambil menundukkan kepalanya.


"Memangnya kapan aku mengatakan kalau aku pernah melakukan percobaan bunuh diri?!" Lukas menatap Alin dengan tatapan yang sinis.

__ADS_1


"Lah, tadi..?!"


"Bukan itu maksudku! sudah ku katakan padamu, kau tidak akan mengerti maksudku. Lagi pula... tidak ada yang bisa memahami ku."


Lukas menatap ke arah jendela dengan tatapan yang sedikit sedih. Alin merasakan kesedihannya Lukas hanya dari tatapannya saja. Alin menarik tangannya Lukas dan menggenggamnya. Saat Alin menggenggam tangannya detak jantung Lukas terasa berdetak dengan sangat kencang dan kini mukanya terasa memanas.


"Kalau begitu, biarkan aku memahami mu! Aku mau menjadi orang pertama yang memahami mu." Ucap Alin denan serius.


Alin menatap matanya Lukas dengan serius dan penuh dengan keyakinan. Semakin lama Alin menggenggam dan menatap matanya, mukanya Lukas terasa semakin memanas. Karena sudah tidak tahan, akhirnya Lukas mengakhiri topik pembicaraan mereka.


"Meng-mengerti apanya?! Pergi sana! Academy akan segera di mulai"


"Eh iya. Academy! Tapi apa kau tidak pergi ke academy juga?"


"Tidak, aku akan izin hari ini untuk beristirahat."


"owh...oke. Kalau begitu aku


aku berangkat sekarang. Bye..."


Alin berlari dengan sangat cepat keluar dari kamar Lukas dan langsung masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap. Kini Lukas sendirian di dalam kamarnya dengan suasana yang hening. Hingga seketika, ia tenggelam dalam pikirannya.


Lukas langsung berjalan ke depan kamarnya dan ia menghampiri penjaga yang ada di situ. Saat para penjaga melihat Lukas di depan pintu, penjaga itu langsung memberi hormat.


"Siap menerima perintah anda, pangeran." ucap penjaga itu sambil menundukkan kepalanya.


"Panggil Kael, sekarang!"


"Baik, pangeran."


Penjaga itu langsung berlari dengan cepat ke ruangannya Kael. Lukas pun masuk kembali ke dalam, sembari menunggu Kael datang.


Sementara itu di academy Ligen, Alin terlambat masuk kelas. Saat ia tiba di kelas, semuanya sudah ada di dalam kelas dan mereka sudah memulai pelajaran nya dari 15 menit yang lalu. Alin yang mengetahui itu, merasa enggan untuk masuk karena takut di marahi.


Namun Alin terpaksa masuk ke dalam kelas. 'Lebih baik datang terlambat daripada tidak sama sekali', itulah prinsipnya saat ini. Alin melangkah ke dekat pintu kelas dan mengetuknya.


...tok tok tok...


Mereka semua menoleh ke arah suara itu dan mereka melihat Alin di dekat pintu. Alin merasa takut, namun dia tetap berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Hehe... selamat pagi Bu. Maaf Alin terlambat"


"Tidak apa, masuk saja." Jawab ibu guru.


"Eh?!"


Mulai detik itu, perasaan Alin terasa aneh. Tanpa basa-basi lagi Alin langsung duduk ke bangkunya. Gion yang Reyhan yang melihat Alin datang sendirian, merasa kebingungan. Mereka berdua mendekatkan bangku dan meja mereka berdua ke arah Alin secara bersamaan.


"Hei! Di mana Lukas?" Tanya keduanya secara bersamaan.


"Hm...Dia bilang, dia ingin istirahat hari ini."


"Owh..."


"Jiu Xiaou Alin?" Panggil ibu guru seraya memotong pembicaraan mereka.


"Eh, iya Bu"


"Sebagai hukuman karena terlambat tadi, kerjakan soal dari halaman 67 sampai halaman 109 yang ada pada buku soal sejarah dunia sihir. Harus di kumpulkan besok!" Tegasnya.


"Apa Bu?! 42 halaman soal si kumpulkan besok?!" Tanya Alin tidak menyangka.


"Iya" Sahut ibu guru dengan senyuman manis yang palsu.


Ibu guru berbalik kembali ke arah papan tulis kembali dan kembali menjelaskan materinya kepada yang lain. Sementara itu Alin hanya mematung di tempatnya.


"Apa? 42 halaman dalam 1 hari?! Apa ibu guru punya dendam?! Huftt... Bagaimana bisa akku mengerjakan semuanya dalam semalaman? Marilah aku!"


Alin tenggelam dalam pikirannya selama beberapa menit. Hingga ia tersadar karena Gion memanggil nya.


"Hei, Alin"


"Eh, Gion."


"Apa kau bisa melakukan nya dalam semalaman? Kalau kau mau, aku bisa membantu mu." Ucap Gion menawarkan bantuan.


"Ngg... Tidak usah Gion, aku bisa melakukan nya sendiri"


"Tentu saja, kau kan sudah punya Lukas itu bahkan yang lebih cukup. Sangat lebih dari cukup!" Sahut Reyhan menyela Gion dan Alin yang sedang mengobrol. Reyhan datang dengan tiba-tiba, entah dari man dia datang.

__ADS_1


"Apa maksudmu tikus curut?! Kau mau mengolok-olok adikku?!"


__ADS_2