
*Beberapa menit yang lalu, sebelum Alin bertemu dengan Arga.
Lukas dan Gion pergi keluar dari tempat pemakaman itu, lalu masuk ke dalam mobil. Supir mobil mereka dengan segera melajukan mobilnya setelah Lukas dan Gion masuk ke dalam. Selama perjalanan Lukas hanya diam dan tidak terlihat khawatir dengan Alin, sementara itu Gion sangat gelisah karena khawatir dengan Alin.
"Lukas, Apa kau benar-benar tega membiarkan Al..."
"Lacak keberadaan Alin sekarang!" Perintah Lukas pada supir yang ada di sampingnya.
"Baik tuan"
"Eh?! Aku kira dia akan membiarkan Alin sendirian dengan begitu saja. Ternyata dia peduli padanya, hihihi... Apa Lukas...mulai menyukai Alin?"
Supir itu langsung mengotak-atik handphone yang ada di tangannya sambil mengendarai mobil nya. Gion sangat senang jika Lukas melupakan Anita dan mulai mencintai Alin. Ia tidak ingin Lukas menderita lagi dan Gion ingin Lukas mencintai Alin. Beberapa menit kemudian, supir itu menoleh ke arah Lukas dan berkata.
"Saya sudah mendapatkan lokasinya tuan" Ucap supir itu dengan sopan.
"Kesana segera!"
Supir itu langsung melajukan mobil menuju ke lokasi Alin segera setelah mendapatkan perintah dari Lukas. Lukas sebenarnya peduli dan khawatir dengan Alin, namun seperti yang Gion katakan kebiasaan nya itulah yang menutupi kepeduliannya. Lukas memang terlihat tidak peduli dan kelihatan dingin, namun sebenarnya di dalam hatinya dia perduli dan terasa hangat.
Beberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di dekat lokasi Alin berada dan mereka memutuskan berhenti di seberang jalan tempat Alin berada. Lukas dan Gion melihat ke kiri dan ke kanan jalan raya melalui kaca mobil dan terlihatlah di situ, Alin sedang berdiri di depan toko roti.
"Itu Alin!" Seru Gion.
"Turun!" perintah Lukas pada Gion dengan nada bicara yang dingin.
"akhh... Perutku tiba-tiba sakit, sepertinya maag ku kambuh karena belum makan tadi pagi. Kau saja yang pergi, sekalian belikan aku roti di situ."
Gion sengaja berbohong agar Alin dan Lukas bisa berduaan untuk beberapa saat. Lukas tidak bisa berkata apa-apa, ia juga tidak bisa meninggalkan Alin lagi. Lukas menghela nafas dan mengiyakan nya.
"Baiklah.."
Lukas turun dari mobil dan pergi menghampiri Alin di seberang jalan. Namun Alin tidak tau kalau Lukas kini berjalan ke arahnya. Arga keluar dari toko dan menghampiri Alin. Dengan sengaja Lukas berhenti berjalan dan memutuskan untuk mendengarkan percakapan mereka.
Beberapa menit telah berlalu, Lukas hampir mendengar semua percakapan mereka berdua dari jauh, sambil menutupi wajahnya dengan topi. Namun saat Lukas melihat Alin menundukkan kepalanya, Lukas kembali berjalan menuju ke arah Alin dan menghampiri nya.
Sementara itu, Gion kebingungan melihat tingkah Lukas dari mobil. Ia melihat Lukas berhenti sejenak dan beberapa menit kemudian dia melihat Lukas kembali berjalan ke arah Alin lagi.
"Ada apa dengan gunung kutub itu? Apa yang sedang dia lakukan?" Batin Gion sambil memasang ekspresi datar nya.
...****************...
Tiba-tiba Alin merasakan ada sebuah tangan di bahunya, ada seseorang yang merangkulnya. Alin menoleh ke arah tangan itu, lalu ia menoleh ke arah orang yang ada di sampingnya itu. Ternyata orang yang merangkulnya itu Lukas!
"Eh?!"
__ADS_1
"Tuan muda Lukas, Apa kabar?" Sapa Arga dengan ramah.
Namun Lukas tidak menjawabnya dan malah memasang ekspresi datar ke arah Arga.
"Apa yang kau lakukan pada Alin? Apa kau yang membuat nya sedih?!" Tanya Lukas dengan ekspresi datar.
"Oeh... Tidak, saya hanya menyapanya. Sedang apa tuan muda Lukas di sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu. Apa yang kau lakukan dengan Alin di sini?."
Lukas tetap saja menjawab Arga dengan kasar, padahal Arga berbicara dengan ramah padanya. Sementara itu Alin hanya diam mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Saya hanya mengobrol dengan Alin. Apa anda yang Alin maksud sebagai temannya?" Tanya Arga masih sopan.
"Kalau iya memangnya kenapa?! Hah! Biar ku katakan padamu. Alin milik ku!" Jawab Lukas dengan nada yang dingin.
"hm.. maksudnya?" tanya Arga kebingungan.
...'Alin milik ku'...
Perkata yang Lukas katakan itu menggema di benaknya Alin. Kata-kata nya itu membuat Alin malu, senang, dan ia tidak bisa berkata-kata lagi. Mukanya seketika memerah dan ia juga merasa kalau jantung itu berdetak dengan kencang. Namun Alin tidak tau dan tidak paham dengan perasaan nya sendiri.
"H-hei kalian berdua berhenti! Err... Arga aku akan menghubungi mu nanti, akan ku jelaskan padamu nanti" Alin mencoba mengakhiri percakapan menegangkan mereka berdua.
"Oh, baiklah kalau begitu. Sampai jumpa... Dah"
"Hm... Soal tadi... maafkan aku karena aku sudah meninggalkan kalian berdua tadi." Ucap Alin dengan canggung.
"Bukan salahmu, aku yang salah karena sudah bersikap kasar padamu tadi." Sahut Lukas sambil melirik Alin sekilas.
"Kita pulang sekarang?"
"Kita beli roti dulu untuk Gion"
Lukas berjalan menuju ke arah pintu toko roti yang ada di sampingnya dengan Alin yang berjalan mengikutinya dari belakang. Lukas memilih beberapa roti dan pergi ke kasir bersama Alin. Di meja kasir tidak ada orang, jadi Alin dan Lukas menunggu nya.
Alin sedikit melompat-lompat sambil melirik ke salah satu lemari roti yang ada di atas meja kasir. Di dalamnya ada sebuah roti favoritnya Alin dulu. Alin ingin sekali membeli roti itu, namun ia tidak berani memintanya pada Lukas. Tapi Lukas melihat semua yang Alin lakukan dari kaca yang ada di hadapannya.
Beberapa menit kemudian seseorang keluar dari sebuah ruangan dan berjalan menuju meja kasir. Orang itu melihat ke arah Alin dan Lukas, Ia merasa pernah bertemu dengan Alin, setelah berpikir orang itu ingat dengan Alin.
"Tolong hitung semuanya" Pinta Lukas dengan sopan.
Alin bergeser ke samping Lukas dan ia melihat ada orang yang terlihat familiar di hadapannya.
"Paman Gembul?" Gumam Alin.
__ADS_1
"Apa ini Alin?!" Balas paman Gembul.
"iya paman, Ini Alin. Paman masih ingat pada Alin?"
"Tentu saja paman ingat! Paman selalu ingat padamu."
"Ehem" Lukas menggangu percakapan mereka berdua.
"Oh maaf tuan. Tunggu sebentar ya Alin." Ucap paman Gembul.
Ia menghitung semua belanjaannya Lukas dan memberikan itu padanya. Lukas pun membayarnya. Paman Gembul tidak tau kalau Alin dan Lukas pergi bersama, ia mengira Lukas hanyalah pelanggan nya yang lainnya.
"Ayo pulang!" Ajak Lukas pada Alin.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar dulu. Paman, Alin pamit dulu." Alin pamit pada paman Gembul.
"Apa dia pacarmu?" Bisik paman Gembul pada Alin sambil sedikit bercanda.
"Pacar? pacaran dengan gunung kutub? Oh tidak! Tentu saja tidak!"
"Bukan. Dia hanya temanku." Sahut Alin dengan sedikit canggung.
"Oh maafkan saya tuan, saya kira anda pacarnya Alin. Anda dan Alin terlihat serasi sekali."
"Tidak masalah, tolong bungkusan itu lagi untuk ku." Sahut Lukas dengan entengnya.
Lukas meminta paman Gembul membungkus kan 2 buah roti lagi yang ada di dalam toko itu untuk nya. Saat Alin melihatnya, paman Gembul membungkus kan roti favoritnya. Alin menatap Lukas yang sedang berdirinya depannya untuk beberapa saat.
"Ini dia, terima kasih sudah berbelanja di toko kami" Ucap paman Gembul dengan ramah sambil tersenyum ke arah Alin dan Lukas.
"Terima kasih paman. Sampai jumpa lagi!" Teriak Alin sambil berlari pergi ke luar mengikuti Lukas dari belakang.
Alin dan Lukas keluar dari toko itu dan mereka langsung masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Gion sudah setengah tidak bernyawa karena kelaparan. Saat Alin dan Lukas masuk ke dalam mobil Gion sudah memasang ekspresi datarnya.
"Kenapa lama sekali?!" Tanya Gion datar karena kesal pada mereka berdua.
"Maaf, tadi ada sedikit perdebatan." Sahut Alin.
"Ini!" Lukas melemparkan satu kantong plastik berisi roti ke arah Gion.
"Akhirnya! Aku sudah hampir mati kelaparan di sini."
Lukas kemudian memberikan sebuah kotak roti ke Alin tanpa berkata sepatah kata pun. Alin mengambil dan membuka kotak nya. Di dalam nya ada banyak sekali macam roti dan di dalam kotak itu juga ada roti favoritnya Alin. Alin tersenyum ke arah Lukas dan ia pun berkata.
"Terima kasih"
__ADS_1
"hm