
Sesudah beristirahat sejenak, ketiganya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya, yaitu pergi kembali ke kantor misi. Sementara itu, Lukas dan Olivia masih saja mengawasi Alin yang ada di depan mereka itu dari kejauhan. Keduanya merasa sangat salut dengan Alin begitu tenang saat melihat ada harimau di depannya, walaupun harimau itu jinak, tapi harimau itu sangatlah besar bahkan besarnya dua kali lipat dari tubuhnya sendiri. Tapi misi ini tidaklah segampang itu.
"Hm? Hanya ini saja misinya? Membosankan sekali." Ucap Olivia.
"Mereka berjalan lurus dan mengambil jalan yang sudah di siapkan Ji Ku. Dan mereka akan melewati kamp beberapa bandit, itu misinya yang selanjutnya." Jawab Lukas.
Lukas kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan mengikuti Alin lagi dari kejauhan. Sedangkan Olivia masih terkejut akan misi Alin yang selanjutnya, misi yang mungkin kurang pantas bagi pemula. Ia langsung mengejar Lukas yang mendahuluinya dan bertanya lagi.
"Apa?! Apa?! Kamp bandit?! Apa kalian gila?! Kalian memberikan misi berbahaya ini kepada seorang junior?!" Tanya Olivia.
"Aihh... Beberapa waktu yang lalu aku minta Ji Ku untuk menyiapkan misi yang lain untuk nya. Tapi karena tidak ada misi lain yang levelnya sama seperti Alin, tidak di sangka-sangka Ji Ku malah memberikan misi dari anggota level lima. Saat aku meminta pembatalan, dia bilang sudah mengkonfirmasi pelemparan misi."
"Apa?! Lalu, bagaimana sekarang?" Tanya nya lagi.
"Seperti yang kau bilang, dia mungkin lebih hebat dari yang kita kira. Aku akan membantunya jika dia kesulitan dengan para bandit itu nanti."
Lalu Olivia terdiam, ia bingung harus berbuat dan berkata apa lagi. Kata-katanya sendirilah yang di ulangi oleh Lukas tadi, ia pun tidak bisa menyangkalnya. Tapi Olivia juga tau, kalau Lukas tidak akan membiarkan Alin terluka dengan mudah oleh para bandit yang akan di lawannya. Mereka pun berjalan kembali dengan Alin dan yang lainnya di depan, lalu di ikuti oleh Lukas dan Olivia yang ada di belakang.
Beberapa lama kemudian, mereka hampir sampai di dekat kamp bandit, tapi Alin belum menyadari akan bahaya yang akan ia hadapi di depan. Tiba-tiba saja, Viko dan harimau tadi berhenti, mereka terlihat bersiaga terhadap sesuatu dan menggeram sambil melihat sekeliling.
...GREEERRR...
Alin terlihat kebingungan dengan tingkah mereka berdua yang tiba-tiba saja berubah, ia pun melihat sekeliling juga, tetapi tidak ada apa-apa yang ia lihat.
"Ada apa dengan kalian berdua? Aneh sekali, padahal tidak ada apa-apa di sini." Gumamnya.
...Shutttt...
"WHAAAA!! Ayam melompat dari panci!!! Apa itu?! Hehhhhh!!!" Pekik Alin yang langsung terjatuh karena terkejut.
Tak di sangka-sangka, dengan tiba-tiba sebuah anak panah melesat dengan cepatnya dan anak panah itu tertuju pada kepala Alin. Tapi karena ia terkejut, anak panah tersebut meleset dan malah mengenai rambutnya. Alin dengan cepat langsung berdiri dari tempatnya dan berlari mengambil anak panah tadi.
Alin terlihat mulai ketakutan, mukanya terlihat tegang dan tangannya juga gemetaran memegang anak panah itu. Tetapi ia berusaha untuk tetap tenang untuk menghadapi lawannya.
"Anak panah?! Gawat! Gawat!"
"Siapa?! Ayo keluar! Keluar kau!" Teriak Alin.
__ADS_1
Lalu keluarlah tiga orang bandit gemuk dari balik semak-semak besar yang ada di belakang Alin. Salah satu bandit itu kembali melesatkan anak panahnya, tapi kali ini ke arah Viko. Untungnya Viko memiliki tubuh yang kecil sehingga memudahkannya untuk menghindari tembakan bandit itu. Lalu harimau tadi berubah menjadi seekor kucing lagi untuk berjaga-jaga juga.
Alin pun langsung berbalik dan kembali terkejut melihat ketiga bandit yang sedang berdiri di depannya sekarang. Bandit-bandit terlihat menyeringai kesenangan, karena melihat mangsa mereka yang terlihat begitu menarik.
"Hohoho! Ketua, kita mendapatkan mangsa yang bagus. Seorang wanita cantik, anak rubah, dan juga seekor harimau yang bisa berubah." Ucap salah satu dari mereka.
"Benar ketua, aku sudah tidak sabar untuk mencicipi seorang wanita. Sudah lama sekaliiii!!! Lihatlah kulitnya yang putih itu." Tambah yang lainnya.
Lalu orang yang mereka sebut-sebut sebagai ketua tadi maju selangkah kedepan. Hal itu semakin membuat Alin kelabakan dan juga semakin ketakutan. Sementara bandit-bandit makin terlihat senang melihat Alin yang terlihat ketakutan itu.
"Hohoho!! Benar sekali, Taki. Wanita ini sangat putih dan juga cantik. Aku juga sudah tidak sabar untuk bermain dengannya." Ucapnya.
"Heh! Heh! Maju saja! Ayo maju! Maju selangkah lagi ku jadikan sate ayam kalian!" Ancam Alin.
...Brakk Bukkh brakkk...
"Akh!"
"Masih mau main-main lagi, nona?" Seringai bandit yang bernama Taki tadi.
...GRERRRRR...
"Kalian ternyata sama nakalnya dengan wanita ini." Gerutu salah seorang dari mereka.
Tapi kekuatan mereka lebih kuat di bandingkan Viko dan harimau. Jadi mereka berdua berhasil di kalahkan oleh bandit-bandit itu dan mereka pun di bawa oleh bandit-bandit juga.
"Olivia! Cepat!" Seru Lukas.
Lukas yang melihat Alin di tangkap langsung berlari ke arah mereka, begitu pun dengan Olivia. Tapi tak mereka duga, bandit-bandit itu memiliki kekuatan yang jarang di miliki oleh para bandit pada umumnya. Saat Lukas dan Olivia hampir menghentikan mereka, mereka sudah pergi lebih dulu sambil menyeringai. Melihat hal itu Lukas sangat marah dan ingin segera membunuh bandit-bandit itu nantinya jika bertemu lagi.
"Ck! Sial! Kita ke sana segera!" Seru Lukas.
"Tunggu dulu Lukas, kita masih belum tau kekuatan atau taktik dari musuh kita. Kita harus menyusun rencana terlebih dahulu." Saran Olivia.
"Jika kita sudah selesai menyusun rencana, Alin pasti sudah di sakiti oleh mereka!! Cih!" Bentak Lukas.
"Sedikit saja kalian menggores ataupun menyentuhnya akan ku habisi kalian tanpa ampun!"
__ADS_1
Lukas terlihat sangat marah pada saat itu, ia mengepalkan tangannya dan mengalihkan pandangannya yang sedang marah itu dari Olivia. Pada saat itulah Olivia tau, bahwa ada sesuatu pada hatinya terhadap Alin. Ia pun mengiyakan perkataan Lukas itu.
"Humpt... Dasar anak muda jaman sekarang... Jika ada seseorang yang spesial pasti tidak akan ragu-ragu mengambil keputusan lagi."
"Baiklah, ayo! Kau tau tempatnya, kan? Cepat beri aku lokasinya!" Ucap Olivia.
Mendengar Olivia berkata seperti itu, Lukas meliriknya sedikit lalu mengayunkan tongkatnya. Seketika itu juga, mereka langsung tiba di kamp kecil bandit-bandit yang menculik Alin tadi. Mereka tidaklah banyak, hanya ada 4 orang saja yang terlihat di sana.
Tanpa pikir panjang lagi, Lukas langsung menyerbu kamp tersebut tanpa adanya rencana ataupun ancang-ancang, sungguh gegabah keputusannya itu. Tetapi Olivia lebih memilih untuk bersembunyi di balik semak-semak terlebih dahulu. Lalu di dekat kamp itu, terlihatlah pertarungan antara Lukas dan keempat bandit itu sudah di mulai.
Pertarungan itu sangat sengit, lawan mereka bukanlah orang biasa atau pun penduduk biasa melainkan seorang pangeran yang terbilang cukup kuat untuk melawan mereka. Tapi mereka tetap saja tidak mau kalah, mereka pun bertarung dengan hebatnya. Bunyi pedang yang berdentingan pun terus saja berbunyi. Tiga bandit telah berhasil di lumpuhkan dan sekarang hanya ketuanya saja yang masih mampu bertarung.
...PRANG PRANG PRANG...
Pada suatu kesempatan, ketua bandit itu berhasil mengambil celah dari Lukas, namun di tangkis dengan cepat olehnya. Bandit itu pun sadar, kalau wanita yang mereka culik tadi adalah sekutu dari orang yang sedang bertarung dengannya sekarang.
"Tuan, apa kau ingin mencuri wanita itu dari kami? Naif sekali.... Apa kau tau? kami berkelompok sementara kau hanya sendirian. Apa kau mampu?" Ucapnya.
"Aku pun bisa mengalahkan kalian sendirian!" Sahut Lukas yang langsung menyerang balik.
Lukas mengerahkan kekuatannya dan mendorong pedang yang ada pada ketua bandit hingga terlempar hingga beberapa meter jauhnya. Tapi bandit itu tidaklah panik, ia malah menyeringai lagi dan lagi.
"Lumayan juga...."
"Serahkan temanku kembali atau kau ingin mati di sini sekarang." Ancam Lukas.
"Uwuuuu... takutnya aku... Sudah ku bilang, kau itu naif! Kami tidak hanya berempat, tapi bertujuh! Hahaha!" Seru nya.
Pada saat itu juga, dua orang yang tersisa keluar dari balik persembunyian mereka. Yang satu langsung mengunci kedua tangan Lukas dan satunya lagi menangkap Olivia yang sedari tadi bersembunyi di semak-semak.
"Arghhh....! Lepas bandit gendutttt! Bau! Gendut! Hei!" Berontak Olivia yang tertangkap.
Lalu saat Lukas ingin mengeluarkan mantra yang lain, malah tidak bisa. Kekuatannya seperti terkunci dan terhisap oleh sesuatu yang terpasang kan di pergelangan tangannya.
"Barang anti sihir?! Tapi, dari mana mereka mendapatkan tanaman Cuiko?! Itu kan tanaman yang sangat langka! Bahkan di dunia sihir merah pun sangat susah dapatkan!"
Dan ternyata saat ia melihatnya, itu adalah barang anti sihir, pada saat itu Lukas sangat terkejut. Ia pun hanya bisa terdiam dan membiarkan dirinya tertangkap lalu di kurung bersama dengan yang lainnya dengan pasrah.
__ADS_1