
*Beberapa hari kemudian, Academy Ligen.
Saat istirahat makan siang, seperti biasa semuanya pergi ke kantin. Alin ingin mengajak Lina makan bersama, namun ia sudah tidak melihat Lina di kelas saat bel berbunyi.
"Di mana Lina? Apa dia sudah melupakan ku?" Gumam Alin sambil celingak-celinguk melihat sekeliling.
Lukas, Reyhan dan Gion menghampiri Alin. Reyhan dengan tiba-tiba merangkul pundaknya Alin. Saat Alin menoleh ia melihat Reyhan, Lukas dan Gion ada di samping kiri dan kanannya.
"Kau kenapa?" Tanya Reyhan melihat Alin dengan kebingungan.
"Tidak apa, aku sedang mencari Lina. Apa kalian melihatnya?"
"Seperti Aku melihatnya ke taman academy tadi."
"oh, aku akan menyusul Lina sekarang. Dah..." Alin melangkah pergi meninggalkan mereka. ia pergi menyusul Lina ke taman academy.
Lukas pun juga berjalan pergi ke luar kelas dan mendahului Alin. Lukas berjalan ke sebuah lapak seorang penjual perhiasan yang tak terlalu jauh dari academy. Setelah ia tiba, Lukas memberikan sebuah batu kecil yang berwarna hijau kepada penjual itu. Tanpa pikir panjang, orang itu langsung mengambilnya dan membuat sesuatu dengan batu hijau itu.
Setelah 5 menit berlalu, penjual perhiasan itu kembali menghampirinya dan memberikan sebuah cincin kepada Lukas. Ring cincin itu terbuat dari sebuah perak yang mengkilap dan ada beberapa permata bunga hijau terang di atasnya.
"Ini adalah cincin yang saya desain sendiri dan hanya ada satu." Jelas penjual itu.
"Ini!"
Lukas menyerahkan satu kantong keping emas padanya. Orang itu melihat-lihat uang itu dan Lukas pun berjalan pergi kembali ke academy. Selama perjalanan Lukas terus saja menatap kotak cincin yang berwana putih itu.
"Aku harap... kau akan kembali kepada ku."
Di sisi lain, Alin pergi ke taman academy. Saat memasuki taman academy, Alin melihat Lina sedang bersembunyi di semak-semak. Alin pun tersenyum jahil. Ia berjalan mengendap-endap dan ketika ia sudah dekat dengan Lina...
...BWAAA...
"WHAAA..." Teriak Lina terkejut. Saat ia berbalik, Lina melihat Alin di belakang nya. Alin tertawa terbahak-bahak saat melihat Lina terkejut tadi.
"HAHAHAHA..." Bahak nya.
Lina kesal pada Alin. Ia pun mengejar Alin dan terjadilah peristiwa saling mengejar di antara mereka berdua.
"Awas kau Alin! Aku akan menangkap mu!" Teriak Lina kesal padanya.
"Tidak akan bisa!" Sahut Alin dari kejauhan sambil mengejek-ejeknya.
Lina terus saja mengejar Alin dan Alin terus saja berlari menjauh dari Lina, hingga akhirnya mereka berhenti juga karena kelelahan. Mereka duduk di bangku taman academy sambil terengah-engah.
"Hah..hah.. Aku menyerahkan" Ucap Alin terengah-engah sambil mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku sangat lelah...Bhahhh..." Lina pun duduk juga di samping nya Alin.
Mereka duduk dan mengatur nafas mereka yang terengah-engah. Setelah mengatur nafasnya agar kembali normal, Alin dan Lina pun mengobrol.
"Jadi kau kenapa bersembunyi di semak-semak?" tanya Alin.
"Hm, aku... sebenarnya naksir dengan salah satu murid dari kelas seni itu" Lirihnya malu-malu.
Alin pun menoleh ke para siswa yang ada di tengah taman academy yang sedang melukis di situ. Saat ia memperhatikan mereka, Alin tertarik dengan salah satu dari mereka. Orang itu memiliki aura yang sangat terpancar, tentu saja Alin menunjuk orang itu.
"Apa orang yang di sana? Benarkah?"
"Hm"
"Siapa namanya?" tanya Alin penasaran.
"Rahasia... Akan ku beri tahukan nanti" Jawab Lina sambil bercanda dengan Alin.
"Ya mudahan saja... bukan orang yang gendut di sebelah sana. Hihihi..." Ucap Alin menggoda Lina.
Di sebelah orang itu ada seorang siswa bulter (bulet telur) duduk di sampingnya. Tentu saja Alin ingin membuat itu menjadi sebuah candaan nya.
"Hei! Tidak boleh begitu, bagaimana kalau orang itu tersinggung" Bisik Lina menasehati nya.
"Iya, iya maaf... aku tidak akan melakukannya lagi. Hihihi..." Jawab Alin sambil tertawa kecil.
"Anu... Besok setelah pulang dari academy, aku akan pulang ke dunia manusia untuk mengunjungi keluargaku. Jadi... aku tidak bisa menemani mu akhir pekan ini." Ucap Alin.
"Tidak apa-apa, tapi dengan siapa kau pergi?"
"Gion"
"Apa pangeran Lukas juga tau kalau kau akan pergi ke dunia manusia?" tanya Lina lagi.
"Tidak" Jawab Alin dengan apa adanya.
"Dia pasti akan marah jika kau pergi tanpa memberi tahunya. Sebaiknya kau memberi tahunya." Ucap Lina menasehati Alin.
"Biarkan saja! Gunung kutub seperti dia... Apa mungkin dia akan peduli pada ku?"
"Tentu saja, kau adalah misi utamanya. Tentu saja dia peduli pada mu" Sahut Lina.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri! Aku tidak butuh perhatian darinya jika hanya demi misi Regental nya!" Sahut Alin mulai kesal.
"Apa kau cemburu? Hihihi..." Kekeh Lina tertawa geli.
__ADS_1
Tiba-tiba muka Alin terasa panas. Kata 'Cemburu' itu membuat Alin salah tingkah. Tapi dia juga tidak tau, apa dia benar-benar mulai menyukai Lukas atau tidak.
"Ti-tidak... Awh... Kenapa cuacanya terasa semakin memanas yah?" Tanya Alin salah tingkah sambil mengipas-ngipas dirinya sendiri menggunakan tangan nya.
"Bukan cuacanya yang tiba-tiba panas, tapi tingkah kamu itu yang tiba-tiba berubah. Apa kau benar-benar menyukainya?!" Tanya Lina.
"Tidak! Aku..Aku tidak menyukainya! Gunung kutub begitu, apa dia pernah terlihat perhatian pada seorang wanita?!" Tanya Alin masih salah tingkah.
"Kalau kau tidak menyukainya, Kenapa kau begitu marah begitu?" Tanya Lina lagi sambil menggoda Alin.
"Tidakkkkk!" Bantah Alin.
"Hahahaha..." Bahak Lina tertawa melihat Alin yang semakin salah tingkah.
...Kringggg...
Bel academy berbunyi, waktu istirahat makan siang telah selesai. Semua murid pun kembali ke dalam kelas mereka masing-masing. Alin dan Lina pun masuk ke kelas mereka.
"Bel sudah berbunyi. Ayo ke kelas bersama" Ada Lina.
Alin dan Lina pun berjalan bersama ke dalam kelas. Saat mereka tiba di dalam kelas, semua siswa dan siswi yang lain telah duduk di bangku mereka masing-masing. Alin dan Lina berpisah, mereka duduk di bangku mereka masing-masing juga. Saat Alin duduk di bangkunya, Gion menyapanya.
"Hei!"
"Hai, ada apa Gion?" tanya Alin.
"Apa kau sudah lupa bahwa akhir pekan ini kita akan pergi ke duni..." Belum selesai Gion menyelesaikan kalimatnya, Alin sudah lebih dahulu membekap mulutnya.
"Shttt... Jangan sampai Lukas tau kalau kita akan pergi akhir pekan ini" bisik Alin.
"hmnmm...hmmm" Gerutu Gion meminta mulutnya di lepaskan.
Alin pun tersadar akan tangannya yang masih menempel pada mulut Gion, Alin pun melepaskan nya.
"Maaf... Aku lupa" Ucap Alin sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi... kenapa Lukas tidak boleh tau kalau kita akan pergi?" tanya Gion sambil berbisik pada Alin.
"Dia pasti tidak akan memperbolehkan ku, jadi jangan sampai dia tau." Tegas Alin sambil berbisik juga pada Gion.
"oke"
Tiba-tiba hidung Lukas terasa gatal dan ia pun bersin.
"Hachuuu...."
__ADS_1
"Sepertinya ada yang membicarakan ku"