
Beberapa hari telah berlalu dengan sangat cepat. Seperti layaknya hari-hari biasa, semua siswa dan siswi dari semua academy pulang ke tempat masing-masing pada sore harinya. Dan sesuai dengan adat di kota Krestin, para bangsawan, putri dan pangeran yang bersekolah di academy Ligen akan pulang bersama-sama menuju tempatnya masing-masing.
Pemandangan itu sangatlah indah untuk kebanyakan orang awam yang ada di situ. Karena saat orang-orang itu pulang, mereka seakan melihat acara besar nan meriah. Orang-orang tersebut berbaris rapi dengan baju academy mereka yang terlihat mewah dan megah. Semua orang yang di lewati oleh rombongan bangsawan pasti akan mehentikan perjalanan mereka dan menonton orang-orang itu lewat bagaikan menonton sebuah parade.
Saat itu, seperti di hari-hari biasa juga, Alin berjalan bersama dengan para rombongan tersebut. Rombongan para KIMASEF berada jauh di depan yang lainnya, tentu saja dengan berjalan kaki. Kereta kuda? Oh sudah sering sekali mereka menggunakan sihir, kebanyakan dari orang-orang sana beranggapan bahwa hal itu adalah hal yang sangat membosankan.
Ketika Alin sedang berjalan bersama yang lainnya, ia tidak sengaja menoleh ke suatu arah dan melihat Lina berjalan sendirian. Dengan refleks Alin melangkah kaki nya keluar dari rombongan menuju Lina yang ada di salah satu sisi pandangannya.
Baru saja melangkah, Alin sudah merasakan krah belakang bajunya yang terasa seperti di tarik. Sepertinya Alin sudah sangat hapal dan tau dengan orang yang ada di belakangnya itu. Alin menghela nafas sejenak dengan frustasi.
"Aih.. Kenapa, Lukas?"
"Kemana?" Tanya Lukas yang masih menahan krah belakang bajunya.
"Seperti biasa, pergi menemui Lina." Jawab Alin dengan ekspresi yang sedikit gemas dengan Lukas.
"Ouh."
Sedetik kemudian Lukas melepaskan krah baju Alin dan kembali berjalan menuju barisannya dengan ekspresi datarnya. Begitu pun dengan Alin, ia juga kembali berjalan mengejar Lina yang sudah lumayan jauh dari tempat nya sekarang. Tapi ada sedikit hal yang membuat Alin merasa sedikit gemas dengan kelakuan Lukas.
"Hanya kata 'Ouh' ?! Hanya Ouh saja?! Yang benar saja..? Dia batu apa manusia? Aih.. bagaimana bisa mendapatkan hati batu, batu kan tidak punya hati. Heran... Kadang-kadang perhatian, Kadang-kadang cuek. Dia siluman batu kah? Saat di tanya, hanya karena misi regental..." Omel Alin dalam hati sambil menaik turunkan alisnya tanpa di sadari.
Tanpa Alin sadari Lina sudah berada sangat jauh di depannya. Setelah ia menyadarinya, cepat-cepat Alin berlari menyusul Lina yang ada di depannya itu.
"Lina! Tunggu aku!" Teriak Alin.
Tak berselang lama, keduanya telah tiba saja di rumah Lina. Rumah Lina terlihat saat sepi, hanya ada mereka berdua di sana, ibu Lina dan Renu belum pulang pada saat itu. Mereka pun masuk kamar Lina untuk berbincang.
"Kenapa mencariku? Rindu?" Tanya Lina tersenyum tipis seraya meletakan tas nya.
"Emh, jangan. Rindu itu berat, biar kau saja. Hahaha..." Canda Alin yang langsung tertawa lepas disusul Lina yang juga ikut tertawa.
"Hahaha.."
Setelah meletakkan tas nya, Lina duduk di dekat Alin yang sedang rebahan di atas ranjang. Untuk beberapa saat Alin melamun, sambil mengetuk-etuk telapak kakinya ia menatapi langit-langit rumah.
"Oh, iya. Bagaimana dengan pangeran Lukas. Apa dia terlihat mulai menyukaimu?" Tanya Lina seraya ikut merebahkan badannya di samping Alin.
"Ehmm... Entah, aku sendiri juga bingung. Aku bahkan belum tau, dia itu sebenarnya manusia atau batu. Kadang-kadang perhatian, kadang-kadang bersikap dingin. Aih, mulai frustasi aku." Keluh Alin.
"Sabar, cinta itu perlu proses pendekatan. Tidak ada yang instan."
"Tapi kau dan Reyhan tidak ada!" Protes Alin.
__ADS_1
"Eh, itu.. Anu.." Lina seketika kebingung mencari kata-kata untuk membalasnya.
Lina mulai linglung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Alin menatapnya dengan lekat, mengharapkan jawaban dari Lina.
"Huft... Lupakan saja. Oh iya, aku ingin memamerkan sesuatu."
"Apa itu?" Tanya Lina yang langsung mengalihkan pandangannya ke Alin.
"Jadi."
"Ya, lalu."
"kemarin."
"Kemarin kenapa?" Tanya Lina penasaran.
"Aku.."
"Yang benar saja, Alin. Bicaranya tolong jangan setengah-setengah begitu. Coba katakan sekaligus." Protes Lina.
Tapi Alin malah tersenyum puas melihat Lina kesal begitu.
"Aku.. kemarin.. mengangkat seorang pelayan pribadi! Hebat tidak?!" Ucap Alin sambil sedikit bereriak dengan sangat antusias.
"Benarkah? Siapa namanya??"
"Namanya Ye Min, aku yang memberikannya nama itu. Bagus tidak?"
"Nama yang cantik. Kau memang pandai mencarikan nama." Puji Lina.
"Hm! Ingin berkenalan dengannya? Aku bisa membawamu ke istana untuk bertemu dengan Ye Min, jika mau. Ah, sekalian aku akan menunjukkan tempatnya Reyhan di istana."
Seketika setelah mendengar nama Reyhan, raut wajah Lina langsung berubah. Bibirnya yang tadinya tersenyum lebar kini mulai memudar. Lina tenggelam dalam pikirannya sejenak, seakan menyesali, memikirkan apa saja yang akan terjadi kedepannya.
"Aku benar-benar naif. Baru di tinggal beberapa hari oleh Reyhan saja rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Tapi nyatanya dia hanya ada urusan penting di istana dan akan absen selama beberapa hari. Aku kira ini tidak akan terjadi, aku kira tidak akan bertemu dengannya dalam waktu dekat, aku kira dia tidak akan mengetahui tentang kehamilan ku ini. Tapi cepat atau lambat, dia akan segera mengetahuinya..."
Melihat raut wajah Lina yang tiba-tiba saja berubah, Alin terlihat kebingungan. Ia memanggil namanya sehingga lamunan Lina itu langsung buyar.
"Lina? Tidak apa-apa, kan? Apa yang sedang kau pikirkan? Rindu pada Reyhan?" Tanya Alin seraya mencubit lembut pipi Lina.
"Eh? Ehnm.. tidak apa-apa."
"Jadi, kapan kau siap berangkat? Sekarang?"
__ADS_1
"Ugh..."
Tiba-tiba saja Lina langsung terduduk. Ia memegangi perut dan mulutnya yang mulai terasa mual kembali. Cepat-cepat Lina langsung berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Alin yang melihat kondisi Lina seperti itu reflek langsung kelabakan, ia berlari kesana kemari dengan linglung. Ke kamar mandi, ke lokasi tas nya, ke luar rumah, terus begitu untuk beberapa kali. Ia mencoba mencari bantuan dan ramuan untuk Lina.
"Lina? Lina?! Kau baik-baik saja kan?"
"Huekk..! HUEKKK! Ugh..!
Panik, Alin terlihat sangat panik. Berbelas-belas tisu telah di tariknya dari tempat tisu, tapi alhasil Lina menolak tisu-tisu itu. Lina terus saja merasa mual. Alin sudah beberapa kali memberikan pertolongan, tapi Lina menolaknya. Saking mualnya, Lina sampai-sampai tidak bisa menjawab pertanyaan singkat Alin.
"Lina... Apa yang terjadi padamu..? Kau baik-baik saja kan?"
"Ugh! Hahhh... hahhhh... Huekkkk!" Lina telah memuntahkan apa saja yang telah di cernanya selama seharian ini.
Matanya mulai berkaca-kaca dan bulir-bulir kecil air mata pun hendak menetes dari pelupuk matanya. Rasa kuatir dan takut yang mendalam, Alin benar-benar ketakutan dan gemetaran pada saat itu. Dengan segera, ia mengirimkan surat kepada tabib sekitar dengan sihirnya.
Tak butuh yang waktu lama, seorang tabib datang ketempat Lina hanya dalam waktu beberapa menit saja. Tabib itu pun segera memeriksa kondisi Lina. Semantara Alin hanya bisa mengigit-gigit kuku nya di pojokan dengan kuatir.
Beberapa menit telah berlalu, tabib tersebut telah selesai memeriksa kondisi Lina. Alin pun dengan segera menggeruminya. Tapi, saat Alin datang Lina terlihat sedih, takut dan merasa bersalah terhadapnya. Dan Alin dapat merasakan hal itu dari tatap Lina.
"Bagaimana keadaan teman saya, tuan. Apa dia baik-baik saja? Apa penyakitnya serius?" Tanya Alin dengan tatapan memelasnya.
Ketika melihat Alin memelas kepadanya, tabib itu langsung salah tingkah. Pesona terlihat Alin begitu kuat hingga bisa menggoda tabib tersebut. Untuk membuyarkan pemikirannya, tabib itu berdehem nyaring sambil menjelaskan kondisi Lina.
"Di.. dia, cantik sekali...imut... seksi... menggoda........."
"EHEM. Anu... Ini.. bukanlah.. EHEM!" Dehemnya dengan nyaring.
"Ehem apa tuan?" Tanya Alin polos.
"Ah, bukan begitu. Maksudnya sahabat nona baik-baik saja. Di sehat-sehat saja." Jawab tabib itu singkat sambil memalingkan wajah merah nya.
"Lalu.. kenapa dia bisa muntah-muntah seperti itu kalau sehat-sehat saja?!" Ucap Alin nada yang sedikit ditinggikan.
"Itu adalah reaksi biasa para bumil. Anda tenang saja, beliau akan baik-baik saja. Saya akan meresepkan obat untuk pereda mual."
Setelah menjelaskan hal itu kepada Alin, tabib itu kemudian hendak membungkuk mengambil obat di dalam tas yang di letakkannya di lantai, tanpa mengetahui orang tersebut paham atau tidak. Alin yang sedang dalam masa jaringan disconneted, menjadi linglung mendengarnya.
"Hah? Bumil? Apa bumil?"
"Tunggu, tuan. Bumil itu...? Bumi makan upil?"
Pemikiran Alin sudah benar-benar jauh melayang. Mendengar itu, tabib tersebut langsung terkekeh geli dengan perkataan polos Alin.
__ADS_1
"Hahaha... Bukan bumi makan upil, nona. Tapi ibu hamil." Jelas tabib itu yang terkekeh dan masih terbayang akan perkataan Alin sebelumnya.
"Owhhh... Bumil itu, ibu hamil yaaa...? HAH?! APA?! HAMIL? DIA HAMIL?" Pekik Alin dengan suara nyaring.