Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 37 Terlalu sensitif.


__ADS_3

Waktu istirahat sudah selesai dan mereka melanjutkan pelajaran. Semua murid masuk kembali ke dalam kelas dan duduk di tempatnya masing-masing sambil menunggu guru yang akan mengajar mereka. Beberapa menit kemudian Bu Guru masuk.


"Hari ini kita akan ke perpustakaan academy, kita akan mulai mempelajari mantra ilusi"


"Sudah siap semua!" serunya pada semua murid.


"SIAP!" sahut semua murid dengan sangat antusias.


"Ketua kelas, tolong hitung jumlah semua orang yang ikut ke perpustakaan" pinta bu guru .


"Baik bu" Sahut Yudian.


Saat semuanya sudah berbaris, Yudian menghitung semua nya dan ikut ke perpustakaan berjumlah 27 orang. Setelah itu semua murid keluar kelas dan pergi ke perpustakaan academy. Alin dan Lina pergi bergandengan tangan bersama ke perpustakaan mengikuti yang lainnya.


*Perpustakaan academy.


Mereka pun tiba di perpustakaan academy. Perpustakaan academy memang lebih kecil dari perpustakaan pusat, namun bukunya cukup lengkap. Setelah sampai mereka semua langsung menyerbu rak-rak buku yang ada perpustakaan.


Murid-murid dunia sihir putih bisa juga di sebut dengan kutu buku tingkat atas, tak heran begitu karena mereka sungguh cerdas. Jika seorang murid tidak pandai dalam keterampilan, namun ia mungkin lebih pandai dalam kemampuan secara lisan, begitu juga sebaliknya.


"Jadi kita kemari bukan hanya sekedar membaca buku. Tapi ibu akan memberikan sebuah misi kecil untuk kalian."


"Jadi kalian akan di bagi menjadi 3 kelompok dan masing-masing kelompok 9 orang. Kalian harus mencari buku dengan topik tentang mantra ilusi dasar" Jelas Bu guru pada semuanya.


Sebelum melakukan pencarian, ibu guru membagikan mereka menjadi 3 kelompok. Alin, Lukas dan Yeni satu kelompok dengan Yudian dan teman-teman yang lain. Alin merasa sedikit takut pada Yeni, ia juga sadar kalau Yeni itu membencinya. Setiap kali ia melewati Yeni, Yeni masang ekspresi sinis pada Alin. Tentu saja Alin takut jika mereka akan belajar dengan suasana yang canggung.


"Kenapa harus Yeni...Kenapa tidak Lina saja Bu..." Batin Alin protes.


"Kalian bisa mulai mencari bukunya sebanyak mungkin" Ucap Bu guru.


Semua murid membuat keributan di perpustakaan, berlari kesana-kemari, ribut sana-sini dan bahkan ada perkelahian kecil untuk merebut buku dari tim lain. Alin juga mondar-mandir di sebuah lorong buku di pojok untuk mencari buku dengan topik mantra ilusi.


Alin baru saja mendapatkan 2 buku, saat ia menelusuri rak ada sebuah buku besar bertuliskan mantra ilusi di rak yang paling atas. Alin melompat-lompat berusaha menggapai buku itu, namun ia tetap tidak bisa menggapai nya.


Tiba-tiba Yudian datang dan mengambilkan buku itu untuk Alin dari belakang nya. Alin terkejut saat melihat sebuah tangan muncul dari belakang nya, ia berbalik dan melihat Yudian.


"Ini" Yudian memberikan buku itu pada Alin.

__ADS_1


"eng... Terima kasih ketua kelas" Ucap Alin sopan sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"Panggil aku Yudian saja" Sahut Yudian.


"Baiklah, Yudian"


Tanpa mereka sadari Lukas selalu memandangi mereka berdua dari tadi. Ia merasa tidak senang dengan kehadiran Yudian di dekat Alin dari tadi pagi. Lukas memperhatikan mereka berdua dari kursi dengan tatapan yang tajam. Yeni yang melihat Lukas terus memandangi Alin merasa sangat risih.


"Lukas?" panggil Yeni.


"hm" Sahut Lukas dingin.


"Berapa banyak buku yang sudah kita miliki?" tanya Yeni berbasa-basi.


"Hitung sendiri" Jawab Lukas jutek.


Lukas lalu pergi meninggalkan Yeni sendirian di situ dan pergi keluar perpustakaan sebentar. Saat Lukas berjalan keluar perpustakaan Alin dan Gion melihat nya dan mereka berdua berniat ingin menghampiri nya.


"Yudian, aku pergi dulu" Alin pamit pada Yudian dan pergi.


"Baiklah"


"Hei Lukas, kenapa kau keluar dari perpustakaan?" tanya Alin sembari menyapa Lukas.


"Terlalu berisik di dalam" jawabnya dengan nada yang dingin.


Gion pun menghampiri mereka berdua juga.


"Hai Alin" sapa Gion.


"Eh, Hai juga Gion" balas Alin.


"Kalian berdua sedang apa disini berduaan, jangan bilang kalian lagi mesra-mesraan..." Tebak Gion seraya menggoda mereka berdua.


"Tiddddakkkkk!" rengek Alin kesal pada Gion.


"Apa maksudmu?!!" Tanya Lukas dengan tatapan yang menakutkan.

__ADS_1


Alin dan Gion terkejut melihat ekspresi Lukas yang terlihat menyeramkan itu. Alin dengan cepat bersembunyi di belakang Gion saat ia melihat Lukas yang mulai marah. Gion juga tidak menyangka Lukas akan sesensitif itu, karena ia tau kalau Lukas tidak terlalu memperdulikan perkataan orang lain.


"E-eh, Aku hanya bercanda...jangan begitu" Ucap Gion sedikit takut.


"Sebaiknya jaga candaan mu itu" Sahut Lukas dingin lalu masuk ke dalam dan melewati mereka begitu saja.


Setelah Lukas sudah lumayan jauh dari mereka, Alin berjalan ke depan Gion. Alin benar-benar ketakutan sampai-sampai kakinya sempat gemetaran.


"Maafkan aku Alin" Ucap Gion dengan sedikit canggung.


"Tidak apa-apa, itu tadi kan hanya candaan saja" Sahut Alin dengan entengnya sambil mengibaskan tangannya, namun di dalam hati ia merasa sangat takut.


"Huaaaa bagaimana ini?! Kami kan masih ada tugas di kelompok yang sama, kamar yang berdekatan... Bagaimana aku menghadapi nya nanti?!" batin Alin panik sekaligus takut memikirkan masa yang akan datang.


"Baiklah kalau begitu kembalilah ke kelompok mu. Kau juga harus menyelesaikan tugas yang di berikan Bu guru dengan kelompok mu."


"Baiklah, aku akan pergi ke kelompok ku sekarang. Dah..." Alin pamit pada Gion dan pergi ke meja tempat kelompoknya nya dan Gion pun kembali ke tempat kelompoknya juga.


Alin duduk di bangku di sebelah Yudian dan sementara itu Lukas duduk di seberang ujung meja, jadi ia merasa agak lega untuk beberapa saat. Tapi saat Lukas melewati tempat nya, Alin dengan sengaja menjatuhkan barang sebagai alasan bersembunyi di bawah meja untuk sementara.


Lukas berjalan melewati bangku Alin beberapa kali dan Alin juga melakukan alasannya itu untuk beberapa kali. Yudian yang duduk di sebelah Alin pun merasa bingung padanya. Saat Alin menjatuhkan barangnya yang kesekian kalinya, Yudian ikut menunduk ke bawah meja juga. Karena terkejut melihat Yudian ikut menunduk juga, tak sengaja kepala Alin terbentur meja.


...BRUK...


Alin sedikit meringis kesakitan. Yudian pun menegur nya.


"Tidak apa-apa kan?" bisik Yudian.


"aku tidak apa-apa" Jawab Alin sambil berbisik juga. Alin pun mengelus-elus kepalanya yang terasa agak sakit.


"Ayo naik dulu, kita bicarakan di atas saja" ajak Yudian. Alin pun mengangguk.


Mereka naik ke atas dan membicarakan nya dengan suara yang agak pelan. Di sisi lain Lukas hanya diam dalam dunia kutub nya, namun ia juga sesekali melirik mereka berdua.


"Jadi kau tadi kenapa?" tanya Yudian penasaran.


"tidak apa-apa, tangan ku agak licin jadi tidak sengaja menjatuhkannya berkali-kali"Jawab Alin berbohong kepada Yudian.

__ADS_1


Yudian pun percaya dan mengiyakan nya.


__ADS_2