
Sementara itu, Reyhan kini memeluk erat Lina dengan salah satu tangannya memegang lengan Lina yang sekarang memegang pisau. Lina sudah mencoba untuk memberontak beberapa kali dari pelukan itu, tapi tidak berhasil, Reyhan lebih kuat darinya.
"Lepaskan aku... Lepaskan aku pria brengsek..!" Lirih Lina yang berusaha untuk menahan amarahnya dalam pelukan Reyhan.
"Lina.. Tolong dengarkan penjelasanku dulu. Itu semua tidak seperti yang kau lihat. Aku mohon, tolong dengarkan aku dulu.." Pinta Reyhan.
"Apalagi yang perlu kau jelaskan?! Aku sudah melihat semuanya! Semua pria memang brengsek! Bahkan- Hiks.. Argh!" Bentak Lina.
...prangg...
Lina mendorong paksa Reyhan menjauh darinya dan sontak menghempaskan pisau tadi dengan keras ke lantai. Dadanya sudah terasa sangat sesak, amukannya seakan siap meledak-ledak kapan saja. Lina menatap tajam Reyhan yang ada di depannya, seperti ingin mencabik-cabik orang itu.
Tapi semakin tajam mata Lina menatapnya, maka semakin melembut pula tatapan Reyhan. Dengan perlahan Reyhan melangkah maju ke arah Lina. Setelah berhasil mendekati Lina, Reyhan kembali memeluknya. Tapi kali ini tidak ada penolakan sama sekali darinya.
"Maaf.. Maafkan aku... Mereka bukan siapa-siapa. Wanita-wanita itu hanya beberapa bangsawan yang dikirim ayah untuk menggodaku. Maaf, aku tidak tau kalau kau tidak suka aku dekat-dekat dengan mereka. Tolong beri aku kesempatan sekali saja lagi...."
"Sudahlah jangan marah lagi... Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku kalau kau hamil? Hm?" Tanya Reyhan sambil mengelus lembut kepala Lina.
"Huhuhuhuhu... Reyhan..."
Ia meluluh dan tiba bisa menahan bendungan air matanya lagi. Tangis Lina mulai terdengar saat Reyhan menjelaskan yang sebenarnya kepadanya. Dengan penuh kelembutan, Reyhan menepuk-nepuk pelan punggung Lina.
Sungguh berkat yang sungguh besar jika bisa bertemu dengan orang yang selembut Reyhan. Dia bahkan masih bersikap lembut walaupun diteriaki dan di maki dengan begitu kejam seperti itu oleh Lina.
Lina akhirnya mencoba untuk mencurahkan semua isi hatinya, sambil menderaikan air mata yang selama beberapa saat ini di tahannya di hadapan Reyhan.
"Itu semua karena aku takut kau akan membenci dan meninggalkan aku.. Huhuhu... Aku hamil di luar nikah, aku takut kau tidak akan menerima kami... huhuhu.." Tangis Lina.
"Kata siapa aku akan meninggalkan mu? Aku malah senang, sekarang akan ada seorang bayi kecil yang akan menemani kita kelak. Aku pasti akan bertanggung jawab atas kalian berdua, aku berjanji."
"Benarkah? Bagaimana kalau keluarga kalian tidak menyetujui hubungan kita?" Lirih Lina seraya mendongak dengan mata yang masih berlinang.
Tanpa di duga-duga, Reyhan mengecup bibir singkat Lina yang terlihat menggiurkan baginya. Lina sontak terkejut dan terbelalak, setelah kecupan Reyhan terlepas dari bibinya, ia kembali membenamkan wajahnya di pelukan Reyhan dengan sedikit malu.
"Cih, kalian keluarga kerajaan sejak kapan mau menikah dengan rakyat jelata seperti ku." Decak Lina sambil tersenyum gentir.
"Akan ku lakukan yang tidak pernah mereka lakukan itu. Aku bersedia meninggalkan apa yang aku punya sekarang demi kau dan calon anak kita."
Reyhan tersenyum kepada Lina sambil mengacak-acak pucuk kepalanya. Lina pun tertegun dan tenggelam dalam tatapan matanya. Setelah itu Reyhan tiba-tiba saja mengangkat dan menggendong Lina. Ia sontak terkejut dan hampir tidak sempat untuk meraih pundak Reyhan yang lebar itu.
"Ugh, pelan-pelan. Memangnya kau ingin membawa ku kemana?"
"Tentu saja ke tempatku. Memangnya kemana lagi? Apa kau ingin menyuruh Alin untuk tidur diluar?" Tanya Reyhan sambil sedikit bercanda.
"Tapi kan dia bisa ikut pangeran Lukas di sebelah. Aku tidak mau tinggal di tempatmu. Masih ada wanita-wanita itu kan?"
__ADS_1
"Alin pasti akan tersedak jika mendengar ini." Duga Reyhan.
Tanpa banyak basa-basi lagi Reyhan langsung membawa Lina pergi dari situ. Tapi Lina merasa sangat enggan tinggal di tempat Reyhan yang sebelumnya ada banyak sekali wanita penggoda di sana. Ia pun membujuk Reyhan di sepanjang perjalanan mereka.
"Reyhan.. Aku tidak ingin pergi, aku tidak suka berada di tempatmu. Biarkan aku di sini, Alin sebelumnya terluka kerena ku, aku ingin melihatnya dulu."
"Tenang saja, Lukas akan merawat Alin dengan baik. Jadi biarkan dia beristirahat di tempat nya. Untuk sampah-sampah di tempat ku, aku sudah membuang semuanya tanpa sisa." Sahut Reyhan.
Setelah mendengar hal tersebut, Lina langsung merasa lega. Mereka pun pergi ke tempat Reyhan di tengah sunyinya malam di sepanjang koridor istana.
Sedangkan Alin, kini ia sedang menikmati secangkir coklat panas yang di sajikan Lukas untuk nya di atas kasur. Tubuhnya telah di kelilingi banyak sekali selimut tebal yang melilit di sekitar.
Entah dia merasa kepanasan atau tidak. Yang pasti Alin sangat memfokuskan pikirannya pada coklat panas yang sedang di seruput nya sambil mendengarkan percakapan Reyhan dan Lina di sebelah sana.
"Tapi kan dia bisa ikut pangeran Lukas di sebelah."
"Uhuk!"
Perkataan Lina tersebut langsung membuat Alin tersentak, hingga membuat Alin tersedak minumannya. Lukas yang tadinya sedang fokus duduk membaca buku di kursi, teralih perhatiannya karena mendengar suara batuk Alin. Ia pun menoleh ke arah Alin.
"Pelan-pelan minumnya." Tegur Lukas dari kejauhan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Tapi Alin masih belum saja berhenti terbatuk-batuk setelahnya. Lukas pun beranjak dari tempatnya dan menghampiri Alin dengan sebotol air putih yang langsung muncul di tangannya.
Beberapa tegukan sudah masuk dengan baik ke dalam tenggorakan Alin, akhirnya batuk itupun kini sudah mereda.
"Uhuk! Terima kasih, Lukas."
Sudah terlihat sekali sedari tadi Lukas ingin meledakan semua omelan nya kepada Alin. Tapi karena kondisi Alin yang masih trauma tadi, membuatnya menunda sedikit. Tapi kali ini Lukas mempunyai topik baru yang bisa di pakainya untuk memulai omelannya.
"Huftt.. Kau ini kenapa tidak bisa membuat aku tidak kuatir saja. Di setiap saat, di setiap detik kau pasti akan dalam bahaya seperti ini. Bagaimana penguasa Clorian bisa selemah ini? Padahal belum lagi mengatasi phobia mu." Omel Lukas.
"Iya, iya. Maaf... " Sahut Alin sambil sedikit tertunduk merasa bersalah.
"Bahkan kau barusan malah ingin mencari dewa maut dengan menahan pisau yang di pegang oleh Lina tadi. Apa kau tau? Sedikit saja tadi terlambat kau mungkin akan mati kehabisan darah!"
"Tapikan aku masih di sini, masih hidup lagi. Lagi pula... ah.. Lukas benar, aku mungkin hampir mati tadi." Batin Alin merenung
Alin hanya bisa terdiam sambil tertunduk. Ia tidak berani bersuara sedikit pun untuk membantah perkataan Lukas. Karena setelah dipikir-pikir, perkataan Lukas ada benarnya juga. Tapi menurut Alin tindakannya juga tidaklah salah sepenuhnya.
Omelan Lukas kini mulai mereda. Ia berjalan ke salah satu meja yang penuh dengan makanan untuk mengambil sesuatu diatasnya. Selagi itu Alin menggerutu pelan dari tempatnya.
"Aku kan ingin membantu Lina, memangnya salah? Lagipula aku melakukannya untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Toh, aku tidak dengan sengaja juga meletakkan diri dalam bahaya. Salah, selalu saja salah..." Gumam Alin menggerutu dengan suara yang pelan.
__ADS_1
Tanpa Alin sadari Lukas ternyata mendengar perkataannya itu. Seketika itu juga Lukas berbalik dan menghampirinya sambil tersenyum tipis. Ia pun duduk di samping Alin sambil membaca buku dengan gaya khas coolnya.
"Tidak salah niatmu itu untuk menyelamatkan orang lain, tapi bagaimana dengan dirimu sendiri? Belum tentu juga aku bisa melindungi di setiap saat. Tapi sebenarnya ini semua adalah salahku yang tidak bisa menjagamu dengan baik." Ucap Lukas.
"Eh, aku.. Aku tidak bermaksud begitu!"
Tapi Lukas hanya meresponnya dengan senyuman dan masih fokus dengan bukunya. Alin kemudian terdiam, ia termenung memikirkan sesuatu di dalam hatinya. Hingga ia mencoba untuk memberanikan diri mengatakan isi pikirannya tersebut.
"Terkadang aku bingung, Kenapa ucapan mu itu terasa selalu berbeda dengan apa yang sedang aku pikirkan." Gumam Alin sambil mengacak-acak jari-jarinya dengan gelisah.
"Memangnya apa yang kau pikirkan tentang ku?" Tanya Lukas yang langsung menutup bukunya dan menatap Alin dengan lekat.
Alin kembali terdiam. Mulutnya terasa terkantup dengan rapat, seakan masih takut untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Kembali, Alin memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Tolong jawab pertanyaan ku! Kau sebenarnya kenapa seperti memberikan perhatian lebih untuk ku? Kau selalu saja mengatakan kalau itu semua oleh karena misi. Tapi... Kenapa rasanya kau memberikan semuanya seperti lebih dari kata misi?"
Untuk beberapa saat Lukas terdiam, ia mengangkat sedikit alisnya kebingungan. Alin kemudian merasa kalau keberanian nya mulai pupus. Rasa canggung seketika langsung terasa menghantui di sekitaran mereka.
"Ah.. Benar... Maafkan aku. Kau hanya melakukan ini hanya karena titah master dan status kakek ku. Sudahlah, tidak usah di pikirkan lagi. Hehehe... Iya, begitu.."
"ARGHHHH!! Apa yang aku lakukan?! Aku pasti sedang di rasuki setan sekarang!" Batin Alin meronta-ronta frustasi.
Lukas yang tadinya masih memegang bukunya, kini tiba-tiba di depannya dan mendorong Alin kebelakang hingga terjatuh tepat di atas kasur. Ia menyudutkan Alin di sana.
Mata keduanya bertemu satu sama lain. Alin nampak terkejut dengan itu, yang di lihatnya sekarang hanyalah mata Lukas yang terlihat berkilau dengan pesonanya. Pria itu tersenyum tipis sambil menatap matanya dengan lekat.
"Kenapa kau menyimpulkan nya dengan begitu saja? Apa kau yakin itu akurat? Belum tentu ucapan ku itu sejalur dengan hatiku. Tapi kau sudah tau apa yang aku pikirkan dengan begitu saja? " Ucap Lukas yang kini menindih Alin di bawahnya.
"Eh, ehmm..A-aku.. Maaf, aku tidak bermaksud."
...Deg Deg Deg...
Detak jantung keduanya langsung berdetak tak karuan lagi. Muka keduanya pun mulai memerah, seperti orang yang malu saat jatuh cinta pada umumnya, tapi hanya Alin saja yang memalingkan wajahnya. Sedangkan Lukas masih lekat menatap Alin.
"Lain kali, saat pertanyaan ini kembali kau tanyakan padaku, jawabannya tidak akan sama lagi. Aku berjanji. Berilah aku sedikit kesempatan lagi."
"AHHHHHH! JANTUNG OH JANTUNG MASIH AMAN KAH?! BERTAHANLAH SEBENTAR LAGI!!!" batin Alin frustasi.
"Oh astaga...! Kesurupan apalagi aku kali ini? Jangan-jangan kerasukan separuh roh Kael." Batin Lukas.
Setelah mengatakan kalimat itu Lukas langsung bangkit dari atas Alin. Belum cukup sampai di situ saja, Lukas masih sempat-sempatnya mengacak-acak rambut Alin. Sementara itu Alin hanya bisa tercengang dengan yang barusan terjadi.
"Istirahat saja di sini dulu. Besok aku akan menyuruh pelayan untuk membersihkan kamarmu terlebih dahulu." Ucap Lukas dengan sedikit dingin.
Dengan sekejap saja, perilakunya sudah berubah menjadi 150 derajat dari sudut lingkaran. Lukas nampak sedikit aneh. Ia nampak tergesa-gesa untuk segera pergi menjauh.
__ADS_1
Sesampainya di sofa, cepat-cepat Lukas menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan menyesali akan yang telah di lakukannya sebelumnya. Begitupun dengan Alin, di balik selimutnya ia terlihat kegirangan dan sedang senyum-senyum sendiri di sana. Hingga keduanya pun terlelap pada larut malam.