Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 83 Memori berharga


__ADS_3

1 Minggu lagi telah berlalu, masih belum ada kemajuan juga. Malam ini adalah dimana detik-detik kematian atau keajaiban akan datang untuk Alin. Di ruangan penyembuhan khusus istana, sudah ada Lukas, Kael, Olivia, Reyhan, Lina, Gion, Deon Li bahkan Viko pun sudah ada di sana untuk menunggu Alin.


Terlihatlah suasana di sana yang terlihat sangat menyedihkan di sana. Semuanya hanya bisa menunggu dan mengalirkan air mata. Lina juga benar-benar terpukul, ia terus saja menangis dan di tenangkan oleh Reyhan yang ada di sampingnya.


Lukas juga tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa duduk sisi Alin seraya menggenggam tangannya dengan erat dengan kepala yang terus saja ia tundukkan. Seperti biasa, ia menyembunyikan air mata nya di balik rambut yang lebat itu. Kael dan Olivia pun terlihat sedang memantau keadaan Alin yang terus saja menurun melalui tali kehidupan yang ada di tangan Kael sekarang.


Diwaktu yang bersamaan, di saat Alin sedang di ambang kematian, ia memimpikan sesuatu. Dengan keadaan yang masih belum sadar, ia memimpikan sesuatu yang aneh, mimpi yang terlihat seperti sebuah memori dari seseorang. Mimpi itu menunjukan kalau ia sekarang berada di tubuh seorang gadis kecil yang sedang di eksekusi oleh para orang dewasa bersama dengan satu gadis kecil yang lainnya.


"Ini... apa ini, Apa yang mereka lakukan?! Kenapa gadis kecil itu menangis?!"


"Berhenti! Berhenti! Apa yang kalian lakukan?!"


Itulah yang ingin Alin pertanyakan sekarang. Namun saat ia berbicara dan berteriak, suaranya tidak terdengar dan tenggelam dengan begitu saja di tengah keramaian itu. Tapi Alin tidak akan menyerah dengan secepat itu, ia tetap mencoba untuk berteriak dan memberontak dari tali sihir yang sedang melilit tubuh gadis kecil yang ada pada dirinya itu.


"Lepaskan aku! Lepaskan! Ugh, hei kau! Berteriak lah juga jika ingin selamat!" Teriak Alin pada gadis kecil yang ada di hadapannya.


Tapi gadis itu tidaklah merespon Alin, ia hanya meringkuk sambil menangis dan tidak berbuat apa-apa. Sementara itu, Alin terus saja memberontak dan berteriak, tapi hasilnya sangatlah nihil. Ia sekarang sangatlah kelelahan karena terus berteriak. Nafas yang terengah-engah sudah menyelimutinya, namun gadis yang ada di depannya tetap diam di tempat tanpa melakukan apapun.


"Hei kau! Ayolah... Berteriak lah untuk kita. Aku sudah lelah..." Ucap Alin yang sudah terengah-engah.

__ADS_1


Saat mendengar itu gadis itu langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah dengan tatapan yang kosong dan mengerikan, tentu saja Alin sangat ketakutan pada saat itu.


"WHEEE, SETANNN!" Pekik Alin yang ketakutan.


"Clorian ataukah Alin, siapa dirimu? Olivia ataukah Lukas, siapa yang akan menyelamatkan mu?" Ucap gadis itu.


Perlahan gadis itu berubah menjadi sesosok yang menyeramkan, seperti sosok iblis yang menggunakan baju berwarna hitam. Suasana yang tadinya Alin liat kini berubah menjadi tempat yang terlihat hitam dan hampa. 2 jalanan setapak muncul dan terlihatlah pintu di ujung di kedua jalan setapak tersebut. Sesosok iblis tadi berdiri tepat di tengah-tengah kedua jalan yang berisikan nama Clorian dan Alin di atasnya.


Beribu-ribu memori dari kedua orang itu berterbangan mengelilingi Alin. Alin tentu saja kebingungan, sakit kepala yang dahsyat terasa menghantam kepalanya. Memori di kepala nya pun sudah tak karuan lagi. Sosok iblis yang ada di depannya sekarang, menanyakan pertanyaan yang sama lagi kepada Alin.


"Clorian ataukah Alin, siapa dirimu? Olivia ataukah Lukas, siapa yang akan menyelamatkan mu?"


"Aku... aku... aku siapa? Siapa aku?" Gumam Alin yang tak tau siapa dirinya sekarang.


"Aku, aku... Aku adalah... Clo..."


Saat Alin sudah ingin menjawab pertanyaan dari sosok iblis itu, perasaan Alin memberontak dan menolak perkataannya. Kemudian perasaan itu memberikan sebuah rasa kenyamanan yang ia rindukan di hatinya, rasa cinta yang ia dambakan, rasa kebersamaan Alin bersama Alin dengan teman-temannya dan memori miliknya perlahan kembali.


Alin pun kini sadar dan ingat akan dirinya sendiri. Dengan kepercayaan diri yang telah meningkat, Alin menjawabnya.

__ADS_1


"Aku, aku bukanlah Clorian! Aku Alin, Aku Jiu xiao Alin! Cucu dari Lio Jun Yeo! Aku, aku... Orang yang akan menyelamatkan ku ialah Lukas Pranatha!" Seru Alin dengan Sura yang nyaring.


Ruangan itu menggema dengan nyaring, sehingga suara tersebut masuk ke telinga Alin juga. Sesosok iblis tersebut tersenyum saat mendengar keputusan Alin. Ia lebih memilih menjadi dirinya sendiri daripada menjadi diri orang lain yang mempunyai kekuatan yang sangat kuat. Sosok itu tersenyum, lalu berkata.


"Apa kau yakin ingin menjadi dirimu sendiri yang lemah itu? Tidakkah kau ingin menjadi kuat?" Tanya Sosok iblis tersebut, sekali lagi.


"Aku memang ingin menjadi orang kuat, tapi bukan berarti aku ingin menjadi diri dari seseorang. Memori ku sangatlah penting bagiku, ia telah menyimpan segala kenangan-kenangan yang telah aku lalui selama hidupku. Jadi... aku ingin menjadi kuat melalui usahaku sendiri." Jawab Alin.


"Walaupun kenangan pahit sekalipun? Bagaiman jika itu kenangan kematian? kenangan penderitaan? kenangan kegagalan yang akan kau hadapi kedepannya?"


"Hei, Kau! Asal kau tau, seburuk apapun kenangan itu, ia tetaplah kenangan. Dan suatu tragedi yang buruk pun tidaklah selalu buruk, ia pasti akan berbuah manis pada waktunya." Sahut Alin lagi.


"Humppt... Tentukan pilihanmu dan pikirkan sekali lagi. Apa kau menjadi dirimu sendiri yang lemah itu, atau kau ingin menjadi diri dari sorang pendekar iblis yang kuat ini?" Tanya iblis itu untuk yang terakhir kalinya.


"Keputusan ku sudah bulat sejak tadi, aku akan tetap menjadi diriku sendiri!" Tegas Alin dengan tanpa ragu lagi.


"Aku memang tidak salah pilih orang, kau memanglah hebat. Cepat pergi dan capai lah pintu yang ada di sana, jalanan setapak dari pintu mu akan menghilang segera."


"Eih! Kenapa tidak bilang dari tadi!" Gerutu Alin yang segera berlari ke arah jalan setapak yang ada namanya.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga Alin berlari dan berlari, tapi jalanan yang ia lalui terasa sangatlah jauh untuk mencapai pintu di ujungnya. Jalanan yang ada di belakang Alin perlahan menghilang, yang menandakan kalau dia sedang diambang kematian. Tapi Alin tidak menyerah, ia tetaplah berjuang.


"Tidak bisa! Alin, kau harus bisa membuka pintu yang ada di sana! Lukas dan teman-temanmu sedang menunggu sekarang! Semuanya, tolong berilah aku harapan! "


__ADS_2