
Alin dan Gion kembali berjalan setelah Alin mengobati tangannya. Mereka berjalan dan akhirnya mereka tiba di gubuk yang Alin tinggali saat ia masih tinggal di dunia manusia. Mereka masuk ke dalam dan beristirahat sejenak di dalam.
"Apa masih jauh?" tanya Gion mulai melemas kerena kelelahan.
"Hmm...Tidak juga. Kita istirahat saja dulu." Alin menyodorkan segelas air untuk Gion.
"Apa ini rumah milik Master ketua Lio?"
"Tidak, ini hanya sebuah gubuk biasa untuk kami beristirahat dulunya."
"owh... Apa kau tinggal di sini sebelumnya?" Tanya Gion lagi sambil melihat-lihat ruangan itu.
"Eh, darimana kau tau?" Tanya Alin tidak menyangka.
"Bukannya sudah jelas. Ada banyak barang-barang milik wanita di sini."
Alin melihat sekeliling dan Yup yang Gion katakan benar. Saat Alin mulai pindah ke dunia sihir ia tidak membawa semua barangnya dan meninggalkan beberapa di sini.
"hm.." gumam Alin.
"Bagaiman itu bisa terjadi?" tanya Gion penasaran.
"Ceritanya panjang, kau tau perlu tau itu. Itu... tidaklah penting" Sahut Alin sambil tersenyum.
Gion pun terdiam dan fokus meminum air yang ada di tangannya. Suasana nya menjadi hening, mereka hanya diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Lagi dan lagi... Aku harus menyembunyikan dan mengatasi nya sendiri seperti dulu. Tak ada yang berubah."
"Aku memang tidak tau apa yang terjadi padanya. Tapi aku merasa dia tidak sedang baik-baik saja. Entah sudah berapa rintangan yang dia lalui sendirian." Batin Gion menebak.
Hingga, keheningan itu pecah saat Lukas ikut masuk ke dalam gubuk dengan tiba-tiba. Saat Lukas masuk, ia melihat Gion dan Alin tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Namun mereka sadar akan kedatangan Lukas dan menoleh ke arahnya.
"Ke-Kenapa kau... bisa tau... kami di sini" tanya Alin terbata-bata.
"Memangnya kenapa? Lalu kenapa kau tidak memberi tahuku kalau kalian akan pergi?!" Tanya Lukas balik.
"Anu... itu... err... Gion yang mengajak ku!" Alin kini melempar kesalahan nya itu pada Gion.
"Hah? Apa?! Aku?!" Tanya Gion tidak tau apa-apa.
"Jangan melempar kesalahan mu sendiri pada orang lain! Kau akan ku hukum nanti nya saat kita pulang ke dunia sihir."
__ADS_1
"Apa?! Oh, maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulangi nya lagi... Lukas jangan hukum aku... " Rayu Alin pada Lukas.
Namun Lukas hanya diam tak menghiraukan Alin. Alin kini berpindah ke samping Gion, berharap Gion mau membujuk Lukas.
"Gion... Tolong aku... Lukas ingin menghukum ku.." Pinta Alin dengan ekspresi yang memelas.
"Maaf, tapi ini salahmu sendiri... Kali ini, aku tidak bisa membantu mu." Sahut Gion.
"Jahat sekali kalian berdua" Ucap Alin sambil pura-pura menangis.
Namun mereka berdua hanya diam tak menanggapi. Alin pun pasrah, ia merebahkan diri lantai dan dengan keras ia membenturkan kepalanya.
Ia menatap langit-langit gubuknya. Alin ingat saat pertama kali ia masuk ke sini, kumuh, berantakan, kecil... Namun sekarang berbeda, dia bukan lagi Alin yang bisa ditindas dengan begitu saja. Ia sekarang mempunyai banyak sekali teman yang melindungi nya.
Beberapa jam sebelum belum mereka berangkat, mereka memutuskan untuk tidur dan memulihkan energi mereka. 2 jam telah berlalu, mereka beranjak dari tempatnya dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Alin keluar lebih dulu dan di susul oleh Lukas dan Gion. Mereka kembali berjalan dan pergi ke rumah Alin sambil mengobrol.
"Oh, iya. Kita akan pulang nanti sore kan?" Tanya Alin.
"seb..." Belum selesai Gion bicara Lukas sudah menyelanya.
"Aku sudah meminta pengawal ku untuk menyampaikan surat ketidakhadiran kita bertiga untuk beberapa hari."
"hm"
"Tapi apa tidak apa-apa kita melewatkan pelajaran dari academy" Tanya Alin.
"Tidak apa-apa, kita bisa ikut pelajaran privat di istana untuk mengejar ketertinggalannya kita" Jawab Gion.
"owh"
Mereka terus saja mengobrol dalam perjalanannya. Tak terasa kini mereka sudah sampai di rumah nya Alin. Mereka bertiga sudah berdiri di depan rumah nya.
Gion dan Lukas mundur dan hanya memperhatikan nya dari jauh. Alin ingin mengetuk pintunya, namun di sisi lain ia takut untuk mengetuk pintu. Dengan terpaksa Alin maju beberapa langkah ke depan dan mulai mengetuknya dengan sedikit gemetaran.
...tok tok tok...
Beberapa menit kemudian pintu nya terbuka. Nim Lan membukakan pintu nya. Saat ia melihat Alin, ia hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Ada apa?" Tanyanya ketus.
__ADS_1
"Apa ibu dan nenek ada?"
"Heh! Nenek?! Nenek sudah meninggal dari 1 bulan yang lalu." Jawabnya dengan nada yang masih ketus.
"A-apa? nenek... sudah meninggal?"
"Yup, benar sekali"
Tiba-tiba ada suara langkah kaki seseorang dari dalam rumah menuju ke arah mereka. Itu adalah ibunya Alin, dia terlihat masih membenci Alin. Namun Alin berusaha untuk menjadi orang yang kuat, dia menyapa ibunya dengan lembut.
"Ibu... Alin datang kemari untuk berkunjung. Apa kabar ibu baik?" tanya Alin dengan sopan.
"Kalau kau punya mata tidak usah di tanya lagi!" Bentaknya.
"oh, hm.. iya"
Di sisi lain, Gion dan Lukas sedang memperhatikan mereka dari jauh. Mereka melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi di sana. Gion merasakan sesuatu yang aneh dari ibunya Alin, aura penyihir dunia sihir merah yang sangat pekat.
"Hei, Lukas" panggil Gion.
"Apa?"
"Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh? Aku merasakan ada aura penyihir dunia sihir merah dari ibunya Alin."
"Sudah tau"
"Eh? Kenapa kau tidak mengatakan nya pada ku?!" Gion mulai kesal pada Lukas, ia pun memukulnya dengan pelan.
"Kau tidak bertanya pada ku!" Sahut Lukas dingin.
"Haduhhh... Apa dia benar-benar adik ku? Dia bahkan berkata dingin pada kakaknya sendiri"
Alin, Nim Lan dan ibu Alin masuk ke dalam rumahnya. Saat Gion melihat mereka masuk ke dalam, ia bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Hei, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Gion.
"Memangnya apa lagi?"
Lukas berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Gion. Gion pun menoleh ke arah Lukas dan ia pun kebingungan. Akhirnya Gion pun memutuskan untuk mengikuti Lukas dan merencanakan hal selanjutnya nanti.
"Hei! Presdir Lukas! sekarang kemana kita akan pergi?!" Teriak Gion dari kejauhan sambil mengikuti Lukas di belakang.
__ADS_1
"Vila" sahutnya singkat.
Walaupun suara Lukas tidak terlalu nyaring saat berbicara tadi, namun itu sudah cukup untuk Gion dengar. Dengan cepat Gion berlari berusaha untuk menyusul Lukas ke depan. Mereka pun pulang ke Vila mereka untuk beristirahat dan sementara itu Alin juga ada di rumah nya sendiri untuk beristirahat.