
Tidak lama setelah itu Yiu Ora datang dan menghampiri mereka bertiga bersama dengan anak sulungnya, Yiu Han. Anak laki-laki itu terlihat sangat formal dan sopan, tampaknya pun seperti seumuran dengan Yura yang baru saja berumur 8 tahunan.
Setelah menyadari akan kedatangan Ora dan Han, mereka berhenti sejenak dan membiarkan mereka menyapanya. Dengan posisi Alin dan Yura yang masih bergelantungan di pohon dan dengan Lukas yang masih di bawah, Ora dan anak laki-laki nya itu menghampiri dan menyapa mereka.
"Pangeran, putri. Perkenalkan, ini anak sulung ku Yiu Han. Han, ini pangeran dan putri dari istana, beri mereka salam." Ucap Ora kepada Han yang terlihat sedikit menunduk di belakangnya.
"Salam untuk pangeran dan putri." Ucap Han dengan sopan.
Yura memanglah anak yang mudah bergaul, ketika Han memberi salam untuk mereka ia langsung menyapa Han yang masih berada di bawah. Alin tidak mau kalah, ia juga memberi salam kepada Han. Karena Yura dan Alin sudah terlanjur menyapa mereka terlebih dahulu, Lukas pun memberi salam kepada mereka juga.
"Halo Han, aku Yura... Salam kenal." Sapa Yura.
"Halo Han, nama kakak, Alin. Salam kenal ya..."
"Ehm... Salam untuk paman Yiu dan adik Han." Sapa Lukas yang masih terlihat sangat canggung.
"Hahaha.. pangeran anda tidak perlu bersikap canggung seperti itu. Saya akan pergi melanjutkan pekerjaan saya sekarang, Han akan menemani kalian di sini. Permisi..." Ucap Ora yang langsung pergi dan meninggalkan mereka.
Suasana menjadi canggung di pandangan Han, dia adalah anak yang pendiam dan jarang bergaul, jadi ia merasa kalau tidak percaya diri untuk memulai percakapan di antara mereka. Yura yang melihat itu menjadi tidak tega, ia berniat untuk turun dan bermain dengan Han di bawah.
"Kakak! Tangkap aku!" Teriak Yura.
Yura melompat ke bawah dengan tiba-tiba, sehingga membuat Lukas terkejut. Untungnya Lukas dengan sigap menangkap Yura dan menurunkan nya ke bawah dengan aman.
"Tidak bisakah kau pelan-pelan sedikit?!" Omel Lukas.
"Hehehe... maaf, tidak akan aku ulangi lagi. Janji!" Sahut Yura yang langsung berlari menjauh dari Lukas yang akan meledak omelan nya.
Yura berlari ke arah Han dan menarik tangannya untuk pergi dari situ untuk bermain di ladang yang lebih luas. Han terlihat senang dan terlihat gembira saat bersama dengan Yura pada saat itu.
Sementara itu Alin yang masih berada di pohon hanya terdiam dan menunggu nasib nya yang tidak di tawarkan untuk di tolongi turun ke bawah. Sedangkan Lukas, ia hanya menunggu di bawah, menunggu Alin untuk meminta bantuan dari nya.
Alin masih saja terdiam di atas pohon sambil memikirkan cara untuk turun dari atas pohon. Beberapa menit telah berlalu namun tidak ada satu pun cara di otaknya, hingga akhirnya dia menyerah dan meminta tolong kepada Lukas yang masih bersandar di pohon itu.
"Lukas..." Rengek Alin.
__ADS_1
"Apa?"
"Turunkan aku... Aku tidak bisa turun..." Jelasnya.
"Kalau bisa naik, kenapa tidak bisa turun?" Tanya Lukas yang berbasa-basi agar membuat Alin kesal.
"Alah... Bantu aku turun...!" Pinta Alin lagi yang sudah mulai kesal.
"Haruskah?"
"Harus!" Seru Alin.
"Hehehe... Ayo lompat, aku akan menangkap mu seperti aku menangkap Yura tadi."
"Melompat? Melompat kebawah?!"
"Hm..."
"Ehm... tidak, tidak. Tidak jadi. Yura lebih ringan dari ku, kau tidak akan mampu menahan beratku ini." Ucap Alin yang masih meremehkan Lukas yang ia kira tidak bisa menangkapnya.
Tapi Alin tetap tidak mau, ia takut terjatuh nanti jika Lukas tidak sempat menangkapnya. Alin kemudian berpikir lagi dan mencoba untuk mencari cara lain untuk turun. Hingga satu cara melintas di otaknya.
"Tidak jadi, aku bisa turun sendiri!" Tolak Alin.
"Baiklah, bagaimana kau akan turun sekarang? Pohon ini sangat tinggi, pohon ini memiliki tinggi sekitar 3-4 meter. Jika salah langkah kau mungkin akan terjatuh dan berakhir dengan luka berat."
"Aku bisa membuat tangga menggunakan sihir ku. Kau tenang saja."
"Okelah, itu cukup efektif untuk mengasah kemampuan sihirmu." Sahut Lukas yang menunggu Alin di bawah.
Sebelum membuat tangga, Alin mengambil ancang-ancang untuk mencari tempat yang nyaman untuknya mengaktifkan mantra sihir. Alin berdiri di salah satu cabang pohon dan berpegangan pada batang pohonnya. Ia mengambil tongkat sihir dan mengangkatnya, lalu menggumamkan suatu mantra.
Cahaya putih mulai keluar dari tongkat sihir Alin dan setelah semua cahaya itu terkumpul, Alin mengarahkan tongkat tersebut ke batang pohon yang ia pegangi sekarang. Seketika itu juga tangga sihir milik Alin mulai terbentuk. Alin sangat senang akan hasil dari pembelajaran nya sebelumnya. Lukas pun cukup merasa kagum akan perkembangan Alin.
"Lihatlah! Aku berhasil, bukan? Hebat kan?" Tanya Alin yang terlihat senang.
__ADS_1
"Iya, kau hebat. Ayo turun."
Alin yang ingin turun, melihat kebawah lagi untuk memastikan kalau tangga nya itu cukup kokoh untuk ia gunakan. Tapi saat melihat kebawah dengan baik-baik, Alin berubah pikiran. Ia merasa takut untuk takut, permukaan tanah sangatlah jauh dari pandangannya sekarang, sehingga Alin menjadi tidak berani untuk turun lagi.
Alin yang ketakutan memejamkan matanya dan mencengkram erat batang pohon itu. Ia sama sekali tidak berbicara lagi dan hanya terdiam berdiri di salah satu cabang pohon. Lukas yang melihat itu menjadi heran dan ia menegurnya.
"Ada apa? Ayo turun."
"Tinggi sekaliiiiii... Tidak bisakah kau menggunakan mantra perpindahan mu untuk memindahkan ku ke kebawah sekarang?" Tanya Alin.
"Kalau kau mau terbanting oleh mantra ku itu, boleh saja. Kau punya dua pilihan untuk turun. Kau mau pertimbangkan tawaran ku tadi atau kau mau aku turunkan tapi mungkin saja terbanting, bagaimana?"
"Wehhhhh, ini bukannya saat untuk ujian memilihh!! Ini sedang di ambang kejatuhan dari pohonnn!" Omel Alin yang sudah terlihat agak panik.
"Maka cepatlah pilih, atau kau akan terjatuh nanti nya."
"Aku, aku, aku turun sendiri sajaaaa!, tapi, tapi kalau aku terjatuh tolong tangkap aku..." Pinta Alin.
"Percayalah padaku."
Dengan keadaan yang gemetaran, Alin dengan perlahan menuruni batang-batang tangga sihirnya. Baru saja Alin melangkahi 3 batang tangga, keseimbangan nya sudah mulai tidak stabil. Dan pada batang tangga yang ke 5, Alin terpeleset dan terjatuh ke bawah sambil berteriak.
"WHAAAA!!! LUKAS, TOLONG!!!" Teriak Alin yang terjatuh.
Lukas yang berada di bawah sedari tadi, sudah siap dan dengan sigap ia menangkap Alin yang ingin terjatuh itu.
...Grappp...
Sekarang Alin sudah berada di pelukan Lukas yang telah menangkap nya dan ia telah aman sekarang. Alin yang merasa ketakutan tadi, masih saja memejamkan matanya sampai Lukas menyuruh nya untuk membuka mata.
"Buka matamu sekarang, tuan putri. Apa kau mau memejamkan matamu sampai nanti malam?"
"Apa aku terjatuh? Apa... kau berhasil menangkap ku?" Tanya Alin yang masih memejamkan matanya.
"Kalau kau jatuh, kau mungkin saja akan merasakan sakit di tubuhmu. Dan jika aku tidak menangkap mu, maka kau tidak akan merasakan lenganku berada di tengkuk mu sekarang. Buka matamu sekarang atau aku akan menjatuhkan mu." Jawab Lukas panjang lebar.
__ADS_1
Setelah mendengar itu, dengan perlahan Alin membuka matanya. Saat Alin sudah membuka matanya, ia langsung di sogohkan dengan wajah tampan seorang pangeran dengan jarak yang begitu dekat dari wajahnya. Wajahnya menjadi memerah dan sekarang matanya terpaku pada mata Lukas yang menatapnya dengan heran.