
*Malam harinya, Istana Dunia sihir putih
Alin masuk ke dalam kamarnya, ia membersihkan tubuhnya dan setelah itu ia mengambil bukunya. Tes akan dilaksanakan dalam beberapa lagi, Alin tidak bisa menunda pelajaran lagi nya hanya untuk istirahat. Alin belajar dengan giat di dalam kamar, memang benar ia sudah sedikit menguasai mantra perpindahan barang tapi ia ingin tau lebih tentang mantra itu.
Di sisi lain Lukas dan Viko bersiap-siap untuk mengunjungi Alin di kamarnya. Setelah selesai bersiap-siap mereka langsung menuju kamarnya, lagi dan lagi seperti biasa Lukas membuka kamar Alin tanpa mengetuk. Sangat sulit untuk menghapus kebiasaan Lukas yang berkepala es. Dan tentu saja seperti biasa Alin selalu lupa mengunci kamarnya, ia pun terkejut seperti biasanya.
"Ketuk dulu sebelum masuk!" bentak Alin marah.
"Pintu nya tidak di kunci" Sahut Lukas santai, Lagi dan lagi itulah alasannya.
"Grerrr... Selalu saja begini. Dia selalu saja masuk tanpa mengetuk dan selalu saja aku lupa mengunci pintu" batin Alin menggerutu kesal.
Mereka pun duduk di lantai di dekat Alin. Alin tidak menghiraukan mereka berdua dan lanjut belajar dengan serius. Lukas hanya menatap Alin dengan tatapan dingin. Karena merasa tidak nyaman di tatap oleh Lukas, Alin pun menegurnya.
"Kenapa?!" Tanya Alin masih kesal dan menanyakan sebab Lukas menatap nya terus menerus.
"Milikmu" jawab Lukas singkat.
"Apaan?" tanya Alin masih tidak mengerti.
"Apa kau akan menyuruh ku untuk menjadi pengasuh hewan lagi?!" tanya Lukas sedikit kesal.
Alin kemudian mengerti dan pandangan nya beralih pada Viko. Saat ia melihat Viko, ia terlihat imut dan jinak. Ia duduk diam di pangkuan Lukas. Entah bagaimana Lukas membuat jinak dalam waktu 1 malam.
"Bagaimana caramu menjinakkan Viko dalam 1 malam?" tanya Alin penasaran.
"Tidak perlu tau" Jawab Lukas dingin.
"Baiklah. Kemari Viko..."
"GRERRRR" Gerutu Viko lagi saat melihat Alin ingin menyentuh nya. Viko seketika terlihat liar lagi seperti kemarin.
"Bersikap baik lah, jika kau tidak ingin aku musnah kan" Ancam Lukas dengan nada yang dingin pada Viko.
Seketika Viko terlihat ketakutan dan meloncat ke pelukan Alin. Ia juga kembali terlihat imut seperti tadi, Alin tentu saja bingung.
"Apa kau bisa bersikap sedikit lebih lembut? Ya, setidaknya pada hewan lucu seperti Viko ini. Lihatlah dia imut kan? " Rengek Alin sambil menyodor-nyodorkan Viko.
"Ya ya terserah" Sahut Lukas kesal karena di desak.
Gion dan Reyhan pergi ke kamar Alin juga untuk menyerahkan buku tentang materi-materi tadi. Namun mereka berbeda dengan Lukas, mereka mengetuk pintu dulu sebelum masuk.
__ADS_1
...Tok tok tok...
"Masuk" sahut Alin.
Gion dan Reyhan masuk ke kamarnya Alin. Saat mereka masuk mereka sedikit terkejut saat melihat Lukas ada di kamar Alin. Biasanya Lukas tidak pernah mau ke kamar orang lain selain kamarnya.
"Weh? ada Lukas ternyata" gumam Reyhan.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Gion sembari duduk.
"Tidak ada" Jawab Lukas dingin, lalu pergi dari kamar Alin.
Mereka pun duduk di lantai di dekat Alin. Mereka mengeluarkan beberapa buku dari tas mereka dan membahas tentang pelajaran tadi siang. Beberapa menit kemudian mereka mulai mengobrol dan yang paling heboh adalah Reyhan.
"Oh iya, tadi kenapa Lukas ada di sini?" tanya Reyhan penasaran.
"Eh, Ti-tidak ada kok" Jawab Alin mulai gugup.
"bohong...pasti ada sesuatu yang lain kan" Sahut Reyhan menebak sembarangan.
"Ti-tidak" Jawab Alin masih menyangkal.
"hehehehe...Terserah lah" Jawab Alin pasrah.
"Ayo Alin, Cepat beritahu kami!" Pinta Reyhan masih belum menyerah.
"Tapikan aku sudah berjanji pada Lukas untuk tidak memberitahu siapapun" batin Alin kelabakan.
Gion pun berpikir sejenak untuk memikirkan siasat agar Alin ingin mengakui nya. Gion terus berpikir keras, hingga perhatian nya tertuju pada Glom yang ada di belakangnya Alin. Seketika sebuah ide melintas di kepalanya. Iya mendekati Reyhan dan membisikkan nya sesuatu.
"Coba kau tanyakan Glom itu pada Alin" Bisik Gion jahil memberi sebuah ide pada Reyhan.
Seketika otak kedua Reyhan yang bersifat jahil keluar. Reyhan kemudian mengambil ancang-ancang untuk memulai rencana mereka.
"Alin" panggil Reyhan memulai rencana nya.
"kenapa?"
"Glom itu sangat imut, itu milik siapa?"
"oh ini milikku, namanya Viko"
__ADS_1
"Halo Viko" sapa keduanya dengan ramah. Viko pun menjawab sapaan mereka dengan tatapan yang sangat imut.
"Darimana kau mendapatkan nya?" tanya Reyhan lagi.
"Lukas yang memberikan nya pada ku. Pada malam festival bulan kemarin." Jawab Alin polos dan akhirnya ia masuk kedalam jebakan mereka.
Tanpa ia sadari, ia masuk ke dalam jebakan mereka berdua yang cukup berbelit-belit. Mereka bersorak-sorai merasa menang dalam perdebatan panjang mereka.
"HUHUI... HAHAHAHA" seru mereka gembira sambil melompat-lompat.
"hahaha...benarkan Gion? Ternyata Alin dan Lukas pacaran" kekeh Reyhan merasa menang.
"Hehehe... Alin, seharusnya kamu tidak perlu menyembunyikan hubungan kalian berdua seperti ini" tambah Gion.
Seketika muka Alin terasa panas dan memerah. Entah kenapa Alin merasa malu saat dikatai pacaran dengan Lukas. Ia hanya membuat sebuah kesepakatan dengan Lukas, bahwa ia akan menemani Lukas setiap tahunnya pada malam festival bulan.
"EHHHH TIDAKKK!, HUAAA AKU TIDAK ADA HUBUNGAN APA-APA DENGAN KEPALA ES" Teriak Alin kesal menyangkal semua dugaan mereka.
Mereka berdua malah tertawa sejadi-jadinya saat melihat ekspresi dan tingkah Alin yang terlihat sangat malu. Beberapa lama kemudian mereka berhenti tertawa karena kelelahan. Saat mereka berhenti tertawa, Alin sudah sangat kesal pada mereka berdua. Ia duduk membelakangi Reyhan dan Gion dengan tangan di depan dada dan dengan muka cemberut nya yang memerah.
"Haduehhhh... Perutku sakit sekali...BHAHAHAH" Bahak Reyhan masih tidak bisa mengontrol diri.
"Sudahlah Reyhan...Kami hanya bercanda Alin" Ucap Gion sudah mulai berhenti tertawa.
"Terserah!" Sahut Alin masih kesal.
"Baiklah ayo kita lanjutkan lagi" ajak Gion seraya membuka buku yang ada di hadapannya.
"Be-Besok, Besok saja kita lanjutkan" Sahut Alin seraya mendorong mereka keluar dari kamarnya.
"oh oke" Jawab kedua bersamaan.
Alin kemudian menutup pintu kamarnya segera. Entah kenapa ia merasa sangat malu dan muka nya terasa panas. Ia melihat cermin dan terkejut dengan mukanya yang memerah.
"Hueng? kenapa muka ku memerah?" gumam Alin saat melihat pantulan nya di cermin.
Alin membereskan buku-buku mereka tadi dan duduk kembali di meja rias dan melihat wajahnya yang kembali seperti semula. Alin teringat akan Viko yang belum makan jadi ia memberi makan Viko sebelum tidur.
"Viko...Ayo kemari" panggil Alin seraya menuangkan makanan Viko ke piring.
Viko memakan makanan nya dengan sangat lahap. Setelah Viko selesai makan, Alin pun tidur di atas kasur dan Viko juga tidur tepat di sebelahnya.
__ADS_1