
Hari terus berganti, kini sudah 1 Minggu sejak sadarnya Lukas, Alin belum saja menunjukan kemajuan. Ia masih saja belum sadar dan itu semakin membuat Deon Li kuatir. Deon Li memutuskan untuk pergi ke ruangan Alin dan mengecek proses penyembuhan Alin secara langsung.
Saat Deon Li masuk ke tempat itu, sudah ada Lukas di sana. Ia duduk di kursi yang ada di samping sambil memegang buku yang tidak terbaca-baca olehnya, ia terus saja menatap Alin tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya. Kael dan Olivia yang melihat kedatangan Deon Li, langsung menyambut nya.
"Salam sejahtera untuk master ketua, Deon Li."
"Bagaimana dengan Keadaan Alin? Belum ada kemajuan?" Tanya Deon Li.
Mereka berdua hanya menggeleng, tidak bisa berkata-kata lagi. Jika Alin tidak sadar juga untuk 1 Minggu kedepan, maka tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain mengikhlaskan kepergian Alin untuk selama-lamanya. Bahkan Deon Li pun tidak bisa berbuat apa-apa juga.
Deon Li merasa aneh dengan kebiasaan Lukas yang berbeda akhir-akhir ini, ia kemudian mendekati Kael dan bertanya kepadanya karena penasaran. Tapi Kael sendiri pun tidak tau kenapa Lukas agak berubah beberapa hari terakhir.
"Kael, apa yang Lukas lakukan?" Tanya Deon Li yang berbisik di telinga Kael.
"Tidak tau master, pangeran Lukas sudah 1 minggu bersikap seperti itu. Setiap saya masuk, ia pasti sudah di sana saja."
Deon Li akhirnya menghampiri Lukas dan menepuk pundaknya. Sebagai seorang ayah, Deon Li tau perasaan anak nya sekarang, ia berusaha untuk menghibur Lukas. Lukas yang di tepuk bahu nya langsung menoleh ke arah itu.
"Kau kenapa? Hm? Ingin pergi makan bersama, ayahmu ini?" Tanya Deon Li.
"Tidak, aku tidak ada selera makan saat ini. Aku akan pergi sekarang."
Lukas pergi dan meninggalkan mereka di sana. Ia mengira kalau mereka akan melakukan sesuatu dan dia akan menggangu, jadi ia pergi tanpa tau apa-apa. Karena tujuan Deon Li hanya menanyakan hal itu, ia berpamitan kepada Kael serta Olivia, lalu pergi ke ruangan kerjanya menggunakan mantra teleportasi.
"Kael, Olivia, aku akan pergi sekarang."
"Baik, master." Sahut keduanya.
Setelah Deon Li pergi, Kael berniat untuk menyusul Lukas yang baru saja pergi dari tempat itu. Kael tau, Kalau Lukas belum jauh dari situ, lalu ia pergi keluar.
__ADS_1
"Olivia, aku akan keluar sebentar."
"Oh, oke."
Kael keluar, berjalan ke sana kemari mencari Lukas yang mungkin masih ada di sekitaran tempat itu. Ia berjalan melewati dapur dan taman istana, namun Lukas tidak ada terlihat di tempat itu. Kael masih belum menyerah mencari keberadaan Lukas, ia berjalan menyusuri danau bulan dan ia akhirnya menemukan Lukas yang sedang duduk di pinggir danau itu.
Terlihatlah Lukas yang sedang memandangi bayangan dirinya di danau tersebut. Dengan tatapan yang kosong, ia memandangi bayangan nya dengan ekspresi yang terlihat sedih. Kael menghampiri Lukas dan duduk di sampingnya.
"Bisakah kalian membiarkan aku sendirian?! Kalian terus saja mengikuti dan berada di sampingku akhir-akhir ini." Gerutu Lukas yang belum mengalihkan pandangannya.
"Itu berarti kami peduli pada mu. Aku tau, kalau kau sudah mulai mencintai Alin, bukan?" Tanya Kael bersikap so tau itu.
"Apa maksudmu? Apa kau berhak menilai hati orang hanya dengan melihatnya saja?"
"Humppt.. Kau memang begitu! Kau bahkan tidak bisa membaca hatimu sendiri, padahal kau sering membaca buku-buku yang membosankan itu." Gerutu Kael.
"Memangnya aku terlihat menyukainya?" Tanya Lukas yang mulai memalingkan pandangannya.
"Heh, kau seharusnya bekerja sebagai dokter cinta saja. Kau selalu saja menasehati ku tentang ini."
"Lukas, kita sudah berteman cukup lama jadi aku sudah tau banyak tentang dirimu. Ingatlah dulu, apa kau merasa sakit dan sedih saat Alin dalam kondisi seperti itu? Itu tandanya kau mulai menyukai Alin." Jelasnya lagi.
"Bagaimana jika aku menolak rasa itu dan memutuskan untuk menjauhi dirinya?" Tanya Lukas lagi dengan entengnya.
"Maka hati mu akan sakit. Mulut memang sering berkata lain daripada hati dan perasaan seseorang, namun tak akan bertahan lama. Jadi... pikirkanlah dan katakan kepada ku sekarang! Kita tidak akan tau, apa hal itu mempunyai kesempatan yang kedua atau tidak. Jadi jangan menyia-nyiakannya." Tegas Kael.
Lukas termenung beberapa saat, ia memikirkan tentang apa yang telah Kael katakan. Memang benar yang Kael katakan. Semenjak Alin datang 10 bulan yang lalu ke dunia mereka, semuanya perlahan berubah dan bergeser, begitu juga dengan Lukas. Ia sudah melalu bermacam-macam kenangan bersama Alin, bahkan tidaklah sedikit.
Dari Lina yang kini sudah bisa merasakan sedikit kebahagiaan, dulunya Lina adalah salah satu siswa yang selalu di bully karena latar belakang keluarga, tetapi sekarang ia bisa sedikit berbahagia. Lukas pun begitu, ia yang sebelumnya selalu bersikap dingin kepada orang lain, sekarang ia bisa lebih bisa bersikap hangat dan sering berkumpul dengan yang lainnya untuk bercanda gurau, rasa sakit yang sering ia rasakan pun semakin memudar dan masih banyak lagi.
__ADS_1
"Mungkin yang Kael katakan benar. Hatiku memang terasa sakit dan sedih sekarang. Semua kenang yang pernah kami alami pun selalu berputar di kepalaku. Apa mungkin? Heh, jujur saja... aku memang sudah merasa nyaman dan terbiasa di dekatnya. Kael benar, mungkin tidak ada kesempatan kedua lagi untukku. Aku rasa... aku memang sudah 'mencintainya'. Aku merindukan Alin sekarang..."
"Entahlah, Kael." Ucap Lukas.
Mata Lukas kembali berkaca-kaca seperti sebelumnya. Kael tau arti dari apa yang Lukas katakan sekarang. Kalau dia memang mencintai Alin, namun kata itu belum siap ia luncurkan untuk di ucapkan. Usaha Kael kini berhasil meyakinkan Lukas tentang perasaan nya sendiri. Ia menepuk pundak Lukas, mencoba untuk menghiburnya.
"Benar, bukan? Kata-kata hati tidak bisa di bohongi untuk waktu yang lama."
"Hm. Tolong... sembuhkan dia." Pinta Lukas yang kini mulai meneteskan air mata lagi.
"Pasti, aku dan Olivia akan berkerja dengan sekuat tenaga!"
"Terima kasih, Kael. Aku akan pergi menemui Gion dan Yura sekarang." Pamit Lukas seraya mengelap air mata yang ada di pipinya, lalu berdiri dari tempatnya sekarang.
"Oke. Oh iya, Viko baru saja sembuh dan dia tinggal bersama dengan ku sekarang." Sahut Kael.
"Dia... Dia pasti sedang mengobrak-abrik ruangan ku sekarang! Untung saja dia imut, jika tidak, maka aku akan memanggangnya menjadi sate rubah!" Batin Kael yang menggerutu.
"Benarkah? Di mana dia sekarang?" Tanya Lukas yang terlihat sedikit berantusias.
"Dia ada di ruangan kerja ku, jemput saja dia."
"Hm."
Lukas langsung pergi dengan sihirnya, lalu menghilang dengan sekejap mata. Kael yang merasa sangat kelelahan selama beberapa terakhir, memutuskan untuk beristirahat sejenak menikmati angin yang sejuk di sekitaran danau itu.
"Whaaaa, lelah sekali... Aku selalu saja memecahkan masalah percintaan orang lain, tapi aku sendiri tidak bisa memecahkan masalah percintaan ku sendiri! Huftt... Andai saja di sini diperbolehkan menggunakan teknologi canggih seperti yang ada di dunia manusia. Maka aku akan bertanya 'Kenapa aku tidak memiliki pasangan, bukannya aku ini tampan?' Ah, sudahlah..." Gumam Kael yang berbicara kepada dirinya sendiri.
Tanpa Kael sadari, ia telah meninggalkan Alin dengan Olivia, dengan orang belum mereka ketahui asal usul dirinya dengan jelas. Di sisi lain, di ruangan tempat Alin berada sekarang, Olivia sedang duduk di sofa panjang di tempat itu seraya menatap Alin dengan mata Pikeon nya.
__ADS_1
"Kau... harus memutuskan takdir dirimu sendiri. Kau ingin mati atau hidup, kau selamat atau tidak, itu bukan urusan ku juga."
Olivia berdiri dari tempatnya dan mengambil suntikan yang ada di atas meja. Ia mengambil darahnya sendiri dan berjalan ke arah Alin. Dengan tatapan sinis dan tanpa diduga-duga, Olivia menyuntikkan darah tersebut ke Alin. Tidak ada yang tau, apa hal itu niat jahat atau niat baik Olivia.