
Sesaat kemudian, Lukas sudah membawa mereka berdua ke tempat yang sebelumnya, taman tadi siang.
Taman itu terlihat sangat indah pada malam itu. Taman yang di kelilingi dengan dinding-dinding kaca yang transparan, membuat cahaya bintang-bintang dan bulan menerangi sekitaran tamannya. Terlihat juga ada beberapa lentera yang tergantung di sana.
Suasana yang sangat tenang. Hanya ada suara mata air kolam yang terdengar di sana. Di sana juga terlihat ada beberapa pohon dan gua yang di terangi beberapa lentera.
Setelah nafas Alin kembali normal, Lukas melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Alin sambil menatapnya. Wajah Alin terlihat lemas dan ketakutan, ia juga bahksn terlihat hampir tidak berani menatap mata Lukas.
"Kenapa?" Tanya Lukas kuatir.
Tapi Alin tidak memberikan respon sedikit pun, ia malah memalingkan wajahnya dari tatapan orang yang ada di depannya itu. Lukas tidak berkata apapun lagi, ia hanya menghela nafas pelan. Setelah beberapa saat, Lukas kembali memaksa Alin untuk menatapnya. Kali ini ia menarik dagunya.
Setelah Alin kembali menatapnya, Lukas mengamatinya dari atas sampai bawah. Ada banyak sekali darah pada pakaian dan wajah Alin. Melihat darah yang ada pada bagian perut Alin, Lukas langsung panik dan cepat-cepat ingin menanyakan kondisinya.
"Alin?! Kau..! Baik-baik saja?! Apa ada yang terluka?! Katakan pada ku!" Pekik Lukas terkejut.
"Hm, aku baik-baik saja. Tidak perlu kuatir."
Mendengar jawaban Alin, Lukas merasa sedikit lega, tapi naluri penasarannya masih ada dan memaksanya untuk lebih mengintrogasi Alin. Lukas kembali menghela nafas. Sesaat kemudian mereka berdua sudah duduk di rerumputan tanpa mereka sadari. Keduanya duduk bersebelahan tepat di tepi kolam.
"Coba ceritakan padaku. Ada apa sebenarnya?" Tanya Lukas lagi.
"Tidak tau."
"Alin... Sudah ku katakan, bukan? Jika ada sesuatu hal yang mengganggu mu, katakan saja padaku."
"Sudah ku bilang, aku tidak tau. Aku juga tidak tau kenapa bisa seperti itu." Jawab Alin lesu.
Lukas kemudian terdiam. Ia kembali memikirkan kejadian tadi. Setelah di pikir-pikir, Lukas akhirnya tau apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sedang di alami Alin dalam masalah psikologis nya. Ia kemudian sedikit melirik ke arah Alin yang ada di sampingnya.
Oleh karena itu ia tidak ingin terlalu menekankannya saat ini, ia hanya akan menanyakan hal-hal yang sederhana agar tidak membuatnya semakin tertekan. Sebuah telapak tangan seseorang menapak hangat di pundak Alin, ia pun refleks menoleh ke asal tangan itu.
"Hm?"
"Apa kau merasa sangat takut tadi?" Tanya Lukas.
__ADS_1
"Hm, kurasa begitu."
"Itu mungkin saja gejala fobia. Emosi ketakutan yang berlebihan oleh karena trauma."
"Fobia? Apa benar aku mengalami fobia?"
"Belum di pastikan kalau itu benar-benar fobia. Bagaimana kalau kita memastikan itu fobia atau bukan? Jika benar, aku akan membantu mu menyembuhkan nya." Jelas Lukas dengan serius.
"Bukannya fobia tidak mudah di obati? Jangan-jangan kau ingin menghapus ingatan ku?!" Alin tersentak, ia sedikit menjauhkan diri dari Lukas.
Lukas hanya tersenyum tipis. Kemudian telapak tangan Lukas kembali mendarat tepat di pucuk kepala Alin.
"Mentang-mentang ini dunia sihir, kau pikir semua nya bisa di atasi dengan sihir? Tentu saja tidak, ada hal tidak bisa di lakukan dengan sihir. Kalau bisa pun hanya orang tertentu dan aku tidak bisa menghapus ingatan orang lain." mayun Lukas berbasa-basi.
"Lalu bagaimana?" Rengek Alin.
"Lihat saja nanti."
Segera setelah itu, Lukas bangkit dari tempat nya dan mengambil jas yang terletak di tanah sedari tadi, lalu memasang kembali jasnya. Alin kemudian ikut berdiri sambil manyun-manyun melihat Lukas.
"Kau mandi lah dulu, suhu di sini lebih rendah di bandingkan dengan di istana. Nanti akan masuk angin."
"Hah? Mandi?! Dimana? Dinginnnnn... Anginnya dingin, bagaimana bisa mandiiiiiii...!" Sahut Alin.
"Ituuuu... Itu kolam air hangat, cepat sana. Aku tunggu di dalam gua yang di sana, susul aku nanti."
"Waww!"
Lukas memutar badan Alin untuk menunjukan kolam air hangat itu. Alin sempat takjub, ia tidak menyadari akan keberadaan kolam itu sedari tadi karena sibuk mendengarkan Lukas. Sementara itu, Lukas sudah berjalan ke dalam gua yang berada di sebelah kolam yang sebelumnya di tunjuk oleh Lukas tadi. Kini Alin sendirian di situ, ia pun menurut dan masuk ke dalam kolam air panas untuk berendam dan membersihkan diri.
Sementara itu, Lukas telah duduk di atas kasur kecil yang ada di gua dengan di kelilingi oleh cahaya-cahaya hijau yang mengitarinya. Dengan seksama dan serius Lukas memandangi cahaya hijau itu. Untuk beberapa saat suasana terasa hening, hanya ada suara desiran cahaya itu yang terdengar.
Beberapa saat kemudian, Alin sudah selesai membersihkan dirinya dari darah-darah yang ada pada bajunya tadi. Ia sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk menyusul Lukas ke dalam gua.
Tapi sesampainya di dalam gua, Lukas sudah menyambut hangat Alin dengan secangkir teh dan beberapa biskuit di atas meja. Alin pun duduk di kursi yang ada di depan meja itu, tepat di samping Lukas. Orang itu bahkan tidak menyadari akan kedatangannya karena sibuk membaca buku keramat yang selalu di bawa-bawa itu. Merasa tidak di perhatikan, Alin protes pada Lukas.
__ADS_1
"Untuk apa membaca buku terus seperti itu. Apakah sepenting itu untuk mempelajari tentang dunia ini?"
"Tentu saja penting. Itulah mengapa kau menjadi bodoh karena malas untuk membaca buku seperti ini." Sahut Lukas yang masih fokus dengan buku.
"Heh! Enak saja! Aku yang ini lemah seperti ini saja sangat pintar. Saat aku duduk di bangku sekolah menengah atas, aku pernah memenangkan olimpiade Kimia dan Biologi tingkat Nasional, tau...!"
Alin bersungut kesal, menghentakkan kaki nya berjalan ke suatu arah. Akan tetapi Lukas hanya diam dan kembali membaca buku nya dengan serius. Tanpa Alin sadari kakinya membawa dirinya sendiri duduk tepat di samping Lukas. Lukas tersenyum kecil, lalu menutup buku nya.
"Bukannya kau marah padaku, ya.. Kenapa sekarang malah kesini." Goda Lukas jahil.
"Tidak tau! Tanya sendiri pada kaki bodoh ini!" Decak Alin sebal.
"Masih untung punya kaki. Kalau kaki mu mengerti ucapan mu, dia pasti akan pergi meninggalkan mu."
"Berisik!"
Tiba-tiba saja telapak tangan Lukas sudah berada di pucuk kepala Alin lagi. Sentuhannya begitu lembut, sehingga membuat Alin tidak dapat menepisnya. Bahkan ia yang tadinya sedang marah-marah kepada Lukas langsung tenang seketika.
"Tutup mata mu." Ucap Lukas tiba-tiba.
"Hah? Apa? Tutup mata? Untuk apa?" Alin langsung linglung mendengarnya.
"Tutup saja matamu."
Sebenarnya Alin masih bingung dengan sikap dan permintaan Lukas itu, tapi ia memutuskan untuk menuruti perkataannya saja. Alin menutup mata nya dan tangan Lukas kemudian terasa seperti berpindah tempat, berpindah ke depan mata Alin.
Di suatu tempat, tempat yang sangaaaaatttt sunyi, ada suatu ruang hampa. Ruang itu berwarna biru terang. Di sana juga tidak ada apa pun selain sebuah kendi besar bening dengan air yang terus berdetingan bergantian dari salah satu sisi nya, lalu ada sebuah kursi kayu yang terlihat sangat kuno dengan seorang wanita di sana.
"Bocah tengik sialan, besar sekali nyali mu masuk kemari." Seringai wanita itu, yang tidak lain adalah Clorian.
Clorian terlihat persis seperti Olivia, tapi ia lebih anggun dan sedikit berbeda. Ia mempunyai rambut panjang bergelombang yang di geraikan, yang berwarna perak dan beberapa untai rambutnya terlihat berwana ungu samar-samar. Ia terlihat sangat feminim namun terlihat menakutkan juga. Dan sebenarnya, Lukas sedang berada di mana Clorian berada di dalam diri Alin.
"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu."
"Kalau ingin membicarakan sesuatu dengan ku, maka kalahkan aku dulu!"
__ADS_1