Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 36 Berkat bantuan sang master kelas.


__ADS_3

*beberapa hari kemudian, Academy


Hari ini adalah hari tes dari kelasnya Alin, Kelas Violin 2IX. Setelah bel kedua berbunyi, seluruh murid dari kelas itu pergi ke lapangan pelatihan academy. Ketua kelas memimpin semua murid untuk berbaris di lapangan.


"Ayo semuanya berbaris" perintah Yudian, Ketua kelas Violin 2IX.


"Baik, Siap berbaris" seru semuanya lalu berbaris rapi.


Mereka pun mulai mengatur barisan mereka. Saat hendak bergeser, tiba-tiba Alin tersandung murid lain dan hampir kehilangan keseimbangan nya.


...GRAPPH...


Untunglah dengan sigap Yudian menangkap Alin saat ia lewat barisan itu tadi.


"tidak apa-apa kan?" Tanya Yudian dengan ramah pada Alin.


"oeh...te-terima kasih ketua kelas" ucap Alin sedikit canggung.


"Tidak masalah, lain kali hati-hati yah" Sahut Yudian dengan tersenyum lebar. Alin pun mengangguk pelan.


Entah kenapa Lukas yang berbaris di paling ujung merasa tidak senang saat Yudian menangkap Alin yang ingin terjatuh itu tadi. Beberapa lama kemudian ibu guru dan pak guru tiba di lapangan dan mereka pun memulai tesnya.


"Ayo kita mulai tesnya, yang pertama adalah Cindi" ucap pak guru sembari menyuruh murid itu maju.


"Tapi pak, kenapa tidak dari absen pertama saja?" tanya Cindi protes.


"Bapak akan memanggil kalian secara acak untuk tes kali ini" Sahut pak guru.


"Tapi pak ini tidak adil" protes Cindi masih tidak terima.


"Ya terserah saya, sayakan gurunya. Ayo maju Cindi jangan banyak protes." Perintah pak guru pada Cindi.


Cindi sangat malu di lihat yang lainnya, ia pun mulai mempraktekkan mantra perpindahan barang. Saat ia mengeluarkan mantra nya, mantra nya gagal dan meleset. Mantra nya hanya bisa mencapai 1 meter dari tempatnya. Semua murid pun menyoraki nya.


"HUUUUU" Seru semua murid kecuali KIMASEF menyoraki nya.


Cindi sangat malu dan langsung kembali ke barisan nya dengan canggung. Dan Lukas hanya tersenyum sinis yang tipis sambil melihat Cindi.


*Flashback on, beberapa jam yang lalu.


Beberapa jam sebelum pelajaran di mulai Cindi menghampiri Alin di koridor kelas bawah. Cindi datang dengan percaya diri bersama teman-teman nya dan menghampiri Alin yang sedang berjalan sendirian.

__ADS_1


"Alin? kau Alin kan?" tanya Cindi dengan nada sinis.


"Iya, Aku Alin memangnya kenapa?Oh...kamu kan teman sekelas ku kan?" tanya Alin balik seraya melihat Cindi dengan ramah.


"Hmm, iya. Oh iya anggota KIMASEF yang baru, apa kau bisa lulus tes nanti? Aku ragu, kau kan hanya manusia biasa" Ucap Cindi meremehkan Alin.


Alin hanya diam dan tunduk. Tanpa mereka sadari Lukas yang ingin lewat situ, berhenti dan menguping pembicaraan mereka. Alin sempat diam sejenak dan kemudian dia berkata.


"kita liat saja nanti" sahut Alin dengan suara pelan.


Alin pergi meninggalkan mereka dan pergi mencari Lina di kantin. Cindi pun pergi juga dengan teman-teman dan melewati tempat Lukas berdiri. Saat Cindi melewati Lukas, ia mengecek kemampuan Cindi hanya dengan melihat nya sekilas.


"Heh, Sombong sekali. Kemampuan mu saja rendah malah meremehkan orang lain" Batin Lukas.


Lukas pergi ke kantor guru dan menghampiri pak guru yang akan mengawasi tes mereka nanti. Ia masuk ke ruang guru tanpa mengetuk, seperti kebiasaan nya. Semua guru yang ada di situ terkejut saat melihat Lukas masuk ke ruang guru. Biasanya Lukas akan mengutus orang nya untuk menyampaikan sesuatu pada orang lain.


"Ada apa perlu apa pangeran Lukas kemari" tanya pak guru yang mengajar di kelasnya dengan sopan sambil berdiri.


"Urutkan absen acak untuk tes nanti" perintah Lukas dingin.


"Eh, ba-baik pangeran" Sahut pak guru dengan sedikit gugup.


"Yang pertama Cindi" tambah Lukas lagi. Ia pun langsung keluar dari ruang guru.


*Flashback off, kembali ke waktu itu.


Tes pun berlanjut, belasan murid sudah maju untuk mempraktekkan kemampuan mereka dalam bidang itu. Hingga tibalah urutan Alin dengan urutan ke 19.


"Yang ke 19, Putri Jiu Xiaou Alin" Ucap pak guru.


Alin maju ke tengah-tengah lapangan. Tangan dan kakinya terasa lemas, ia merasa gugup sekaligus takut gagal dalam tes pertamanya. Alin mengambil ancang-ancang terlebih dahulu, namun ia masih gemetaran karena gugup. Karena yang dipindahkan adalah lemari yang penuh dengan buku dan bukan sebuah apel yang sering ia pindahkan.


"ba-bagaimana kalau aku gagal? Tidak! Aku tidak akan mengecewakan Lukas, Aku harus berhasil! Harus bisa!" batin Alin mengumpulkan tekadnya.


Alin memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi. Setelah itu ia membuka matanya dan melihat ke arah objek yang harus ia pindahkan. Ia berkonsentrasi dan mengayunkan tongkat nya seperti yang Lukas ajarkan. Dan...


...BLASHHHH...


Lemarinya berpindah tempat dari tempat pertamanya dan lemari itu bahkan hampir tidak terlihat oleh yang lainnya. Betapa terkejutnya semua orang, semua yang berada di situ tercengang kecuali Lukas. Ibu guru sangat takjub dan ia pun meminta pak guru untuk segera mengukur nya.


"A-apa ini, Pak tolong cepat ukur!" Pinta bu guru.

__ADS_1


Pak guru bergegas mengambil pengukur dan mulai mengukur itu dari tempat pertama. Betapa terkejutnya ia saat melihat angka yang ada di pengukur itu menunjukkan angka 20 meter.


"Du-dua puluh meter!" teriak pak guru dari kejauhan merasa masih tidak percaya.


Semua murid seketika tercengang, mereka melirik satu sama lain dan berbisik-bisik. Mereka terkejut dengan kemampuan Alin, karena biasanya Lukas lah yang paling unggul dari semua murid. Tidak ada yang bisa mengejar rekornya, bahkan sulit untuk mendekati rekornya.


"LULUSSSS!" Seru Pak guru dan Bu guru.


Alin menoleh ke arah Lukas dengan senyuman yang terlihat sangat gembira. Alin sangat senang atas keberhasilan nya dalam tes pertamanya.


"Lukas! Aku berhasil!" Seru batin Alin kegirangan sambil menatap Lukas dengan wajah yang super gembira.


Hanya dengan melihat ekspresi Alin seperti itu Lukas sudah tau apa yang ingin Alin katakan padanya. Ia hanya sedikit tunduk dan tersenyum tipis. Namun Alin juga mengerti bahwa di balik wajahnya yang dingin juga ada senyuman yang tulus namun sulit untuk di lihat.


Tes kemudian dilanjutkan kembali, hingga giliran Lukas. Lukas dengan nomor urut 21 maju dan mempraktekkan kemampuan nya. Seperti biasa ialah masternya, Lukas mencapai 25 meter namun itu sudah biasa di mata yang lainnya.


Beberapa jam kemudian tes sudah selesai dan mereka di berikan waktu untuk beristirahat sebelum melanjutkan pelajaran nya. Alin menghampiri Lina dan duduk di sebelahnya.


"Halo Lina..." Sapa Alin sambil duduk di sampingnya.


"Halo juga, Oh iya bagaimana kau melakukan itu tadi?" tanya Lina penasaran.


"hmm, itu rahasia" Jawab Alin sedikit bercanda.


"Hei katakan, Cepat katakan pada ku!" pinta Lina seraya menggoyang-goyang Alin.


"hehehehe...baiklah" kekeh Alin melihat tingkah Lina.


"Jadi apa?" tanya Lina di penuhi dengan jiwa penasaran nya.


"Ya tentu nya belajar dengan masternya" Jawab Alin.


"Hah? siapa?" tanya Lina masih tidak mengerti.


"tentu saja Lukas"


"Wuah hebat!, andai saja aku bisa belajar dengan Lukas"


"Sebaiknya jangan!"


"Kenapa?" tanya Lina kebingungan.

__ADS_1


"Kau akan mati diterpa badai salju nantinya. Jika kau tidak sanggup, ngee.." Jawab Alin sedikit merasa ngeri memikirkan nya.


__ADS_2