Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 125 Sahabat pengertian.


__ADS_3

"Owhhh... Bumil itu, ibu hamil yaaa... HAH?! APA?! HAMIL? DIA HAMIL?" Pekik Alin dengan suara nyaring.


Alin terpekik mendengarnya. Begitu pun dengan tabib yang mendengar Alin berteriak, ia sepertinya hampir jantungan mendengar suara Alin itu.


Sedetik kemudian Alin langsung menatap tajam Lina yang sedang tertunduk di atas ranjang. Lina sudah tau, kalau Alin sekarang punya banyak pertanyaan untuk nya, tapi bukan itu yang membuatnya murung.


Lina merasa tidak enak dengan Alin. Alin adalah sahabat nya, tapi Lina menyembunyikan rahasia di balik persahabatan mereka itu. Kecewa, memang ada sedikit rasa kecewa di hati Alin. Tapi yang paling di kuatirkan Alin pada saat ini adalah kondisi sahabat tersebut.


Segera setelah memberikan resep obat untuk Lina, tabib tadi langsung pergi untuk mengobati pasien lain yang berada di sekitar kediaman Lina. Keheningan terjadi di antara kedua sahabat itu. Alin masih terpaku di tempatnya dengan muram. Sama seperti Alin, Lina pun begitu.


"Alin pasti kecewa dan marah padaku. Maafkan aku, Alin..."


Tanpa diduga-duga, Alon yang tadinya terpaku di tempat berjalan kearah Lina dengan tangisnya yang akan segera pecah. Ia langsung terduduk di sampingnya dan menangis tersedu-sedu di kaki Lina.


"Lina... hiks.. Kau jahat sekali... Kenapa tidak memberitahu aku.. huhuhuuu.. Aku sahabat mu bukan..?"


"Maaf... maaf, Alin... maafkan aku..." Gumam Lina yang mulai berderai air mata.


"Kenapa tidak bilang dari awal..! Aku bisa membantu mu, kenapa di tanggung sendiri?! hiks.. Lina....." Tangis Alin lagi sambil mengoyang-goyangkan kaki Lina.


Lina hanya terdiam, tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka pun menangis bersama di sana.


Sudah beberapa menit telah berlalu, tangis mereka sudah reda saat fajar sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Dan kedatangan ibu Lina dan Renu pun sudah mulai terdengar dari luar. Cepat-cepat mereka langsung menyeka sisa-sisa air mata masing-masing.


"Lina? Kau sudah pulang?"


Suara seorang wanita paruh baya terdengar dari luar sana memanggil nama Lina. Suara langkah kaki pun terdengar seperti menuju ke tempat mereka berdua sekarang. Keduanya pun saling tatap-menatap, bingung dengan apa yang harus di lakukan.


"Bagimana-"


Belum saja Alin berbicara, pintu kamar Lina sudah di buka dengan cepat oleh Ibunya Lina dari luar. Keduanya terlihat sangat terkejut dengan kedatangannya.


"I-ibu sudah pulang?" Tanya Lina gugup.


"Iya. Eh, Alin. Sejak kapan kau di sini, kenapa tidak mengabari bibi kalau kau berkunjung?" Bibirnya mengembang menunjukan senyumnya yang begitu manis.


"Hehehe... iya, bi." Jawab Alin canggung.


Mata ibu Lina langsung tertuju pada Lina yang berbaring di atas ranjang. Ia menyiritkan alisnya kebingungan.


"Lina, sedang apa di sana. Kau masih tidak enak badan?"


"Tidak bu. Aku baik-baik saja."


Dengan segera Lina langsung kelabakan beranjak dari ranjang dan menghampiri ibunya yang ada di ambang pintu agar tidak di curigai.


"Ayo, ayo, bu. Alin kan berkunjung kemari, kenapa kita tidak memasak makan malam. Benar, bukan?" Ucap Lina sambil mendorong pelan ibunya ke arah dapur.


"Ah, iya. Kau benar."


"Ayo, Alin." Ajak Lina.


Keduanya pun pergi ke dapur mendahului Alin yang masih ada di dalam kamar. Alin pun beranjak dari tempatnya dan mengikuti mereka dari belakang sambil sedikit melamun.


"Bagaimana aku bisa menolong Lina sekarang? Sepertinya bibi belum mengetahui hal tentang kehamilan Lina."


Jujur saja, Alin sekarang sangat kuatir dengan Lina. Kemudian ide muncul di kepalanya. Dengan cepat Alin langsung berjalan ke depan mereka berdua sambil menghadangnya. Mereka pun berhenti ketika Alin berada di depannya.


"Ti-tidak perlu, bi. Aku ingin membawa Lina menginap di istana, boleh?"

__ADS_1


"Hah?" Gumam Lina.


"Hmm.. Apa pihak istana memperbolehkannya? Jika memang boleh, tidak apa."


"Ah, iya. Aku yang akan bertanggung jawab, bibi tenang saja." Ucap Alin meyakinkannya.


"Ehmm...baiklah."


Ibu Lina berpikir sejenak dan ia pun mengizinkan Lina untuk pergi. Segera setelah mendapatkan izin, Lina mengemas beberapa barangnya untuk menginap di istana. Ia pun memasukkan satu persatu barang kedalam tasnya sambil termenung dengan Alin yang ikut membantu mengemasi barangnya.


Lina tau kalau Alin mempunyai tujuan lain membawanya ke istana. Rasa gelisah yang sungguh besar berputar-putar di benaknya. Antara takut dan tidak sabar untuk mengetahui kelanjutan nasibnya.


Beberapa menit telah berlalu, mereka akhirnya selesai berkemas. Kini semuanya telah siap dan mereka semua sedang berdiri di depan rumah sekarang untuk berpamitan.


"Bu, kami pergi dulu." Pamit Lina sambil menyalami tangan kanan ibunya.


"Bibi, Renu. Kami pamit pergi dulu." Tambah Alin.


"Baiklah, jaga diri kalian baik-baik."


"Hati-hati ya, kakak-kakak."


Dengan sihir yang baru saja di pelajarinya, Alin melontarkan sebuah anak panah cahaya jauh ke langit bagaikan kembang api. Sebercak cahaya yang ada di anak panah langsung menghamburkan puluhan cahaya lainnya di langit. Dan seketika itu juga terdengarlah suara cekikikan kuda dari kejauhan dengan suara yang lumayan nyaring.


...Khikikhikkk...


Itu adalah suara dari kereta kuda istana yang akan menjemput Alin dan Lina. Kereta itu berkendara di langit dengan cahaya dan kemewahannya. Bunyi kuda dari tersebut sangat terdengar jelas oleh para tetangga yang ada di sekitar. Sontak orang dari rumah-rumah keluar dari tempatnya Masing-masing untuk melihat apa yang terjadi.


"Hei! Liat itu! Itu kereta kuda istana!"


"Apakah ada anggota istana yang berkunjung? Kenapa bisa ada kereta kuda istana di sini?"


"Apa itu kereta kudanya pangeran Lukas? Beberapa waktu yang lalu aku pernah melihat kereta kuda istana singgah di sekitar sini."


"Bukan, itu bukan kereta pangeran Lukas. Sepertinya itu milik anggota kerajaan yang lain."


"Benar, benar. Kereta kudanya berbeda! "


"Woahhhh! Megah sekali! Sepertinya milik salah satu golden three kimasef."


Tetangga-tetangga yang ada di sekitar rumah seketika langsung berhamburan dan berbisik-bisik saat melihat kereta kuda Alin mendarat di permukaan tanah. Ini bukan pertama kalinya bagi Lina naik kereta kuda, tapi ini pertama kalinya dia naik kereta kuda milik Golden Three yang mempunyai desain kereta khusus dari istana.


Ada sedikit rasa canggung yang menyesakkan hati saat ia naik dan di lihat oleh para tetangga. Alin pun menyadari akan hal yang membuat raut wajah Lina agak berubah. Mereka berdua masuk ke dalam kereta dan segera melesat dengan cepat meninggalkan lokasi.


"Kenapa? Jangan bilang kau takut ketinggian?" Tanya Alin pada Lina yang terlihat cemas menatap pemandangan di luar kereta.


"Bukan itu. Apa nanti kata para tetangga jika aku selalu pulang pergi dengan berbagai macam kereta kuda? Mereka pasti berpikiran yang tidak baik terhadap kami." Jawab Lina yang masih melekat dengan pemandangan di luar.


"Aishh...! Hanya itu saja, tidak usah di pikirkan. Para tetangga seperti itu tidak berbeda jauh dengan kamera CCTV di dunia manusia, kerjaannya hanya mengintai kegiatan orang saja."


Senyuman setengah bercanda mengembang di wajah Alin. Pada saat itu juga rasa lega segera melingkupi hati Lina yang sebelumnya merasa gelisah. Perjalanan menuju ke istana pun kembali berlanjut. Di sepanjang perjalanan suasananya sangat hening, masing-masing dari mereka sibuk memandangi pemandangan sambil tenggelam dalam pikirannya.


Beberapa saat telah berlalu, kini mereka telah tiba di tempat tujuan. Kereta kuda berhenti tepat di depan gerbang istana untuk menurunkan mereka. Lina yang tadinya merasa lega kembali gelisah. Di setiap langkah yang diambilnya terasa berat, seakan enggan untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Alin... Aku, aku ingin pulang saja. Aku tidak berani jika harus berhadapan dengan anggota istana, bahkan melihat para prajuritnya pun aku tidak berani... Lihatlah raut wajah galak mereka, menyeramkan." Bisik Lina ke Alin.


Alin terkekeh mendengarkan. Tapi ia tetap saja memaksa Lina untuk ikut dengannya. Alin menarik tangannya menuju ke salah seorang yang berjaga di dekat gerbang, yang tidak lain adalah kepala pasukan istana, Henil.


"Henil, Apa kau sibuk?" Tanya Alin.

__ADS_1


"Tidak, putri. Ada yang bisa saya bantu?"


"Nah, pas sekali. Tolong bantu angkat tas nya Lina."


Alin menarik tas yang ada di tangan Lina dan memberikannya kepada Henil dengan percaya diri. Kemudian berjalan dengan langkah ala fashionshow yang anggun. Lina sungguh terheran-heran dengan Alin yang bersikap aneh. Karena merasa tidak enak, ia mengambil tas itu kembali dengan canggung dari tangannya Henil.


"Aih.. Anu.. Tuan, biar saya saja yang membawanya." Ucap Lina seraya meraih tas itu.


"Ng..Ehm."


Henil hanya bisa planga-plongo dengan hal itu. Kini tas tersebut sudah ada di tangan Lina kembali. Menyadari akan hal tersebut Alin berbalik dan meraih tas itu, memberikan kembali tas nya kepada Henil dengan ketus. Lalu menarik tangan Lina mengikutinya, kemudian berjalan lenggok pinggang yang sombong.


Henil hanya bisa kembali planga-plongo berdiri menatap Alin yang kini mulai menjauh. Sedetik kemudian para rekan kerja Henil langsung menggeruminya dengan tatapan tidak menyangka sekaligus heran.


"Wahh, tuan. Hanya putri Jiu yang berani untuk memerintah anda. Ckckck... Dan hebatnya lagi anda takluk padanya. Anda ini kepala pasukan, kepala pasukan, Tuan." Tegas seorang dari mereka.


"Hei, diamlah. Memangnya prajurit dan kepala prajurit mana yang berani memerintah anggota istana. Kau berani?" Balas yang satu lagi.


Prajurit tadi pun hanya bisa terdiam mendengarnya sambil tertunduk. Tatapan tajam pun langsung membesit kepada kedua prajurit tersebut. Mereka sontak terdiam, tidak ada yang berani mengangkat kepalanya.


"Diamlah kalian berdua. Kita di sini untuk berkerja! Antar tas ini."


Dengan ketus Henil menyerahkan tas tadi kepada salah satu diantara mereka. Lalu berjalan meninggalkan mereka ke dalam istana. Di balik sikapnya itu, ternyata ada raut wajah lain yang tersembunyi di dalam hatinya.


"Aih... Jika tidak menanggapi perkataan putri Jiu, pangeran Lukas pasti akan menatap bengis aku selama seminggu setiap dia lewat. Sama seperti sebelumnya. Putri Jiu masih belum terlalu akrab dengan yang lainnya, ya.. mau bagaimana lagi." Dengus Henil frustasi dalam hatinya.


Sementara itu Alin dan Lina berjalan menyusuri koridor istana menuju ke kamar Alin yang terletak cukup jauh dari bangunan utama istana. Di sepanjangan perjalanan Lina terus saja memikirkan Henil yang membawakan tas nya tadi. Tapi Alin terlihat tidak peduli dengan hal itu, ia tetap berjalan dengan angkuh di depan Lina.


"Alin, kau sakit? Dia itu kepala pasukan, bukan pelayan mu." Decak Lina menegur.


"Tenang saja, dia tidak akan mau mengantarkannya secara pribadi, akan ada orang lain yang disuruhnya untuk mengantar tas itu. Lagi pula kau sedang hamil, tidak boleh membawa barang yang berat-berat."


"Aih... Sudahlah. Aku tidak tau seperti apa cara berpikir mu."


Alin hanya menanggapi nya dengan mengangkat sedikit bahu nya. Lalu kembali berjalan di depan Lina.


Memang sebuah fakta yang dikatakan Alin itu. Alin bukannya ingin memperbudak Henil, tapi ia melakukan hal itu karena masih belum terlalu akrab dengan para prajurit di istana kecuali Henil.


Mereka pun terus berjalan, hingga tak terasa sudah hampir sampai di tempat tujuan. Dari kejauhan Lina sudah bisa melihat pintu besar yang sangat megah berdiri tegak di seberangnya. Terlihat juga ada beberapa pengawal yang sedang berjaga, Lina sungguh takjub, tidak sia-sia rasanya dia berjalan jauh menuju ke kamar Alin.


"Itu... Tempatmu?! Wah! Ini sebenarnya kamar atau gedung?"


"Kamar yang ada di bagian gedung istana." Sahut Alin.


Setibanya di depan pintu para pengawal menunduk dan memberikan hormat pada Alin dan Lina.


"Salam putri Jiu, salam nona." Ucap mereka bersamaan.


Alin mengangguk, mereka pun pergi dari situ meninggalkan Alin dan Lina yang lalu masuk ke dalam. Di dalam terlihat lebih megah lagi, Lina kembali takjub melihat barang-barang di dalam yang memiliki desain dengan emas. Ia berputar-putar dan mengelilingi kamar Alin dengan antusias. Sementara Alin hanya ikut duduk dan memandanginya.


"Jujur saja aku merasa sangat iri dengan mu, Alin. Kau memiliki segalanya, harta, teman, stasus, dan garis keturunan bangsawan. Andai saja aku bisa seperti mu."


Lina terus saja memandangi ruang tersebut hingga berakhir duduk di samping Alin yang ada diatas ranjang. Mendengar pernyataan yang di ucapkan Lina, Alin merasa simpati padanya. Tapi masih terbesit senyum manis di wajah keduanya.


"Apa maksudmu? Kau sahabat ku. Milikku milik mu juga, milik mu milik ku juga. Jadi anggap saja ini seperti tempatmu sendiri."


"Kau terlalu baik, Alin."


...tok tok tok...

__ADS_1


__ADS_2