
Di tempat lain, di rumahnya keluarga Alin. Nam Yeon sedang asik memasak makan malam di dapur di temani oleh Nim Lan yang sedang memainkan handphone nya di meja makan. Ia menyiapkan begitu banyak makanan pada hari itu, seolah-olah hari ini adalah hari adalah hari yang spesial untuknya.
Nam Yeon sudah sibuk seharian untuk melakukan itu semua. Tapi anak-anaknya bahkan tidak mau membantunya untuk melakukan sesuatu. Setelah semua makanan yang ia buat selesai, Nam Yeon meletakan makanan-makanan itu ke atas meja lalu memanggil yang lainnya.
"Semuanya, ayo kita makan." Panggil Nam Yeon.
Lalu tidak lama setelah itu, para penghuni rumah itu langsung berdatangan ke dapur menghampirinya. Mereka duduk bersama di meja makan untuk menyantap makanan yang telah di sajikan.
"Wahhh, ada apa ini? Kenapa kau memasakkan begitu banyak makanan hari ini, sayang? Apa ada sesuatu?" Tanya Won Yan dengan senyuman di wajahnya.
"Hehe.. iya, ayo duduk dulu."
Ketika semuanya telah berfokus kepada hidangan dan suasana, Nim Lan mengeluarkan sebuah amplop coklat dan menunjukan dua lembar kertas yang ada di dalamnya kepada semua. Lalu dari sekian banyaknya kalimat pada barisan atas, ada kalimat pendek yang tertera pada bagian bawah kertas yang bertuliskan nama perusahaan pada masing-masing kertas tersebut.
Saat Chan Lu dan Nim Lan melihat nama perusahaan yang tertera, mereka langsung terkejut dan membelalakkan matanya. Saking terkejutnya Chan Lu sampai berdiri dari tempat meja dan memelototi Nam Yeon yang ada di depannya. Bahkan Nim Lan pun hampir menyemburkan isi dari mulutnya yang sudah terisi penuh.
"Ibu ini...! Ini kan... Surat lamaran pekerjaan ku dan Nim Lan. Kenapa bisa pada ibu?!" Tanya Chan Lu yang benar-benar sudah terkejut.
"Berikan padaku."
Won Yan tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Karena penasaran Won Yan mengambil kertas itu dari Nam Yeon dan membacanya. Won Yan juga terkejut ia langsung memelototi si Nam Yeon juga.
"Keluarga Pranatha dan Arga?!" Seru nya.
"Benar sekali. Aku sudah menyogok manager yang mengurus masalah ini, jadi kalian tenang saja."
"Tapi, Bu. Keluarga Pranatha memiliki pengaruh yang besar terutama di negara ini, bagaiman bisa?! Bagaimana jika hal ini di ketahui oleh mereka?!" Tanya Nim Lan.
__ADS_1
"Keluarga Pranatha memang mempunyai pengaruh yang kuat, tapi mereka jarang memperhatikan pengoperasian perusahaan dan lebih memilih untuk mempercayakan bawahan yang bodoh seperti manager Koung. Sedangkan keluarganya Tuan muda Arga... Hmm... Aku memerlukan beberapa lembar uang untuk menyogok stafnya." Jelas Nam Yeon.
"Lalu, Apa yang bisa kami lakukan lagi?"
"Kau hanya perlu menemani manager Koung pada pesta minum teh pada lusa nanti. Manager Koung bilang, kalau kau bisa membuatnya puas, ia akan memberikanmu posisi sebagai pemeran utama pada film baru mereka."
"Tunggu! Apa kau gila?! Jika kau melakukan ini, itu berarti kau menjual anak-anak kita, bukan?!" Protes Won Yan yang menajamkan tatapannya.
Won Yan yang mendengar Nam Yeon berkata seperti itu langsung berapi-api. Ia merasa tidak terima jika anaknya akan di cap sebagai barang dagangan demi sebuah posisi besar. Tapi Nam Yeon masih memiliki kata untuk di ucapkan pada situasi ini.
"Eits! Bukan menjual mereka, tapi memberikan masa depan untuk mereka." Jawab Nam Yeon dengan santainya.
"Kau..!"
"Ayah, Kami setuju. Selama ini bisa menjamin masa depan kami, akan kami lakukan. Lagi pula, ini bukan masalah yang besar." Sela Chan Lu.
"Baiklah Nim Lan, jika berhasil kau akan menjadi pemeran utama film dan sekaligus menjadi artis dari grup Pranatha. Sedangkan kau Chan Lu... Ibu tidak bisa berbuat banyak untuk mu. Kau memiliki reputasi yang cukup buruk. Itu juga karena ulah mu yang suka sekali nongkrong di klub malam. Tapi aku berhasil mengambil peluang menjadi manager untuk mu."
"Tapi Bu, ini tidak adil! Aku juga ingin menjadi seorang artis!" Protesnya.
"Heh! Malang sekali nasib mu kak. Heh!" Ketus Nim Lan yang terlihat menyombongkan diri.
"Diam kau!"
Won Yan hanya diam, ia malas sekali rasanya meladeni rencana mereka. Kecurangan ini membuat dia sangat mengubah pandangannya terhadap Nam Yeon. Walaupun dia mungkin memiliki hati yang jahat, tapi Won Yan sangat membenci kecurangan dan siasat. Apalagi sampai melibatkan anak-anaknya.
Chan Lu masih saja bersikeras merengek kepada ibu nya. Ia berteriak bahkan membentak Nam Yeon karena tak bisa mendapatkan posisi yang sama dengan adiknya. Tapi Nam Yeon adalah keturunan bangsawan dunia sihir merah, asli keturunan dunia sihir merah tanpa adanya campuran, yang membuat sifatnya pun menjadi agresif dan cepat marah. Ia tentu saja marah pada Chan Lu yang seperti itu
__ADS_1
"Bu, kenapa kau pilih kasih! Aku tidak mau menjadi seorang manajer! Aku ingin menjadi seorang artis yang di idolakan dan di cintai oleh banyak orang!" Teriaknya.
...Brakkk...
"Dasar anak tidak tau terima kasih! Di kasih hati minta sayap! Sudah beruntung aku mendapatkan posisi itu untuk mu!" Bentak Nam Yeon sambil menggebrak meja dengan keras.
"Arggghhh! Aku benci! Benci! Aku tidak terima! Kenapa aku tidak bisa mendapat yang aku mau?! Bahkan darah daging mu yang murahan itu mendapatkan dukungan dari tuan muda Lukas, kenapa aku tidak bisa?!"
Chan Lu mengamuk karena tidak terima dengan itu semua. Ia menggebrak meja, berteriak, bahkan menghambur semua makanan yang ada di atas meja hingga terjatuh ke lantai. Piring-piring pecah dan makanan berserakan di mana-mana.
"Diam kalian berdua! Dasar kurang ajar! Saat sedang makan malam kalian bahkan bertengkar seperti ini! Tidak punya etika!!"
Won Yan benar-benar marah dengan mereka, seakan berapi-api, ia membalik meja makan, berteriak, mengamuk dan memukul mereka berdua membabi-buta. Sementara Nim Lan memilih untuk menjauh dari mereka dan melihat kejadian itu dari kejauhan sambil memasang ekspresi yang sinis.
"Cih! Kekanak-kanakan sekali mereka." Gumamnya.
Setelah beberapa lama, pertengkaran dan keributan itu akhirnya selesai. Semuanya sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Sedangkan Won Yan lebih memilih untuk pergi dari rumah karena merasa masih marah kepada mereka.
Rumah itu terdengar sangat hening, hanya ada terdengar suara detak jam pada malam itu. Hari sudah larut dan jam sudah menunjukan pukul 11 malam, semuanya sudah hanyut tertidur pulas. Tapi tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari balik pintu utama.
...tok tok tok...
Saat Nam Yeon mendengar ketukan itu, ia kira itu adalah Won Yan. Jadi ia keluar dan membukakan pintu itu. Setelah membuka pintu, orang yang ada di balik membuatnya sedikit terkejut, tapi tetap memasang ekspresi yang dingin.
Terlihat ada seorang pria muda yang tinggi berdiri di hadapannya sekarang. Melihat Nam Yeon membukakan pintu untuknya ia merasa senang dan tersenyum lebar kepada nya.
"Ibu..?"
__ADS_1