
Di saat itulah Alin tau kalau Lukas mulai berubah. Alin menoleh ke Lukas sambil melamun kan pria yang tengah lengah di depannya itu. Tapi Lukas sudah mengetahui hal tersebut dan ia membiarkan Alin menatapnya untuk beberapa saat. Lukas yang masih fokus membaca, tiba-tiba saja di panggil oleh Alin.
"Lukas?"
"Hm?"
"Apa kau tidak pergi ke academy?" Tanya Alin dengan ekspresi yang lesu dan sedih.
"Tidak, aku akan masuk di jam kedua nanti."
Setelah mendengar itu, Alin kembali melamun dan memikirkan sesuatu yang ia lamunkan sebelumnya. Tapi kali ini ia menatap ke arah lain dengan ekspresi yang terlihat sedih. Ada sesuatu yang membuatnya seperti itu, yaitu rasa cemburu dan ketidakpercayaan diri.
"Humppt.. kenapa dia tidak pergi saja?! Aku tidak perlu dia, dia pasti melakukan ini karena di paksa oleh yang lainnnya, bukan? Dia... Lukas.. kapan kau akan menyadari dan menerima ku? Aku..."
Butiran air mata berhasil lolos keluar dari pelupuk mata Alin. Dengan cepat ia langsung menyeka itu agar tidak ada yang tau. Tapi Lukas yang ada di sampingnya, mengetahui akan hal itu. Ia langsung bertanya kepadanya.
"Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit?" Tanya Lukas yang terlihat kuatir.
"Ehm tidak, tidak. Aku baik saja."
"Apa kau yakin?"
"Hm!"
"Kalau ada yang ingin di tanyakan atau di ceritakan katakan saja, aku akan menjawabnya semampuku." Ucap Lukas yang lalu mengacak-acak rambut Alin.
Saat Lukas sudah kembali ke posisi awalnya, Alin memiliki sebuah ide yang mungkin akan membantunya. Ia akan meminta Lukas untuk menjelaskannya tentang budak jiwa Clorian yang tidak mungkin Lukas tidak ketahui akan hal itu.
"Lukas? Apa kau bisa menjelaskan sesuatu untuk ku?"
"Apa?" Tanya Lukas yang masih fokus membaca bukunya.
"Apa kau bisa menjelaskan tentang budak jiwa Clorian?"
__ADS_1
"Ehm... Kau masih kecil, kau tidak akan mengerti. Cepatlah tumbuh dewasa dan aku akan menjelaskannya." Ucap Lukas yang tersenyum ke arah Alin sambil mengelus-elus kepalanya.
"Humppt... Kalian memang seperti itu! Kalian selalu saja mengatakan kalau aku tidak akan mengerti tentang itu. Aku bukanlah anak kecil lagi, dalam waktu 2 bulan umurku akan menginjak 19 tahun, masih anak-anak kah aku?!" Gerutu Alin yang terlihat sangat kesal.
Ia kesal kepada mereka semua yang tidak mau menjelaskan tentang budak jiwa yang ada di dalam tubuhnya itu, mereka selalu saja menganggap kalau Alin masih belum bisa mengerti akan hal itu karena umumnya yang masih terlalu muda.
Alin yang kesal memalingkan pandangannya ke arah lain dan menyilangkan tangannya dengan ekspresi yang cemberut. Lukas tentu saja harus mencari cara agar Alin menjadi tidak marah kepada mereka lagi.
"Huftt... Apa kau ingin jalan-jalan?" Tanya Lukas.
Saat mendengar kata-kata Lukas itu, Alin langsung terlihat bersemangat lagi. Ia turun dari kasur dengan tiba lalu menarik tangan Lukas agar segera pergi.
"Baiklah, ayo. Ayo cepat, Lukas!" Seru Alin yang kegirangan.
Lukas sangat senang melihat Alin saat seperti ini, Alin yang penuh keceriaan dan tawa itulah yang dia inginkan. Ia ingin membuat orang yang ia cintai merasakan kebahagiaan bukannya kesedihan.
"Dia terlihat imut saat seperti ini.. Apa dia menyadari akan aku yang menyukainya?"
"Tidak perlu, dasar cabul! Aku bisa mandi sendiri, awas saja kalau mengintip atau masuk, akan ku bunuh kau!" Tegas Alin.
"Oke, oke. Kalau aku mengintip atau masuk. bunuh saja." Ucap Lukas sambil menyerahkan sebuah belati kepada Alin.
"Apa kau benar-benar ingin mati?!"
"Hehehe... tentu saja tidak, tapi untuk berjaga-jaga saja. Siapa tau ada seseorang yang menyamar menjadi diriku, kau bisa langsung membunuhnya, bukan?"
Alin kemudian berpikir sejenak dan setelah berpikir, Alin menyetujui itu. Karena ia ingin lebih waspada lagi, seperti yang Lukas katakan.
"Benar juga. Baiklah, terima kasih."
Alin mengambil belati itu dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan Lukas, ia keluar dan menunggu di depan dengan beberapa pengawal yang ada. Ia duduk di situ sambil menunggu Alin.
Sudah lama sekali rasanya Lukas menunggu Alin, namun ia belum saja keluar dan menampakan diri sehingga membuat Lukas merasa agak kesal. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka dan keluarlah Alin yang sudah berdandan dengan rapi.
__ADS_1
Saat Lukas mengetahui tentang kedatangan Alin yang sudah membuat ia kesal, Lukas ingin mengomelinya. Tapi saat Lukas berbalik dan menatap Alin, ia sangat saat melihat Alin terlihat begitu cantik dengan dandanan nya pada saat itu.
"Kenapa la-"
"Hm?"
Dengan rambut bergelombang yang di gerai, lalu di jepit kan dengan jepitan bunga ungu yang Yudian berikan kepadanya, Alin terlihat sangat cantik. Wajah cantik yang dibalurkan make up yang terlihat natural membuat Alin menjadi terlihat semakin menawan, apalagi pemilihan bajunya yang sangat pas dengan penampilan dan juga rencana mereka. Lukas langsung tertegun dengan wajahnya yang sudah merona, dengan cepat ia berpaling dari tatapan Alin.
"Cepatlah."
"Apa penampilan ku cocok?" Tanya Alin yang langsung muncul di depan Lukas dengan mata yang berbinar-binar.
"Tidak." Jawab Lukas yang masih merona.
Karena ingin cepat menghindari pertanyaan dari Alin, Lukas merespon Alin dengan kenyataan yang sebaliknya agar ia tidak di goda oleh Alin. Tapi Alin malah menganggap serius perkataan Lukas dan berniat untuk menganti stylenya lagi. Lukas tentu saja tidak setuju dan mengalah karena ia sudah bosan menunggu Alin yang terlalu lama berdandan.
"Oh, kalau begitu aku ganti baju dulu." Ucap Alin yang berbalik dan ingin masuk ke dalam.
"Eh, eh tidak, tidak. Kau... kau sudah cantik. Hm, iya. Cepatlah, jika kau mengganti style mu yang sekarang, kita mungkin akan kehabisan waktu."
Lukas menarik tangan Alin dan dengan cepat ia menjawab kembali pertanyaan Alin sesuai dengan kenyataan yang ada. Tapi hal itu malah membuatnya semakin merona, Alin tentu saja tau akan hal itu dan ia akhirnya mengurungkan niatnya untuk menggoda Lukas untuk saat ini.
"Hahaha... Baiklah gunung kutub, mari kita pergiiii! Ayo, ayo." Seru Alin yang langsung menggandeng dan menarik tangan Lukas.
Mereka pergi dengan tawa dan canda yang menggema di setiap lorong yang di lalui. Semua orang yang melihat mereka pun terlihat terkejut dan tidak menyangka dengan kedekatan mereka berdua yang begitu cepat berkembang.
Lukas yang tadinya mereka pandang dengan pria berhati dingin, perlahan mereka pandang dengan sisi yang sebaliknya. Alin yang tadinya adalah gadis yang malang dan pendiam, menjadi seorang gadis yang sangat ceria dan juga mudah bergaul. Mereka berdua sangatlah cocok, mereka bisa melengkapi kekurangan masing-masing.
Yang satu membutuhkan seseorang untuk melindungi dan menyayanginya, sedangkan yang satu membutuhkan seseorang untuk menjadi seseorang yang mencintainya apa adanya. Mungkin banyak perbedaan dan kekurangan, tapi mereka bisa saling melengkapi.
Beberapa saat kemudian Lukas dan Alin sudah berada di taman istana. Mereka berdua berjalan di rerumputan taman yang begitu indah dan bersih kelihatannya, sambil bergandeng tangan. Senyum dan tawa kebahagiaan terlihat sangat jelas di wajah mereka. Dan keduanya merasakan perasaan yang sama, kalau mereka sudah menjadi lebih dekat sekarang, tapi mereka tidak berani untuk mengungkapkannya.
"Ini perasaan ku saja atau... kami berdua memang sudah semakin dekat?" Batin keduanya, yang lalu menatap satu sama lain.
__ADS_1