
Alin hanya duduk dan terdiam di tepi danau. Beberapa saat suasana terasa hening dan canggung. Tak ada satupun dari mereka mau memulai percakapan, hingga Viko datang menjadi seorang pahlawan dan membuat keadaan menjadi lebih santai.
"Viko?!" Alin terkejut melihat Viko menyusulnya sampai situ. Ia pun berlari kearah Alin dan langsung duduk di pangkuan nya.
"Anu...itu...Apa Viko belum menguasai sihir?" tanya Lukas agak canggung seraya memulai percakapan.
"Belum, tapi aku bisa melakukan nya sendiri."
"Kalau kau butuh bantuan aku akan menunggu mu besok di taman academy"
"Aku...akan ku pertimbangkan" Sahut Alin.
Keadaan kembali menjadi hening dan canggung, hingga beberapa menit kemudian ada suatu kejadian yang menakjubkan terjadi di situ. Butiran-butiran salju turun ke tanah, saat salju turun Lukas tersenyum tipis.
"Buatlah harapan mu" Perintah Lukas sedikit lebih ramah dari biasanya.
Tanpa berpikir panjang Alin menutup matanya dan membuat sebuah harapan. Lukas hanya memandang Alin beberapa saat yang sedang menutup mata sambil membuat sebuah harapan.
"Aku harap...aku bisa hidup dengan bahagia. Entah siapapun itu yang akan bahagia bersamaku, aku pasti akan menerima nya. Yang pasti aku hanya ingin hidup dengan kehidupan yang lebih baik lagi." batin Alin membuat sebuah harapan.
Sementara itu salju terus saja berjatuhan dari langit dan Lukas juga memejamkan matanya dan membuat sebuah harapan.
"Aku ingin hidup bahagia bersama takdir ku... Tapi... Aku berharap Anita lah yang akan menjadi takdirku." batin Lukas juga membuat sebuah harapan.
Mereka semua kembali melihat danau salju, air danau itu tidak dingin ataupun membeku karena salju yang turun. Danau nya hanya memantulkan cahaya dari bayangan bulan yang terlihat cerah. Butiran salju terus saja berjatuhan dan cuacanya juga menjadi lebih dingin.
Alin dan Viko merasa agak kedinginan dengan angin yang mulai berhembus kencang. Lukas mengeluarkan sebuah jubah yang cukup tebal dan menyelimuti mereka bertiga dengan itu. Entah kenapa muka Alin tiba-tiba saja menjadi merah dan terasa agak memanas. Saat Lukas melihat wajah Alin yang memerah ia merasa sedikit kuatir, ia menyentuh dahi Alin dengan telapak tangan nya dengan lembut.
"Kamu sakit?"
"oeh... ti-tidak" Jawab Alin terbata-bata sambil mengalihkan pandangannya.
"Lalu kenapa muka mu memerah?" tanya Lukas lagi masih belum menyerah.
"Anu... itu... Aku... Maksudku, kenapa kau membawa ku kemari malam-malam begini?" tanya Alin dengan canggung.
"Bukannya sudah ku katakan padamu tadi? Aku mengajak mu kemari hanya karena aku ingin menebus kesalahanku tadi padamu." Jelasnya.
__ADS_1
"oh"
Entah kenapa Alin merasa kecewa dengan jawaban Lukas dan ia pun menundukkan kepalanya sedikit.
"Lagi pula...Ini malam harapan salju, jadi sekalian saja mengajak mu kemari" tambahnya lagi.
"O- oh, baiklah. Aku.. ingin pulang dan istirahat."
Alin berjalan dengan perasaan yang sangat sedih saat mendengar perkataan Lukas tadi, tapi ia juga tidak tau kenapa perasaan nya bisa berubah secepat itu. Alin berjalan sambil tertunduk dengan Viko di pelukan nya dan Lukas pun mengikuti mereka juga. Di sepanjang jalan mereka hanya berjalan dalam keheningan. Alin ingin berbicara banyak tapi entah kenapa mulutnya menjadi enggan untuk berbicara.
Setelah berjalan melewati jalanan yang sebelumnya mereka lewati, mereka akhirnya tiba di istana dan pergi melewati lorong yang menuju ke kamar mereka. Saat sudah di depan kamarnya, Alin menyerahkan jubah itu kembali ke Lukas dan masuk ke dalam bersama dengan Viko tanpa mengatakan sepatah kata pun. Lukas juga kembali ke kamarnya dan beristirahat.
Sementara itu di dalam kamar Alin ia duduk di tepi kasur dan menutupi wajahnya. Perasaan nya terasa sangat sakit, namun dia sendiri juga tidak tau kenapa bisa begitu.
"Viko... Sebenarnya kenapa aku bisa jadi begini sih?" Tanya Alin pada Viko. Tapi percuma saja ia bertanya pada Viko.
Alin pun merebahkan diri di kasur dengan posisi telentang dan berpikir. Saat itu juga Viko naik ke atas badan Alin dan menjilat-jilat wajahnya.
"Viko....hahahaha.... berhenti ini geli" Bahak Alin tertawa karena merasa geli saat Viko menjilatinya.
Mereka bermain-main sebelum tidur. Alin dan Viko saling menggelitik satu sama lain dan akhirnya mereka berdua pun tertidur.
Hari ini adalah akhir pekan yang sering Alin tunggu-tunggu, karena ia bisa bersantai dan berguling-guling di kasur sesukanya. Akhir pekan di istana sangatlah membosankan bagi Alin dan ia memutuskan untuk hari ini dia akan mengajari Viko sebuah mantra. Namun ia lupa bahwa dia tidak tau bagaimana caranya.
"Aku ingin mengajarimu sebuah mantra sihir... Tapi... Aku lupa kalau aku tidak sedang berada di dunia yang penuh teknologi modern, yang bisa mencari apa saja di internet." Gumamnya.
Tak lama setelah itu ada seseorang mengetuk pintu kamar nya. Alin mengira itu adalah Lukas dan bergegas duduk.
...tok tok tok...
"Masuk!"
Orang itu masuk ke dalam dan ternyata itu adalah Gion. Alin merasa agak sedih dan murung. Gion pun duduk di sebelahnya.
"Kenapa? Apa kau kecewa karena bukan Lukas yang datang?" Tanya Gion bercanda.
"Ti-tidak kok"
__ADS_1
"Lalu kenapa kau terlihat murung saat melihatku tadi?" Tanya Gion lagi menggoda nya.
"Gion....Aku tidak... arghhhh katakan kau ada perlu apa?" Jawab Alin kebingungan menjawab pertanyaan Gion dan melempar sebuah pertanyaan pada nya.
"Apa kau bisa membantu ku?" tanya Gion.
"Apa?"
"Jadi aku ingin membuat sebuah ramuan hari ini tapi harus di lakukan berdua. Aku sudah mencari Reyhan dan Lukas tapi aku tidak menemukan mereka. Apa kau bisa membantu ku?" Pinta nya sambil memelas seperti anak kecil.
"Baiklah, baiklah. Berhenti memasang ekspresi itu, aku akan membantu mu." Jawabnya.
"Baiklah, ayo"
Gion menuntun Alin pergi ke sebuah tempat. Hingga mereka tiba di sebuah air terjun, tempat dimana Gion menyimpan barang-barang yang ia dapatkan dari misi Regental luarnya. Mereka masuk ke dalam dan Gion menyalahkan semua obornya.
"Jadi dimana kita akan membuat ramuan nya?" tanya Alin pada Gion yang sedang mengobrak-abrik tumpukan barang.
"Tunggu.." Gion mencari sesuatu.
Beberapa menit kemudian Gion berbalik dan menghampiri Alin yang tengah duduk di lantai dari tadi sembari menunggu nya.
"Baiklah, ayo" Ajak Gion.
Alin berdiri dan mengikuti Gion. Gion menuntun Alin berjalan ke sebuah dinding yang terlihat tidak ada hal menarik di situ. Alin hanya kebingungan melihat dinding.
"Dinding?" Tanya Alin kebingungan.
"BUKA RUANG!" Perintah Gion pada sebuah dinding di hadapannya.
Seketika dinding itu terbuka lebar dan mereka masuk ke dalamnya. Di dalam terdapat sebuah ruangan yang amat terang dari ruangan sebelumnya.
"WOAHHHH.... Menakjubkan sekali!" Seru Alin takjub.
Di sana ada sebuah tungku, perapian, benda-benda yang aneh, botol ramuan kosong dan botol-botol ramuan yang tersusun rapi di rak. Gion duduk di lantai di dekat sebuah perapian yang ada tungku di atasnya.
"Tempat apa ini?" Tanya Alin sambil berjalan ke arah Gion dan melihat-lihat sekeliling.
__ADS_1
"Di sini lah aku membuat ramuan."