
Satu minggu kemudian, Arga sudah mendapatkan sejumlah informasi tentang Lukas yang tertera pada tumpukan kertas yang ada di atas meja nya. Finoku, asisten pribadi ayahnya Arga juga ada di situ untuk menyerahkan beberapa informasi tambahan tentang keluarga Alin pada beberapa tahun terakhir kepada Arga.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, ia membacanya satu persatu. Tapi Arga sangat tidak merasa puas saat melihat informasi tentang keluarga Pranatha yang begitu sulit di dapatkan, keluarga nya hanya bisa mendapatkan sedikit informasi tentangnya.
"Hah... Apa sebegitu sulitnya kah mendapatkan informasi tentang keluarganya Tuan muda Lukas? Kalian bahkan hanya bisa mendapatkan informasi tentang aktivitas bisnis keluarga nya." Sungut Arga yang merasa agak kesal.
"Maaf, tuan muda. Tapi hanya itu yang kami dapatkan." Sahut Finoku yang sedari tadi berada di samping Arga.
Arga kemudian berpikir dan terdiam untuk sesaat sambil memandang ke luar jendela besar yang ada di dalam ruangan itu. Hingga ia melihat suatu bayangan dari pantulan kaca yang terlihat samar-samar. Finoku gemetaran, ia menggenggam beberapa lembar kertas dengan sangat erat. Arga berbalik dan menghampiri Finoku.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" Tanya Arga yang menepuk pundaknya.
"Tuan... Saat saya mencari informasi tentang keluarga Tuan muda Lukas, saya menemukan informasi tentang keluarga wanita yang bersama dengan Tuan muda Lukas pada beberapa bulan yang lalu. Saya pikir anda tidak membutuhkan nya, jadi tidak saya serahkan kepada anda." Jelasnya.
"Siapa wanita itu?"
"Jiu.. Xiao Alin."
"Alin? Memangnya, informasi apa lagi yang tidak aku ketahui dari dirinya?"
Arga mengambil beberapa lembar kertas tersebut dan duduk di kursi kembali, lalu membacanya. Ia terlihat sangat serius membacanya. Terkadang pada suatu kalimat yang di baca, Arga sempat mengerutkan keningnya.
Setelah membaca lembaran informasi tentang Alin tersebut, Arga terlihat kesal. Ia membanting lembaran informasi itu ke atas meja dengan sangat keras. Finoku pun merasa agak takut saat melihat hal itu.
"Jadi itu yang mereka lakukan pada Alin selama ini?!! Brengsek mereka semua! Aku pasti akan membalaskan nya."
"Finoku, gali semua informasi yang berkaitan dengan mereka lagi dan tetap awasi mereka." Perintah Arga.
"Baik, tuan."
Arga keluar dari ruangan tersebut dan hanya tersisa Finoku di sana. Saat sudah memastikan bahwa Arga sudah benar-benar pergi, Finoku membereskan lembaran tadi sambil menyeringai.
"Adik, aku pasti akan membantu mu di sini. Aku akan menyusul mu segera."
Seketika itu juga, Finoku langsung berubah menjadi seseorang, seseorang yang tak nampak wajahnya. Setelah selesai membereskan lembaran tersebut, orang itu langsung menghilang dengan sekejap mata.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di dunia sihir putih, Alin sangat senang saat itu. Karena hari ini adalah hari terakhir untuk pemulihannya. Belum saja Kael mengijinkan nya keluar, ia sudah pergi dengan begitu saja tanpa sepengetahuan siapapun.
"Kael lama sekali. Aku sudah sangat bosan berada di sini. Aku pergi saja!"
Dengan diam-diam Alin keluar dari kamarnya tanpa sepengetahuan pengawal ataupun Kael dan yang lainnya. Sesampainya di gerbang utama istana, Alin melihat Henil di sana. Dan Alin berniat untuk meminta bantuan dari Henil yang sedang berjaga di depan.
"Pak, apa kau bisa membantuku. Aku butuh bantuannn..." Bisik Alin kepada Henil sambil memantau keadaan di sekitar.
"Ada apa putri Jiu? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin pergi mencari Yudian, apa kau bisa merahasiakan ini dari Kael dan yang lainnya?"
"Ehmm... Entahlah putri, saya mungkin saja... tidak bisa melakukannya." Tutur Henil yang takut dengan Kael.
"Oh ayolah... Kumohonn...." Rayu Alin lagi.
"Tapi..."
"Oke, terima kasih. Aku pergi dulu..."
"Hadeuhhh Tuan putri....! Apa yang harus saya katakan nantinya jika ada yang menanyakan anda?!" Jerit Henil yang merasa tertekan.
Beberapa lama setelah itu, Kael dan Lukas yang baru saja datang dari kantor pusat misi Regental, menghampiri Henil yang ada di gerbang. Henil gemetaran dan ketakutan, ia kira Alin sudah ketahuan oleh mereka dan sekarang ia akan di marahi. Namun bukan itu yang terjadi.
"Henil, apa master Deon Li ada di dalam?" Tanya Kael.
"A-ada di dalam tuan." Sahut Henil yang gugup sambil menundukkan kepalanya.
"Ada apa dengannya? Seperti orang yang sedang menyembuhkan sesuatu saja." Gumam Kael.
Mereka berdua masuk ke dalam istana dan Henil pun merasa lega setelah mengetahui kalau mereka tidak tau tentang apa yang ia sembunyikan sekarang.
"Huffttt...."
"Kau pergilah dulu, aku akan pergi menjemput Alin." Ucap Lukas kepada Kael.
__ADS_1
"Tentu, aku akan menunggu kalian."
Setelah mendengar nama Alin, tubuh Henil menjadi panas dingin. Keringat dingin dan rasa kekuatiran kembali muncul di dalam dirinya. Dengan perasaan kuatir, Henil memalingkan kepalanya dan melihat kedua orang yang berjalan itu dengan ekspresi yang tertindas.
"Huhuhu... Matilah aku! Apakah aku harus pergi sekarang?!"
"Tidak, tidak. Kau seorang kepala pasukan, apa kau ingin menjadi pengecut?! Sudah seharusnya kau mati demi anggota kerajaan. Tapi... kau bahkan belum menikah. Apa kau ingin mati sebagai seorang perjaka demi seorang putri yang bandel itu?!"
Hati nurani dan kalbu bertengkar hebat di dalam Henil untuk memperebutkan tindakan yang harus ia lakukan kedepannya. Henil menjadi sangat bingung, ia kemudian duduk terdiam di tanah sambil meratapi nasib untuk kedepannya.
Tak berselang lama, Lukas dan Kael langsung muncul dihadapan Henil yang tengah melamun menggunakan mantra teleportasi milik mereka. Dengan tatapan khas iblis, Kael meminta Henil untuk mengakui semuanya.
"Henil...! Katakan kepada kami, dimana putri Jiu sekarang?!" Tanya Kael.
"Ampun tuan, pangeran. Saya tidak tau." Jawab Henil yang terlihat tidak berjiwa setelah melihat tatapan Kael yang menyeramkan tersebut.
"Apa maksudmu?! Kau sendiri yang berjaga di depan gerbang dan Alin masih belum menguasai mantra teleportasi, tidak mungkin dia bisa kabur tanpa sepengetahuan anggota istana ini! Katakan sekarang atau aku akan mencincang lidah mu." Ancam Kael.
"Dengan sifat Alin yang seperti ini, dia pasti sudah pergi keluar. Henil, katakan yang sebenarnya kepada kami." Tambah Lukas lagi.
"Ampun pangeran, putri Jiu meminta saja untuk tidak mengatakan kalau beliau pergi kepada kalian. Maafkan saya pangeran, saya akan jujur, putri Jiu pergi untuk menemui temannya yang bernama Yudian." Jawab Henil terus terang.
"Haisshh... anak itu. Dasar anak nakal!" Gerutu Kael.
"Yudian? Ketua kelas?"
"Kael, biar aku saja yang mencarinya. Kau pergilah dulu."
Lukas langsung pergi meninggalkan Kael dan Henil dengan sangat cepat. Entah kemana orang itu pergi, tapi yang pasti Kael benar-benar kesal dengan nya, yang pergi dengan tergesa-gesa tanpa mendengarkan dirinya terlebih dahulu.
"Anak itu! Ih!"
"Tuan?" Panggil Henil.
"Apa?!" Sahut Kael.
__ADS_1
Kael yang kesal langsung masuk kembali dan meninggalkan Henil. Henil pun merasa lega saat mereka berdua telah pergi dari tempat itu.