Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 78 Olivia warga baru.


__ADS_3

"Aku punya suatu penawaran, jika kau mau mempercayai ku, maka aku akan menyembuhkan mereka." Ucap Olivia dengan tatapan kosong ke arah Lukas dan Alin.


Deon Li sempat tertegun dengan perkataan Olivia, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Olivia yang masih menatapi mereka berdua. Deon Li menjadi semakin frustasi, ia bingung akan pilihan nya sendiri. Antara membiarkan orang asing yang tidak jelas asal usulnya itu untuk membantunya atau membiarkan anak serta keponakan nya itu mati. Deon Li berfikir sejenak dan termenung di dalam pikiran untuk beberapa saat.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku bisa mempercayai orang asing itu?! Tapi Lukas dan Alin..."


Sedangkan Olivia masih saja terdiam menatapi keduanya dengan serius. Ada pandangan lain di dalam pikirannya serta pengelihatannya terhadap Lukas dan Alin. Ia menatap mereka dengan tajam, seperti ada yang aneh pada mereka.


Dengan kekuatan mata Pikeon, Olivia bisa melihat dengan jelas, melihat apa yang tidak bisa manusia dan penyihir biasa lihat. Mata itu adalah mata yang di wariskan oleh Master ketua dunia sihir merah yang terdahulu untuk anak-anaknya. Clorian dan Olivia adalah saudara kembar yang terlahir di sebuah Desa, desa khusus untuk kelompok Daiko, kelompok misterius. Namun sayangnya, Olivia lah satu-satunya pewaris terakhir mata Pikeon tersebut setelah meninggalnya Clorian pada 879 tahun yang lalu.


Olivia terus saja menatapi mereka. Di dalam pandangan mata Pikeon nya tersebut, tubuh Lukas di kelilingi oleh sebuah aura hitam. Sedangkan pandangan Olivia terhadap Alin sangatlah berbeda jauh. Olivia menjadi bingung.


Terlihat pada pandangan Olivia, ia melihat ada 2 cahaya putih di dalam tubuh Alin, yang tidak lain adalah budak jiwanya. Yang satunya adalah budak jiwa Clorian dan yang di sebelahnya adalah budak jiwa milik Alin sendiri. Namun budak jiwa milik Alin itu terlihat di segel menggunakan rantai sihir yang berwarna merah. Rantai itu terlihat sangat kuat, Olivia ataupun Deon Li mungkin saja tidak bisa membuka segel itu.


"Racun Beockeil bereaksi dengan cepat pada tubuh mereka berdua, tapi ada suatu hal yang menggangguku. Laki-laki itu.. memiliki sedikit aura api iblis, siapa dia sebenarnya?! Hanya ada beberapa orang yang memiliki aura itu di dunia sihir, dari mana dia mendapatkan nya?! Dan wanita itu... Jiwa Clorian! Dia memiliki jiwa kakak! Apa dialah yang kakak maksud tadi?! Tapi... kenapa budak jiwanya di segel?"


Tidak heran jika Olivia keheranan melihat Alin yang masih bisa bertahan dengan 2 budak jiwa. Budak jiwa adalah sebuah jiwa yang menyimpan kekuatan terbesar seorang penyihir itu sendiri. Tidak semua penyihir bisa memiliki budak jiwa, hanya orang kuat yang bisa memilikinya. Tapi yang lebih mengherankan Olivia lagi adalah segel yang ada pada budak jiwa asli milik Alin.


Waktu terus berjalan, kondisi Lukas dan Alin semakin parah. Sementara Deon Li masih saja berpikir untuk memutuskan keputusan nya tanpa melihat keadaan sekitar.


Olivia langsung tertegun saat melihat aliran darah Lukas dan Alin yang terlihat melemah melalui pandangan mata Pikeon nya. Ia langsung menerobos masuk dan mencoba untuk membantu menyelamatkan nyawa mereka berdua. Deon Li yang melihat Olivia panik dan tergesa-gesa masuk ke dalam, memutuskan untuk ikut masuk juga dan menolongnya.


"Suruh para tabib untuk membawakan buah sihir kemari, Cepat!" Perintah Olivia kepada Deon Li yang sedang mematung di sebelahnya karena kebingungan.


"O-oh, baik! Pengawal! Tabib! Ambil buah sihir dan panggil Kael segera." Teriaknya.


Semua orang yang mendengar perintah Deon Li itu langsung melaksanakan perintahnya. Mereka berlari kesana-kemari untuk mencari buah sihir yang ada di istana dan memanggil Kael. Sementara itu Olivia langsung membuat mantra penyembuhan yang sangat besar untuk menyembuhkan mereka dengan bantuan dari Deon Li.


Selang beberapa saat, Kael datang bersama dengan sekeranjang buah sihir yang Olivia. Ia melihat kalau Olivia dan Deon Li sedang menyembuhkan Lukas dan Alin. Setelah melihat hal itu, Kael langsung ikut bergabung dengan mereka.


"Ini buah sihirnya!" Ucap Kael seraya meletakkan buah itu di dekat Olivia, lalu ikut bergabung dengan mereka.


Tanpa pikir panjang, Olivia langsung melempar buah sihir itu ke tengah-tengah simbol sihir yang mereka buat. Buah itu hancur dan hilang seketika. Usaha tersebut tidaklah sia-sia, cara itu cukup efektif untuk membuat kondisi Lukas dan Alin agar semakin membaik.


Beberapa jam setelah itu, kondisi Lukas dan Alin kembali membaik dan telah stabil. Deon Li dan Kael terlihat sangat senang akan hal itu. Dan mereka juga sudah mulai merasa percaya akan kebaikan serta ketulusan Olivia yang ingin membantu mereka. Deon Li dan Kael menghampiri nya.

__ADS_1


"Apa kau ingin kami mempercayai mu?" Tanya Deon seraya berdiri di hadapan Olivia yang tengah memperbaiki tali sepatunya yang terlepas.


"Tentu saja."


"Tapi aku punya syarat. Kau tidak boleh berkhianat dari dunia sihir putih dan kau harus mendengar perintah kami. Dengan memenuhi syarat itu, aku akan mengijinkan kau tinggal di sini."


"Syarat kalian mudah sekali, apa tidak ada syarat yang lebih menantang lagi?!" Tanya Olivia yang terlihat menantang.


Deon Li menjadi sangat kesal dan jengkel dengan sikap Olivia yang sedang menantangnya itu. Kael yang melihat amarah Deon Li yang semakin memuncak, langsung menghampiri Olivia.


"Kalau begitu mati saja sana! Maka aku akan mengijinkan mayat mu terkubur di sini!" Ucap Deon Li dengan nada dingin dan tatapan yang super tajamnya.


"Hei! Jika kau masih ingin hidup dan tinggal di sini, maka diamlah. Berhenti menjadi orang yang besar mulut! Kau ingin mewujudkan permintaan kakakmu, bukan? Maka kau tidak boleh membuatnya marah." Bisik Kael memberikan peringatan kepada Olivia.


Olivia malah terdiam dan menatap Kael yang ada di belakangnya itu dengan tatapan yang tajam. Kael mencoba untuk menenangkan Deon Li yang sedang kesal itu.


"Ehmn... master, anu... Jangan hukum dia, bukannya dia sudah membantu kita menyembuhkan Lukas dan Alin, bukan? Jadi biar saya saja yang mengurusnya. Anda bisa pergi beristirahat sekarang, hehehe..." Ucap Kael dengan canggung.


Setelah mendengar perkataan Kael tersebut, Deon Li berbalik ingin pergi meninggalkan mereka. Emosi kini kian mereda karena perkataan Kael barusan dan ia memilih untuk pergi. Belum sempat Deon Li melangkahkan kakinya keluar pintu, ia di hentikan Olivia yang ingin menyampaikan sesuatu.


"Tunggu! Aku bisa melatih wanita itu untuk mengendalikan budak jiwa nya! Maafkan... atas ketidaksopanan saya, master.." Ucap Olivia seraya menundukkan kepalanya sedikit.


Karena Deon Li sudah memadamkan amarahnya kepada Olivia, ia menyuruh Olivia untuk mengangkat kepalanya.


"Angkat kepala mu! Kau akan ku ijinkan tinggal di sini, tapi dengan syarat ku tadi. Kael, angkat dia menjadi asisten medismu dan jika Alin sudah sadar, dia akan melatihnya juga." Ucap Deon Li.


"Eh, saya master?"


Setelah mengatakan hal itu, Deon Li langsung berbalik dan pergi meninggalkan keduanya bersama dengan Alin dan Lukas yang masih ada di ruangan itu. Olivia dan Kael menjadi agak lega dan mereka duduk di kursi yang ada di situ. Kael menjadi sangat lega, ia menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengobrol dengan Olivia.


"Huftt... Wajah master terlihat sangat marah, kau sebaiknya jangan menantangnya lagi. Bahkan dia mungkin terlihat lebih menyeramkan dari Lukas." Tegur Kael.


"Oke, oke. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Bagus! Hmm.. kira-kira... kapan ya mereka akan sadar?" tanya Kael seraya menatap Lukas dan Alin.

__ADS_1


"Mungkin beberapa hari lagi. Ternyata kekuatan mantra penyembuhan mu kuat juga. Padahal umur ku masih sangat muda, bukan?" Tanya Olivia.


"Aku memang terlahir dengan kemampuan yang hebat! Memangnya berapa umurmu? Sampai-sampai kau bisa menilai umurku masih muda. Umurku sudah 39 tahun, kau bahkan terlihat berumur 28 tahunan. Apa aku atau kau masih yang muda?" Tanya Kael lagi.


"Aku sudah hidup di daratan ini selama 1229 tahun. Sekarang, apa aku atau kau yang masih muda?" Tanya Olivia balik sambil menoleh ke arah Kael dengan tatapan yang sinis.


"Eh! Apa?!"


Kael sontak langsung terkejut dengan pernyataan tersebut. Bagaimana tidak terkejut, Olivia bahkan lebih tua dari Deon Li. Apalagi dengan Kael, bahkan berkali-kali lipat nya.


Berjam-jam mereka berjaga di sana, sampai waktu sudah menunjukan pukul setengah 11 siang. Mereka harus pergi untuk bersiap menemui sang ibu suri yang akan berulang tahun di aula pada hari ini.


Mereka keluar dan memerintahkan beberapa tabib dan penjaga untuk berjaga di dalam. Kael dan Olivia bejalan beriringan di sepanjang koridor istana bersama. Hingga mereka tiba di depan kamar baru Olivia.


"Ini kamar mu, jika perlu sesuatu panggil saja pengawal dan pelayan yang ada di depan."


"Hmm... oke... Pergilah!"


Setelah itu, Kael pergi ke kamarnya sendiri dan bersiap untuk menghadiri acara ulang tahun ibu suri yang akan di laksanakan di aula istana. Setelah bersiap-siap, Kael pergi menjemput Reyhan di kamarnya.


Kael kini sudah berdiri di depan pintu kamarnya, tanpa aba-aba Kael langsung membuka pintu tersebut. Hal mengejutkan datang ke mata nya. Reyhan sedang sibuk menulis surat untuk ibu Lina. Reyhan tentu saja sangat terkejut dan ia langsung refleks membakar semua kertas-kertas yang ada.


"Hwa! Kak, kau mengejutkan ku!" Pekik Reyhan yang terkejut akan kedatangan Kael yang tiba-tiba.


"Hehehe... Maaf.. Apa yang kau lakukan tadi?"


"Ti-tidak, tidak ada."


"Benarkah, apa kau... menulis surat untuk meminta restu kepada calon mertuamu?" Tanya Kael yang menggoda Reyhan.


Reyhan yang merasa tertangkap basah menjadi salah tingkah dan kini mukanya sudah menjadi merah tomat. Hal itu membuat Kael sampai tertawa terpingkal-pingkal.


"Bwahahaha... Apa itu? Apa mantra baru? Muka yang tiba-tiba merah? Hahahaha.. Reyhan, Reyhan.." Ejek Kael.


"Kakakakkkk!"

__ADS_1


"pfttt.. Oke, oke. Aku hanya bercanda. Ayo cepat, kita akan terlambat nantinya."


"HM!" Sahut Reyhan yang masih kesal dengan Kael yang mengolok-olok nya tadi.


__ADS_2