
Wahhh, udah sampe episode 80 an aja yah...
Gak terasa, nih.
Btw, episode 3-46 belum author revisi yahh, jadi harap maklum ;v.
Bakal aku revisi pas cerita ini udah tamat, soalnya kalo bolak-balik episode, aku nya yang puyeng tar.
Tenang aja, ceritanya bakal pajang, kek film.. Au ;v. Happy reading.
...****************...
Sore harinya, semua tugas dan pekerjaan semua orang untuk hari itu telah selesai sekarang. Mereka semua pulang ketempat nya masing-masing dan pergi untuk beristirahat. Begitu juga dengan Lukas yang baru saja selesai bertugas dengan anggota KIMASEF yang lainnya.
Lukas pergi ke kamar nya. Ia membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, lalu berjalan ke kasur miliknya yang terlihat nyaman. Untuk beberapa saat ia termenung, terasa ada yang kurang di dalam keseharian nya.
"Ada apa dengan ku?! Rasanya hari ini seperti hampa. Tapi tadi kan aku sudah melakukan tugas dan kewajiban ku dengan benar?Huftt.. Sudahlah, aku lelah."
Secara perlahan mata Lukas mulai menutup. Ia sudah sangat kelelahan dengan kegiatan pada hari yang melelahkan itu. Tapi saat baru saja ia memejamkan matanya, Reyhan masuk dengan tiba-tiba.
"Halo, halo penghuni yang ada di ruangan ini! HALO! APA ADA ORANG?!" Seru Reyhan.
"Berisik! Dasar hama!"
...BRUGH...
Satu jurus lemparan bantal mendarat tepat di hadapan wajah sang hama pengganggu gunung kutub. Lukas terlihat sangat kesal dengan Reyhan yang menggangu nya. Bukannya merasa bersalah ataupun takut, Reyhan malah terkekeh geli saat melihat Lukas yang kesal di buatnya. itu
"Hahahaha..."
"Hama! Pergi sana sebelum aku membakar mu!" Usir Lukas yang membalikkan tubuhnya ke arah yang sebaliknya.
"Gunung kutub..." Ejek Reyhan balik.
"Reyhan, jangan menguji kesabaran ku." Tegas Lukas sekali lagi, tanpa menoleh kearahnya sedikit pun.
"Ble..ble..ble.." Ejek Reyhan yang masih menggangu Lukas.
__ADS_1
Lukas benar-benar tidak habis pikir dengan Reyhan yang seperti orang kurang kerjaan itu. Ia duduk dari tempatnya dan berteriak.
"Pengawalll, ada hama! Keluarkan dia cepat!" Teriak Lukas dari tempatnya sekarang.
Seketika itu juga pengawal yang ada di depan langsung masuk dan menghadap ke hadapan Lukas. Ketika mereka masuk, tak terlihat satupun hama di kamar itu, tentu saja mereka semua kebingungan.
"Hama? Di mana hama nya pangeran?"
"Itu." Sahut Lukas seraya menunjuk Reyhan, lalu kembali merebahkan diri, menghadap ke arah yang berlawanan dari mereka.
"Eh?!" Seru mereka secara bersamaan.
"Pa, pangeran. Kami.. akan keluar sekarang." Ucap Pengawal itu dengan agak sedikit canggung, lalu pergi meninggalkan Lukas dan Reyhan.
Saat mereka semua sudah pergi, Reyhan mendekat kearah Lukas. Lukas terlihat sudah memejamkan matanya. Namun Reyhan belum menyerah, ia mencoba untuk memastikan Lukas sudah tidur atau belum.
"Lukas? Apa kau sudah tidur? Hei!" Panggil Reyhan dengan sedikit berbisik.
"Bagaimana bisa aku bisa tidur jika ada kau yang menggangu ku?!"
"Sttt... Tolonglah bantu aku sebentar."
"Bagaimana caranya meyakinkan seseorang agar percaya dengan kita? Tolong beri saran untuk ku..." Pinta Reyhan.
"Hm. Tentu saja kau harus berkata-kata manis. Bukan hanya itu, kau butuh pembuktian melalui tindakan. Jika sudah, pergilah. Aku ingin tidur."
"Oke, terima kasih sarannya. Ngomong-ngomong, siapa yang membersihkan kamarmu yang terkenal dengan kamar berantakan terlegendaris ini?" Tanya Reyhan lagi seraya memandangi sekitar.
"Alin yang..."
Belum sempat Lukas menyelesaikan kalimatnya, hasrat untuk tidurnya sudah tidak bisa tertahankan lagi. Ia langsung tertidur dengan pulas tanpa bisa melanjutkan kata-kata yang ia ingin ucapkan. Reyhan yang merasa kalau jawaban dari Lukas itu menggantung, ia menengok ke arah orang itu. Ternyata saat ia menengok, Lukas sudah tertidur dengan pulas.
"Yahh.. Sudah tidur ternyata." Gumam Reyhan.
Setelah mengetahui Lukas yang sudah tertidur, Reyhan keluar dan membiarkannya beristirahat. Reyhan pun pergi ke kamarnya sendiri.
Keesokan harinya lagi, semuanya kembali beraktivitas seperti biasanya. Namun tidak dengan anggota kerajaan, mereka harus melakukan tugas mereka untuk memperbaiki lokasi-lokasi peperangan yang sebelumnya.
__ADS_1
Lukas pun bersiap untuk pergi. Semua anggota KIMASEF telah absen dari academy untuk beberapa hari, mereka harus melaksanakan kewajiban mereka sebagai anggota organisasi yang terkuat di dunia sihir putih itu. Seperti biasa para anggotanya akan berkumpul di taman istana untuk menunggu kedatangan Lukas.
Tapi saat Lukas melewati ruang pengobatan khusus, hatinya seperti beralih pandang ke dalam ruangan itu. Ia masuk dan melihat Alin yang lemah, masih terbaring di bangsal. Ia akhirnya sadar, kalau dia lah yang hilang dari hari-harinya.
Di hari-hari nya beberapa bulan terakhir selalu di isi dengan senyuman, suara, tawa, dan canda Alin yang selalu bersamanya. Tapi kini, Alin belum bisa melakukan itu lagi untuk nya. Lukas mendekat ke tempat Alin terbaring dan menatapnya untuk beberapa saat. Hatinya terasa sangat berat dan sakit saat melihat itu. Rasanya, hati yang ia miliki itu enggan meninggalkan nya.
"Apa kau yang hilang dariku? Rasanya kosong sekali tanpamu... Cepatlah sembuh.. Aku akan menunggu mu."
Dengan hati yang sangat berat, ia harus meninggal ruangan Alin tersebut. Ia harus menemui anggota KIMASEF yang lainnya sekarang. Saat Lukas ingin berbalik, ada Reyhan dan Lina yang masuk kedalam. Reyhan tentu saja keheranan dengan Lukas, yang baru kali ini datang ke suatu tempat tanpa di undang. Biasanya, dia akan datang ke tempat seseorang atau ke suatu acara bila di undang dan diajak saja, namun kali ini berbeda.
"Weah? Sedang apa kau di sini?" Tanya Reyhan.
"Tidak ada. Bagaimana dengan kalian?"
"Aku kesini menemani Lina untuk menjenguk Alin."
Terlihatlah Reyhan yang sedang merangkul Lina dengan rapat di samping nya. Dari situ, Lukas sudah tau kalau mereka sedang berpacaran. Tapi yang anehnya, Reyhan tidak berkumpul di taman istana seperti yang lainnya.
"Kenapa kau tidak menungguku di taman istana?"
"Kami sudah menunggu mu dari tadi, tapi kau tidak datang! Lama! Ih!" Omel Reyhan yang kesal.
"Ehm, pangeran Lukas? bagaimana dengan keadaan Alin? Dia akan baik-baik saja, kan?" Tanya Lina yang merasa iba melihat Alin terbaring di bangsalnya.
Namun bukannya menjawab ataupun merespon Lina, ia malah keluar dengan kepala yang sedikit di tundukkan. Lina tidak mempersalahkan itu, karena ia tau rasanya. Ia juga merasakan perasaan yang sama seperti yang sedang Lukas rasakan sekarang.
"Dasar gunung kutub, orang bertanya malah pergi." Gerutu Reyhan lagi.
"Sudahlah, dia pasti sangat sedih sekarang. Apa.. Alin akan baik-baik saja? Aku... merindukannya..."
Tak ia sadari air mata mulai berjatuhan. Rasa sakit yang Lina rasakan dihatinya tidak terbendung lagi, ia sangat sedih karena sahabat yang selalu ada di dekatnya kini sedang di ambang kematian, mereka hanya bisa menunggu waktu dan menunggu keajaiban datang. Reyhan yang melihat Lina menangis, berusaha untuk menenangkan nya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Anggota kerajaan akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyembuhkan Alin. Dia pasti akan baik-baik saja, percayalah." Ucap Reyhan menyakinkan Lina.
Reyhan memegang kedua pundak Lina dengan erat, lalu memeluknya.
Disisi lain, Lukas yang tadinya keluar dari ruangan Alin terlihat sedang pergi menuju ke taman istana sambil menundukkan kepalanya. Di balik rambut putih nya itu, ia menyembunyikan buliran air mata yang terus saja berjatuhan, entah kenapa ia menjadi sangat kuatir akan Alin.
__ADS_1
"Aku... aku sudah gagal melindungi nya. Sekarang... aku pun gagal untuk menyembuhkan nya, aku gagal! Tapi... kenapa air mata ini terus saja mengalir...? Aku tidak bisa... hiks..."