
Setelah semua hal itu terjadi Reyhan langsung kembali ke kamarnya untuk menemui Lina. Ketika sudah tiba di sekitaran kamarnya, Reyhan melihat kamarnya yang sudah terbuka setengah. Ia pun sontak terlihat panik, cepat-cepat Reyhan masuk ke dalam kamarnya tersebut.
"Lina!" Panggil Reyhan panik.
Tapi ketika benar-benar masuk, Reyhan sudah melihat Lukas dan Alin sudah bersama Lina di situ. Lukas yang sejak tadi membaca buku dikursi langsung menoleh cepat ke arah sumber suara. Begitupun dengaan Lina dan Alin, mereka yang sedang asiknya mengobrol langsung menoleh juga pada Reyhan yang tiba-tiba masuk dengan terlihat panik. Seketika semuanya langsung tertuju pada Reyhan.
"Kenapa, Reyhan?" Tanya Alin kebingungan.
"Ehm... Tidak ada apa. Oh, iya. Aku.. ingin memberitahukan kalian suatu berita." Ucap Reyhan dengan sayu-sayu.
"Kenapa, Rey?" Tanya Lina dengan nama panggilannya untuk Reyhan.
Melihat Lina penuh perhatian padanya, Reyhan langsung tersenyum lega. Pikirnya, selama ada Lina yang bersedia di sampingnya, itu sudah sangat lebih dari cukup. Ia pun duduk di samping Lina dan merangkul pinggangnya sambil tersenyum lebar.
"Walaupun sesuatu akan berubah mulai sekarang, tapi aku sudah berhasil mempertahankan hubungan kita berdua untuk bersama." Ucapnya.
"Hm.. Maksudnya?" Tanya Lina yang masih kebingungan dengan apa yang di bicarakan Reyhan.
Lukas langsung kebingungan juga dengan perkataan dengan Reyhan. Ia pun menghampiri Reyhan di seberang sana. Ia mendekatkan wajahnya ketelinga Reyhan untuk membisikkan sesuatu.
"Apa yang terjadi? Kenapa sekelompok prajurit Kaisar Otean mengepung tempat mu saat kami datang tadi?" Tanya Lukas dengan serius.
Setelah berbisik, Lukas mengangkat kepalanya kembali dan menatap Reyhan dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya di wajahnya. Begitu pun dengan kedua orang yang sedang di sampingnya itu, mereka masih menatap serius Reyhan.
Suasana hati Reyhan pun terasa berbeda, hatinya merasa gelisah sekaligus lega akan semuanya. Mendengar pertanyaan mereka, Reyhan langsung mendengus ringan sambil tersenyum gentir.
"Itu karena... Aku sudah memutuskan hubungan dengan keluargaku, jadi tidak akan menjadi salah satu pangeran dari sini lagi sekarang. Mulai sekarang aku hanya akan ikut kemana pun Lina pergi." Ucap Reyhan yang lalu menatap senang Lina.
Lina, Lukas dan Lina langsung terkejut. Mereka membelalakan mata nya tidak menyangka dengan apa yang di katakan oleh Reyhan. Lina benar-benar tindakan apa yang Reyhan lakukan untuk nya. Ia pun memegangi tangan Reyhan dengan erat di sana.
"Uh? Reyhan apa yang kau lakukan?! Kenapa kau melakukan itu?!" Tanya Lina tidak menyangka.
"Kenapa? Apa kau tidak menginginkan aku karena bukan seorang pangeran lagi?" Reyhan mengiyiritkan sedikit alisnya.
"Bukan begitu! Jika kau tidak bersama keluarga mu lagi sekarang, bagaimana kau akan hidup? Rey... Kembalilah kepada keluarga mu... tak apa, aku bisa menghidupi bayi kita sendirian. Pikirkan lah dirimu, kau punya masa depan yang cerah dengan keluarga mu-
"Lalu, bagaimana dengan kau dan bayi kita nanti? Apakah kau kira aku akan tega menelantarkan kalian hanya demi diriku sendiri? Jangan kira aku tidak bisa bertahan hidup tanpa harta, selama jadi pangeran..." Balas Reyhan dengan sedikit bercanda dengan Lina, dengan senyum menggodanya.
"Sudahlah Lina, Reyhan memang akan terus keras kepala jika di paksa. Juga dia tidak bercanda, kami sebagai seorang bangsawan pun di latih untuk bisa hidup sebagai rakyat jelata juga, jadi kalian masih bisa terus bersama." Tambah Lukas.
Lina terdiam, ia menunduk sambil memain-mainkan jari-jarinya. Ia merasa tidak enakan yang kepada Reyhan, ia bahkan harus turun dari tahta pangerannya demi dirinya. Lina lalu mengangkat kepalanya menatap Reyhan dengan penuh haru, ia sangat senang karena akhirnya menemukan seseorang lelaki yang tepat bagi keluarganya kelak. Ia meraih tangan Reyhan dan menggenggam erat tangan itu.
"Terima kasih, karena telah menjadi orang yang terbaik bagiku." Ucap Lina.
Reyhan pun membalasnya dengan senyuman terlebarnya. Dengan lembut Reyhan mengelus-elus kepalanya, dengan penuh kasih sayang. Yang di sambung lagi dengan pelukan oleh keduanya.
Karena merasa sudah mulai menjadi nyamuk di tempat itu, Lukas dan Alin pun memberikan isyarat untuk satu sama lain agar segera keluar dari situ sekarang juga.
"Sepertinya kita sudah harus pergi sekarang, Alin."
"Kalau begitu ayo cepat."
Setelah sepakat mereka pun perlahan keluar dari tempat itu meninggalkan mereka berdua untuk berduaan di sana. Sesudah keluar dari sana, Lukas tiba-tiba saja meletakan tangannya tepat di pucuk kepala Alin. Alin pun mendonggak kepada Lukas dengan bingung.
__ADS_1
"Hm? Kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya.. hmm.. entahlah, tanganku sepertinya sudah berlain arah dari otak." Ucap Lukas yang langsung menarik tangannya itu kembali, lalu berjalan mendahului Alin.
Lukas berjalan sambil menatapi tangan yang sebelumnya menyentuh kepala Alin sambil melamun. Alin juga sempat kebingungan, hingga ia tetap menyusul Lukas yang ada di depan dan berusaha untuk menyamakan langkahnya.
"Aishh... Tangan ku seakan sudah terbiasa melakukannya.. Bagaimana jika Alin merasa tidak nyaman saat aku melakukan hal itu padanya? Haruskah aku bertanya?" Pikir Lukas dengan keras.
Keduanya terus saja berjalan entah kemana di sekitaran istana. Dan Alin nampaknya sudah setia berjalan di samping Lukas, walaupun ia sendiri tidak tau tujuan perjalanannya.
...Gruuuyyykkkk...
Tak lama setelah itu, suara gemuruh terdengar. Namun bukan gemuruh langit, melainkan suara gemuruh yang berasal dari tong seseorang. Alin dan Lukas sontak saling tatap-metatap dengan canggung. Hingga, asal mula suara gemuruh tong tersebut ditemukan oleh Lukas.
"Lapar?" Tanya Lukas singkat dengan penuh perhatian.
Alin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan memelas. Dan setelah di ingat-ingat, Alin ternyata belum mengisi perut nya dengan sesuatu sejak tadi malam, selain coklat panas yang disajikan oleh Lukas padanya waktu itu.
"Mau ku ambilkan sesuatu dari dapur?"
"Haishh.. Makanan di istana sudah sangat sering sekali ku makan. Makanannya itu-itu saja, tidak ada yang lain." Gerutu Alin.
"Lalu? Ingin makan apa? Makan batu? Rumput?" Sahut Lukas sambil tersenyum jahil.
"Kau pikir aku kuda?" Decak Alin kesal.
Alin hanya menatap sinis Lukas di sampingnya dengan kesal sambil menyilangkan kedua tangannya. Melihat respon Alin dengan candaannya, Lukas langsung terkekeh geli. Ia tidak menyangka akan respon imut Alin terhadap candaan nya barusan.
"Pfttt.. hehehe... Lalu mau makan apa?" Tanya Lukas lagi dengan masih terkekeh.
"Eittthh.. Tunggu dulu."
Lukas menarik tangan Alin dengan sedikit kuat, hingga membuatnya mundur untuk beberapa langkah kebelakang. Alin pun menoleh kepada Lukas yang lebih tinggi darinya itu.
"Kenapa lagi?"
"Pakai ini. Kita tidak akan bisa bebas berkeliling jika para rakyat mengenali kita. Juga lepas liontin mu." Ucap Lukas seraya mengulurkan seutas kain kepada Alin.
Sementara Alin memasangkan kain tersebut di wajahnya, Lukas melepaskan lencana nya yang ada di samping kiri jas putihnya. Ketika Alin sudah memasang kain tadi dan melepas lencana nya, mereka pun kini sudah siap untuk pergi mencoba kuliner yang sedap di luar sana.
"Baiklah, sudah siap." Ucap Alin sambil menepuk-nepuk tangannya yang tidak berdebu itu dengan sengaja.
"Satu lagi."
"Hm?"
Tiba-tiba saja Lukas menarik ikat rambut Alin hingga terlepas. Rambut Alin kini surah tergerai rapi dan dengan segera, Lukas menjepit kan salah satu sisi rambut Alin dengan sebuah jepitan rambut bunga berwarna biru di sana.
"Hm? Apa maksudnya?" Tanya Alin sambil memeganginya dengan penasaran.
"Ayo pergi."
Tanpa menjawab pertanyaan dari Alin, Lukas menarik tangan Alin pergi mengikutinya. Di balik seutas kain yang menutupi wajahnya, Lukas nampak tersenyum dengan senang di sana.
__ADS_1
Kini ia sudah tidak salah memahami isi hatinya. Kebahagiaan yang selama ini di carinya ternyata sudah ada dekatnya sendiri, namun sebelumnya ada luka yang membuat nya terlambat untuk menyadari akan kebahagiaan itu.
"Sekarang, biar aku yang membuatmu nyaman dan melupakan segala yang buruk. Sama seperti yang sudah kau lakukan kepada ku sebelumnya. Terima kasih, Alin..."
Mereka pun pergi menuju ke pinggiran desa berdua untuk mencari kuliner di sana, tentu sambil terus berpegangan tangan. Orang-orang yang mereka lewati juga nampak terlihat iri dengan keduanya yang terlihat sangat romantis.
Tapi setelah kejadian di mana Lukas menindihnya di atas kasur terjadi, ia menjadi tidak berani lagi untuk menanyakan pertanyaan yang sama padanya. Bukannya tidak berani, tapi ia takut akan suasana canggung yang akan terjadi.
Beberapa saat setelah mereka berjalan melewati jalan setapak, persimpangan dan beberapa kali berteleportasi, mereka pun kini telah tiba di tempat yang terlihat seperti pasar kuliner. Sebelum pasar kuliner itu, terlihat ada sebuah papan nama desa yang tertancap di tanah, "Desa Riwae". Ada banyak sekali macam makanan yang di jual para rakyat di sana.
"Liatlah, banyak sekali makanan di sini... Haruskah aku belikan satu untuk Viko?" Tanya Alin pada Lukas.
"Boleh saja. Jadi makanan mana dulu yang harus di coba? Err.. Di sini.. Nampaknya terlalu banyak makanan." Ucap Lukas.
Lukas sepertinya pening saat melihat tempat itu. Di sepanjang jalan hanya ada makanan, di sepanjang sudut dan sisi bahkan isinya makanan semua. Ramai sekali suasana di sana. Di tambah lagi ada banyak sekali orang-orang yang ikut berdempetan. Matanya seakan tertutup oleh makanan yang sebegitu banyaknya.
"Bagaimana kalau di sana?" Tunjuk Alin kepada salah satu kedai.
"Apa yang mereka sajikan?"
"Entahlah. Sepertinya es? atau mungkin dessert? Wahh, jika memang dessert hebat sekali desa ini! Sudah lama sekali aku tidak memakannya. Ayo pergi kesana."
Alin pun menuntun Lukas ke kedai tersebut. Sesampainya di kedai yang di maksudnya, benar saja, ada menu es yang tersaji, bahkan ada dessert sekalipun.
Hanya ada beberapa orang yang makan di sana, jadi Alin dan Lukas tidak perlu lama-lama menunggu lagi. Keduanya pun duduk di kursi yang telah di sediakan.
Pelayan pun datang menghampiri. Saat melihat-melihat menu, ada banyak sekali pilihan. Lukas bahkan sampai menggaruk-garuk kepalanya karena saking banyaknya pilihan. Sementara Alin, masih membaca dengan teliti menu nya.
"Ashh... Sajikan saja semuanya." Ucap Lukas yang masih kebingungan.
"Eh?!" Pekik Alin dan pelayan tersebut bersamaan.
Keduanya menatap tidak percaya pada Lukas. Tapi ia hanya merespon dengan mengangkat sedikit bahunya sambil menghela nafas setelah membaca menu. Pelayan tadi pun dengan segera mengambil pesanan yang telah di pesan.
"Tumben sekali. Biasanya kau suka membaca. Tapi tadi sepertinya enggan sekali membaca menu-menu itu. Bingung yahh..? hahahaha..." Ejek Alin sambil tertawa geli.
"Bukannya enggan, hanya saja aku tidak suka terlalu banyak memilih." Sahut Lukas enteng.
Beberapa saat kemudian, pelayan tadi kembali menghampiri Lukas dan Alin dengan delapan trolly kayu yang penuh makanan manis dan segar di sana. Alin sungguh terkagum-kagum melihat makanan yang kini sudah bertebaran di depan mereka.
"Wahh.. Benar ada dessert! Tidak menyangka desa kecil seperti ini bisa mengejutkan pengunjung dengan kulinernya." Gumam Alin kagum sambil melihat sekitar.
"Kau benar, aku bahkan juga tidak menyangka ada banyak sekali yang ada di sini. Kalau tidak salah.. Ini daerah perkembangan Reyhan. Ternyata berjalan dengan cukup lancar." Sahut Lukas.
"Kau benar. Kasihan Reyhan, tidak tau bagaimana kita bisa membantunya sekarang... Ck! kaisar Otean terlalu mengekang kehendaknya sendiri."
"Begitulah. Ayo cepat di makan."
Mereka berdua pun langsung melahap satu persatu sajian yang ada di atas meja. Rasanya sungguh memikat lidah untuk terus memakannya. Hingga tak terasa, sudah hampir setengah mereka habiskan berdua semua pesanan dari menu tadi.
"Hm, hm. Enaek dekaoli makanan disoeni." Ucap Alin dengan mulai yang masih penuh.
"Hehe... Habiskan dulu milikmu, baru bicara." Ucap Lukas sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Alin pun hanya bisa tersenyum dengan setengah mengejek Lukas yang ada di sampingnya. Dan seharian itu mereka habiskan untuk berkeliling dan mencari makanan yang enak di desa tersebut.