
Saat mereka sedang mengobrol, tanpa di sadari Lina sudah ada di belakang. Ia mendekat dan menepuk bahu keduanya. Mereka sontak terkejut dan menoleh bersamaan. Ketegangan terjadi diantara mereka berdua karena sorot mata Lina yang terlihat tajam.
"Alin, kau..."
"Lina, bisa aku jelaskan. Kami berdua tidak hubungan apapun." Sela Reyhan yang terlihat kelabakan.
"Lina, aku-" Alin pun mulai kelabakan juga.
Lina melotot dan berjongkok di antara mereka. Alin dan Reyhan terlihat gelisah dengan tatapan melotot itu.
"Alin, kau...! Beraninya menduakan ku dengan dia." Canda Lina lagi sambil setengah tersenyum.
"Eh?!" Seru keduanya.
Alin dan Reyhan pun tertawa lepas mendengar candaan Lina di rasa mereka sangat lucu. Lina pun tertawa juga. Setelah itu Lina duduk diantara mereka untuk ikut mengobrol.
"Kau ini. Lihatlah, Alin sampai terlihat tegang olehmu tadi." Ucap Reyhan yang menatap Lina sambil memegang lengannya.
"Hehe...Hanya bercanda...!"
Tanpa di duga-duga, Reyhan dengan tiba-tiba mencondongkan badan pada Lina lalu mengecup bibirnya dengan secepat kilat. Alin dan Lina sontak terkejut. Muka Lina pun segera memerah karena malu, ia memalingkan dan menutupi wajah merahnya itu.
"Hahaha... Ternyata kau jahil juga." Tawa Reyhan.
"Hehehe... ternyata hubungan kalian cukup baik ya..." Ucap Alin yang sedikit canggung.
Mereka berdua hanya diam menatapnya dan Alin merasa suasana mulai terasa sedikit canggung berada di tengah-tengah pasangan tersebut. Ia pun kembali pamit untuk menjauh seperti sebelumnya. Tentu saja Reyhan dan Lina menyadarinya juga.
"Ehm.. Aku.. keluar dulu."
"Hm, sampai jumpa."
Alin berdiri dari tempatnya dan berjalan kembali ke tepi danau di sisi yang lain, di sisi yang tidak terlihat oleh banyaknya orang termasuk Lina dan Reyhan. Ia duduk termenung menatap langit biru yang cerah, dan sesekali memejamkan matanya. Hingga air mata berjatuhan tanpa kendalinya.
"Aku takut... Aku sendirian... Bahu siapa yang akan menjadi sandaran ku...? Aku selalu ingin menangis, tapi pada siapa? Aku sudah lelah menyembunyikan air mata dan hati ini dari orang-orang. Tapi bahu siapa yang yang akan menjadi sandaran ku...?"
Pada saat itu juga, Lukas datang dari belakang dan menyentil dahi Alin, yang lalu ingin di selanya. Tapi terlambat, karena Lukas sudah menyentil dahinya terlebih dahulu. Lukas hanya tersenyum dan duduk di sebelahnya.
"Awh.."
"Melamun terus...! Lihatlah, refleks mu bahkan lambat untuk mengelak dari serangan kecil."
__ADS_1
"Tapi kau melakukannya saat aku sedang bersantai. Ini tidak adil...!" Bantah Alin yang terlihat berkaca-kaca.
"Eh, kau... Apa..?"
Lukas terlihat terkejut melihat Alin begitu. Ia langsung mendekat dan mengangkat dagu Alin untuk melihat wajahnya yang berkaca-kaca itu. Lukas terlihat kuatir pada Alin.
"Apa sentilan ku sesakit itu? Apa kau tidak apa-apa? Maaf, maafkan aku."
Ia terlihat kuatir dan terkejut pada saat itu. Dengan lembut Lukas mengelus-elus dahi yang disentil nya, lalu mengecup nya. Alin terlihat diam dan melongo. Mukanya mulai memerah dengan mata yang berkaca-kaca. Karena melihat Alin yang tak kunjung membaik, Lukas membekap dan memeluknya dengan erat. Keduanya pun langsung memerah karena malu.
"Sebenarnya kau kenapa, Alin?" Tanya Lukas sambil menahan muka yang terasa membara.
"T-tidak ada, aku.. baik-baik saja."
"Jangan katakan kau baik-baik saja. Kau tidak baik-baik saja. Katakan pada ku, kau kenapa? Apa karena Yeni tadi?"
"Bukan, lupakan saja, Lukas. Aku... benar-benar baik-baik saja." Jawab Alin lagi, yang membenamkan kepalanya semakin dalam ke pelukan erat Lukas.
"Alin..."
Alin mulai terisak. Air mata mengalir tak terkendali. Tangis yang sebelumnya di tahan akhirnya keluar juga di hadapan seseorang. Lukas mengangkat dagu Alin lagi, air mata terlihat telah membasahi hampir seluruh pipinya. Dengan lembut ia menghapus air mata itu, lalu memangku Alin agar lebih mudah memeluknya.
"Lukas, lepaskan aku. Aku benar-benar baik-baik saja... hiks... aku baik-baik saja... kumohon lepaskan aku."
"Kau tidak baik-baik saja. Ingat itu. Kau sedang terluka. Jangan paksakan diri untuk kuat kalau memang terluka. Menangis lah pada sandaran mu, cari sandaran terbaik." Ucap Lukas lagi.
"Aku tidak punya seseorang yang bisa jadi seperti itu. Hanya ada aku.. hanya ada aku, Lukas. Hiks... sejak dulu aku hanya bisa menangis sendirian, memangnya apa ada yang mau dekat dengan orang yang tidak berguna seperti ku...? Hiks..."
"Alin... kau..."
Alin semakin terisak, sedari kecil Alin memang sudah berusaha untuk kuat dan menangis sendirian. Tidak heran jika hatinya menjadi rapuh dan mudah terpengaruh oleh kata-kata kejam seperti itu. Alin terus mengingat sederet kata 'tidak berguna' yang selalu ia dengar selama ini, yang membuatnya semakin terisak.
...Dong, dong, dong...
Bel masuk kelas sudah berbunyi, semua siswa dan siswi academy sudah mulai masuk semua kelas tapi Lukas memilih untuk tetap seperti ini sampai Alin benar-benar tenang. Saking kerasnya isaknya, pendengaran Alin menjadi terganggu dan ia tidak bisa mendengar bel academy dengan jelas.
Lukas kembali mengangkat dagu Alin, lalu menatapnya yang sedang terisak itu dengan tatapan yang begitu dalam. Ia meletakan jari telunjuknya bibir Alin, lalu isak Alin itu pun sedikit mereda seolah memberi Lukas waktu untuk mengatakan sesuatu.
"Sttt... ingat ini. Aku yang akan menjadi seseorang itu. Jadi kelak kau boleh berlari dan menangis padaku." Ucap Lukas dengan senyumnya yang manis.
Alin yang mendengar itu tertegun, isaknya berhenti sejenak. Ia menatap Lukas dengan tatapan yang senang, namun ia terdiam dan tak lama setelah itu terisak lagi, tapi karena bahagia.
__ADS_1
"Terima kasih... terima kasih, Lukas. Terima kasih banyak...! terima kasih... hiks... terima kasih."
Lukas kembali memeluk Alin, tapi kali ini terasa lebih hangat dari sebelumnya. Kehangatan itu terpancar dari tubuh Lukas. Alin terisak seperti sebelumnya, tapi kali ini ia bisa mendengar detak jantung, detak jantung Lukas yang membuatnya tenang sekaligus aman berada di sisinya.
Beberapa lama kemudian, Alin sudah lebih tenang dan isaknya pun sudah mereda. Mendengar isak Alin yang sudah mereda, Lukas mengangkat dagu Alin untuk yang kesekian kalinya untuk melihat wajahnya.
"Sudah lebih tenang?"
"Hm." Alin mengangguk pelan.
Setelah itu, ia mengajar sedikit kepalanya dan memfokuskan pandangannya ke sekitar. Saat mengamati sekitar, Alin sangat terkejut karena hanya ada mereka berdua di situ. Ia langsung menatap mata Lukas yang kini menatapnya dengan senyuman.
"Ada apa ini? Kemana orang-orang?" Tanya Alin yang kebingungan.
"Masuk kelas, belajar."
"Eh???!!! Lukas...! Kenapa kau tidak mengatakannya kepada ku tadi?! Sekarang kita harus bagaimana, kita seperti anak berandalan yang membolos kelas sekarang! Haisshhh! Sekarang bagaimana caranya kita masuk kembali ke kelas?!" Omel Alin yang terlihat mulai frustasi.
Tapi Lukas hanya terkekeh geli dan terlihat santai tentang hal ini. Alin memalingkan wajahnya dan berdiri dari pangkuan Lukas karena kesal. Berbagai omelan keluar dari mulutnya, tapi Lukas tidak menghiraukan omelan itu.
"Berhenti tertawa, Lukas...! Ini tidak lucu, kita sedang membolos sekarang."
"Yasudah, tidak usah di pikirkan. Ayo kita membolos!" Ajak Lukas seraya berdiri dari tempatnya.
Alin yang berpaling dari Lukas tadi, kembali menatapnya. Untuk beberapa saat ia termenung menatap matanya. Tapi sifatnya berubah dengan tiba-tiba pada saat itu.
"Gila! Ajaran sesat! Keluar kau setan dari tubuh temanku!" Teriak Alin sambil sedikit mengomel dengan emosi.
Lukas kembali terkekeh melihat tingkah Alin. Lalu Lukas kembali mendekat kepadanya, tepat di belakang Alin. Nafas Lukas terasa hangat saat berhembus di dekat leher Alin. Alin pun kembali terdiam dan ia terlihat menikmati hembusan nafasnya yang hangat itu di lehernya. Tapi Lukas lalu berbicara padanya.
"Yakin tidak mau ikut?" Tanya Lukas sekali lagi dengan suara yang agak menggoda.
Alin tersentak, ia berbalik lagi dan menatap Lukas yang sedang tersenyum jahil padanya.
"Tidak, terima kasih." Tolak Alin seraya memalingkan wajahnya.
"Yasudah, tapi jangan menyesal yah... Sekarang pelajarannya nona Gunari, silahkan saja kalau mau di hukum memotong rumput taman. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menolak." Ucap Lukas dengan ekspresi yang terlihat kecewa dan juga cemberut.
Ia kemudian berjalan menjauh dengan ekspresi cemberutnya yang imut. Alin yang mendengar itu tersadar, bahwa mungkin tawaran Lukas lebih baik sekarang. Lantas ia langsung menyusulnya yang berjalan lambat di depannya.
"Eeehhh! Eeh!! Lukas, tunggu! Aku berubah pikiran, aku ikut bolos denganmu!"
__ADS_1
Akhirnya, Alin pun menyetujui ide tak waras Lukas. Walaupun Alin masih merasa sedikit ragu tapi tidak ada pilihan lain untuk menghindari hukuman selain itu. Alin pun berjalan keluar dari academy Ligen, dipimpin oleh Lukas yang terlihat tenang di depannya. Tapi di balik ekspresinya yang terlihat tenang, Lukas tersenyum menang.
"Hehehe... kau kalah, Alin... Memangnya siapa yang mau di hukum?" Senyum Lukas.