Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 135 Pilihan sulit.


__ADS_3

Di pagi hari yang sungguh dingin dan bersalju, ternyata masih ada saja yang menyibukkan


dirinya, yaitu Olivia. Bahkan diantara dinginnya salju yang baru turun, ia masih saja sibuk menata dan menganalisis ramuan di lab Kael.


Beberapa saat pun telah berlalu, akhirnya pekerjaan Olivia selesai juga. Ia duduk di salah satu kursi di sana, sambil melepas penatnya dengan segelas air. Dengan deraian keringat yang bercucuran, Olivia masih sempat saja menggerutu dan mengomel sendirian.


"Haihh... Dasar Deon Li itu! Tujuan ku kemari bukan untuk menjadi babu kalian! Aku kemari untuk melatih wadah Clorian." gerutunya sambil melempar serbet dengan kesal.


Lalu tiba-tiba terbayanglah sesuatu di benak Olivia. Ia terbayang akan cahaya hitam yang sebelumnya tertampang pada tubuh Lukas melalui pengelihatan mata pikeon nya. Sekarang Olivia terlihat sedang bimbang. Tatapannya kosong menatap lemari-lemari ramuan yang berjejer di tembok.


"Haihhh... Apakaaaahhhh dunia sudah menjadi gelapppp.....?" Senandung batin Olivia.


Di sela-sela lamunan Olivia yang masih berlangsung, Lukas tiba-tiba saja membuka pintu ruangan Kael. Betapa terkejutnya Olivia hingga ia tersentak dengan cepat dari lamunan nya.


Lukas yang tadinya berada diambang pintu kini sudah berpindah duduk di kursi di depan Olivia. Kembali termenung sejenak Olivia menatap Lukas, hingga Lukas memecahkan keheningan itu dengan mulainya percakapan mereka.


"Cepat katakan, aku sibuk." Ucap Lukas ketus.


Ketika mendengar Lukas berkata berkata begitu, cepat-cepat Olivia tersadar dari lamunannya dan langsung memberitahukan poin pembahasan yang ingin dikatakan.


"Kita akan membagi tentang Alin hari ini. Jadi rencananya.. akhir pekan nanti aku akan membawa Alin ke desa Sceon untuk di latih? Bagaimana menurut mu?"


Lukas mengangkat sedikit bahu dan alisnya, tapi tidak tau pasti apa maksud dari respon itu. Melihat tanggapan Lukas seperti itu, Olivia juga hanya bisa menghela nafas kasar. Suasana menjadi hening sejenak, menunggu keduanya kembali berbicara.


"Sebelum itu, aku ingin menanyakan kondisi fisik dan mental Alin terlebih dahulu. Kau hanya perlu menjawab pertanyaan dari ku. Mengerti?"


"Ide yang bagus. Tapi aku butuh alasan untuk sesuatu, kenapa harus desa Sceon?" Tanya Lukas.


Pertanyaan yang sedari tadi Olivia ingin hindari ternyata tetap datang juga. Olivia takut jikalau Lukas mempercayai rumor yang orang-orang katakan tentang desa Sceon. Raut nya terlihat tidak yakin dan ragu. Sangat terlihat sekali Lukas sangat penasaran akan alasannya.


Lukas kemudian terdiam, menunggu Olivia kembali berbicara lagi. Untuk kesekian kalinya, Olivia menghela nafas, ia terlihat sedikit kebingungan harus mulai dari mana.


Olivia sungguh berharap, Lukas tidak meminta penjelasan itu lebih lanjut lagi dengan terdiam nya dia untuk beberapa saat. Akan tetapi semakin lama ia terdiam, semakin besar pula terlihat rasa penasaran Lukas. Mau tak mau pun harus dijawabnya.


"Sebenarnya... Aku adalah kembarannya Clorian. Tujuan ku untuk membawa Alin kesana untuk bertemu dengan guruku, aku dan dia mungkin bisa melatih Alin dengan cepat, sebelum semua segel Clorian terbuka. " Jelasnya dengan sayu.


Lukas langsung terkejut mendengar itu. Dahinya terbenyit bingung mendengar perkataan Olivia. Ia terlihat sungguh terheran-heran sekaligus tidak menyangka mendengarnya, tapi itulah yang kenyataannya.


Olivia pun hanya bisa berharap Lukas tidak punya pandangan seperti orang lain miliki terhadapnya. Karena rumor yang beredar tentang desa Skeon dan klan Daiko tidaklah benar. Hal itu pun tentu akan berpengaruh pada Olivia yang merupakan orang berkaitan dengan desa Sceon.


Hati menjadi semakin gelisah, ketika melihat ekspresi Lukas berubah menjadi sinis menatap nya.


"Ckckckck.. Kau.. kembarannya Clorian?"


Olivia terdiam, ia menundukkan kepalanya sedikit, diam menunggu respon dari Lukas selanjutnya. Olivia pun sudah siap dengan anggapan Lukas akannya.


"Kenapa kalian tidak mirip?" Tanya Lukas lagi.


Kini giliran Olivia yang kebingungan dengan pertanyaan dari Lukas. Ternyata yang Olivia pikirkan tentang tanggapan Lukas, itu salah. Tebakkan nya meleset!


"Hah?" Olivia tercengang.


"Yahh.. Aku pernah melihatnya dari salah satu buku perpustakaan. Kalian berdua sangaaaatttt... tidak mirip. Apa salah gen?"


Dengan tidak tau dirinya, ia mengatakan itu sambil menyeringai jahil.


"Heh! Heh! Apa katamu?! Iya! Kami memang berbeda, tapi kami kembar! Apa kau meragukan seberapa kembarnya kami?"


Olivia menjadi sangat kesal mendengar keraguan Lukas, ia membantahnya dengan nada yang sedikit tinggi.


"Yup!" Balas Lukas dengan sedikit jahil.


"Kau..!"


"Yahhh.. Pasalnya Alin lebih mirip Clorian daripada kau. Bukannya kalian kembar? Salah gen pasti!"


"Humptt! Mungkin saja itu hukum gen dari kedua belah dunia. Aku dengan Clorian saja berbeda sifat dan rupa." Jawab Olivia dengan sedikit ketus. Ia memalingkan wajahnya.


"Tapi penyebab kemiripan rupa Clorian dan Alin... Tidakkah terlalu jauh? Memang ada hubungan darah, tapi sangat jauh." Jelas Lukas yang sudah dari jauh-jauh hari membahas teori itu sendiri.


Dan topik punnn.... berlanjut membahas tentang perikembaran antara Clorian, Olivia dan Alin.

__ADS_1


"Entahlah. Saat pertama kali bertemu, aku langsung tau kalau Alin lah yang dituju Clorian. Mereka sangat mirip, yang membedakan rupa keduanya hanyalah rambut mereka."


Keduanya pun termenung bersama, terdiam memikirkan itu sesaat. Merasa tak terlalu penting dengan itu lagi, mereka pun akhirnya kembali ke topik semula, setelah tertunda karena topik "Kembar kok tak mirip?"


"Yahhhh! Mari kita kembali ke topik. Baiklah Lukas, aku ingin kau menunjukkan data-data perkembangan Alin."


"Hm."


Lukas pun segera terbuyarkan setelahnya dan langsung membuka storage sihirnya. Diayunkan nya sebuah tongkat kayu kecil dan seketika itu juga muncullah setumpuk kertas dan sebuah gulungan muncul di atas meja. Ia mengambil beberapa bagian kertas dan memangku nya, lalu mulai menjelaskan data pemantauannya sesuai permintaan Olivia.


"Untuk fisik, sudah banyak perkembangan. Lalu untuk keterampilan, Alin sudah bisa mengusai sihir api tingkat tengah, sihir medis tingkat awal, teknik berpedang yang sudah cukup lumayan, sihir perpindahan barang, sihir air tingkat awal, juga... ada tanda-tanda penguasaan elemen angin." Jelas Lukas dengan singkat.


Memang sudah tak diragukan lagi julukan "Pangeran tampan cerdas." untuknya. Bahkan setumpuk kertas yang tebal nya hampir mencapai 6 inci, dapat dijelaskan dan dirangkumkan dengan sangat cepat. Jelas dan cepat itulah prioritas utama Lukas.


Olivia juga terlihat sangat anggun dan cerdas dengan buku dan kacamata padanya saat ini. Tak mau kalah dari persiapan Lukas, Olivia juga kini telah siaga dengan buku jurnal besarnya.


"Oke, cukup baik. Tapi kita sepertinya harus lebih ketat lagi padanya. Ketiga hal yang bisa di kuasai Alin, lumayan berlawanan. Api akan membesar oleh angin, api juga akan padam oleh air." Balas Olivia menanggapi dengan serius.


"Benar."


"Baiklah, lanjut ke kondisi mentalnya."


Kembali Lukas meraih beberapa tumpukan kertas dan gulungan yang tersisa di meja. Untuk sekilas Lukas termenung. Sudah terlihat jelas sekali kalau kertas-kertas yang tersisa itu adalah laporan terakhirnya, yaitu tentang kondisi mental Alin. Lukas pun membacanya sejenak dan mulai merangkum nya dengan lebih ringkas lagi.


"Untuk kondisi mentalnya.. masih sangat lemah, tapi sebagian sudah membaik. Bagian terpenting dari laporan ini hanya ada satu. Yaitu laporan tentang hematophobia Alin."


Mendengar laporan itu, Olivia langsung teralihkan. Ia yang tadinya serius dengan catatan nya, sekarang sudah menatap tajam Lukas dengan sangat terkejut. Ada banyak tanda tanya di sekeliling nya.


"Apa?! Kenapa dia bisa mengalami hematophobia?!" Tanya Olivia terpekik.


"Itu karena kejadian beberapa waktu lalu, saat kita melawan para bandit. Aku juga tidak mengira itu akan membuat Alin sangat trauma."


"Ck! Arhhihhh! Merepotkan!"


"Ini salahku. Jika sebelumnya aku tidak melibatkan Alin untuk membunuh bandit itu, ini tidak akan terjadi." Lukas tertunduk dengan nada yang sayu.


"Aihhh sudahlah, lupakan. Kita akan mencari solusi nya nanti."


"Aku gagal! Aku salah.. Seharusnya aku lebih melindunginya lagi..."


Olivia menatap Lukas yang sekarang tertunduk, ia merasa tidak tega melihat Lukas yang sepertinya saat ini sedang mati-matian menyalahkan dirinya sendiri. Hatinya merasa iba kepada seorang pria yang di depannya sekarang.


"Ini semua bukan sepenuhnya salahmu." Tegur Olivia pada Lukas yang masih termenung itu sambil melepas kacamatanya.


Mendengar Olivia bersuara, ia menjadi agak lega dan mengangkat sedikit kepalanya. Walaupun Olivia telah sedikit memecah kecanggungan diantara mereka, Lukas masih benar-benar sungkan untuk menatap Olivia secara langsung. Ia benar-benar merasa bersalah atas kegagalannya.


"Ini salahku." Gumam Lukas lagi dengan sayu.


"Berhenti melebih-lebihkan kesalahan mu, seolah-olah semua kesalahan dunia lipahkaan pada mu sendiri. Aihh.... Kesalahan mu itu hanya satu, membuat Alin terlalu bergantung! Emhhh... Cepat atau lambat segel Clorian akan terbuka sepenuhnya, jadi kita harus segera melatih Alin untuk menguasai seluruh jiwa Clorian. Sulit..."


Kini pandangan Olivia mulai melembut, ia menyandarkan sedikit tengkuknya di sandaran kursi, sambil menjuntaikan kedua tangannya ke belakang. Olivia terpejam, menyantai dan merilekskan diri nya, seakan itu hanyalah masalah sepele, sepertinya ada rencana lain yang terpikir olehnya.


"Yahhh.. Tapi kau sudah menolong Alin untuk sedikit mengobati masa lalu nya. Hufft... Kita hanya perlu mengatasi hematophobia itu dulu. Jika ingin dia tidak terancam, maka kita harus menutupi kelemahannya."


Sementara Lukas kembali merasa bimbang, ia mengangkat kepalanya menatap Olivia dengan sedikit sayu. Ketika ia memikirkannya, Olivia ternyata ada benarnya juga. Tapi di sisi lain, Lukas tidak tega, tidak mau membiarkan Alin mengatasi suatu masalah sendirian.


"Tapi... aku tidak bisa membiarkan Alin dalam bahaya ataupun kesulitan."


"Terkadang untuk menjadi kuat, kita harus belajar untuk mengatasi bahaya dan kesulitan. Jika begini terus, Alin tidak akan bisa melindungi dirinya sendiri dan akan berakhir mati di tangan lawan. Melindungi diri saja tidak bisa, bagaimana ingin melindungi dunia?" Sindir Olivia.


Lukas termenung sejenak memikirkan perkataan Olivia, kelihatannya Lukas sudah mulai setuju dan menerima pemikiran Olivia tentang hal ini. Kini gairah untuk melindungi Alin kembali terbangun, tapi kali ini, Lukas ingin mencoba hal baru dengan caranya Olivia.


"Lalu, apa yang harus ku lakukan untuk nya?" Lukas berharap mendapatkan solusi yang memuaskan.


"Menjauh dari Alin." Jawab Olivia dengan tegas.


Jawaban Olivia itu membuat Lukas langsung tertegun. Ia menatap serius Olivia, menunggu penjelasan lebih lanjut darinya. Olivia tentu langsung paham dari tanggapan itu.


"Yup! Menjauh, menghindar dan jangan sekali pun menghiraukan nya, apalagi memperhatikan nya, bahkan melindunginya. Kau harus melakukan ini. Biarkan Alin melindungi dirinya sendiri." Jelas Olivia dengan lebih tegas.


"Bagaimana kalau Alin dalam bahaya?"

__ADS_1


"Biarkan dia berdiri sendiri, merasakan sebagaimana rasanya kejam dan kecewa kehidupan sebenarnya. Lama kelamaan dia pasti bisa terbiasa dengan itu."


"Baiklah, aku paham. Tapi.. Berapa lama aku harus melakukan ini?" Tanya Lukas yang mulai kembali merasa ragu dan tak yakin dengan saran itu.


Nadanya merendah. Lukas sepertinya sudah mulai kembali tidak yakin dengan saran Olivia berikutnya. Firasat yang tidak mengenakan seketika menghampiri.


"Selamanya... Lepaskan dia sepenuhnya. Kapan perlu minta ayah master mu itu untuk memutuskan misi khusus mu. Ini yang bisa kau lakukan untuk Alin"


Benar saja firasatnya, sekali lagi Lukas terkejut dengan jawaban Olivia dan ia pun kembali merenung. Ia menjadi semakin bimbang dalam memilih untuk keputusan ini.


Tidak tau manakah yang terbaik dan mana yang mungkin akan membahayakan Alin nanti nya. Tapi Lukas juga tidak terima jika Alin harus menjauh dan terhapuskan dari sisi nya, semuanya sudah masuk dalam daftar pikiran, mungkin salah satu pilihan akan terdengar membuatnya menjadi orang yang egois.


"Lagi pula... kau tidak memiliki perasaan pada Alin juga kan? Ckckck.. Kalau benar begitu, aww... Pasti berat. Tapi! Ini adalah yang terbaik untuk nya. Terserah padamu sekarang."


Mendengar kata-kata itu, dada Lukas benar-benar terpukul. Kata-kata nya seketika langsung terngiang-ngiang, Lukas semakin frustasi dengan pilihan ini. Raut nya menjadi semakin ragu dan kemudian terlihat sangat pasrah.


"Huftt..." Lukas menghela nafas dengan gusar.


Lagi pula, kau tidak memiliki perasaan pada Alin juga kan? Tapi, ini adalah yang terbaik untuk nya...


Tapi, ini adalah yang terbaik untuk nya... Lagi pula, kau tidak memiliki perasaan pada Alin juga kan?


Setelah Olivia perhatikan untuk beberapa saat, ternyata ada yang berbeda dari raut Lukas sedari awal ia memberi saran padanya. Pikiran di luar kepala pun seketika masuk dan membuat Olivia menebak-nebak tentang apa yang membuat Lukas bisa seperti itu.


"Wahhh... Apakah jangan-jangan kau punya perasaan pada Alin? Ckckck.. Gawat!" Goda Olivia cengegesan.


"Tidak." Jawab Lukas dingin.


Tapi Lukas sepertinya sedang tidak mood untuk bercanda, sedang ada banyak pikiran di kepalanya. Dengan keadaan hati yang sudah sangat suram, Lukas berdiri dari tempat nya, bersiap untuk meninggalkan tempat itu.


"Aku pergi. Untuk itu tadi.. akan ku coba. " Pamit nya lagi dengan dingin.


Ketika Lukas melewati ambang pintu, Olivia mengikutinya, berdiri diambang pintu itu sambil menatapi punggung Lukas yang mulai menjauh. Sambil tersenyum, Olivia memikirkan betapa sulitnya keputusan ini jika Lukas benar-benar memiliki perasaan pada Alin, tapi mereka tidak akan bisa.


"Maaf, Lukas. Tapi kalian tidak boleh bersama, kau akan menjadi penghalang dan kelemahan Alin nantinya. Juga... Sebagai penguasa budak jiwa Clorian yang kuat, Alin harus menjadi orang berdarah dingin. Aku tidak ingin ini terulang lagi seperti yang Clorian alami sebelumnya."


Beralih pada Lukas yang sekarang berjalan di koridor istana, ia terlihat sangat kacau, pikiran kini sedang tercampur aduk oleh perasaan. Kata-kata Olivia yang sebelumnya benar-benar melekat, itu masih saja terngiang-ngiang bahkan setelah ia pergi dari tempat itu sekali pun.


Lagi pula, kau tidak memiliki perasaan pada Alin juga kan?


"Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang mungkin terbaik?" Batin Lukas sambil menengadahkan kepalanya keatas dengan frustasi.


Lukas sangat bimbang dalam memilih keputusan ini. Ini adalah pilihan yang sangat sulit.


Ia sangat mencintai Alin dan selalu ingin melindunginya dari bahaya, apapun yang terjadi. Tapi Lukas juga tidak ingin Alin terluka oleh bahaya yang mungkin tidak dapat di cegah nya kelak, lagi dan lagi Lukas juga tidak ingin menyakiti Alin dengan menjauhi nya. Semuanya terasa salah sekarang.


Sementara Olivia masih berada di ambang pintu, menatap Lukas yang terus berjalan itu. Ada-ada saja ide Olivia untuk menggoda Lukas yang sedang dalam keadaan suram itu.


"Dadahh, hati-hati di jalannn. Jangan sampai jatuh cinta lhoo..." Teriak Olivia jahil.


Tanpa di duga-duga oleh Lukas, mulut tidak tau diri Olivia keluar untuk mengatai nya.


"Dasar mak Lampir! Mulutnya tidak ada rem, untung tidak ada penjaga dan pelayan disekitar sini!"


Lukas menjadi jengkel pada Olivia yang terus-terusan menggodanya sedari tadi. Sekilas ia menatap tajam kebelakang. Dengan kesal, Lukas langsung pergi menggunakan mantra teleportasi, segera tanpa sekata patah pun.


Melihat Lukas kesal sepertinya cukup menyenangkan menurut Olivia, ia sampai tertawa cekikikan melihatnya.


"Hahaha.."


...Groangg prangggyyhg...


Tapi di sela-sela itu, sebuah guci di Koridor tiba-tiba tergoyang, seperti ada seseorang yang tidak sengaja menyenggol nya. Olivia pin langsung bersiaga.


"Siapa?!"


Akan tetapi ketika ia melihat sekeliling, tak ada seorang pun di Koridor itu. Ia merasa kalau ini adalah hal yang sangat janggal, tapi karena memang tidak ada seorang pun di sana, ia memutuskan untuk masuk saja dan menggangap itu adalah sebuah ulah angin.


"Ah! Angin mungkin. Sudahlah.."


Angin be like: Salah aku yahhh? :(

__ADS_1


Nyatanya benar adanya, ada seseorang yang sadari tadi sepertinya sudah menguping pembicara Olivia dan Lukas dari balik salah satu pilar istana. Sepasang kaki dengan sepatu hitam terlihat di sana, hanya kaki bawah nya saja, tidak ada terlihat tubuh maupun kepala orang itu. Entah itu kuyang, hantu, monster, glom atau orang, tidak ada yang tau.


__ADS_2