
Mereka beranjak dari tempat duduk nya dan pergi mengikuti Alin ke dapur. Mereka bertiga mengikuti Alin dari belakang dan sementara itu Alin berjalan dengan anggun di depan mereka sambil memimpin jalannya.
Hingga mereka tiba di dapur, saat di dapur mereka langsung di sambut oleh semua orang yang ada di situ. Terdapat pelayan, Koki, dan para bangsawan lainnya yang sedang mencari makanan ke dapur istana juga.
"Salam sejahtera untuk para pangeran dan putri Jiu" Sahut mereka dengan sopan dan sedikit menundukkan kepalanya.
Mereka melewati barisan orang-orang itu dan langsung duduk di meja makan. Alin kemudian mengambil celemek yang tergantung di dinding dan ia pun di hampiri oleh kepala koki istana.
"Ada yang bisa saya bantu putri Jiu?" tanya Koki itu dengan sopan.
"oh, tolong ambilkan bahan untuk membuat pangsit rebus dan bahan untuk membuat sup ya pak" pintanya.
"Baik!"
Koki itu pergi bergegas mengambilkan bahan-bahan yang di perlukan dengan bantuan para pelayan lainnnya. Setelah itu mereka meletakkan semua bahan di atas meja dan Alin pun langsung membuat makanan untuk mereka. Sementara itu para pangeran tampan hanya duduk santai di kursi sambil melihat Alin memasak.
"Alin benar-benar istri idaman! Bisa masak, cantik, baik, rendah hati, dan punya postur tubuh yang lumayan..." Gumam Reyhan seperti biasanya sambil memandang Alin dari atas sampai bawah.
"Jangan keterlaluan seperti itu, Alin itu cucunya Master ketua Lio." Tegur Lukas.
"Memangnya kenapa? Dia kan bukan milik siapa-siapa, Ya pasti bolehkan ngedeketin dia?" Tanya Reyhan sambil sedikit bercanda.
Lukas hanya melirik nya sekilas dengan tatapan yang sinis, sementara itu Gion hanya sibuk menyimak pembicaraan mereka sambil melahap buah-buahan yang ada di atas meja.
Setelah itu Lukas hanya diam sambil menyeruput susu yang sudah di sajikan tadi.
"Apa jangan-jangan kau menyukainya juga?" Tanya Reyhan dan Gion bersamaan seraya menatapnya dengan tatapan yang menyelidik.
"Uhuk..." Lukas terkejut mendengar perkataan mereka berdua dan tersedak susunya.
Tanpa ia sadari mukanya terlihat merah membara dengan ekspresi yang sedikit panik. Mereka berdua terbahak-bahak melihat ekspresi nya Lukas.
"HAHAHA... Ternyata benar kau menyukainya juga" Reyhan menggodanya.
"Pfftt... Tenang saja kami pasti akan menjaga rahasia mu ini." Tambah Gion sambil menggodanya juga.
Lukas sangat kesal pada mereka berdua, dengan cepat ia menjitak kepala Gion dan Reyhan dengan sedikit keras sebelum mereka kabur.
...BUGH...
"Aduh...sakit Lukas" Gion mengelus-elus kepala nya yang dijitak Lukas.
"Jahad amat punya teman!" Gerutu Reyhan sambil mengelus-elus kepalanya juga.
"Berisik!" Ucap Lukas dingin.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian Alin datang menghampiri Lukas, Gion dan Reyhan ke meja makan dengan nampan yang berisi sup daging sapi dan pangsit rebus, tapi dia lupa memberitahu mereka apa yang dia masak. Ia meletakkan nampan itu di atas meja dan duduk bersama mereka.
"Ini dia... Aku lapar sekali.." Keluh Reyhan dengan tatapan yang merasa sangat sengsara.
"Lama sekali" Gerutu Lukas yang sudah kelaparan sejak tadi.
"Kan memasak itu tak semudah kau memakannya!" Sahut Alin kesal pada Lukas.
"Terserah"
"Hei... Sudah jangan bertengkar" Tegur Gion.
"Di yang mulai duluan!" Sahut Alin dan Lukas bersamaan sambil menunjuk satu sama lain.
"Hei! kapan kita makannya kalau bertengkar terus!" Tegur Reyhan dengan ekspresi datarnya.
Mereka pun berhenti bertengkar dan duduk di bangku dengan tenang sambil memakan makanan mereka. Semuanya mengambil kedua makanan itu dan Lukas hanya mengambil pangsit rebus saja.
"Hm... Enak sekali" Puji Gion.
Tapi, tiba-tiba Reyhan merasakan sakit pada perutnya. Ia mulai kesakitan dan memegang perutnya hingga terjatuh ke lantai.
"Sa-Sakit..." Reyhan merintih kesakitan.
Dengan cepat para pelayan dan koki serta beberapa bangsawan yang ada di situ mengerubungi Reyhan. Mereka kebingungan dan panik, Lukas, Gion dan Alin pun mengelilingi Reyhan.
"Reyhan kau kenapa?" Tanya Alin panik juga.
Reyhan tidak menjawab mereka, ia bahkan tidak bisa membuka mulutnya untuk berbicara karena kesakitan. Hingga Lukas ingat akan sesuatu. Ia berdiri dan menghampiri meja makan lalu mencium bau dari sup yang Reyhan makan tadi.
"Daging sapi!"
Lukas kembali menghampiri mereka dan dengan segera ia mengangkat setengah tubuhnya Reyhan.
"Panggil Kael, Cepat!" Perintah Lukas mulai panik.
"Ba-baik pangeran" Sahut Kepala Koki itu pada Lukas.
Kepala Koki itu langsung berlari keluar dan pergi memanggil Kael. Sementara itu Lukas, Alin dan Gion masih terlihat panik, mereka melakukan segala cara untuk membuat rasa sakitnya reda. Namun itu tak berefek sama sekali, Reyhan masih saja kesakitan sampai-sampai keringat dingin bercucuran.
"Kita bawa ke kamarnya saja" Ucap Gion.
Namun Kael datang lebih dulu dan datang menggunakan mantra teleportasi dengan tergesa-gesa. Ia menghampiri Reyhan yang terlihat sangat kesakitan sambil mengigit bibir bawahnya.
"Dia kenapa?" Tanya Kael.
__ADS_1
"Alerginya kambuh" Jawab Lukas.
"Bawa dia ke kamar!"
Dengan segera para pengawal menghampiri mereka dan membawa Reyhan menggunakan sebuah tandu. Gion dan Lukas menatap Reyhan yang semakin pergi menjauh dengan cepat, dan Alin pun ingin menyusul mereka namun di hadang oleh Lukas.
"Tidak usah ikut!" Ia menghadang Alin dengan lengannya.
"Tapi Reyhan..."
"Kau tidak perlu kuatir Alin, aku akan melihat ke adaan nya. Lukas, kau antar Alin kembali dulu" Ucap Gion.
"hm"
Gion pergi menyusul Kael dan Lukas pun mengantarkan Alin kembali ke kamarnya. Sementara itu, keadaan di dapur istana masih saja heboh hingga pengawal pribadinya Deon Li yang lewat situ harus ikut campur tangan juga. Tentu saja berita ini sampai di Master ketua Deon Li dengan cepat.
Lukas pun mengantarkan Alin sampai depan kamarnya. Saat Lukas ingin pergi Alin menahan lengan Lukas.
"Tunggu dulu"
"Ada apa?" tanya Lukas seraya berbalik.
"Sebenarnya Reyhan tadi kenapa?"
"Tidak perlu tau" Lukas berbalik lagi dan ingin pergi, tapi lagi dan lagi Alin menghadangnya.
"Beritahu aku" Pinta Alin.
Lukas kembali berbalik ke arahnya Alin dan menatap nya.
"Reyhan hanya alergi terhadap daging sapi" Jawab Lukas dingin.
Saat Alin mendengar itu perasaan nya terasa campur aduk. Takut, merasa bersalah, kuatir, dan ia merasa bahwa ini semua adalah kesalahan nya.
Tangan nya gemetaran, mukanya memerah dan ia mulai berkeringat dingin. Air mata perlahan mengalir dari pelupuk mata nya, ia merasa sangat bersalah pada Reyhan. Lukas merasa tidak tega melihat Alin menangis dan ia pun memeluknya.
"Ini semua salah ku, salahku Lukas..." Ucap Alin sambil menangis di pelukannya Lukas.
"Ini bukan salah mu, ini adalah salahku Alin... Kau juga tidak tau kalau Reyhan mempunyai alergi jadi ini bukan salahmu, seharusnya aku memberi tahu mu sebelum kau membuatkan makanan tadi."
"Tapi...Tapi aku yang membuat makanannya, jadi ini salahku... huhuhu maafkan aku...." Tangis Alin.
Lukas melepaskan pelukannya dan menatap Alin dengan tatapan yang terlihat hangat.
"Jangan pikirkan itu lagi, sebaiknya kau istirahat saja. Reyhan akan baik-baik saja, aku akan pergi menyusul mereka. Kau boleh menjenguk nya besok." Ucap Lukas menenangkan Alin.
__ADS_1
Alin pun menghapus air mata nya dan mengangguk. Ia masuk ke dalam kamarnya dan Lukas pergi ke kamarnya Reyhan.