
Alin benar-benar terkejut melihat orang itu, seketika itu juga Alin langsung melangkahkan kakinya untuk kabur. Namun orang tersebut malah menahan dan menarik Alin ke pelukannya.
"Ahhh... Lukas, lepaskan aku!" Pinta Alin yang terus saja mencoba untuk melepaskan diri.
"Kalau aku melepaskan mu, apa yang akan kau lakukan? Kabur? Tidak akan semudah itu. Ikut aku kembali ke istana sekarang, atau aku akan menyeret mu."
"Tidak mau! Kalian pasti akan mengurungku nanti, kan?"
"Tentu saja, kau sudah menjadi anak yang tidak penurut, maka harus di hukum. Ikut dengan ku!" Sahut Lukas.
"Tidak mau!"
Karena Alin tidak kunjung menurut, dengan terpaksa Lukas harus menggotong tubuh mungil Alin itu di pundaknya bagaikan seekor hewan yang akan di jadikan santapan. Lalu mereka pun pergi ke istana dengan mantra teleportasi Lukas.
"Whaaa....! Lepaskan! Tolong, ada penculik di sini!" Teriak Alin yang meronta-ronta melepaskan diri.
"Teriak saja, tidak ada yang mau mendengarkan mu juga."
"Jahat sekali! Memangnya kenapa mereka tidak mau mendengarkan ku?! Tolong! Siapa saja, aku di culik!"
"Bodoh sekali." Gerutu Lukas dengan suara yang pelan.
Setelah sampai di istana pun Alin masih saja belum berhenti memberontak dan berteriak-teriak meminta tolong. Hingga mereka tiba di depan gerbang istana yang masih ada Henil di sana. Alin berteriak meminta tolong kepada Henil, namun ia tidak menghiraukan Alin karena takut di marahi oleh Lukas.
"Henil! Tolong aku! Aku diculik oleh bandit jahat! Alah jelek, lepaskan aku!"
Henil hanya terdiam tanpa menghiraukan Alin. Bahkan sampai mereka melewatinya sekalipun. Hingga Alin dan Lukas benar-benar masuk, barulah Henil menengok mereka ke dalam.
"Maafkan saya putri Jiu, saya tidak bisa membantu anda. Tapi kenapa anda terlihat sangat sengsara seperti itu? Walaupun di culik, bukannya yang menculik anda itu seorang pangeran tampan? Tidakkah anda bangga, benar bukan?"
Mereka pun melewati gerbang istana, lalu masuk ke dalam. Setelah memasuki wilayah istana, Alin sudah sangat pasrah. Sekeras apapun dia berteriak dan memberontak, Lukas tidak kunjung melepaskannya.
Hingga mereka tiba di depan kamar Alin, barulah Lukas menurunkannya. Sedangkan pada saat itu, Alin sudah terlanjur sangat kesal dengan Lukas sehingga ia tidak ingin berbicara dengannya.
"Humppt..."
"Apa yang kau lakukan di kota Ohan tadi?! Hah?!"
Tapi Alin tidak mau menjawab, ia sedang marah dan kesal padanya. Ia malah berpaling dan tetap tidak menghiraukan Lukas.
"Alin!" Panggil Lukas lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
Tapi Alin tetap tidak mau menghiraukan nya. Untuk sekarang, Lukas tidak ingin membentak Alin, karena ia tau Alin pasti akan menangis olehnya nanti. Hingga akhirnya Lukas harus berusaha membujuknya.
Lukas menarik pundak Alin dan memegang kedua pundaknya itu agar ia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Terlihatlah di sana tampang wajah cemberut Alin yang kesal. Lukas pun menghela nafas saat melihat tingkah Alin yang seperti itu.
"Huftt... Alin... Dengar ini, jika kau ingin pergi ke suatu tempat boleh saja. Tapi ingatlah, jangan lupa memberi tahu ku atau yang lainnya. Aku sangat kuatir dan takut akan kehilangan dirimu, di setiap saat dan di setiap waktu aku selalu mengkuatirkan mu saat kau tidak ada di hadapan ku. Jadi jangan lakukan itu lagi." Ucap Lukas menasehati Alin dengan nada yang lembut.
Alin yang mendengar Lukas berkata seperti itu langsung tertegun. Ia mulai luluh dan semua rasa kesal nya perlahan menghilang.
__ADS_1
"Benarkah? Apakah Lukas benar-benar mengkuatirkan ku? Dia tidak berbohong, bukan?"
"Benarkah kau mengkuatirkan ku?" Tanya Alin memastikan perkataan Lukas tadi.
"Tentu saja, untuk apa aku berbohong? Apa kau masih marah? Cepat katakan padaku, apa yang kau inginkan? Hm?"
"Apa kalian akan menghukum ku?" Tanya Alin dengan wajah yang memelas.
"Tidak..."
"Benarkah?"
"Jika kau menuruti perkataan kami sebelumnya." Sambungnya.
"Ahhhh... Lukas! Sudahlah, aku mau pergi ke kota Ohan bersama Yudian saja!"
Alin berbalik dan ingin melangkah pergi. Tapi untuk kali ini, Lukas tidak akan membiarkan Alin pergi dengan begitu saja. Lukas menarik kerah belakang baju Alin dengan kuat, sehingga ia terjatuh ke pelukannya lagi.
"Tidak ada! Cepat bersiap sana, Kael dan Olivia sudah menunggu mu dari tadi." Tegas Lukas.
Lukas langsung menyeret Alin ke dalam kamar dan ia menutup pintu, lalu menunggunya di luar.
Beberapa menit telah berlalu, Alin akhirnya keluar dan menghampiri Lukas yang ada di kursi depan. Alin yang sudah siap, memanggil Lukas yang tengah asik membaca bukunya.
"Hei!" Panggil Alin.
Lukas yang melihat Alin seperti itu langsung menyimpan bukunya kembali dan menghampiri Alin. Ia berdiri di belakang Alin dan menyisir-nyisir rambutnya dengan jari-jari. Lalu Lukas mengikat rambut tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alin kebingungan.
"Apa kau akan berlatih ilmu pedang dengan rambut yang di gerai kan ini?" Tanya Lukas balik.
Lukas sangatlah teliti dalam segala pekerjaan, detail-detail kecil sekalipun ia kerjakan dengan sempurna. Setelah Lukas selesai mengeksekusi rambut Alin itu, ia begitu takjub. Rambut yang tadinya tergerai, Lukas buat menjadi sebuah jambul yang rapi dan juga cantik dengan berhiaskan beberapa jepitan rambut yang terlihat sederhana.
"Wah... Terima kasih, cantik sekali..." Puji Alin yang sungguh menyukai tatanan rambutnya itu.
"Hm, ayo."
Alin dan Lukas berjalan pergi dari tempat itu menuju ke luar istana bersama. Di sepanjang jalan, belasan pasang mata menatap mereka dengan mata yang berbinar-binar. Semuanya memuji-muji keserasian Alin dan Lukas yang terlihat begitu sempurna.
Mereka berdua terus saja berjalan hingga keluar istana, hingga tibalah mereka berdua di suatu tanah lapang yang begitu luas. Terlihat juga di sana ada Olivia dan Kael yang sudah lama menunggu. Setelah melihat kedatangan Alin dan Lukas, Kael dan Olivia menghampirinya.
"Hehe... Alin...!" Panggil Kael dengan tatapan iblis nya.
Setelah Alin melihat Kael seperti itu, ia akhirnya ingat akan hal yang ia lakukan sehingga membuat Kael bisa menatapnya dengan tatapan yang seperti itu. Alin yang ketakutan langsung bersembunyi di belakang Lukas.
"Hehe... Maaf, Kael." Ucap Alin.
"Sudahlah, aku sudah menghukumnya tadi. Dia harus segera berlatih, bukan?" Ucap Lukas yang menyela mereka berdua.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Alin tertegun dengan perkataan Lukas. Lukas berkata kalau ia sudah menghukumnya, tapi nyatanya Lukas tidak melakukan apapun terhadap Alin. Ia hanya menegurnya, itupun tidak di bentak sedikit pun.
"Lukas.. dia... Melakukan ini semua untuk ku? Ada apa dengannya?"
"Humppt... Baiklah kalau begitu. Kalian berdua bisa mengenal satu sama lain dulu. Aku dan Lukas akan pergi ke sana sebentar." Ucap Kael seraya menunjuk ke arah pinggtir sungai yang ada di sekitar tempat itu.
Lukas dan Kael memutuskan untuk memberikan Olivia dan Alin waktu untuk berkenalan, sementara itu mereka berdua akan duduk santai di pinggir sungai sambil mengobrol juga.
Setelah Lukas dan Kael pergi meninggalkan mereka berdua di tempat yang tadi, Alin duduk di bangku yang ada di susul oleh Olivia. Suasana menjadi hening untuk sesaat sampai Alin memperkenalkan dirinya kepada Olivia.
"Ehm... Itu... Perkenalkan namaku, Alin. Bagaiman dengan mu...?" Tanya Alin dengan agak canggung.
"Olivia. Apa kau... tau siapa aku?"
"Hm? Kau Olivia, bukan? Dan bukannya kau adalah orang yang akan melatihku menguasai budak jiwa Clorian?" Tanya Alin yang mulai kebingungan.
"He! Ternyata kau belum tau."
Alin menjadi semakin bingung, ia sempat mengerutkan keningnya saat Olivia mengatakan itu. Untuk beberapa saat Alin terdiam dan memikirkan apa yang Olivia katakan, namun ia tetap saja belum mengerti apa maksud dari perkataannya Olivia.
"Apa maksudmu?"
"Aku adalah nenek mu, lebih tepatnya saudara nenekmu." Jawab Olivia.
"Apa?!"
Alin benar-benar terkejut dan tidak menyangka akan hal yang ia dengar sekarang. Perasaan campur aduk pun mulai berdatangan di dalam dirinya. Rasa kaget, rasa penasaran, rasa senang dan rasa kebingungan, itulah yang Alin rasakan sekarang.
Seketika itu juga, Alin menjadi sangat penasaran, penasaran akan pernyataan sebenarnya dari orang yang ada di hadapannya sekarang. Dengan mata yang berbinar-binar dan penuh dengan penuh dengan pertanyaan, Alin meminta Olivia untuk menjelaskan tentang hal itu untuk nya.
"Nenek? WAHHH... Tolong jelaskan kepada ku, bagaiman kau bisa menjadi nenek ku! Ayolah, nek!" Pinta Alin yang terlihat sangat berantusias.
"Sstt... Jangan sampai orang lain tau, kemari lah..."
Karena semakin penasarannya, Alin menjadi lupa akan tujuan yang sebenarnya. Ia mendekat ke arah Olivia dan menunggu Olivia bercerita kepadanya dengan mata yang berbinar-binar.
"Apa kau tau? Kakek buyut mu itu adalah master ketua dunia sihir merah yang sebelumnya. Dan dia adalah ayah dari nenekmu dan saudara-saudaranya, dia adalah ayahku juga.
Budak jiwa Clorian yang ada di dalam dirimu itu adalah milik saudara kembar ku, nenek mu juga. Kami bertiga memanglah satu ayah, tapi beda ibu. Nenek mu itu anak dari istri pertama kakek buyut. Sedangkan aku dan kembaran ku... hanyalah anak haram dari seorang pendekar klan Daiko yang pernah menikah diam-diam dengan master ketua dunia sihir merah yang sebelumnya...
Hah..." Jelas Olivia.
Penjelasan Olivia terhenti sampai di situ, ia merasa... kalau ia sudah tidak sanggup untuk menceritakan hal itu lagi kepada Alin. Tapi Alin sangat mengerti perasaan Olivia sekarang, sehingga ia mencoba untuk menguatkannya.
"Aku tau, ini pastilah sangat berat. Jika nenek tidak bisa menjelaskannya kepada ku, aku tidak apa." Ucap Alin kepada Olivia seraya menepuk pundaknya.
"Kau harus tau semuanya, karena kau yang akan melanjutkan cerita ini ke anak-anak mu nantinya jika aku sudah tiada."
Olivia tersenyum sekilas ke arah Alin dan setelah itu Olivia mencoba untuk menenangkan dirinya. Setelah merasa agak tenang, Olivia kembali menceritakannya dari Awal.
__ADS_1