Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 69 Strategi perang.


__ADS_3

Sesampainya mereka di perbatasan pusat dunia sihir putih dan dunia sihir merah, mereka sudah berada di dalam zona berbahaya. Di sana sudah ada anggota KIMASEF yang lainnya, namun benar kata Henil, tak ada Yeni di sekitar tempat itu.


Para anggota KIMASEF yang lainnya dan beberapa pasukan sedang mencoba untuk membunuh kelompok Hom yang semakin bertambah jumlahnya. Mereka tidak ada habisnya, para Hom itu terus berdatangan. Situasi sekarang sedang kacau, permukiman warga dan hutan Jlim hampir hangus terbakar oleh karena ulah Hom dari dunia sihir merah itu.


Saat mereka sudah tiba di tempat, yang lainnya berpaling ke arah Alin dan yang lainnya. Setelah itu mereka menghampirinya. Semua kini sedang panik dan kebingungan dengan apa yang harus mereka lakukan untuk menghentikan para Hom itu.


Karena mereka sekarang sedang di tengah bahaya, Lukas mencoba untuk membuatkan pelindung kecil untuk melindungi mereka. Semuanya berkumpul untuk mendiskusikan strategi dan rencana yang akan membantu mereka mengalahkan Hom dunia sihir merah.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?! Hom dunia sihir merah tidak ada habis-habisnya. Apa kita akan mati dengan begitu saja?!" tanya Reyhan yang terlihat sudah terengah-engah melawan Hom-Hom itu.


"Jika kita menyerah dengan begitu saja maka perjuangan kita akan sia-sia" Ucap Sarah menasehati Reyhan.


"Sarah benar, Lukas sudah tiba dan dia akan menyusun rencanannya." Sahut Gion.


Lukas termenung untuk beberapa saat untuk memikirkan rencananya. Ia berjalan ke tepi pelindung dan memandangi Hom yang sedang membuat kekacauan di luar. Dengan keras, Lukas berusaha untuk mengasah otaknya itu agar menjadi sangat tajam. Dengan begitu mereka mungkin akan menang dengan cepat dari pertarungan itu, jika ia bisa menyusun strategi yang matang.


"Kekacauan ini harus di hentikan! Bagaimana bisa perisai perbatasan bisa hancur dengan tiba-tiba?! Ini tidak mungkin! Aku harus menyusun strategi dengan cepat!"


Setelah termenung untuk beberapa saat dan memikirkan sedikit tentang suatu hal, Lukas berbalik dan menghampiri mereka kembali. Ia menanyakan semua informasi dari Henil tentang kondisi dunia sihir putih sekarang agar bisa mulai menyusun strategi.


"Kemana ayahku dan para petinggi istana?!"


"Mereka masih berada di istana bawah tanah bersama dengan petinggi kota Ohan, pangeran. Tadi saat saya ingin mengabarkan informasi ini, mereka ternyata memasang pelindung yang sangat kuat dan saya tidak bisa masuk." Jawab Henil.


"Gawat! Ini berarti kita harus bertarung dengan kekuatan dan kemampuan kita sendiri! Aku tidak yakin kita akan menang..." Sahut Neli yang hampir menyerah.


"Ini pertarungan pertamaku... Tapi aku tidak tau bagaimana cara bertarung!" Sahut Alin juga.

__ADS_1


"Tenanglah, selama kita bersama kita pasti akan menang." Ucap Kael mencoba untuk menenangkan mereka yang hampir mundur dan putus asa.


"Kalian tidak akan mati! Aku berjanji!" Sahut Lukas dengan percaya diri.


Setelah mendengar kata-kata Lukas itu, semua yang telah mendengarnya menjadi tertegun dan kembali bersemangat. Seketika hati mereka langsung kembali penuh dengan tekad-tekad yang membara. Kini mereka juga sudah semakin percaya diri dan bersemangat.


"Baiklah, Kami siap untuk bertarung!" Sahut semuanya secara bersamaan.


Lukas merasa senang akan keputusan teman-temannya itu. Kini ia pun semakin bersemangat dan lebih bertekad untuk memenangkan pertarungan dari sebelumnya. Ia menoleh ke arah mereka lalu tersenyum tipis. Setelah itu ia kembali memfokuskan diri.


"Berapa jumlah pasukan yang kita miliki sekarang?!" Tanya Lukas dengan cepat kepada Henil.


"Ehmn... 50% pasukan kerajaan telah di kirimkan ke dunia manusia untuk pelatihan kemarin, 20% pasukan di bawa master ke istana bawah tanah dan 10% pasukan, saya kirimkan untuk menjaga kota krestin dan istana. Jadi sekarang pasukan yang kita punya hanya tersisa 20%, pangeran." Jelas Henil.


Setelah mendengar itu, Lukas kembali termenung memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Sementara itu yang lainnya hanya menunggu strategi yang Lukas susun seraya memantau keadaan di luar pelindung.


Pemikiran Lukas sudah jauh dari Rancana yang sebelumnya. Hingga ia tersadar dan memikirkannya dengan serius untuk kali ini. Dengan pasukan yang seadanya, mereka harus bisa membagikan sisa pasukan itu untuk 7 pusat perbatasan dunia sihir.


"Dunia sihir memiliki 7 pusat perbatasan dan 14 kota yang berada di dekat perbatasan. Maka kami harus berpencar dan membagi ke 20% pasukan itu. Bagaiman jika 1,05% di setiap kota yang ada di dekat perbatasan? Walaupun itu kurang, tapi aku bisa menjaga di perbatasan dan kota yang ada di sini dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan untuk di tempat lain. Lagi pula, Kael juga tidak kalah hebat dariku. Ya, hanya ini jalannya!"


Kini Lukas sudah selesai menyusun strategi untuk mereka. Entah itu strategi yang matang atau tidak, itu tergantung musuh dan tekad serta kekuatan pejuangnya. Hanya ini yang bisa Lukas pikirkan di tengah kekacauan ini.


Ia berjalan ke tengah-tengah pelindung untuk menghampiri teman-temannya. Mereka semua sudah sadar akan Lukas yang telah menyusun strategi untuk mereka. Mereka berjalan ke arah Lukas dan menghampirinya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Gion mewakilkan pikiran teman-teman mereka.


"Membagi ke 20% pasukan itu ke 14 kota yang ada di dekat perbatasan. Masing-masing kota akan dikirimkan 1,05% pasukan dan masing-masing pusat perbatasan akan di pimpin oleh satu diantara kita. Masing-masing dari kita akan bertanggung jawab akan 1 pusat perbatasan dan 2 kota. Kael, kau cukup hebat dalam keterampilan bertarung, kedua kota kita berdua hanya akan mendapatkan 1% dari pasukan. Sisa 1% nya kirimkan ke kota Krestin. Hanya itu saja!" Jelas Lukas panjang lebar.

__ADS_1


Reyhan dan Alin yang mendengar itu menjadi pusing. Mereka hampir tidak paham dengan apa yang Lukas katakan. Matematika dadakan? Oh tidak, hanya orang profesional yang bisa melakukannya.


"Apa maksudnya?" Gumam Alin dengan suara yang pelan seraya menggaruk-garuk kepalanya karena tidak mengerti.


"Heh! Matematika dadakan?! Oh tidak... Sepertinya aku harus lebih giat belajar lagi." Gumam Reyhan dengan suara yang pelan.


"Kami paham!" Sahut Kael yang terlihat percaya diri.


Ia mengatakan kalau mereka semua paham, namun 2 orang yang tidak paham. Saat mereka ingin memulai strategi, Reyhan dan Alin terlihat kelabakan. Lukas membuka pelindung mereka dan semuanya mulai pergi ke setiap pusat perbatasan mereka masing-masing menggunakan mantra teleportasi.


Sementara itu hanya tinggal Lukas dan Alin beserta 2% pasukan Lukas yang tersisa di tempat itu. Alin melihat sekeliling, ia bingung akan posisinya saat ini. Ia tidak bisa teleportasi dan bertarung, lalu ia pun kelabakan di tengah kepanikan itu.


"Aku.. Aku... Apa yang akan ku lakukan?! Aku dimana? Posisi ku apa?"


Alin berjalan ke sana kemari sambil membawa Viko di pelukannya, kebingungan dengan posisi yang harus ia tempati sekarang. Lukas tak habis pikir dengan Alin yang masih tidak mengerti maksudnya. Padahal ia sudah menjelaskannya secara panjang lebar, namun sepertinya tak ada yang Alin mengerti. Lukas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Alin yang terlihat heboh sendiri.


"Kau disini, bertarung bersamaku!" Tegas Lukas.


Ia menarik kerah baju bagian belakang Alin ke arahnya dengan tiba-tiba. Sontak Alin langsung terkejut dan hampir tak bisa menyeimbangkan badannya sendiri. Namun dengan sigap, Lukas masih bisa menahan Alin yang hampir terjatuh oleh dirinya sendiri.


Setelah berhasil menarik Alin ke dekatnya, Lukas melontarkan perintah ke pasukan perang itu untuk melindungi ke dua kota yang ada di sekitar pusat perbatasan itu.


"Pasukan, jaga kota Fien dan Kota Rou sekarang! Berpencar!" Perintah Lukas dengan tegas.


Seketika para pasukan itu langsung pergi menggunakan mantra teleportasi dan pergi berpencar ke kota Fien dan Rou. Kini Lukas dan Alin tengah berdiri di tengah-tengah perbatasan kedua kota dan pusat perbatasan dunia sihir. Tak ada kata mundur lagi untuk mereka.


Hutan Jlim sudah hangus terbakar dan kedua kota milik Lukas sudah hampir terbakar oleh para Hom. Mereka harus menghadapi pertarungan ini sendirian di usia mereka yang terbilang masih muda tanpa bantuan dari para tetua besar.

__ADS_1


Dengan berbekalkan kemampuan seadanya, kecerdasan dan senjata; Lukas, Alin, Gion, Reyhan, Kael, Neli, Sarah dan kepala pasukan istana, harus berjuang mati-matian untuk mengalahkan Hom dari dunia sihir merah itu.


__ADS_2