Cerita Cinta Di Dunia Sihir

Cerita Cinta Di Dunia Sihir
EPISODE 139 Perpisahan? atau ungkapan? //Revisi


__ADS_3

Kondisi Alin sekarang semakin membaik walaupun wajahnya masih terlihat pucat dengan adanya taring. Nampaknya gejala itu memang tidak bisa di hilangkan secara permanen, namun melambat secara dratis setelah Lukas memberikan penawar ekstrim sebelumnya.


Setelah memastikan kondisi Alin sekali lagi, Lukas akhirnya pergi meninggalkan Alin sendirian di sana. Ia pergi menjauhi perisai dan berjalan-jalan memeriksa pekerjaan Alin yang sebelumnya.


Ketika Lukas berjalan-jalan memantau situasi di kota Wudeo, begitu terkejutnya dia, ada banyak sekali perisai kecil yang tersebar di beberapa titik kota Wudeo. Di masing-masing perisai semua penduduk sudah aman dengan persediaan makanan walaupun masih di kepung orter. Lukas menyeringai bangga melihatnya.


"Wow! Hebat.. Pantas saja tadi terlihat sangat lemas." Batin Lukas sambil tersenyum tipis.


Sebuah hologram kecil muncul di hadapannya, ia mengusap layar hologram itu dan kemudian timbullah tulisan di sana:


...'Aku menemukan gejala Orter yang belum teridentifikasi, muntah darah, darahnya bisa meresap ke kulit, berhati-hatilah. Tolong kirimkan bantuan ke kota Wudeo segera, Alin terkontaminasi virus wabah.'- Lukas...


Saat Lukas ingin melangkahkan kaki nya lagi, ada bunyi notifikasi layaknya notifikasi pesan di handphone. Ternyata suara itu berasal dari hologram yang di kirimkan oleh Gion.


...'Maaf Lukas, tapi sepertinya tim penyelamat akan sedikit terlambat datang. Kota Kriestin sudah mulai di masuki wabah!'...


Membaca balasan itu Lukas hanya menghela nafas berat, ia pun kembali membereskan pekerjaan Alin yang sebelumnya. Saat ini hati Lukas di sertai oleh rasa gelisah, ia takut kalau nantinya wabah ini tidak berhenti dan akan menyebabkan kepunahan para penyihir. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, Lukas lebih takut kehilangan orang tersayangnya.


Tentu saja Lukas akan mengerjakan pekerjaan double kali ini, tapi itu bukanlah apa-apa bagi Lukas yang memiliki level penyihir spesial.


Disetiap perisai yang di buat Alin ternyata ada banyak Orter yang mengepung. Sebenarnya bisa saja Lukas membunuh para Orter demi mempermudah pekerjaannya, tapi walau kepalanya, Lukas memiliki pertimbangan untuk keputusan egois di situasi tertentu. Lukas lebih memilih dikejar dan menangkap Orter sekarang agar dia bisa menyelamatkan para penduduk.


Semua penduduk yang tersisa dari kota Fuken dan Wudeo pun di gabungkan nya menjadi satu di dalam perisai yang di perbesar olehnya. Tentu saja penduduk julid langsung protes tentang ketidak konsistennya mulut Lukas ketika melihat mereka di satukan.


"Hei kau! Apa yang kau lakukan?! Bukannya kau sendiri yang mengatakan kalau kami tidak boleh mengungsi ke kota lain, lalu mengapa orang dari kota Wudeo boleh mengungsi?" Teriak orang yang sebelumnya mencemoh Lukas.


Sudah sangat jelas kata itu berdengung di telinganya, tetapi Lukas berusaha meredam amarah dan bersikap profesional. Rasa hatinya memang agak sedikit jengkel dengan makian itu, tapi percuekkan adalah jalan hidup Lukas. Ia pergi meninggalkan semua basa-basi itu.


Tak lama setelah ia pergi, Lukas terlihat datang sambil menggendong Alin di tangannya. Lukas membawa Alin ke dalam perisai dan menurunkannya di tanah. Ia menghadap kepada sekian banyaknya penduduk.


"Maaf semua, sepertinya tim penyelamat mungkin akan terlambat, ada beberapa kendala yang menghambat mereka kemari. Kalian semua tenang saja, kami KIMASEF akan selalu bertanggung jawab atas kalian." Ucap Lukas menjelaskan situasi.


Seketika keadaan menjadi riuh, para penduduk langsung berdiskusi tentang hal itu kepada yang lainnya.


"Pangerann, bagaimana nasib kita jika tim penyelamat belum saja tiba ketika persediaan kita habis?" Tanya salah seorang pria dari kota Wudeo dengan sopan.


"Sudah kubilang, kami akan selalu bertanggung jawab. Apa pun kondisi dan masalahnya nanti, kami akan mencari jalan keluar."


Semuanya hening, mereka sebenarnya tidak yakin dengan perkataan Lukas dan sedang meragukan para pemimpin kerajaan di dalam hatinya. Bahkan para pencemoh pun telah berkumpul di sisi lain untuk menggosipkan itu.


"Cih! Bertanggung jawab katanya? Kalau kita sampai mati oleh mereka awas saja! Akan ku gentayangi nanti."


"Benar! Siapa tau nanti mereka malah pulang sendirian? Lihat saja kekuatan dasyat mereka yang membangun perisai besar ini."


"Benar juga! Siapa tau mereka akan kabur setelah ini?!"


Mereka semua yang ada di situ membicarakan semua keburukan para pejabat istana termasuk Lukas di pojokan.


Penduduk lain terlihat menyibukkan diri dengan saling berkenalan dan menenangkan dirinya masing-masing, damai sekali sisi itu. Walaupun beberapa orang terkadang mondar-mandir untuk ikut bergosip dengan penghuni pojokan.

__ADS_1


...----------------...


Matahari semakin tenggelam, sementara Lukas ia terus saja menatap Alin yang berada di pangkuannya dengan sedih, betapa terlukanya hati Lukas melihat Alin seperti ini. Semakin lama kondisi Alin semakin memburuk.


Yang sebelumnya tubuh Alin hanya pucat dan bertaring disertai panas, kini tubuhnya membiru dengan keringat yang bercucuran. Wajahnya yang cantik masih tertampang jelas walau membiru, badannya yang ramping dan cantik terlihat terbaring lemah di pangkuan Lukas.


Sesekali Alin menyirit kesakitan, rasa sakit yang sungguh dasyat pada seluruh bagian tubuhnya. Ia tidak berdaya, semuanya terasa lemas, bahkan Alin sudah bisa merasakan nafsu dari aliran sedap darah Lukas yang ada didekatnya.


"Lukas... jika sesuatu terjadi padaku, tolong jangan egois... Pikirkan penduduk yang ada di belakang mu itu. Lebih baik kehilangan satu daripada semuanya."


Matanya sudah sangat terasa berat, Alin sangat berusaha keras untuk tetap sadar sekarang.


"Aku tau, tapi aku tidak ingin kehilangan satupun dari kalian. Jadi bertahanlah."


Lukas mencium lembut kening Alin, yang lalu sebuah perisai buram terbangun di sekeliling mereka berdua. Ia merapikan anak rambut Alin dan mengelusnya pelan.


"Jangan egois... Aku mungkin tidak akan lama lagi sepertinya yang lainnya, Lukas."


"Alin..."


Mata Lukas mulai sendu, dipinggir matanya terpintas ada sedikit air yang tergenang. Yang Alin katakan itu benar, Lukas tidak boleh berpikiran sepit dan egois, tapi hatinya refleks berusaha untuk memberontak dan bersikeras bersikap egois.


"Aku harus apaa... Aku harus apa agar tidak kehilangan mu ataupun mereka?" Gumam Lukas dengan suara yang mulai bergetar.


Ia mulai bimbang dengan apa yang harus dilakukan, tak satupun mau dipilihnya. Hatinya seakan membatu dan ingin tetap bersikap egois untuk kali ini, tapi resiko nya sangatlah besar.


"Lukas... Apakah kau ingin menjadi pemimpin yang tidak konsisten seperti apa yang di gosipkan oleh orang yang di pojokan sana? Bukannya kau sudah berjanji?"


"Tidak!"


"Lukas... Aku sebenarnya... sangat takut mati... Tapi aku lebih takut lagi jika kau mengambil keputusan yang fatal..."


Wajah Alin sudah menunjukan keyakinan yang kuat, tapi hatinya tidak, sebenarnya Alin sangat ragu dan takut untuk mati seperti ini, tapi dia harus belajar menjadi orang yang kuat dan berani berkorban bagi orang banyak.


Lukas membisu tanpa suara, ia menjauhkan wajah sendunya yang hampir menangis itu dari hadapan Alin. Alin sungguh sudah habis pikir harus bagaimana lagi untuk membujuknya.


"Lukas, kau pernah berjanji dengan ku kan? Tolong jawab dengan jujur... 'Kenapa kau memberikan perhatian lebih untuk ku? Bukannya ini hanya misi?' Masih ingat janji mu?"


Sesaat Lukas terpekik kaget mendengarnya, tapi kembali ia terdiam, teringat akan janji nya yang lain pada orang lain. Lukas sungguh tidak menduga bahwa Alin akan menagih janjinya sekarang. Jantungnya berdegup kencang, takut sekaligus tak sabar untuk menyatakan jawabannya. Tapi janjinya dengan dia...?


"Aku... "


Tapi janji pertama adalah janji yang paling utama...


"Karena aku... menyukaimu Alin..." Jawab Lukas yang kembali menyembunyikan wajah merah malunya.


"Apa..?" Alin terdiam.


Sesaat Alin membeku dengan jawaban itu, matanya lekat menatap Lukas yang sedang malu. Ia bingung, harus senang atau terharu terlebih dahulu saat ini. Rasa nya dapur aduk! Alin tidak menyangka sama sekali dengan jawaban Lukas.

__ADS_1


Hingga rasa sakit yang menusuk di dada Alin tiba-tiba saja datang menghancurkan pemikiran dan keheningan diantara mereka. Dadanya terasa sangat menusuk dan sesak, Alin sampai hampir tak bisa bernapas saking sesak nya.


"Arshh! Sakit..!" Alin menyirit kesakitan sambil memegang dadanya.


Lukas menjadi sangat panik, setelah dipikir-pikir kekuatan sihir biasa tidak akan bisa memberikan efek. Tapi kembali kepada cara kedua yang agak ekstrim, Lukas pun mencoba nya kembali.


Lukas mengangkat sedikit tengkuk mungil Alin dan mencondongkan badannya mendekat. Tapi belum saja Lukas menempelkan kedua bibir mereka, Alin kembali mendorong pelan dahi Lukas dengan jari telunjuknya yang panas untuk menjauh.


"Ck! Sudah ku bilang, jangan egois."


"Kau terlalu berisik! Diam." Sahut Lukas mulai jengkel.


Sebelum Alin kembali melarangnya, Lukas segera menyatukan kedua bibir mereka bersama dengan erat. Kedua bibir dua orang itu bertaut, antara suhu dingin dan panas bersentuhan dalam suatu moment yang terasa panjang.


...-------...


Di seberang lautan, tepatnya di istana kerajaan dunia sihir putih yang indah, telah berdiri Deon Li di balkon puncak sendirian. Ia termenung, melihat ujung lautan dari istana dengan hati yang kuatir. Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap mendapatkan kabar baik dari orang kerajaan.


"Mao.."


Tiba-tiba ada suara seorang wanita berbisik lembut dari belakang punggung nya, yang kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Deon Li. Deon Li pun menggenggam tangan itu dan melirik sedikit ke sumber suara tersebut yang ternyata adalah Yiu Shi, istrinya.


"Ada apa?" Tanya Deon Li dengan lembut.


"Kenapa termenung sendiri? Semua orang sudah menunggu di ruang makan."


"Kalian duluan saja, aku akan menyusul nanti."


"Mao.. Aku tau kau kuatir dengan KIMASEF, tapi kau juga harus memperhatikan dirimu agar tetap sehat..."


"Aku tau... Aku hanya sedikit kuatir pada mereka."


Yu Shi beralih berjalan ke depan Deon Li, suaminya. Ia merapikan sedikit kerah bajunya yang sedikit mereng, sambil saling bertatapan dengan lekat dan lembut.


"Aku juga sebenarnya kuatir, sangat kuatir dengan Lukas. Aku takut dia akan tiba-tiba kehilangan kekuatannya di tengah misi, mengingat dia pernah..." Ucap Yu Shi yang lalu terhenti.


"Sayang.. Percayalah pada anak kita, Lukas itu kuat. Buktinya dia telah membangun kekuatan hebatnya dalam waktu singkat. Percaya saja pada dia.." Deon Li mengusap lembut pipi mungil istrinya.


Keduanya nya pun sempat bertatapan mesra, hingga Yu Shi mengungkapkan niatnya yang sudah lama terpendam pada saat ini.


"Hmm... Umur Gion dan Lukas kan sudah hampir mapan untuk menikahhh... Tapi seliatku mereka tidak punya calon. Bagaimana kalau kita jodohkan?"


"Baiklah, sayangku... Kau yang pilihkan. Tapi jangan dipaksakan jika mereka sudah punya calon."


Deon Li mencium pucuk kepala Yu Shi, lalu di lanjutkan dengan ulah nya yang mulai jahil. Ia mulai menyosor dibagian lain dari wajah Yu Shi, sesekali mencium serta mengisap leher jenjang istrinya yang sudah merasakan geli dan panas, hingga titik kejahilan nya, dia mengigit ujung telinganya.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan dan membuat anak lagi sebelum di susul oleh Lukas dan Gion?" Bisik Deon Li dengan menggoda.


Napas Deon Li dan Yu Shi mulai memanas, satu sama lain sudah mulai terangsang dengan pancingan kecil dari Deon Li tadi. Tanpa menunggu jawaban dari istri, sang suami dengan cepatnya kembali menyosor pada bagian yang lebih intim pada istrinya tersebut, yang sudah terlihat pasrah di tangannya.

__ADS_1


"Emhhm..."


__ADS_2