
Beberapa saat setelah itu, mereka bertiga telah duduk manis di meja makan sambil memakan roti dan susu yang ada di atas meja. Suasana menjadi agak hening karena mereka yang terlalu sibuk dengan isi kepalanya masing-masing.
Di sisi lain para koki dan juga pelayan yang ada di situ sedang sibuk membereskan bahan makanan yang ada dan berberes-beres di dapur istana itu. Dapur istana terdengar agak bising, tapi di sekitar ketiga orang itu di penuhi oleh keheningan kepalanya sendiri.
Beberapa saat kemudian, salah seorang dari mereka melupakan sesuatu yang penting dan baru mengingat nya sekarang. Ia langsung tersadar, berdiri dari tempatnya dan langsung menggebrak meja dengan sedikit keras sehingga membuat yang lainnya terkejut.
"Viko! Aku meninggalkan nya!" Seru Alin.
Alin berlari dengan cepat keluar dari dapur itu. Karena kwatir dengan Alin, Lukas dan Gion pergi menyusulnya. Lukas sedang memegang rotinya saat itu dan karena terburu-buru ia masukkan semuanya sampai mulutnya penuh bagaikan balon.
Saat Alin berlari keluar, ia tidak memperhatikan sekeliling dan tidak sengaja menabrak seseorang di depannya, sehingga membuat dirinya terpental sedikit dan jatuh ke belakang.
...Brukkkk...
"Ishhhh.... Siapa lagi yang aku tabrak sekarang?!"
"Haishhh..."
Lukas dan Gion berhasil mengejar keberadaan Alin, dan mendapati Alin sudah terduduk di lantai sambil mengelus-elus punggung nya.
"Putri Jiu, apa anda baik-baik saja? Maaf... aku tidak melihatmu." Ucap orang itu kepada Alin sambil mengulurkan tangannya.
Suara orang itu terdengar familiar. Alin, Lukas dan Gion yang mendengar itu langsung menoleh. Lalu terlihatlah di sana Yudian yang sedang mengulurkan tangannya sambil memegangi Viko di tangan yang satunya lagi. Terlihat juga di belakang Yudian ada dua orang pengawal yang mengawal Yudian untuk pergi ketempat itu tadi.
Alin menggapai tangan Yudian itu dan Yudian membantu Alin untuk berdiri dari tempatnya. Sementara itu Lukas dan Gion masih saja terpaku menatapi Yudian dengan kebingungan, dengan pipi gelembung keduanya.
"Ugh... Maaf..." Ucap Yudian sekali lagi.
"Eh, tidak, tidak. Itu salahku, aku tidak melihat mu tadi karena terburu-buru. Uhhh.... Viko??!"
Mata Alin seketika itu juga langsung tertuju pada Viko yang ada di lengan Yudian. Dan Yudian pun dengan refleks menyodorkan Viko kepada Alin dengan sedikit canggung.
"O-oh... Ini, Tuan Ji Ku tadi meminta ku untuk mengantarkan hewan peliharaan anda. Tuan Ji ku bilang anda... meninggalkan nya di lobi kantor tadi karena terburu-buru."
"Astagaa... Terima kasih, aku benar-benar lupa. Maaf Vikoo, aku tadi sedang terburu-buru..." Ucap Alin.
Alin mengambil Viko dari Yudian dan setelah itu ia berusaha untuk membujuk Viko yang sedang marah karena di lupakan. Ia mengelus-elus bulu Viko yang lembut itu dan sedikit menggelitiki perutnya agar Viko mau memaafkannya, dan itu berhasil.
"Nahhh... Oh iya, Yudian. Kau kan sudah di sini, bagaimana kalau kau ikut dengan ikut dengan kami makan roti di dalam. Ayo!" Ajak Alin.
"Eh, tidak, tidak, tidak perlu. Saya..."
"Ayolahhh, lebih ramai lebih seru." Tambah Gion lagi.
"Tapi pangeran..."
"Tidak perlu pedulikan itu, panggil aku Gion saja."
__ADS_1
Gion merangkul tengkuk Yudian dengan akrab dan menuntunnya ke dalam dapur istana yang di susul oleh Alin sambil membawa Viko di lengannya. Dengan terpaksa Yudian hanya mengikuti mereka yang menuntunnya dengan sedikit canggung.
Lalu di belakang mereka, ada perasaan seseorang yang merasa tidak terlalu suka akan kehadiran Yudian. Lukas memasang ekspresi kesal imutnya itu dengan muka yang masih menggelembung oleh karena roti yang ada di dalam mulutnya. Ia pun menggerutu di dalam hatinya sana.
"Aku tidak terima ini, lhooo... Kenapa aku yang jadi terlupakan oleh kalian?!"
"Hei!" Panggil Lukas kepada ketiga orang yang melupakannya itu.
Tapi tidak ada sahutan oleh ketiga orang itu, yang membuat Lukas semakin kesal dan semakin menggelembungkan pipinya sehingga menjadi sangat besar dan juga lucu. Dengan kesal Lukas menyusul mereka masuk ke dalam dapur istana kembali. Lalu kepala kedua pengawal yang ada di belakang Yudian terdengar memikirkan sesuatu tentang Alin yang pelupa itu.
"Hewan peliharaan sendiri saja lupa, bagaimana kalau dia sampai meninggalkan dan melupakan benda pusaka kerajaan, yahhh... Tidak aman pasti!" Batin keduanya sambil memandangi satu sama lain.
Sementara itu, mereka yang ada di dapur kembali bersenda gurau lagi, tapi kali ini melupakan salah seorang dari mereka yang masih belum menelan rotinya dari tadi. Muka masam yang Lukas pasang tak berpengaruh sedikitpun kepada mereka, mereka malah asik mengobrol sampai-sampai melupakannya.
"Hei! Hei! Apa kalian tidak melupakan sesuatu?" Tanya Lukas memberikan isyarat.
"Melupakan apa? Apa yang kami lupakan?" Tanya Gion sambil menatap Lukas yang di susul oleh Alin dan Yudian.
"Tidak ada, tidak penting."
"Dasar makhluk hidup yang tidak peka! Kalian bahkan melupakan orang ada di depan kalian!"
Lukas kembali memasang ekspresi yang seperti tadi, ia merasa sangat kecewa dan juga kesal karena di lupakan oleh mereka. Ia pun memalingkan wajahnya dari ketiga orang itu.
Mereka bertiga kembali mengobrol lagi seperti sebelumnya.Hingga Yudian tertuju pada pucuk kepala Alin. Ia melihat penjepit rambut mawar ungu yang ia berikan kepada Alin saat itu, pada salah satu sisi rambutnya yang tertata rapi itu.
"Oh, itu jepitan rambut yang aku berikan waktu itu, kan?" Tanya Yudian yang terlihat senang.
"Heh! Mawar ungu: 'Cinta yang terpendam', ya?!"
Semakin lama, semakin kesal Lukas mendengar percakapan itu. Ia menyilangkan tangannya dan menatap mereka dengan tatapan yang super masam.
"Iya, bagus, kan?" Tanya Alin.
"Wihhhh... Mawar ungu.... Apa artinya?" Tanya Gion.
"Yudian bilang artinya sahabat sejati."
"Humppt... benarkah? Seingat ku artinya cinta yang terpendam..." Tanya Gion yang mencoba untuk mengingatnya.
"E-eh, bukan, bukan. Artinya memang sahabat sejati." Sahut Yudian.
"Hehmmm.... Meragukannn..."
...Brakk...
Suara itu langsung menghentikan percakapan mereka dan mereka pun menatapi asal suara itu yang berasal dari Lukas. Dengan sengaja Lukas menggebrak sedikit meja makan yang ada di hadapannya, memberi mereka tanda untuk menghentikan percakapan yang ia rasa menjengkelkan itu.
__ADS_1
Alin, Gion, dan Yudian keheranan dengan Lukas, dari tadi dia terlihat aneh, tidak seperti sebelumnya. Mereka yang keheranan, langsung menatapi Lukas dengan tatapan yang kebingungan.
"Hei, Lukas. Kenapa muka mu masam begitu? Apa kau baru saja memakan buah yang terasa masam? Ada apa dengan mu?" Tegur Gion.
"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Alin lagi.
"Humppt! Tidak apa! Kalian lanjutkan saja, aku ingin istirahat."
Dengan muka yang masih terlihat masam, Lukas keluar dari dapur dan pergi dari tempat itu menuju ke kamarnya. Setelah Lukas keluar suasana kembali seperti sebelumnya. Tapi Yudian teringat akan waktu yang sudah semakin larut, ia pun berpamitan dengan Alin dan Gion segera.
"Eh, sudah jam setengah 10. Sepertinya saya sudah terbawa suasana sampai lupa waktu. Maaf sudah menggangu waktu istirahat pangeran dan putri."
"Oke, lain waktu main kesini lagi, yah..." Sahut Alin.
"Ya, Alin benar. Kapan-kapan main lah kemari lagi." Tambah Gion.
"Baik, terima kasih atas sambutannya. Salam untuk pangeran dan putri." Salam Yudian.
Yudian membungkukkan sedikit badannya untuk memberi hormat, lalu ia berbalik dan pergi di temani oleh para pengawal sampai depan gerbang istana. Setelah Yudian pergi dari tempat itu, Alin dan Gion membantu pak Gendi dan pelayan lainnya untuk membersihan sebagian kekacauan yang telah buat di situ sebelumnya.
"Wahh, seru sekali tadi." Seru Gion.
"Iya. Ngomong-ngomong, ada apa dengan Lukas? Semenjak Yudian datang dia terlihat aneh." Gumam Alin.
"Hemm..."
"Apa mungkin di cemburu? APA?! APA?! CEMBURU?! Haishhh.... Apa mungkin?"
Gion pun memikirkan hal itu, namun Gion tidak percaya jika Lukas bisa merasa cemburu di antara hubungan Yudian dan Alin, jadi ia masih menjadikan itu sebagai teka-teki 'mungkin'.
"Entahlah, emosi bocah batu itu sulit di tebak." Sahut Gion.
"Hmm... Aku akan menanyakan itu langsung kepadanya. Aku pergi dulu."
"Oke."
Alin berinisiatif untuk pergi menemui Lukas, jadi ia membawa beberapa roti yang tersisa untuknya. Ia meninggalkan Gion di dapur dan pergi ke kamar Lukas.
Sementara itu, di dalam kamar, Lukas sedang melamun sambil merebahkan tubuhnya di kasur di dalam kegelapan legend kamarnya itu. Ia melamun dan memikirkan hal yang mungkin akan semakin membuat nya kesal.
"Humppt! Sahabat sejati katamu?! Ternyata kau sudah berani menunjukan perasaan mu secara terang-terangan. Tapi... itu bukanlah salahnya sepenuhnya. Dia bahkan sudah berani mengungkapkan perasaannya melalu isyarat yang terang-terangan seperti itu, sedangkan aku... apa yang telah aku lakukan untuk memperjuangkan perasaan ku...?"
Apa yang telah aku lakukan untuk memperjuangkan perasaan ku...?
Pertanyaan yang keluar dari kepala dan hatinya seketika itu juga terngiang-ngiang di kepala. Lukas menjadi agak bimbang setelah mendapatkan pertanyaan dari dirinya sendiri, yang dia pun tidak mengetahuinya.
"Apa yang sudah dia lakukan untuk untuk memperjuangkan cintanya...? Apa yang dia lakukan selama ini cukup untuk orang yang ia cintai?"
__ADS_1
Lukas bimbang, untuk meredakan rasa bimbang itu ia memejamkan matanya, berharap pertanyaan dan kebimbangan itu hilang dengan cepat. Tapi tak lama setelah itu, pintu kamarnya berbunyi.
...tok tok tok...