
..."Alin... kau benar-benar percaya bahwa aku akan luluh padamu? Heh! Naif sekali!"...
Kata itu terdengar teguh dan berhasil membuat Alin menjadi panas sekaligus geram, Clorian melanggar janjinya. Mata merah menyala itu menatap sinis Alin sang tuannya. Alin tertipu, ia telah membuka segel Clorian, namun budak jiwanya itu melanggar janjinya.
Seorang penyihir dari dunia sihir putih yang bertabiat layaknya iblis, itulah Clorian, pendekar iblis berdarah dingin...
Waktu terus berjalan, tubuh Alin menjadi semakin pudar, yang berarti dia akan segera berubah menjadi orter. Tak punya banyak waktu lagi untuk Alin bertahan disini bersama dengan permainan kekanak-kanakan Clorian. Takdir para penduduk dan dirinya, semua ada di tangan Clorian sekarang.
"Sialan! Penipu! Kau menipu ku!" Teriak Alin marah.
"Benar, begitulah kalian menipu ku. Bagaimana rasanya?"
"Clorian, jangan main-main, banyak nyawa yang terancam di luar! Banyak yang sudah terkena wabah dan penawarnya... belum ada.."
"Apa peduli ku?"
Sosok yang mirip dengan Alin itu pun termenung, ia membuat dirinya berpikir layaknya orang-orang anggunly di luar sana. Nampaknya walau ia hanya diam dalam diri Alin, Clorian sangat update dengan hal-hal anggunly seperti itu. Ia meletakan keduanya jarinya di dagu, sembari berpikir dengan so imut dan anggun.
"Hmm... Kalau dilihat-lihat kau sangat peduli dengan mereka. Memangnya kau berani memberikan nyawamu kepadaku sebagai bayarannya?" Tanya Clorian cengesan.
Alin termangu, satu sisi hatinya ingin menyelamatkan orang-orang itu, tapi disatu sisi lain hatinya, dia juga ingin hidup. Lama sekali rasanya dia terdiam, namun nyatanya baru beberapa detik waktu telah berjalan.
"Baik! Aku mau." Keputusannya sudah bulat! Alin mengambil keputusannya.
"Mengapa?"
"Karena ribuan nyawa lebih berarti dari satu nyawa."
"Bukannya satu nyawa juga berarti? Jikalau kau harus menyelamatkan ribuan orang, akankah kamu mengorbankan satu nyawa dari mereka untuk menyelamatkan orang banyak itu?"
Pertanyaan yang rumit, sebagian orang mungkin akan menjawab 'iya'. Karena lebih baik satu nyawa hilang daripada ribuan nyawa harus mati. Tapi siapa yang akan kita korbankan jika di situasi itu dan apakah dirinya bisa? Jadi, apa jawaban Alin?
"Benar! Kalau harus ada pengorbanan, maka akulah itu." Jawab Alin tegas.
"Cih! Jika kau terlambat dan berubah menjadi Orter, aku akan membunuhmu lebih dulu."
Clorian berdecak sinis, ia mengibaskan lengannya dan mengalihkan pandangannya dari Alin. Seketika itu juga pandangannya menggelap dan..
Thungg..
"Itu—?!"
*
Kini Lukas dan Kael telah duduk bersebelahan di samping kasur tempat Alin terbaring. Lukas terlihat mengenakan sebuah jubah tebal sambil meminum secangkir kopi hangat yang ada di tangannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Lukas?" Tanya Kael saat suasana sudah mulai tenang.
"Indra. Dia berkomunikasi dengan ku melalui Hom tadi. Lalu dia membekukan ku sebelum pergi."
"Benarkah?! Tidak mungkin! Bukannya perbatasan sudah di segel, bagaimana Hom bisa masuk?!" Kael sungguh terkaget-kaget, sungguh hal yang hampir mustahil.
"Entahlah Kael." Balas Lukas yang kembali menyeruput kopi panasnya.
Belum habis kopi itu di seruput nya, Lukas kembali menatap Alin dan menggenggam tangan wanita itu dengan lembut. Bahkan mungkin rumput bergoyang dapat merasakan kesedihan Lukas, apalagi Kael yang berada di samping itu.
Kael memang idaman, ia dengan cepat peka pada situasi. Ia menepuk pelan pundak Lukas sambil menatap yakin sang kulkas berjalan. Walaupun Kael tidak yakin kalau Lukas akan paham dengan maksud baik itu.
"Sekarang sudah larut, beristirahatlah Lukas."
"Singkirkan tangan mu itu, geli!" Tegas Lukas dingin.
"Dih."
Yap, benar, sudah terduga. Sontak Kael langsung menarik tangannya dengan ketus. Lukas tidak akan paham dengan maksud baik dari Kael. Kael benar-benar di tolak mentah-mentah oleh Lukas yang kembali terdiam.
"Apa yang kalian berikan pada Alin, Kael?" Ucapnya bergeming.
"Hanya obat bius biasa, walaupun.. itu tidak akan berefek banyak."
"Hm."
"Nadinya melemah, Lukas..."
"Aku tau, Kael.. Aku—"
Lukas dengan tiba-tiba menundukkan kepalanya, tubuhnya nampak gemetar menahan air mata yang hampir lolos dari pelupuk mata. Ia memanglah orang yang kuat, hebat, dingin, kejam, dan seorang pria, tapi dia tetaplah makhluk biasa yang akan sedih ketika melihat seseorang yang berharga baginya berada dalam abang kematian.
Tampang Alin sudah seperti orang yang tidak bernyawa, raganya hanya terdiam kaku di atas kasur itu. Kulit putihnya yang cantik berubah menjadi biru keunguan. Bajunya yang sangat cantik pun sudah banyak bercakkan darah yang mulai mengering.
Ternyata sedari tadi Lukas sudah mengetahui keadaan Alin sekarang. Tapi dia tetap berharap bahwa Alin akan bangun dan pulih, namun sampai sekarang Alin tidak bangun maupun membaik. Lukas hampir putus asa, keadaan Alin sudah sangat mustahil untuk di sembuhkan.
"Uhuk! Uhuk!"
Ketika kedua pria itu masih tertunduk merenung, ada suara seorang wanita yang terbatuk. Bahkan tangan Alin yang tadinya digenggaman oleh Lukas bergerak dan menepis genggaman itu. Darah mereka seakan naik ke atas kepala sedetik kemudian saking terkejutnya.
__ADS_1
Mereka mengangkat kepala nya. Melihat bahwa Alin telah bangun dan terduduk, ia menutup mulut dengan tangannya ketika terbatuk tadi. Lukas langsung mematung, ia menatap Alin dengan tak percaya, begitupun dengan Kael.
"Alin?!" Seru kedua pria itu bersamaan.
"A–Alin... kau... " Lukas masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat.
"Uhuk..... ughh...! "
Saat Alin membuka tangannya, ada terdapat darah pada telapak tangannya itu. Sesaat Alin mematung kaget, tapi setelahnya Alin bergegas beranjak dari kasur tanpa menghiraukan situasi. Ia benar-benar tidak peduli ataupun menghiraukan Lukas dan Kael yang terus mengkuatirkannya itu.
"Alin, kau mau kemana? Beristirahatlah.." Ucap Kael yang lalu menghadang Alin.
"Alin, kau masih lemah, mau kemana?" Tambah Lukas yang langsung menopangnya.
"Menyikir... Aku harus ke laboratorium..."
Alin masih benar-benar lemah, ia hampir tak bisa mengendalikan sebagian tubuhnya yang terasa berat dan kaku. Tapi dia sangat bersikeras untuk pergi dengan berjalan sempoyongan. Lukas dan Kael pun kebingungan, untuk apa orang ini pergi ke laboratorium?
"Alin!"
Alin yang masih sangat lemah kehilangan keseimbangan dan kendali atas tubuhnya. Hampir saja dia terjatuh, untungnya Lukas dengan sigap menangkapnya.
"Alin, dengarkan aku. Jangan bersikap gila, situasimu sedang tidak baik-baik saja sekarang." Tegas Lukas.
"Lukas.. Kael.. Kumohon.. Antar aku ke laboratorium... Kumohon... Hahh.. Kumohon... Ugh..."
Dengan seketika gejala wabah kembali berkembang pada tubuh Alin. Ia kembali terkulai lemas dan hampir tidak bisa menopang tubuh sendiri, keringat dingin mengucur deras pada tubuhnya.
"Lukas, angkat Alin ke kasur. Aku akan mencoba untuk menunda gejalanya lagi." Ucap Kael yang kelabakan merapikan kasur kembali.
"Tidak, Kael... Tidak... Jangan, Lukas... Hiks! Jangan.... Kita tidak punya banyak waktu lagi... Kumohon..."
Isakan Alin mulai terdengar dengan air mata yang mulai berderai dari pelupuk mata. Rasa sakit yang menerpa secara bertubi-tubi itu hampir tak tertahankan, sakit sekali! Tangannya meremas kuat lengan Lukas untuk menahan rasa sakit itu.
Tanpa terduga Lukas mengangkat kaki Alin perlahan, ia mendekap Alin dalam gendongannya. Nyaman sekali, wangi yang sangat familiar membuat Alin tergoda untuk memejamkan matanya, tapi ini bukan waktunya. Tak ada sepatah katapun dari Lukas untuk Alin lagi.
"Kael, kita pergi ke laboratorium."
"Sekara–?"
WUSHH
Belum sempat Kael menyelesaikan pertanyaannya, Lukas sudah dengan seenak jidatnya membawa Kael beserta Alin menggunakan teleportasi ke laboratorium kerajaan. Nampaknya Lukas sedang kesal, itu terlihat jelas dari raut wajahnya.
"–ng?" Sedetik kemudian, mereka sudah tiba di laboratorium. Kael pun hanya bisa tersenyum jengkel dengan setulus ikhlas hatinya.
"Gion, bisa kau suruh semuanya keluar dulu?" Minta Kael seraya menghampiri Gion yang baru saja melepas jasnya.
"Ha? Oh, oke."
Dalam beberapa menit saja laboratorium sudah menjadi kosong melompong, hanya mereka berempat yang tersisa di sana. Keramaian tadi pun seketika menjadi sunyi sepi di tempat ini.
Setelahnya Kael cepat-cepat menarik kursi beserta meja besar yang penuh dengan racikan dan bahan ramuan untuk mendekat, lalu mempersilahkan Lukas untuk menurunkan Alin di sana. Tapi tak seperti yang terkira, Lukas tidak menurunkan Alin dikursi itu, melainkan duduk di sana bersamanya sambil memangku Alin yang terlihat sudah setengah sadar dan hampir tak berdaya. Sebagian orang mungkin akan melihat romantis situasi sekarang, sama halnya dengan orang yang ada di belakang ini.
Gion dan Kael yang berada di belakang langsung terlihat ketar-ketir salting brutal dibelakang. Waw! Sekali Kulkas berjalan ini bucin, maka akan ada banyak hal romantis yang akan dilakukannya untuk sang pujaan hati. ROMANTIS SEKALIII!
"ANJERRR!! ROMANTIS SEKALI BELIAU!" Jerit keduanya di belakang tanpa suara.
"Kita sudah di laboratorium, sekarang apa yang mau kau lakukan?" Bisik Lukas pada telinga Alin.
"Hmn... Uh.. Aku butuh darahku... Buah sihir... dan air danau bulan... Lalu.. Darah seorang titisan dewaa.. Tapi di mana aku bisa mendapatkan nya... Hiks! Matilah kita... Lukas... Aku dan mereka akan mati... Huhuhu..." Jawab Alin lemas dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya.
Tangis Alin kembali pecah, dia bingung, darimanakah dia dapatkan hal seperti itu. Darah titisan dewa? Siapa yang memiliki itu? Bahkan kesadaran Alin sekarang sudah sangat menurun, pandangan nya sudah terlihat sangat buram sedari tiba di laboratorium. Kuku nya sudah menajam dan siap menerkam siapa saja sebentar lagi.
Tanpa banyak basa basi, Lukas mengambilkan bubuk buah sihir dan air danau bulan dari atas meja, la
lu memasukkannya pada sebuah mangkuk kecil di depan mereka. Kemudian Lukas memunculkan sebuah belati dan tanpa aba-aba ia mengiris sedikit telapak tangannya.
Tetesan demi tetesan darah Lukas masuk ke dalam mangkuk. Kedua bahan yang sebelumnya ada pun berubah warna, bahan-bahan itu tercampur dan berubah menjadi jinga pastel.
Lalu, lukas memberikan belatinya kepada Alin.
"Giliran mu."
Alin mendongak, melihat Lukas yang di atasnya dengan bingung. Cakarnya yang tajam sudah meremas kuat dan merobek lapisan luar dari jas Lukas. Kemudian Alin segera mengambil belati dan meneteskan darahnya juga di sana.
Ramuan yang mereka buat sudah selesai, tapi tidak ada yang tau hasil akhirnya. Lebih baik dipastikan dulu hasilnya, bukan? Lukas menyuapi Alin sedikit ramuan itu. Ada rasa amis yang kuat di ramuan yang berasal darah mereka.. Ia meletakkan mangkuknya.
...BRAKK...
Meja di gebrak oleh Lukas dengan kuat. Gion dan Kael yang sedari tadi memperhatikan dari balik kursi langsung terkejut. Cepat-cepat mereka mendekat ke situ untuk memeriksanya.
.
"Gion.. Kael... Alin..
__ADS_1
Dan hasilnya..
"Dia sembuh..!"
"APA?! BENARKAH?!" Gion dan Kael terkejut setengah mati.
Syukurlah, Alin telah benar-benar sembuh total dengan sekejap mata! Tentunya ketiga orang itu sangat terkejut dan kebingungan dengan hal itu, tapi apa pedulinya itu sekarang. Semua perubahan akibat gejala itu telah hilang, walaupun Alin masih terlihat lemas di pangkuan Lukas.
"Alin? Kamu masih hidup, kan?!"
"Lin? KAMU SERIUS SEMBUH?!"
"WAW! Benar karena hanya ramuan ini?!"
"Bukan Clorian kan ini?!"
Kedua orang itu seketika menghujani Alin dengan segala pertanyaannya, namun Alin masih terlalu lemah untuk menjawab dan hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai respon. Sementara Lukas hanya diam mematung sambil tertunduk melihat Alin.
Kepekaan Kael terpicu, segera Kael menghampiri mereka berdua dan mengambil Alin dari pangkuan Lukas untuk di rawat. Untungnya Kael peka, tidak seperti dua orang yang lemot itu.
"Sini, aku akan merawat Alin. Kalian berdua pergilah laporkan kepada Master tentang hal ini." Ucap Kael seraya menggendong Alin ke kasur yang ada di laboratorium.
"Oh, oke. Yok, kulkas berjalan, kita pergi." Ucap Gion.
Namun Lukas tak berkutik, ia malahan mendekap wajahnya di meja. Gion tentu saja mengerti, Lukas sedang di landa panik attack setelah kejadian yang menimpa Alin. Tapi Lukas begitu pandai menyembunyikan ekspresi dan emosinya, sehingga jika seseorang kurang peka, maka tak mudah untuk menebaknya.
"Cupcupcup, Kulkas berjalan mewek. Bwhahaha..."
Yup, seperti orang ini. Bukannya menenangkan dan menghibur orang, dia malah mengejeknya.
"Berisik, tertawa lagi akan ku bunuh kau." Sahut Lukas dengan suara pelan.
"Yasudah, yasudah.. Ayo cepat! Kita laporkan ini pada ayah."
Tanpa aba-aba Gion langsung membawa Lukas beserta dengan bangkunya menggunakan teleportasi. Sama halnya seperti Lukas yang seenak jinatnya menarik orang lain, nampaknya ini tabiat baru dari keluarga pranatha.
Mereka telah sampai di depan gerbang ruang baca Master ketua, tentunya dengan kursi itu, tampaknya Lukas betah di situ. Langsung saja Gion memunculkan roda di kursinya dan mendorong kulkas berjalan yang tidak mau berjalan itu beserta dengan kursinya untuk masuk ke dalam.
"Salam untuk Master Ketua." Ucap keduanya bersamaan.
Mereka pun masuk dan mendapati Deon Li yang tengah duduk santai di bangkunya dengan setumpuk buku diatas meja. Deon Li pun memfokuskan perhatiannya kepada putra-putranya yang baru datang itu.
"Euiits... Gion, kenapa kau membawa Lukas dengan kursi itu?" Ucap Deon Li yang hampir keceplosan tertawa melihat tingkah anaknya.
"Yah.. Kulkas berjalan ini lagi tidak bisa diajak kerja sama, jadi harus pakai alternatif lain."
"Mager, kenapa tidak kau sendiri saja yang pergi?" Sahut Lukas menyandarkan punggungnya.
Deon pun hanya bisa tersenyum melihat kelakuan anak-anaknya. Untung saja tidak ada orang lain di tempat ini dan mereka bisa bersikap santai untuk bicara layaknya sebuah keluarga.
"Jadi ada apa kemari? Apa ada kemajuan dari ramuan kita?"
"Ehmnm... Ramuan yang sebelumnya diteliti tidak ada yang berhasil, ayah. Tap–
"Ih, lambat sekali. Coba langsung saja." Celetuk Lukas.
...Bhuk...
Sebuah kepalan mendarat tepat di pucuk kepala Lukas dengan agak keras. Walaupun tak sakit, tapi berhasil membuat Lukas bungkam dengan wajah datar dan kesalnya.
"Dih, ingin berlagak dramatis!" Batin Lukas menggerutu.
"Jadi apa Gion? Langsung ke intinya saja." Tanya Deon Li lagi.
"Kita menemukan penawarnya, ayah."
"Katakan, apa penawarnya?"
"Penawarnya..
Mendengar itu raut wajah Deon Li langsung terlihat sangat senang. Tapi di pengelihatan Lukas tidak seperti itu, dia mencium bau sesuatu yang aneh di ruangan itu. Sontak dia terpekik dan menoleh ke sosok ayahnya itu, dia melihat raut wajah menyeramkan dari balik senyuman Deon Li.
...Srakhh...
Sebuah belati melesat dengan cepat menusuk sosok Deon Li sampai tertancap di tembok. Raut wajah sosok Deon Li itu berubah, dia terlihat sangat menyeramkan. Darah pun mengalir dengan deras dari tusukan yang ada ditubuh Deon Li. Dengan gagah Lukas berdiri dengan siaga dari tempatnya.
"LUKAS! Apa yang kau lakukan?! Kau gila?!" Gion menarik kasar krah baju Lukas.
Gion sungguh marah atas tindakannya, itu karena dia tidak dapat melihat apa yang Lukas bisa lihat, bahwa sosok itu bukanlah ayah mereka. Amarah Gion sungguh membludak, jika Lukas tidak menyadarkan nya, mungkin Gion akan menyerang dan membunuhnya saat itu.
"Lihat baik-baik, darahnya menghitam." Ucap Lukas menunjuk ke arah Deon Li.
Seketika dimensi medan di ruangan itu berubah, nyatanya mereka sudah masuk ke dalam ruangan yang telah di buat dengan sihir halusinasi. Gion pun sontak menoleh, benar saja, dia terkena sihir halusinasi, untung saja sihir itu tidak berkerja di Lukas.
Sosok yang sebelumnya mereka lihat sebagai Deon Li, ayah mereka, sebenarnya hanyalah sebuah manekin yang telah di masukan jiwa dan sihir.
__ADS_1
"Lalu, di mana ayah kita..?"